Dio tak menyangka wanita yang ditemuinya dalam hitungan jam berani melamarnya. Bagi dirinya itu adalah sebuah penghinaan meskipun wanita yang ditolongnya cantik dan mampu memberikan seluruh harta. Dio pun menolak keinginannya, tetapi si cantik Laras tetap terus mengejarnya.
Apakah Dio bersedia menerima lamarannya atau tetap pada pendiriannya mencintai kekasihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode Kesembilanbelas
Perut telah terisi 2 kali dan tidur sehabis perjalanan jauh sudah dilakukan. Waktunya keduanya menikmati jalan-jalan di sore hari.
"Kamu mau jagung bakar?" tanya Laras.
"Boleh juga," jawab Dio.
"Kita ke tempat penjual jagung bakar yang cukup terkenal," kata Laras.
Keduanya lalu melangkah ke tempat tersebut, butuh waktu 15 menit ke sana. Sesampainya, tampak antrian yang cukup panjang dan di dominasi kaum wanita.
"Memangnya seenak apa jagungnya?" tanya Dio karena melihat antusias orang-orang yang datang membeli.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Belum pernah mencoba," jawab Laras sembari berdiri menunggu antrian.
Selang 20 menit mengantri akhirnya giliran Laras dan Dio bertemu dengan penjualnya. Seorang pria 30 tahun sangat tampan yang memiliki ciri khas wajah warga negara yang mereka kunjungi.
Laras mengajak bicara sang penjual dengan bahasa Internasional agar memudahkan interaksi jual beli. Dio hanya mendengarnya karena tak terlalu mengerti dan paham.
Setelah mendapatkan makanan yang mereka inginkan, Laras dan Dio duduk di kursi yang telah disediakan buat menikmati jagung bakar dan teh hangat.
"Pantas saja ramai, penjualnya seperti model!" ucap Dio sinis.
Laras tersenyum nyengir.
"Kamu juga tampan, cuma beda negara saja. Wanita-wanita di sini juga tertarik dengan pria-pria seperti kamu," kata Laras sambil menggigit jagung bakar miliknya.
"Aku tidak tertarik dengan mereka. Aku juga tak mengerti bahasa mereka," ucap Dio.
"Kalau kamu tertarik dengan mereka, berarti kamu ingin perpisahan," kata Laras menyinggung.
"Jangan berdebat di negara ini, Ras. Orang tuamu mengeluarkan uang banyak buat kita senang-senang jadi jangan memancing pertengkaran!" Dio mengingatkan istrinya.
"Kamu ingin aku membuktikan kalau aku ini masih suci?" tanya Laras lagi yang paham jika kedua orang tuanya sengaja menyuruh mereka ke luar negeri biar Dio membuktikan ucapannya.
Dio menghela nafas dan menatap istrinya, "Cukup, ya, Laras. Kita ke sini untuk senang-senang."
"Hmm.. baiklah. Aku juga sedang datang bulan," ucap Laras berbohong.
***
Dua hari sudah Laras dan Dio berada di kota pertama, masih ada 3 negara lagi yang akan mereka kunjungi.
Hari ini Laras dan Dio pergi ke sebuah kota di negara yang sama. Mereka menemui salah satu temannya Johan yang bekerja di sana.
"Maafkan Tante kemarin tidak datang ke acara pernikahan kalian!" ucap wanita paruh baya sembari memegang kedua tangan Laras.
"Tidak apa-apa, Tante." Laras tersenyum tipis.
"Sebagai kado, Tante akan mengajak kalian ke restoran terkenal di kota ini. Makanannya sangat lezat sekali!"
"Mau, Tante!" ucap Laras setuju.
Mereka pun berangkat ke restoran itu menggunakan 2 mobil milik temannya Johan. Sesampainya, mereka memesan 1 meja makan berukuran panjang dengan 12 buah kursi.
Dio yang tak mengerti bahasa di buku menu meminta istrinya itu memesan makanan untuknya.
Sambil menunggu makanan dan minuman yang dipesan datang, mereka mengobrol. Tanpa sengaja, mata Laras mengarah kepada sosok pria yang hanya terlihat punggungnya saja. Dio yang duduk di sampingnya lantas mengikuti arah pandangan istrinya.
"Lihat siapa?" Dio bertanya dengan suara pelan dekat telinga Laras.
"Tidak ada," jawab Laras lantas menoleh ke arah suaminya.
Beberapa menit kemudian, Laras yang menikmati makanannya tampak kepikiran dengan sosok pria tersebut. Ia merasa sangat mengenalnya, ingin mengejarnya tapi tak mau takut akan banyak pertanyaan untuknya.
Dua jam sudah Laras dan Dio berkumpul bersama keluarga besar teman ayahnya di restoran. Keduanya lalu diantarkan sampai ke stasiun kereta api buat kembali ke kota tempat mereka menginap.
"Siapa yang tadi kamu lihat di restoran?" tanya Dio karena ia yakin istrinya menyimpan sesuatu.
"Seperti temanku," jawab Laras.
"Kenapa tidak kamu kejar?" tanya Dio lagi.
