Selina Saraswati, dokter muda baru lulus, tiba-tiba dijodohkan dengan Raden Adipati Wijaya — pria tampan yang terkenal sebagai pengangguran abadi dan kerap ditolak banyak perempuan.
Semua orang bertanya-tanya mengapa Selina harus dijodohkan dengannya. Namun kejutan terbesar terjadi saat akad: Raden Adipati menyerahkan mahar lima miliar rupiah.
Dari mana pria pengangguran itu mendapatkan uang sebanyak itu?
Siapa sebenarnya Raden Adipati Wijaya — lelaki misterius yang tampak biasa, tapi menyimpan rahasia besar di balik senyum santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan
Adipati masih menggenggam tangan Selina saat mereka berhenti di lapak sayur.
“Kata ibu kamu pinter masak, ya,” ucap Adipati sambil melirik aneka sayuran.
“Sekalian beli yang banyak. Biar nanti sekalian dibawa pulang, buat kita masak sendiri di rumah.”
Selina tersenyum kecil.
“Waktu di kos aku sering masak, Mas. Kalau tiap hari beli, uang kiriman bapak nggak pernah cukup sampai akhir bulan.”
Adipati tertawa pelan.
“Pantesan. Masakan kamu enak.”
Selina menoleh kaget.
“Yang tadi pagi?”
Adipati mengangguk mantap.
“Iya. Enak banget. Mas suka.”
Pipi Selina menghangat.
“Padahal cuma nasi goreng,Mas.Tapi Terima kasih atas pujiannya.”
Mereka berpindah ke lapak sebelah. Adipati mengambil tomat, Selina memilih cabai.
“Kapan kamu mulai koas?” tanya Adipati sambil menimbang sayur.
“Minggu depan,” jawab Selina.
Nada suaranya sedikit ragu.
“Nanti Mas anterin,” ucap Adipati ringan seolah itu hal paling wajar.
Selina terdiam sesaat, lalu berkata pelan,
“Maaf ya, Mas… baru nikah tapi aku sudah harus sering pergi.”
Adipati menghentikan langkahnya, menatap Selina dengan lembut.
“Nggak apa-apa. Mas ngerti.”
Ia kembali menggenggam tangan Selina.
“Nanti Mas jenguk kamu tiap minggu.”
Selina tersenyum, dadanya terasa hangat.
Mereka lanjut membeli lauk-pauk. Tangan kiri Adipati kini menenteng tas belanja yang sudah penuh.
Selina meliriknya diam-diam.
Baik banget sih kamu, Mas, batinnya.
Pantes bapak ngejodohin aku sama kamu. Kalau gini, aku bisa cepat move on. Adipati jauh lebih segalanya daripada Evan.
Ia tersenyum sendiri tanpa sadar.
Setelah semua belanjaan lengkap, mereka kembali ke motor. Selina naik membonceng, memeluk pinggang Adipati lebih erat dari sebelumnya.
Sesampainya di rumah, Selina langsung menuju dapur. Ia membuka kantong belanja dan mulai memasukkan sayuran serta bahan makanan ke dalam kulkas.
Sri memperhatikan dari belakang sambil tersenyum penuh arti.
“Sel, yang setengahnya kamu bawa pulang aja nanti. Ibu yakin kamu pasti bakal masak.”
Selina mengangguk sambil merapikan isi kulkas.
“Iya, Bu. Aku masukin dulu ke kulkas biar awet.”
Sri menyandarkan tubuh di ambang pintu dapur.
“Lho, kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri?”
Nada suaranya menggoda.
“Cerita atuh sama ibu.”
Selina menutup pintu kulkas, menoleh dengan wajah sedikit memerah.
“Ibu kepo,” ujarnya sambil terkekeh.
Ia lalu buru-buru berjalan ke kamar.
“Selina ke kamar dulu ya, Bu.”
Di dalam kamar, Selina baru saja duduk ketika suara Adipati terdengar dari luar.
“Lin,” panggilnya lembut.
“Nanti kita makan di luar, yuk.”
Selina berdiri di ambang pintu.
