NovelToon NovelToon
Obsesi Teman Papa

Obsesi Teman Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Beda Usia / Duda / Cintapertama
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Zhahra Putri

Kisah cinta pandangan pertama seorang pria dewasa kepada gadis muda, yang merupakan anak dari teman baiknya, dan berakhir menjadi obsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhahra Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Beberapa Kilas Balik

Flashback On..

Setelah memastikan Kayla dan Kaivan tidak terganggu dalam tidurnya, Bibi akhirnya meninggalkan kamar. Dari lantai atas dia melihat tidak ada lagi cahaya dari arah ruang tengah, dan langsung menebak jika Keisya sudah tidur dan Bastian sudah pulang.

Dia berjalan tanpa penerangan, hanya mengandalkan insting dan pengetahuannya tentang rumah tempatnya bekerja tersebut. Satu satunya lampu emergency yang tersisa dia tinggalkan di kamar si kembar.

Namun tanpa di duga, dia melihat sesorang berjalan di gelapan. Dia waspada, dan mulai mengendap mengikuti.

Saat itu hanya satu hal dalam kepalanya, itu adalah maling.

Meski tidak yakin akan menang, dia tetap mengendap dan terus melangkah tanpa suara. Sampailah dia di samping rumah, dimana ada pintu gerbang kecil yang biasanya dia gunakan untuk beraktivitas keluar masuk rumah tanpa harus lewat area depan.

Mulai dari sana dia ragu dengan pikirannya. Rasanya tidak mungkin jika maling bertindak seperti yang dilihatnya sekarang. Arah laki-laki itu menuju keluar, tapi sama sekali tidak ada barang bawaan di tangannya. Gerak geriknya pun tampak biasa, tidak menunjukan seperti dia sedang waspada dengan sekitar.

Paham kan?

Kenapa dia tahu, karena ternyata, hanya rumah majikannya yang mengalami mati listrik. Sedangkan yang lain tidak.

Dia sejujurnya heran. namun itu bukan point utamanya. Karena begitu orang yang dia pikir maling terlihat jelas, raut wajahnya dipenuhi oleh keterkejutan.

Laki-laki itu adalah, Bastian.

Banyak pertanyaan dalam benaknya, namun dia memilih memperhatikan.

Di luar ternyata ada satu laki-laki lain yang sepertinya sudah menunggu Bastian.

Yang terjadi setelahnya semakin membuatnya tak bisa berkata-kata.

Berbagai fakta dia dengar, dimana semua yang terjadi hari ini merupakan sebuah konspirasi.

Dan yang lebih mendebarkan dari semua itu adalah, keberadaannya diketahui oleh Bastian.

Pria itu dengan tenang mendatanginya dan berbicara dengan santai, namun syarat akan ancaman dan peringatan.

"Bibi ada keluarga?"

Dia mengangguk takut.

"Bibi tahu harus apa kan?"

Anggukan kepala kembali dia berikan.

"Kalau kejadian malam ini terbongkar, Bibi orang pertama yang saya datangi. Bukan cuma Bibi, tapi seluruh keluarga Bibi akan tahu akibatnya"

Setelah malam itu, dia tidak pernah lagi berada satu ruangan yang sama dengan Bastian. Bahkan untuk sekedar membuka pintu untuk Sisi yang berkunjung keesokan harinya, dia enggan melakukannya.

Karena di depan ada Bastian yang sedang menemani Keyla dan Kaivan.

Terkadang saat dia melihat kebaikan Keisya dan Gunawan, hati kecilnya tergerak, seolah mendorongnya untuk mengadukan semuanya.

Namun sisi lain dirinya mengatakan sebaliknya, dan memintanya untuk bersikap egois. Ada keluarganya yang menjadi taruhannya.

Bastian bukan orang yang bisa dia usik. Jangankan dirinya, Gunawan saja masih kalah jauh jika di bandingkan dengan kekuasaan seorang Bastian.

Flashback Off..

\=\=\=\=\=

Kalian tahu Bastian membawanya kemana?

Ke acara reuni pria tersebut.

Benar.

Itu tanpa sepengetahuannya. Dia tahu setelah sudah berada di tempat acara dan hanya bisa bengong, tak tahu harus berbuat apa.

Benar-benar gila.

"Ekspresi kamu sekarang seperti korban penculikan" kekeh Bastian.

Keisya melirik kesal, "Emang bukan?" sindirnya.

"Tentu saja bukan. Saya mengajak kamu baik-baik"

Wajah julid Keisya langsung muncul.

Apa katanya?

BAIK-BAIK?!

"Kamu tidak saya bius. Jadi kamu pergi kesini dengan sukarela" kata Bastian lagi dengan santainya.

"Aku terpaksa kalau Om lupa"

Bastian mengangkat bahunya, "Saya tidak peduli"

Keisya berdecak, "Lagian kenapa aku di ajak kesini sih?"

"Yang datang hari ini kebanyakan membawa pasangan. Kamu tahu sendiri saya duda. Saya malas dikatai jomblo terus terusan. Jadi saya ajak kamu sebagai pasangan saya"

Apa katanya? Pasangan?

Enteng sekali Om Om satu ini berbicara, seolah semua tindakannya tidak akan menimbulkan resiko di kemudian hari.

Bayangkan, bagaimana reaksi teman satu angkatan Bastian jika melihat dirinya—yang jauh di bawah usia Bastian —datang sebagai pasangan?

Pasti mereka akan berpikir yang tidak tidak tentang nya kan?

