NovelToon NovelToon
Menjadi Tawanan Monster Tampan

Menjadi Tawanan Monster Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ummu_Fikri

Seorang gadis cerdas, tetapi Cupu bertemu tanpa sengaja dengan seorang laki-laki dengan aura tidak biasa. Pertemuan itu adalah awal dari kisah panjang perjalanan cinta mereka. Laki-laki itu menunjukkan sikap tidak sukanya, tetapi dibelakang ia bak bayangan yang terobsesi pada kelinci kecil. Akankah kelinci itu terperangkap, atau justru mencoba kabur dari pengejaran si dominan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Welcome to My World

Sinar mentari pagi menembus celah gorden otomatis di penthouse Steel Group, menyinari lantai granit yang dingin, memberikan efek pencahayaan alami yang indah.

Di dalam kamar yang beraroma lili putih, sang empunya meringkuk dalam balutan selimut tebal. Ia tidak tidur semalaman. Efek pernyataan cinta dari bibir laki-laki yang ia anggap monster tak berperasaan begitu besar.

Gadis itu bangun dari posisi meringkuk nya, bergerak perlahan menuju tepi tempat tidur kemudian duduk, sambil sesekali mengucek matanya yang memerah.

Tangan kirinya terangkat, memperlihatkan jam tangan biometrik yang masih terus mengirimkan data tentang detak jantungnya ke server pusat milik Axel.

Sang gadis kemudian beralih menatap pantulan dirinya di cermin besar. Wajahnya berantakan, atau sangat jelek. Ia mulai memikirkan banyak spekulasi di kepalanya. Tentang alasan Axel Steel jatuh cinta dan terobsesi padanya, yang hanya seorang yatim piatu miskin. Padahal lelaki itu bisa mendapatkan wanita yang lebih segalanya dari dirinya. Wanita yang lebih cantik, lebih kaya, lebih seksi dan yang bisa menguatkan posisinya dalam dunia bisnis. Wanita yang pantas untuk seorang Axel Steel yang terhormat.

Apalagi tentang pernyataan Axel semalam. Sesilia akhirnya mulai menganalisis sekaligus membedah perasaannya sendiri. Sebagai calon dokter, ia terbiasa mendiagnosa suatu anomali. Dan pagi ini, gadis itu merasakan anomali dalam hatinya. Anomali itu mungkin bernama empati, atau apalah namanya. Akibat anomali sialan itu, Sesilia mulai merasakan getaran hangat untuk pria penculiknya itu.

​"Efek Stockholm," bisiknya pada diri sendiri, mencoba mencari pembenaran medis. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu ini berbeda.

"Ciuman, sialan!!" Sesilia mengumpat pelan.

Pukul 07.00, gadis itu berjalan pelan menuju ruang makan. Axel dengan wajah tak berdosa, sudah duduk disana. Laki-laki itu mengenakan setelan jas biru gelap yang membuatnya tampak lebih tampan dari biasanya.

Di hadapannya terdapat tablet yang menampilkan grafik perdagangan saham London, namun mata kelabunya segera beralih begitu Sesilia memasuki ruangan.

​Ada jeda beberapa detik ketika lelaki itu menatap gadisnya. Ekspresinya menampakkan keinginantahuan yang kentara.

​"Kau bangun lebih awal dari biasanya, sayangku, ucap Axel. Suara baritonnya mengalun lembut. Persis dengan kelembutan yang ia tunjukkan semalam.

​Sesilia duduk, mengambil serbet dengan gerakan yang anggun. "Aku merasa sudah cukup istirahatnya. Terimakasih untuk.....semua..maksudku untuk kenyamanan rumah ini."

Lelaki itu menghentikan gerakan tangannya yang sedang memegang cangkir kopi, kemudian menatap wajah sang gadis dengan tatapan yang aneh. Tumben sekali gadis itu tidak menampakkan wajah masam berlapis kebencian padanya. Ketenangaan yang ditampakkannya hari ini agak mencurigakan.

 "Sama-sama, kenyamanan adalah standar minimal di sini. Kau harus terbiasa, tikus kecil."

​Selama sarapan, Sesilia tidak lagi menundukkan kepala atau menatap dengan benci. Ia mulai mengamati Axel dengan cara yang baru. Ia memperhatikan bagaimana otot rahang Axel mengeras saat membaca berita tertentu, dan bagaimana jari-jarinya mengetuk meja dengan ritme yang teratur.

​"X" panggil Sesilia pelan.

​Axel mendongak. "Ya?" Panggilan itu adalah hal baru bagi lelaki itu.