“Makan di luar?”
Adipati mengangguk.
“Iya. Mas mau ngajak kamu ke restoran. Teman Mas baru buka tempat makan.”
“Oh…” Selina tersenyum.
“Oke, Mas.”
“Mas mandi dulu,” ujar Adipati sambil melangkah ke kamar mandi.
Pintu kamar mandi tertutup. Selina duduk kembali di ranjang, menarik napas panjang.
Ini dinner berdua… atau kencan setelah nikah versi halal?
Pikirannya mulai melantur.
Terus… jangan-jangan…nanti dia mau ngajak cek in hotel?
Ia cepat-cepat menggeleng.
Astaga, Selina. Jangan mikir yang aneh-aneh.
Pipinya tetap saja memerah, dan senyumnya tak kunjung hilang.
Ponsel Adipati yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar.
Layar menyala, menampilkan notifikasi Instagram.
Selina yang sedang duduk di ranjang tanpa sadar melirik. Tangannya terulur, mengambil ponsel itu.
Pesan masuk.
“Raden, kamu ngeblok nomor WA aku? Aku tahu kamu nggak cinta sama perempuan itu, kan. Hanya aku. yang kamu cinta i,Den.Kamu nikahin dia karena terpaksa.”
Jantung Selina langsung berdegup kencang.
Ia menelan ludah, matanya membaca ulang pesan itu pelan-pelan.
Nama pengirimnya terpampang jelas.
Selina berbisik lirih, hampir tak bersuara.
“Ini… mantannya Mas Adipati?”
Tangannya gemetar menggenggam ponsel itu.
Matanya menatap foto profil perempuan di layar.
Cantik. Modis.Spek model.
Hatinya terasa nyeri tanpa alasan yang jelas.
Dia lebih cantik dari aku…
Pantes aja berani ngomong begitu.
Pikirannya mulai berlarian.
Jadi benar ya… Mas Adipati nikah sama aku karena terpaksa?
Padahal dia kaya, berpendidikan… harusnya gampang buat dia dapetin perempuan yang lebih dari aku.
Dadanya terasa sesak.
Kalau memang terpaksa… kenapa dia mau menikahiku?
Pintu kamar mandi terbuka.
Adipati keluar dengan handuk kecil di leher, rambutnya masih sedikit basah.
“Lin?”
Ia berhenti melangkah saat melihat Selina memegang ponselnya.
“Kamu kenapa pegang HP Mas?”
Selina tersentak.
Refleks, ia meletakkan ponsel itu kembali ke meja dengan gerakan gugup.
“Aku—”
Ia menelan ludah.
“Tadi ada yang nelepon, Mas.”
Adipati mengernyit.
“Nelpon?”
Selina buru-buru mengangguk.
“Iya, tapi keburu mati.”
Ia memaksakan senyum kecil.
“Aku tadinya mau ngasih HP-nya ke Mas.”
Adipati menatapnya beberapa detik, seolah mencoba membaca wajah Selina.
“Oh…”
Nada suaranya datar.
“Siapa?”
Selina menggeleng cepat.
“Aku nggak lihat namanya.”
Adipati mengambil ponselnya, melirik layar sekilas.
Ia terdiam sepersekian detik, lalu wajahnya berubah sedikit serius.
Selina memperhatikan dari sudut mata, dadanya makin berdebar.
Mas pasti tahu itu siapa…
Terus kalau dia tahu aku baca pesannya…
Adipati menghela napas pelan, lalu mengunci ponselnya.
“Kamu kenapa, Lin?”
Ia mendekat.
“Dari tadi kelihatan beda.”
Selina menunduk, jari-jarinya saling meremas.
“Nggak apa-apa, Mas.”
Suaranya lebih pelan dari biasanya.
“Cuma… capek aja.”
Adipati menatapnya lama, lalu berkata lembut.
“Kalau ada yang kamu pikirin, bilang. Jangan dipendem sendiri.”
Selina mengangguk kecil, meski hatinya masih penuh tanda tanya.
Mas… sebenarnya aku ini apa buat kamu?