"Kenapa harus aku? Om bisa bawa wanita lain yang seumuran buat pura-pura jadi pasangan Om"

Bastian terkekeh geli. "Kamu yakin saya boleh melakukan itu?"

Keisya kebingungan, "Maksudnya?"

"Malam itu kamu bilang cemburu setelah melihat saya bersama perempuan lain"

Mata Keisya hampir terlepas dari tempatnya begitu kalimat itu keluar dari mulut Bastian.

Apa saja sebenarnya yang dia lakukan malam itu? Tidak cukupkah dengan fakta bahwa dia telah mencumbui teman Papa-nya?

Benarkah dia juga mengatakan itu?

Atau jangan jangan dia juga mengungkapkan perasaan berdebarnya saat bersama pria itu?

Keisya menggeleng ribut. Dia enggan mempercayai pikirannya sendiri "Om pasti bohong kan?" dia tertawa canggung, "Ga mungkin aku bilang begitu"

"Perlu saya tunjukan rekaman CCTVnya?"

"Ada rekamannya?!" Keisya terkejut, dia menutup mulutnya karena suaranya sangat keras.

Bastian tidak bisa menahan tawanya. Gadisnya ini benar-benar sangat polos dan menggemaskan. Tidak mungkin juga dia menunjukan rekaman itu. Yang ada semuanya terbongkar.

Bahkan mereka masih berada di lorong kamar hotel, Bastian sudah tidak tahan untuk mencium gadisnya. Perang bibir melibatkan lidah itu berlangsung panas, sampai mereka masuk ke dalam kamar yang sudah di persiapkannya.

Ciuman berbalas itu jauh lebih bergairah dari sebelumnya.

Bastian menyudutkan Keisya di pintu kamar, sebelum akhirnya berjalan menuju ranjang.

Tanpa melepaskan ciuman mereka, Bastian membaringkan Keisya dengan dirinya yang kini berada di atasnya.. Tangannya yang kini terbebas mulai mencari mangsa, menuju bagian tubuh yang sejak awal sudah membuatnya hilang fokus.

Bagian dada.

Baru gerakan kecil dia berikan, Keisya sudah melenguh keenakan.

"Enak, sayang?" suara serak Bastian mengalun.

"Iya Om. Lagi. Terus Om. Iya di situ" Keisya menengadah, bibir bawahnya dia gigit.

Bastian dengan senang hati mengabulkan permintaan gadisnya. Bahkan sekarang salah satunya sudah berada dalam mulut Bastian dalam sekejap, tanpa melepaskan satunya lagi.

Keduanya dia mainkan bersamaan.

Keisya semakin bergerak tak karuan, dan tidak lama mengejang kecil saat puncaknya datang.

Bastian cukup bangga dengan kemampuannya itu. Padahal hanya di bagian atas. Bagaimana jadinya jika bagian bawah? Pasti lebih dari barusan kan?

"Om, aku juga mau begitu"

Posisi mereka berganti. Kini Keisya berada di atasnya, menduduki miliknya yang sudah mengeras. Gadisnya itu melakukan persis dengan apa yang dilakukannya sebelumnya. Bedanya, jika dia tidak meninggalkan jejak, Keisya justru sebaliknya.

Tapi itu bagus, itu akan dia jadikan alibi keesokan harinya.

"Wow! Seorang Bastian si kulkas empat pintu bisa tertawa?!" Pekikan antusias seorang pria yang baru datang dari belakang mereka, membuat perhatian Keisya dan Bastian teralihkan. Ekspresi Bastian langsung kembali ke setelan awal.

Pria itu langsung berdecih, "Ya elah. Baru juga sebentar, udah datar lagi tuh muka"

Keisya menatap heran pria tersebut. Jika bukan berada di tempat yang sama, dia akan berpikir jika orang ini jauh lebih tua dari Bastian dan Papanya.

Rambutnya hampir semuanya putih. Entah disemir, atau memang sudah bawaan. Perawakannya pun sedikit pendek dan berisi, dengan perutnya yang buncit.

Cocok sebenarnya dengan caranya berbicara yang terkesan konyol. dan berani.

Sampai pandangan mereka bertemu, Keisya menunjukan senyum ramahnya. Karena tidak mungkin dia menunjukan ekspresi seperti Bastian kan?

Wajar saja seharusnya.

Tapi justru membuat Bastian tidak senang.

"Hai manis. Cantik banget sih, boleh kenalan kan?"

Keisya hampir membuka mulutnya, namun urung saat Bastian tiba-tiba menariknya dan membawanya pergi.

"Itu temen Om juga?" Keisya berusaha melihat ke belakang, Pria itu tengah mengumpati Bastian. Dia meringis mendengar bahasa yang keluar.

Bastian enggan menanggapi. Dia justru berbicara hal lain sampai membuat Keisya heran.

"Nanti jangan panggil saya Om lagi"

"Hum?"

"Panggil sayang, seperti malam itu"

Dih!

1
D_wiwied
pasti dikasih obat tidur lwt air mineral, ya kan om tebakanku bener kan 🤭
D_wiwied
halaah lumayan kan pak dud, jd bs gendong keisya walo cm sebentar🤭
D_wiwied
kenyamanan ya Vid, calon ibu barumu itu.. baru dikejar ma ayahmu, doakan aja bisa segera jd ibumu beneran 😁
Esti 523
baca part ini jd guling2 sendiri ngebayangin nya
Esti Purwanti Sajidin
ahhhh cerdas jg kamu nak memastikan hati nya dulu ya kai
D_wiwied: hmmm gayung bersambut, tp kei masih malu2 utk mengakuinya
total 1 replies
Fitri Widia
Ceritanya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!