​"Tentang... ayahku. Terima kasih telah menyelesaikannya." Wajahnya malu-malu.

​Keheningan seketika membeku di antara mereka. Axel meletakkan tabletnya sepenuhnya di atas meja. Ia tidak menyangka gadisnya akan mengakui hal itu dengan tingkah semanis ini.

 "Jangan sebut dia ayah, sayangku. Si brengsek itu sama sekali tidak pantas disebut ayah. Dia memang pantas membusuk di neraka!." Axel menjawab, nadanya tenang tetapi dibalut kebencian yang tidak ditutupi

Sesilia menangkap jawaban itu dengan kebahagiaan yang aneh. Diam-diam, hatinya memekarkan bunga indah karena kata sayang dari seorang Axeel Steel.

​Setelah sarapan, Axel biasanya langsung berangkat ke kantor pusat, namun hari ini ia menetap di ruang kerja rumahnya untuk sebuah pertemuan virtual. Sesilia menggunakan kesempatan ini untuk melakukan sesuatu yang berisiko tinggi. Gadis itu mendekati wilayah pribadi Axel tanpa izin.

​Ia berjalan menuju ruang kerja Axel. Pintu itu terbuka secara otomatis karena sistem keamanan telah "dilunakkan" oleh pria itu sendiri hanya untuk tikus kecilnya sejak minggu lalu, sebuah tanda kepercayaan yang baru disadari Sesilia sekarang.

​Di dalam ruangan yang maskulin itu, Sesilia melihat meja kerja Axel. Di sana, di samping dokumen bernilai miliaran dolar, terdapat sebuah bingkai foto kecil yang menghadap ke arah kursi kerjanya. Tanpa rasa takut sedikitpun, gadis itu memutarnya. Ternyata foto itu adalah foto dirinya sendiri. Sedang tersenyum indah bersama Uni. Kupu-kupu, seakan sedang beterbangan dalam perutnya.

​"Kau tidak seharusnya berada di sini, tikus kecil."

​Suara Axel muncul dari balik pintu yang terbuka. Ia berdiri di sana, menatap Sesilia yang memegang bingkai foto itu. Ada kilatan kerentanan di mata Axel yang segera ia tutupi dengan langkah yang mengintimidasi.

​Sesilia tidak lari. Ia justru berdiri diam, memegang foto itu. "Kau menyimpannya di sini. Di tempat paling pribadi dalam pekerjaanmu."

​Axel melangkah mendekat, aroma sandalwood dan wangi kantor yang tajam menyelimuti Sesilia. "Itu adalah pengingat bagiku tentang seseorang yang harus aku jaga. Kau.... adalah satu-satunya hal terpenting dalam duniaku yang abu-abu."

​Sesilia menatap mata Axel. "Kenapa kau begitu tergila-gila padaku, Axel? Kenapa bukan wanita lain yang lebih... pantas? Yang juga mencintaimu sejak awal?"

​Axel meraih pinggang gadis itu, menariknya hingga tidak ada jarak di antara mereka. Ia menundukkan kepalanya, bibirnya berada tepat di depan bibir sang gadis. Posisi yang sangat intim.

Sang gadis berdiri kikuk. Posisi ini sangat berbahaya. Bagi jantungnya.

"Karena kau, Tikus kecil....adalah belahan jiwaku." Axel berbisik. Nadanya sensual. Tangan kanannya, membelai lembut pipi gadis kecilnya, yang berdiri ketakutan.

"Can I kiss you?" Axel bertanya lagi. Matanya tidak lepas dari memandangi bibir mungil didepannya.

"Ha? K..kiss?" Beo gadis itu. Belum sempat menolak, tiba-tiba benda kenyal dan dingin menempel di bibirnya. Sesilia mematung. Jantungnya, napasnya dan kupu-kupu dalam perutnya. Sensasi ini, luar biasa.

"Breath, baby girl. Breath." Axel menyuruhnya bernapas. Gadis itu terlalu syok atas apa yang terjadi. 

"My first kiss!" itu kata pertama yang keluar, setelah syok ringan yang gadis itu alami.

"I know." Jawab Axel santai, tangannya menyentuh bibir bawah gadis itu lembut, sedang di bibirnya telah merekah senyum lembut yang hanya diberikan pada gadis didepannya ini. Setelah itu, sang monster membawa sang gadis kedalam pelukan hangat miliknya.