"Aku cuma tak yakin saja," jawab Laras.
"Oh, begitu," ucap Dio.
Keduanya akhirnya tiba di pusat kota negara itu setelah melakukan perjalanan 2 jam. Sebelum kembali ke hotel, mereka lanjut menikmati jajanan yang berada di sekitar jalanan.
Lagi-lagi Laras melihat sosok yang sama ketika di restoran. Pria itu merangkul pinggang seorang wanita. Laras bergegas beranjak dari tempat duduknya dan mengejarnya dengan melangkah cepat.
Dio lalu mengikuti istrinya, sebab dia tak tahu arah jalan pulang ke hotel. "Laras, mau ke mana?"
"Aku melihat dia," Laras terus berjalan.
"Dia siapa?" Dio benar-benar tak mengerti.
"Alex!" Laras menghentikan langkahnya.
"Kekasihmu?" tanya Dio menatap istrinya.
"Mantan," jawab Laras.
"Kenapa kamu mengejarnya? Apa kalian berjanji bertemu di sini?" Dio menuding jika istrinya masih memiliki hubungan khusus dengan sang mantan.
"Kamu masih berpikir tentang aku begitu?" Laras terlihat kesal.
"Tapi, kenapa kamu harus mengejarnya?" tanya Dio.
Laras lalu menceritakan semua pertemuan terakhirnya dengan Alex beberapa waktu lalu.
"Jadi, kamu memberikan dia uang?" tanya Dio heran sebab istrinya sangat tak perhitungan dengan mantan.
"Aku kasihan. Aku juga tidak mau dia mengganggu pernikahan kita," jawab Laras.
"Kalau begitu kenapa kamu mengejarnya? Biarkan saja dia bersama orang lain!"
"Aku tidak rela aja, dia bersenang-senang dengan wanita lain sedangkan uangnya itu dari aku!" kata Laras karena dia juga pernah mendengar cerita para sahabatnya jika Alex mempunyai wanita lain selain dirinya tetapi dia tak percaya.
"Siapa suruh kamu jadi wanita bodoh?" kesal Dio.
Laras mengerucutkan bibir, ia juga baru sadar telah dikhianati dan ditipu.
"Pantas saja orang tuamu menjebak dan memaksa aku buat menikahimu biar terlepas dari pria jahat itu!"
"Aku juga baru sadar!" sesal Laras.
"Tidak usah lagi dikejar, lebih baik kita balik ke hotel. Aku sudah mengantuk!" Dio menggenggam tangan istrinya dan keduanya berjalan beriringan menuju hotel.
***
Seminggu kemudian, Dio dan Laras telah berpindah negara. Keduanya jalan-jalan di pusat kota sembari menikmati jajanan. Lagi-lagi Laras bertemu dengan Alex bersama wanita lain di negara itu.
Mereka berpapasan dan membuat Alex terkejut sehingga melepaskan genggaman tangannya dijemari kekasihnya.
"Oh, jadi kamu minta uang buat menyenangkan wanita lain?" tanya Laras menyinggung.
"Bukan begitu, Ras. Kami kebetulan bertemu di sini," jawab Alex menyangkal.
"Kebetulan tapi mengunjungi beberapa negara," ucap Laras menyindir.
"Kalau kamu tidak percaya, silahkan tanya 'kan saja kepadanya," Alex menoleh sekilas ke arah teman wanitanya.
"Tidak perlu dan aku juga sudah tak peduli kamu mau dekat dengan siapapun. Karena hubungan kita telah lama berakhir!" tegas Laras kemudian melangkah menjauh.
"Aku suaminya Laras. Jangan coba-coba mengusik hidupnya, kalau kamu mau selamat!" Dio berkata dengan nada dingin dan tegas. Ia pun bergegas mengejar langkah istrinya.
"Oh, sial. Kenapa aku bisa bertemu dengannya di sini?" kesal Alex. Padahal, ia sengaja pindah ke negara lain biar tak bertemu Laras. Eh, dia malah apes. Laras mengetahui jika uang yang diberikannya buat menyenangkan kekasih gelapnya.
-
Laras menghentikan langkahnya dan duduk di bangku yang ada di sekitar taman. Ia menangis menyesal karena selama ini terlalu percaya dengan Alex.
"Patah hati?" Dio duduk di samping istrinya.
Laras menyeka air matanya, "Tidak."
"Lalu kenapa menangis?" tanya Dio.
"Kesal aja!" jawab Laras.
"Sudah tahu semuanya, 'kan?" tanya Dio lagi.
Laras mengangguk mengiyakan.
"Apa sudah lega?"
"Sudah."
"Kalau begitu kita makan!" ajak Dio beranjak berdiri.
Laras menautkan alisnya.
"Menangis membuat tubuh lemas. Kamu perlu makan biar kita kuat berkeliling," kata Dio.
Perkataan suaminya membuat Laras tertawa kecil.
"Jangan duduk saja, ayo kita cari makanan!" Dio mengulurkan tangannya.
Laras menyambut uluran tangan suaminya dengan senyuman.
"Nah, gitu dong!" Dio tersenyum melihat istrinya bangkit dan memegang tangannya.