Pernikahan bisnis yang sudah di rancang sedemikian rupa terancam batal hanya karna mempelai wanita kabur di hari pernikahan. Bintang, selaku kakak yang selama ini selalu di sembunyikan terpaksa harus menggantikan Lidya.
"Yang ku inginkan adalah Lidya! Kenapa malah dia yang menjadi mempelainya?!" Pekik Damian pagi itu.
"Kita tidak punya pilihan, hanya ada dia."Jawab sang ayah.
Damian menatap Bintang dingin, "Baiklah, akan ku perlihatkan padanya apa yang namanya pernikahan itu."Balasnya dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aneh
Ke esokan paginya Bintang terbangun agak lambat dari pada biasanya, gadis itu bangun ketika jam sudah menunjukkan pukul sebelas pagi.
"Auh."Ringisnya saat bagian bawahnya terasa sangat sakit, rasanya perih bahkan dia sedikit sulit untuk menggerakkan tubuhnya.
"Nggak usah buru buru bangun, aku udah bilang ke papa kalau kamu kecapean habis bertempur denganku jadi mereka memutuskan untuk liburan berdua dan kita di suruh istirahat hari ini."Ujar Damian, mendengar suara itu Bintang pun terlonjak kaget apalagi saat melihat pria itu yang nampak duduk di sofa yang ada di kamar itu sembari menyeruput kopinya.
"Tuan bilang kalau kita bertempur?"Tanya Bintang malu malu.
"Tentu saja dan mereka sangat bahagia saat mendengar itu."Ujar Damian dingin seperti biasanya.
"Aaah begitu."Ujar Bintang, gadis itu hendak turun dan memakai bajunya tapi bagian bawahnya terlalu nyeri dan dia sangat sulit untuk menggerakkan tubuhnya.
"Masih sakit?"Tanya Damian penasaran.
Bintang menganggukkan kepalanya pelan.
Damian menghela nafasnya pelan, dia meninggalkan segelas kopi dan juga ponselnya kemudian mendekat ke arah Bintang, "Kamu mau mandi?"Tanyanya pelan.
"Iya, tuan."Balas Bintang seadanya.
Mendengar itu, Damian pun langsung mengangkat Bintang dengan sekali angkat lalu pria itu terdiam sesaat ketika melihat banyaknya darah yang ada di seprei kasur itu. Darahnya sangat banyak, cukup untuk menjelaskan jika gadis itu tidak berbohong tadi malam.
"Darah sebanyak itu, apa tidak di denda tuan?"Tanya Bintang penasaran.
"Tidak masalah."Balas pria itu dingin, setelah menjawab pertanyaan Bintang pria itu pun langsung membawa gadis itu ke kamar mandi, meletakkannya di dalam bathup kemudian mengatur suhu air yang ada di dalam benda itu.
"Berendamlah beberapa saat, ini akan meredakan sakit di bagian bawah tubuhmu."Ujar Damian, dia bangkit setelah memastikan jika suhu airnya pas baginya.
"Baik tuan, terimakasih banyak."Ujar Bintang, setelah mendengar jawaban Bintang Damian pun langsung keluar dari kamar mandi karna tubuhnya sudah bereaksi terhadap Bintang dan jika dia tidak pergi saat itu juga, mungkin dia akan melakukan hal gila kepada Bintang yang masih kesakitan.
"Ternyata dia tidak sejahat itu."Gumam Bintang dengan nada pelan, tiba tiba banyangan tentang malam pertama mereka kembali terlintas di benak Bintang dan membuatnya kembali merona.
"Dia bahkan membuat pilihan untukku, dia tidak sebrengsek itu."Imbuh Bintang sekali lagi.
"Bahkan dia membantuku ke kamar mandi dan mengatur suhunya untukku."Ujar Bintang dengan nada pelan. Semburat merah di iringi dengan senyuman perlahan terbit di wajahnya, hatinya terasa hangat seiring dengan pelakuan Damian yang sangat baik kepadanya.
"Apa yang aku pikirkan! Ingat Bintang, pernikahan ini semu dan kamu ada di sini karna Lidya kabur dan setelah melahirkan anak, kamu bisa bebas. Sebaiknya kamu fokus dan tetap berada di jalur."Ujar Bintang kepada dirinya sendiri, dia harus menahan diri karna dalam perjanjian itu jelas menegaskan jika dia tidak boleh jatuh cinta kepada Damian dan begitu pula sebaiknya.
Setelah menghabiskan sekitar setengah jam berendam, Bintang akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan proses mandinya yang lama. Gadis itu perlahan bangun dari bathup dengan hati hati, mengandalkan dirinya sendiri agar tak tersungkur ke lantai kamar mandi yang terasa dingin.