​Sepanjang sisa hari itu, Sesilia merasa dunianya bergeser dari porosnya. Ia mencoba belajar anatomi, namun istilah-istilah medis itu tercampur aduk dengan bayangan Axel yang mencium bibirnya. Otaknya selalu memutar ulang adegan itu. Tentang hangatnya berada dalam pelukan Axel, bagaimana tangan besar dan berotot itu menyentuh bibirnya dengan kelembutan tiada tara, tentang jakunnya yang bergerak naik turun saat bernafas. Juga rasa bibirnya yang candu.

PLAKKK!!

Gadis itu akhirnya menampar dirinya sendiri agar berhenti dari kegilaan memikirkan pria itu.

"Fokus!! Fokus!! Fokus, Sesi!" Ia memperingatkan dirinya sendiri.

Merasa lelah dengan dirinya yang konyol saat jatuh cinta, gadis itu memutuskan berhenti dari acara belajarnya yang berakhir sia-sia.

​Perlahan, ia berjalan menuju balkon, untuk menatap cakrawala Jakarta. Ia menyadari bahwa Axel Steel telah membangun sangkar ini dengan sangat cerdik. Bukan hanya dengan baja dan kode digital, tapi juga dengan perasaan aman yang bahkan tidak pernah dapatkan dari ayahnya sendiri. Axel adalah pelindung yang kokoh, budak cinta yang posesif, dan satu-satunya orang yang memujanya dengan intensitas yang diluar akal sehat manusia lain.

​Hati gadis milik Axel yang keras kepala mulai meleleh. Ia tidak lagi melihat sang monster sebagai sipir penjara, melainkan sebagai nakhoda kapal yang ia pilih, meski awalnya dengan sedikit paksaan.

....

​Malam harinya, saat Axel kembali ke ruang tamu setelah menyelesaikan pekerjaannya, ia menemukan Sesilia sedang menunggunya di sofa, bukan di kamarnya yang terkunci.

​Gadis itu berdiri saat Axel mendekat. Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah maju dan menyandarkan kepalanya di dada bidang sang monster tampan. Tanpa aba-aba dan tanpa tahu malu

​Tubuh Axel membeku. Tangannya yang tadinya ingin meraih ponsel, kini tergantung kaku di udara. Ini adalah pertama kalinya tikus kecilnya melakukan kontak fisik atas inisiatif sendiri. Laki-laki itu bisa merasakan detak jantung gadis dalam pelukannya ini melalui kemejanya. Cepat, namun tidak menunjukkan ketakutan.

​"Aku mendengarmu semalam," bisik Sesilia.

​Genggaman tangan Axel mengencang. Ia tahu apa yang dimaksud gadis ini. Ia tahu rahasianya telah terbongkar. Namun, alih-alih menarik diri, Axel justru melingkarkan lengannya di bahu sang gadis, mendekapnya dengan sangat erat seolah-olah ia takut gadis itu akan menguap jika ia melepaskannya.

​"Aku tidak akan meminta maaf untuk itu," ucap Axel, suaranya serak. "Aku akan mencintaimu dengan cara yang paling gila, paling posesif, dan paling menghancurkan yang pernah kau bayangkan. Kau bisa mencoba lari ataupun menolaknya, tapi aku tidak akan pernah berhenti."

​Sesilia memejamkan mata, merasakan kehangatan tubuh Axel yang selama ini ia tolak. "Aku tahu. Dan aku mulai berpikir bahwa mungkin... itu adalah satu-satunya cara aku bisa dicintai."

​Di bawah lampu kristal yang berpendar redup, sang predator dan mangsanya telah mencapai sebuah gencatan senjata yang aneh. Tikus kecil milik sang Monster diam-diam mulai menerima nasibnya. Dicintai secara ugal-ugalan.

​Axel mengangkat dagunya, menatap mata jernih itu dengan binar kepuasan. Senyumnya perlahan terbit.

​"Selamat datang di duniaku yang sebenarnya, Sesilia Steel," bisik pria itu sebelum mendaratkan ciuman yang kali ini disambut, meski dengan ragu, oleh wanita yang telah ia tandai sebagai miliknya selamanya.

1
partini
baca sinopsisnya penasaran
Lusy Kunut: Stay tune yah kak, supaya rasa penasarannya terobati👍
total 1 replies
merdi Yanto
cuit cuit cuit😍🤣
merdi Yanto
duh🤭
merdi Yanto
Bau-bau mulai berbalas perasaannya Axel
merdi Yanto
/CoolGuy//CoolGuy/
merdi Yanto
Plot twist banget keluarganyaa
merdi Yanto
🤭🤭🤭🤭
bau bau bucin😍😄
merdi Yanto
Suka cerita dari sok benci jadi bucin akut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!