Tahun 2050, Bencana Besar menyatukan benua dan melahirkan Gelombang Binatang Buas—monster yang memusnahkan dunia lama dalam hitungan bulan. Umat manusia bertahan di balik Kota Basis, benteng raksasa yang menjadi satu-satunya perlindungan dari dunia liar di luar dinding.
Harapan datang dari pulau misterius yang membawa energi kosmik dan seni bela diri, menciptakan para petarung super sebagai tameng terakhir peradaban. Namun ancaman monster purba masih mengintai, menunggu keseimbangan runtuh.
Di Kota Basis 5, Arga hanyalah siswa SMA biasa yang menghadapi ujian hidup-mati masa depan. Tak seorang pun tahu, di dalam dirinya bersemayam sebuah sistem yang perlahan membangkitkan kekuatan terlarang—dan mungkin, nasib baru bagi umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zylan Rahrezi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARGA
Bintang Biru – Tahun 2050
Kota Basis 5, SMA Central
Kelas 10
Matahari awal sore menumpahkan cahaya keemasan melalui jendela kaca berlapis penguat di SMA Central, menciptakan guratan-guratan panjang dan hangat di atas meja-meja bersih Kelas 10. Namun cahaya itu sama sekali tak mampu mengusir kesunyian berat yang menyelimuti ruangan seperti selimut tebal.
Di depan kelas berdiri Pak Ardi, tinggi dan tenang, tatapannya serius saat menyapu wajah-wajah muda di hadapannya. Di belakangnya, papan tulis digital berkilau dingin, menampilkan tulisan:
Bencana Besar Tahun 2000
“Lima puluh tahun yang lalu…” Pak Ardi memulai, suaranya terukur namun sarat bobot yang tak tergoyahkan. “Langit terbelah pada tanggal 5 Juli. Sebuah celah—tak terlihat dan tak terbayangkan—mengoyak atmosfer kita. Dari sana turun gas bercahaya yang aneh, menyelimuti Bumi hanya dalam hitungan jam. Dan bersama gas itu, dunia kita berubah selamanya.”
Keheningan menggantung di ruang kelas. Kisah itu sudah akrab, ditanamkan sejak kecil, tetapi besarnya tragedi itu tak pernah benar-benar memudar.
“Gas itu memutasi segala yang disentuhnya. Tumbuhan, hewan… bahkan manusia. Alam beradaptasi dengan cepat, sementara evolusi manusia tertatih-tatih maju. Namun itu belum semuanya. Benua-benua sendiri mulai bergeser, saling mendekat hingga menyatu menjadi satu superbenua. Meski 70% planet masih berupa lautan, Bumi bukan lagi tempat yang dikenal para leluhur kita.”
Dengungan lembut memenuhi udara saat sebuah globe holografik melayang di tengah kelas, berputar perlahan menampilkan wajah baru planet tersebut.
“Satu miliar orang tewas dalam enam bulan pertama.”
Desahan terkejut memecah keheningan. Angka itu selalu berhasil membekukan tulang, tak peduli seberapa sering diulang.
“Dan kemudian datang Gelombang Binatang Buas.”
Pak Ardi mengetuk layarnya, dan gambar-gambar makhluk bermutasi mengerikan bermunculan—raksasa, menggeram, wujud daging dan kekuatan yang menjijikkan.
Umat manusia berjuang sekuat tenaga, namun tak mampu berbuat apa-apa terhadap para monster itu. Tank, jet tempur, senapan, penembak jitu, granat—tak satu pun mampu melukai binatang-binatang tersebut. Maka mereka terpaksa mengambil pilihan terakhir. Bom nuklir.
“Respons nuklir datang seketika… dan berujung pada kehancuran. Itu seperti pemusnahan bersama.”
Wilayah-wilayah luas berubah menjadi tanah tandus radioaktif.
Manusia mati seperti semut. Harapan terakhir umat manusia adalah berkumpul di zona-zona berbenteng—yang kini kita kenal sebagai Kota Basis.
