NovelToon NovelToon
Perempuan Pilihan Mertua

Perempuan Pilihan Mertua

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Seroja 86

Adalah Mia, seorang perempuan yang cintanya dibenturkan pada restu, adat, dan pemikiran yang tak pernah benar-benar memberi ruang baginya.
Ia berdiri di persimpangan antara bertahan demi pernikahan yang ia perjuangkan, atau berbalik arah .
Di tengah perjalanan itu, tekanan tak lagi datang dalam bentuk pertanyaan. Sang mertua menghadirkan pihak ketiga, seolah menjadi jawaban atas ambisi yang selama ini dibungkus atas nama tradisi dan kelanjutan garis keluarga.
Mia dipaksa memilih mempertahankan cinta yang kian terhimpit, atau melepaskan semuanya sebelum ia benar-benar kehilangan dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seroja 86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PPM 17

Lampu kamar dipadamkan. Gelap menyelimuti ruangan, tapi mata Mia tetap terbuka. Di sampingnya, napas Johan terdengar teratur Mia berbaring kaku, menatap langit-langit yang tak terlihat. Goresan itu kembali terbayang jelas di kepalanya.

Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya merasa cemas.

Ia merasa yakin ada sesuatu yang benar-benar disembunyikan darinya.

Pagi itu, Mia bangun lebih dulu. Cahaya matahari menyelinap tipis dari sela tirai, menerpa sisi ranjang yang kosong di sampingnya. Johan masih tertidur pulas, punggungnya menghadap Ia bangkit pelan, merapikan selimut, lalu melangkah ke kamar mandi tanpa suara.

Di depan cermin, Mia mencuci wajahnya lebih lama dari biasanya. Air dingin menetes dari dagunya, tapi yang membuat dadanya sesak bukan itu. Ingatannya kembali pada gerakan Johan semalam terlalu cepat menutup kaus, terlalu sigap mengalihkan.

 Bukan gerakan orang yang gesit melainkan gerakan orang yang takut.

Di dapur, Mia menyiapkan sarapan seperti biasa.. Mia memilih diam, bukan karena tidak tahu harus berkata apa, melainkan karena ia tahu pertanyaan sekarang hanya akan membuat Johan lebih rapi menyembunyikan jejak.

Saat Johan akhirnya keluar kamar, ia menyapa singkat.

“Pagi.”

“Pagi,” jawab Mia, datar tapi tidak dingin.

Mereka duduk berhadapan, sendok beradu piring. Johan tampak biasa saja, seolah semalam tidak ada apa-apa. Mia memperhatikan dari balik kesibukannya sendiri cara Johan menghindari tatapan, cara ia buru-buru bangkit setelah selesai makan.

Dan di detik itu, Mia membuat keputusan kecil yang akan mengubah banyak hal

Ia berhenti menjadi istri yang menunggu penjelasan.

Ia mulai menjadi perempuan yang mengamati.

Usai menyelesaikan sarapan, Johan merapikan bagian kemejanya di depan cermin.

“Bareng, nggak?” serunya singkat.

“Iya,” jawab Mia.

Di dalam mobil, mereka nyaris tak bertukar cerita. Mia tidak menanyakan apa pun tentang kegiatan Johan selama di Bandung. Sikap itu justru membuat Johan salah tingkah terlalu sunyi untuk disebut biasa.

Saat mobil terjebak macet, Johan berusaha mencairkan suasana. Ia berdehem pelan.

"Ergh hmm" Johan berdehem kecil untuk mencari perhatian Mia

“ Kamu nggak penasaran kegiatanku selama di Bandung?”

Mia menoleh. Sebuah senyum tipis terbit di wajahnya senyum yang membuat Johan merasa seperti dikuliti perlahan.

“Buat apa?” ujarnya datar.

“Aku percaya kamu, kok.”

Namun justru dari cara Mia mengucapkannya, dada Johan terasa sesak. Nada itu sama sekali bukan nada yang mengandung kepercayaan, melainkan sindiran yang dingin dan tajam.

Mia kembali menatap jalan di depannya. Tangannya terlipat rapi di pangkuan, tubuhnya tegak, seolah pagi itu tak menyisakan apa pun untuk dibicarakan. Mesin mobil menderu pelan, klakson bersahutan, tapi di dalam kabin justru terasa sunyi sunyi yang menekan.

Johan menggenggam setir sedikit lebih kuat, rahangnya mengeras. Ia menyesal telah membuka topik itu. Diam Mia bukanlah ketenangan, melainkan jarak.

Mia sendiri tahu persis apa yang sedang ia lakukan. Ia memilih tidak bertanya, bukan karena tidak ingin tahu, melainkan karena jawaban apa pun tak lagi ia perlukan.

Ada sesuatu yang berubah di dadanya bukan marah, bukan cemburu melainkan keteguhan yang dingin. Kepercayaan, baginya, bukan lagi sesuatu yang diminta atau diyakinkan, melainkan sesuatu yang diuji oleh sikap.

Lampu hijau menyala.

