Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 17
Rowena menerobos masuk ke kantor Darcel dengan tatapan mengejek dan ekspresi puas di wajahnya, jelas senang karena berhasil membuatnya menunggu.
Sekretarisnya buru-buru menyusul di samping Rowena, meminta maaf karena mengizinkan pasien masuk tanpa pemberitahuan.
Darcel membalasnya dengan senyum hangat. “Enggak apa-apa, Audy.”
Audy langsung tersipu lalu pergi, sementara Rowena menatap punggungnya dengan amarah membara. Rasa cemburu itu terasa jelas dan justru membuat Darcel geli.
Rowena menyisir rambut panjangnya yang menjuntai hingga bahu. Pandangan Darcel sempat berhenti di kulit pucat lehernya yang kini terbuka saat perempuan itu menutup pintu dan duduk di seberangnya.
Setiap kali Rowena berada di kantornya, aromanya selalu memenuhi ruangan. Bau oatmeal dan madu. Seperti roti paling montok yang mengilap dan menggoda di etalase toko roti, seolah memintanya menyerah dan menggigit. Darcel ingin menjilatnya.
Semua kilau mentega itu membuatnya ingin menancapkan taring tajam ke tekstur lembut Rowena Scarlett.
Belum.
Rencananya lima tahun.
Lima tahun di Ashenvale yang tenang ini, meneror warga sampai mereka bahkan tak berani keluar rumah pada malam hari. Karena hanya setelah lima tahun membunuh, Darcel akan merasa siap untuk berhenti sementara, menunda pembunuhan selama beberapa tahun sebelum hasrat itu kembali lagi.
Ia bisa mendapatkan Rowena setelah lima tahun di sini. Ia tak boleh menyimpang dari rencana hanya karena keinginan untuk menerkam Rowena yang lezat dan harum itu.
“Selamat malam, Rowena. Gimana minggu kamu?” tanyanya, pura-pura tak peduli dengan keterlambatannya.
Mata Rowena mengikuti bibir Darcel saat ia bicara, menyerap setiap gerakannya, seolah-olah dialah predator yang hendak memangsa, bukan sebaliknya.
Memang itulah niat Darcel, memancing ketertarikan, menumbuhkan hasrat yang mengakar sampai Rowena mau melakukan apa saja demi menyenangkannya.
Hasrat itu berbahaya.
“Membosankan,” jawab Rowena. Matanya melirik cepat ke arahnya, disertai senyum kecil yang menggoda.
Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, lebih tepatnya Dhamphyr, dan ia sama sekali tidak menyadarinya.
Awalnya Darcel tidak percaya. Ia mengira Dhamphyr hanyalah legenda. Namun melihat Rowena ada di hadapannya sekarang, tak ada lagi yang bisa menyangkalnya. Untungnya, tak seorang pun selain Darcel yang mengetahui rahasia itu.
Sejak rahasia tersebut jatuh ke tangannya, Darcel selalu memastikan membunuh siapa pun yang berusaha mencari tahu.
“Kamu kepikiran darah minggu ini?” tanyanya sambil menatap wajah Rowena. Perempuan itu menganggap hasratnya pada darah hanya sebagai obsesi menyimpang, dan hal itu membuat Darcel tersenyum.
Ia menyukainya, dan ia tak sabar menunggu saat Rowena mencicipi darah vampirnya. Itu akan mengikat mereka. Rowena akan menjadi Tuan Putri Vampirnya, meski tak bisa berubah sepenuhnya, hanya terbangun.
“Iya,” jawab Rowena jujur sambil mendengus kesal. Ia benci membahas ini karena orang-orang selalu menganggapnya gila.
Darcel tidak menganggapnya gila. Ia menganggapnya lezat. Setengah vampir kecil itu tak memahami rasa lapar menyimpang di dalam dirinya. Darcel nyaris tak sabar mengisi perut Rowena dengan darahnya sendiri, merasakan perempuan itu mengisapnya.
“Kamu enggak nyoba nahan diri, kan?” tanyanya.
“Enggak, lah. Tentu aja enggak,” desah Rowena sambil memutar mata.
“Anak baik,” gumam Darcel sambil tersenyum.
Reaksinya persis seperti yang ia inginkan.
Darcel bisa melihat puting Rowena mengeras menembus bajunya yang tipis, dan mendengar tarikan napasnya yang halus.
Menurutnya, Rowena sangat imut. Bibirnya tebal dan meski dadanya kecil, ia tetap cantik dengan tubuh ramping. Saking imutnya, Darcel ingin menggigitnya.
Rowena akan mudah dikendalikan saat waktunya tiba. Sampai saat itu, ia tak akan pergi ke mana-mana.
Darcel adalah pria sederhana dengan kebutuhan yang juga sederhana. Ia tak pernah khawatir meski kebutuhan itu terdengar menakutkan, mengganggu, bahkan menjijikkan bagi orang lain.
Tak pernah ada satu momen pun dalam hidupnya di mana ia peduli pada kenyamanan orang lain. Justru sebaliknya, ketidaknyamanan merekalah yang memberinya kepuasan.
Membunuh selalu menjadi pilihannya untuk memenuhi kebutuhan itu. Dalam proses memotong-motong anggota tubuh korban, di situlah ia merasa senang. Ia menikmatinya.