Ia berhenti sejenak, membiarkan kebesaran tragedi itu meresap, lalu melanjutkan dengan nada yang mengandung kekhidmatan.
“Namun di tengah abu, harapan muncul. Sebuah pulau asing muncul entah dari mana, dekat superbenua baru—diselimuti atmosfer asing. Para pemimpin dunia mencari secercah harapan ke mana pun. Dengan mempertaruhkan segalanya, umat manusia mengirim sebuah ekspedisi. Apa yang mereka temukan mengubah arah sejarah.”
Gambar berubah menjadi reruntuhan besar: sebuah kapal luar angkasa alien yang setengah terkubur, lambungnya penuh bekas luka namun masih berdengung pelan dengan kekuatan dorman.
“Di dalam reruntuhan itu terdapat pengetahuan… jauh melampaui pemahaman kita. Dan yang lebih penting—sebuah jalan menuju seni bela diri. Jalan yang memungkinkan manusia menyerap energi kosmik.”
Para siswa menegakkan punggung mereka. Inilah bagian yang selalu menyalakan api di mata mereka.
“Setahun kemudian, seniman bela diri pertama lahir.”
Setelah itu, banyak seniman bela diri bermunculan di berbagai Kota Basis. Para ilmuwan juga menciptakan senjata laser dari teknologi alien, dan kota-kota basis diperkuat lebih jauh.
Para seniman bela diri mulai bertarung melawan para monster dan perlahan mendorong mereka mundur. Mereka memulai penyelidikan di seluruh superbenua.
Banyak reruntuhan alien lainnya ditemukan.
Teknologi baru, teknik baru, juga berhasil dikembangkan.
Umat manusia kembali mulai berkembang.
“Namun kesombongan membutakan kita.”
Hanya tiga puluh tahun setelah perkembangan itu, kita mengira mampu merebut kembali tanah kita dari para monster dan memulai pertempuran penentuan.
Namun ada satu hal yang sepenuhnya salah kita perhitungkan.
Laut.
Tempat paling misterius di Bumi. Setelah bencana, umat manusia hampir tak menjelajahi lautan. Mereka tak pernah tahu apa yang bersembunyi di kedalaman sana.
Gambar-gambar berganti menampilkan samudra—gelombang raksasa, makhluk laut mengerikan bangkit dari jurang. Hiu seukuran kapal selam atau bahkan lebih besar, paus sebesar kapal induk. Lobster dengan capit yang cukup kuat untuk meremukkan baja seperti pisau panas memotong mentega.
“Kita meremehkan 70% dunia yang tak bisa kita lihat. Dan kemudian… datanglah Kaisar Samudra.”
Ruang kelas meredup. Seekor gurita raksasa, sebesar sebuah pulau, bangkit dari laut, matanya bersinar penuh niat jahat. Setiap tentakelnya memancarkan kematian.
“Tak ada teknologi yang mampu menghentikannya. Kota-kota tenggelam. Para seniman bela diri—para pahlawan—gugur.”
Nada suara Pak Ardi merendah.
“Dan kemudian… dia datang. Naga. Manusia terkuat yang pernah berjalan di Bintang Biru. Berbekal pedang dari reruntuhan alien, dia menantang Kaisar dalam pertempuran yang mengguncang Bumi.”
Ruangan terpaku saat adegan itu diputar—badai energi, ombak yang menghantam, dan seorang pejuang tunggal berdiri melawan kiamat.
“Selama tiga hari tiga malam, mereka bertarung. Tak ada pemenang. Namun sebuah perjanjian tercapai: Naga tak akan memasuki lautan, dan Kaisar Samudra akan menjauh dari perjuangan manusia di daratan.”
Lampu kembali menyala. Keheningan berkuasa.