"Gimana?"Tanya Damian penasaran ketika melihat Bintang yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan langkah yang sedikit tertatih. Gadis itu melangkah pelan pelan sembari memegang erat handuknya, takut jika benda berbulu yang berwarna cream itu jatuh ke lantai di hadapan Damian.
"Udah agak mendingan, tuan."Balas Bintang seadanya, bagian bawahnya memang masih sakit tapi ini jauh lebih baik dari pada sebelumnya.
"Baiklah, istirahat saja. Ada sarapan di atas meja buat kamu, nggak usah kepedean ya kalo aku yang pesanin karna aku belinya kelebihan aja."Ujar Damian dengan nada pelan, merasa sedikit gengsi jika dia memang membeli makanan itu untuk Bintang.
"Terimakasih, tuan."Ujar Bintang dengan penuh rasa syukur karna dia juga merasa sangat lelah dan lapar.
"Hm."Balas Damian, setelah mengatakan itu dia pun langsung keluar dari kamar karna dia tahu Bintang pasti masih canggung untuk mengganti baju di hadapannya.
Sesampainya di luar kamar, pria itu pun langsung menelpon seseorang kepercayaannya di luar sana.
"Bagaimana? Udah ada hasil?"Tanya Damian kepada penelpon di ujung sana.
"Maaf tuan, kami masih berusaha mencari karna sepertinya nona Lidya pergi ke luar negeri dengan identitas palsu."Jawab Dion di seberang telepon.
"Lakukan apapun agar bisa menemukan dia, aku tidak peduli berapa pun biayanya yang penting dia ketemu."Ujar Damian. Dia langsung mematikan panggilannya dengan kesal membanting ponselnya yang sebelumnya dia genggam.
"Dimana dia?"Gumam Damian bingung, dia sudah mencari ke hampir seluruh penjuru negri dan sama sekali tidak menemukan dimana keberadaan Lidya saat ini.
"Tunggu aku Lidya, aku akan menemukan kamu dan mengembalikan semuanya seperti semula."Ujar Damian dengan penuh tekad.
Sementara itu di dalam kamarnya, Bintang terlihat sudah mengenakkan baju tidur seksi yang sudah di siapkan oleh hotel.
"Ini gimana cara pakenya? Kalo aku pake ini ya pasti mati kedinginan."Ujar Bintang, dia menatap baju tidur berwarna hitam yang nampak sedikit transparan dengan tali kecil yang menghiasi di kedua bahunya.
"Nggak nggak, aku nggak mau pake ini."Ujar Bintang dengan nada pelan, dia melepaskan baju haram itu kemudian meletakkannya di atas kasur kemudian mengambil sebuah gaun yang sedikit longgar untuk menutupi tubuhnya.
"Seenggaknya ini jauh lebih layak."Ujar Bintang, setelah memastikan jika tubuhnya sudah tertutupi dengan benar Bintang pun langsung menyantap makanan yang di pesankan oleh Damian sebelumnya.
"Bintang."Panggil Damian ketika gadis itu sedang menyantap makanannya.
"Ya, tuan?"Tanyanya dengan bingung karna seharusnya tidak ada lagi yang perlu di bicarakan oleh mereka saat ini.
Damian diam sesaat, awalnya dia masuk karna ingin mencari tahu dimana kemungkinan Lidya berada saat ini, tapi belum sempat dia menanyakan itu dia malah salah fokus dengan baju Bintang yang kebesaran.
"Kebesaran?"Tanyanya ambigu.
"Maksud, tuan?"Tanya Bintang bingung.
"Baju kamu, itu baju yang aku belikan untuk Lidya dan sepertinya sangat besar karna kamu kecil berbeda dengan Lidya yang proposional."Ujar Damian, pria itu mengutarakan ke khawatirannya dengan cara yang agak aneh.
'Ini dia khawatir atau menghina ya?' Gumam Bintang di dalam hatinya, kalimat Damian semacam mengandung ke khawatiran tapi di sisi lain di akhir kalimatnya dia malah menghina bentuk tubuh Bintang.
"Iya tuan, agak besar tapi nggak apa apa masih bisa di pakai kok."Jawab Bintang.
"Cepat selesaikan makanmu, kita belanja karna jika papa dan Raisa melihat kamu memakai pakaian seperti itu maka mereka pasti akan curiga."Ujar pria itu sepihak, setelah mengatakan itu dia pun langsung keluar dari kamarnya dan meninggalkan Bintang.
"Aneh."Hanya satu kata itu yang terucap di mulut Bintang, setelah itu dia pun langsung buru buru menghabiskan makanannya sebelum Damian kembali masuk dan mengoceh kepadanya.