Johan melirik sekilas, berharap menemukan celah, tapi yang ia dapat hanya wajah Mia yang tenang dan tak terjangkau. Senyum tipis itu kembali terbayang, membuatnya gelisah. Untuk pertama kalinya, Johan menyadari kebisuan Mia jauh lebih menakutkan daripada pertanyaan mana pun.

Mobil kembali melaju, Johan mengantar Mia lebih dulu ke kantornya.

Sesaat sebelum Mia turun, Johan menoleh.

“Have a great day, sayang.”

“Have a great day,” sahut Mia datar, nyaris tanpa ekspresi.

Ia segera turun, menutup pintu, lalu melangkah menuju lobi tanpa menoleh sedikit pun.

Johan mengernyit. Ada sesuatu yang janggal dari sikap Mia pagi itu.

“Kenapa dia? apa dia curiga?” gumamnya.

Ia termenung sejenak, lalu menepuk jidatnya sendiri.

“Ooh… damn.”

Ingatan Johan melompat pada luka goresan di punggungnya. Ia tidak menyadari bahwa Mey meninggalkan jejak saat mereka terlibat dalam permainan terlarang di Bandung. Johan memukul setir dengan kesal. Wajar jika Mia curiga luka cakar itu terlalu jelas untuk dianggap kebetulan. Ia tahu, Mia bukan perempuan yang mudah dibodohi.

Mia berdiri di lobi beberapa detik lebih lama.. Ia menoleh ke belakang mobil Johan sudah menghilang di tikungan. Tidak ada lambaian, tidak ada rasa kehilangan. Hanya ruang kosong yang terasa ganjil di dadanya bukan sedih, lebih mirip sadar.

“Lanjutkan permainanmu, sayang,” gumam Mia lirih. Bibirnya mbentuk senyum sinis.

“Kalau kamu pikir aku tidak tahu apa-apa, kamu salah!.”

" Aku ingin tahu sejauh apa, kamu bisa menutupi bangkai.”

Ia melangkah masuk, kartu akses ditempelkan dengan tenang.

Di meja kerjanya, Mia menyalakan komputer seperti biasa. Jari-jarinya bergerak cekatan, wajahnya datar tak ada yang tahu badai apa yang sedang ia simpan. Ia membuka laporan, lalu kalender, lalu berhenti sejenak di layar ponselnya. Tidak ada pesan baru , bagus artinya Johan masih memilih diam.

Mia menyandarkan punggung, menarik napas pelan. Ia mulai menyusun potongan demi potongan Bandung ,strawberry , alasan tugas yang tak masuk akal, pesan Mey yang terhapus, luka di punggung Johan, sikap defensif . Terlalu banyak kebetulan untuk disebut kebetulan.

“Kalau kamu mau main rapi,” batinnya,

“Aku bisa lebih rapi.”

Ia mengunci ponsel dan kembali bekerja—kali ini dengan satu tujuan baru. Bukan mencari pengakuan,bukan menunggu penjelasan. Tapi memastikan, saat kebenaran muncul nanti, ia sudah berdiri di posisi paling siap.

Sore itu, saat Mia hendak menutup pekerjaannya, notifikasi masuk ke ponselnya.

Alis Mia bertaut. Jarinya berhenti di udara. Nomor siapa ini? Dalam beberapa detik, ingatannya melompat pada kotak strawberi yang Johan bawa semalam yang tak pernah ia suka.

“Jadi… itu sebenarnya bukan untukku? Hmm menarik!” gumam Mia lirih.

Ia tidak membalas. Tidak juga menelepon. Dengan tangan yang mulai dingin, Mia menelusuri jejak nomor itu. Nama yang muncul membuat napasnya tercekat.

"Ap- apaa? Mey?!. Mia menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.

" Jadi luka cakaran itu?, " Airmata Mia mulai meleleh di sudut matanya.

Potongan-potongan itu menyatu begitu saja Bandung, stroberi, luka cakaran di punggung . Dadanya terasa sesak tangannya gemetar Pecahnya mangkuk semalam tiba-tiba terasa masuk akal bahwa itu pertanda tidak baik seperti kata ibunya.

Ia bangkit dari kursi, langkahnya limbung, setengah berlari keluar ruangan menuju toilet. Rina yang melihat sekilas hanya sempat mengernyit heran.

 Di dalam toilet, Mia akhirnya heran tangisnya pecah, tubuhnya gemetar, tangannya memukul dada sendiri seakan mencoba menahan sakit yang tak tahu harus diletakkan di mana.

Lima belas menit berlalu, Mia tak kunjung kembali. Rina yang gelisah menyusul. Saat pintu toilet dibuka, ia mendapati Mia terduduk di lantai, bersandar di wastafel, bahunya naik turun menahan isak yang belum selesai.

1
Siti Amyati
orang tua yg terlalu mencampuri rumah tangga anaknya bisa bikin tidak nyaman pasangan
Pelangi senja: itu karena awalnya emaknya tidak suka samaemantunya jadi di cari cari kesalahannya
total 1 replies
Siti Amyati
kalau sdah ngga bisa di pertahanin mending di tinggal apalagi ibunya terlalu mencampuri yg bukan ranahnya lanjut kak
Pelangi senja: iya tapi mertua model begini ada dalam Dunia nyata
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!