“Itu terjadi dua puluh tahun lalu. Sejak saat itu, kita membangun kembali. Kota Basis kini berkembang pesat. Seni bela diri terus berevolusi. Dan Naga… masih mengawasi kita, pelindung senyap dari balik bayangan.”
Ia berbalik menghadap para siswa, matanya berkilat.
“Dalam satu bulan, ujian masuk perguruan tinggi kalian akan dimulai. Jika kalian tampil baik dalam ujian tulis dan bela diri, kalian bisa diterima di Universitas Bela Diri Aurora, universitas terbaik di seluruh planet. Namun meski kalian tak lolos ke sana, masih ada universitas kelas atas lainnya.”
“Tetapi pertama-tama… kalian harus menjadi Prajurit Kuasi. Dalam lima belas hari, kalian semua akan mengikuti ujian sertifikasi di Aula Cabang Aliansi.”
Ia berhenti, membiarkan kata-katanya meresap.
“Masa depan umat manusia mungkin berada di tangan kalian. Berlatihlah dengan keras. Kelas dibubarkan.”
Begitu pintu menutup di belakang Pak Ardi, ketegangan pecah seperti kaca. Percakapan meledak di mana-mana.
“Bro, pidato itu lagi? Sumpah, gue bisa ngafalin sambil tidur!”
Tawa pun pecah. Namun di bagian belakang kelas, Arga duduk membeku. Wajahnya pucat, napasnya tak beraturan. Keringat berkilau di dahinya.
Raka, sahabat masa kecilnya yang bertubuh kekar, mengerutkan kening dan menyenggolnya.
“Arga? Lu nggak apa-apa, bro? Muka lu kayak habis lihat hantu.”
Arga tak menjawab. Dia tak bisa.
Pikirannya kacau balau.
Di mana… aku? Apa yang baru saja terjadi?
Dia ingat… dia sedang santai di sebuah taman, lalu tiba-tiba sebuah truk sialan muncul entah dari mana dan menabraknya. Setelah itu, dia tak ingat apa-apa lagi.
Aku mati. Iya, kan?
Apa aku di neraka?
Denyut nadinya berpacu. Segalanya terasa salah—bahasanya, ruang kelasnya, teknologinya, pembicaraan tentang seni bela diri dan kapal alien…
Ini bukan Bumi.
Rasa sakit tajam meledak di belakang matanya, dan Arga terengah. Ingatan membanjiri benaknya—potongan-potongan yang bukan miliknya. Wajah, nama, jadwal sekolah, peringkat pertarungan, kunci gen.
Kepalanya berdenyut. Perutnya mual.
Ia ambruk.
Dunia menjadi gelap.
⸻
Saat ia terbangun, ia berada di ruang UKS. Lampu putih steril berdengung di atas. Anggota tubuhnya gemetar, seolah demam dari seribu mimpi baru saja berlalu.
“Arga! Lu udah bangun?”
Wajah Raka muncul dalam pandangannya, penuh kekhawatiran.
“Sial, bro, lu bikin kita semua panik.”
Arga duduk perlahan, masih limbung.
“Aku… Arga,” bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri.
“Bintang Biru… Kota Basis 5…”
Nama itu terasa asing di lidahnya, namun juga akrab. Dia bukan lagi Arga yang hidup di Bumi. Arga yang itu telah mati. Dan kini dia terlahir kembali di dunia baru. Dunia yang brutal, menakjubkan, dan mengerikan—dunia binatang buas, kekuatan bela diri, dan warisan alien.
Entah bagaimana, melawan segala kemungkinan… keinginannya menjadi kenyataan.
Dia selalu memimpikan kesempatan kedua. Dunia di mana kekuatan adalah segalanya. Di mana dia bisa bangkit. Bertarung. Hidup dengan tujuan.
Kini semuanya nyata.
Ia menutup mata.
Lalu, sebuah suara dingin dan mekanis bergema di kedalaman pikirannya.
“Ding! Sistem Tak Terbatas telah berhasil diaktifkan.”