Firdha diusir dengan kejam oleh Ibu mertuanya 2 hari setelah dia melahirkan bayinya. Dirasa tidak berguna lagi, Firdha diperlakukan seperti sampah.
Di sisi lain, ada Arman yang pusing mencari Ibu Susu untuk bayinya, tak disangka takdir malah mempertemukannya dengan Firdha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Yulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 : Makhluk Lain
Bibir bisa saja berbohong, bisa menyangkal. Namun hati, tak bisa mendustai debarannya. Katanya Arman tidak mungkin suka pada Firda, tapi matanya tetap terpaku pada layar ponselnya, memantau gerak-gerik wanita itu lewat rekaman CCTV.
Setelah dimarahi oleh Arman tadi, Firda menggendong Akira yang masih tertidur masuk ke dalam kamar. Arman tahu, perempuan memang seperti itu. Setelah dimarahi, pasti lebih memilih masuk ke dalam kamar, tak lagi berselera melakukan apa pun.
Usai membaringkan Akira di atas tempat tidur, Firda duduk termenung di pinggir kasur. Tak lama kemudian, bahunya bergetar. Arman yang diam-diam menyaksikan bak menonton sebuah film di ponselnya sontak bangun dari posisi berbaringnya. "Jadi dia baru menangis sekarang?"
Tentu saja Arman diliputi perasaan bersalah. Ternyata wanita itu bisa kuat menahan tangis di hadapannya. Namun ketika sendirian, Firda tetaplah wanita yang berhati rapuh, mudah terluka hanya dengan beberapa kalimat nada tinggi yang terlontar dari mulut Arman.
"Sepertinya aku sudah keterlaluan tadi." Arman mengacak–acak rambutnya frustrasi. Ingin turun menghibur Firda tapi tidak tahu dengan cara apa.
"Apa aku minta maaf saja, yah?" Arman segera turun dari tempat tidur, tapi kemudian dia ragu dan kembali duduk di pinggir kasur.
"Tidak, tidak. Kalau aku turun dan meminta maaf, itu berarti aku yang sudah melakukan kesalahan, bukan dia. Aku tidak boleh turun, aku harus menahan diri. Toh nanti dia akan berhenti menangis dengan sendirinya," ucap Arman, lalu kembali berbaring di atas tempat tidurnya.
Di lantai bawah, di dalam kamar Baby Akira, Firda menangis tanpa suara di pinggir tempat tidurnya, takut mengganggu tidur Akira yang sudah terlelap sejak tadi. Wanita itu menatap foto mendiang suaminya yang dia simpan di galeri ponsel. Foto itu dia ambil dari sosial media beberapa saat sebelum Arman muncul tadi.
Sebenarnya, tujuan utama Firda membuka akun media sosialnya adalah untuk mengambil foto-foto kenangannya di masa lalu bersama mendiang suami tercinta dan menyimpannya di galeri ponsel, bukan sepenuhnya mencari hiburan seperti yang dia katakan kepada Arman tadi.
Firda terus menatap foto itu, mengenang kenangan indah bersama suaminya. Air matanya terus mengalir, tapi dia berusaha untuk tidak mengeluarkan suara, takut mengganggu Akira yang sedang tidur.
"Mas Aris ... seandainya kamu ada di sini, kamu pasti tidak akan membiarkan orang lain memperlakukanku dengan tidak baik, memarahiku, dan membuatku sakit hati. Kamu pasti akan selalu menjadi orang pertama yang selalu melindungi, membelaku, dan menjagaku," lirihnya, dengan air mata yang mengalir dengan derasnya.
Tok tok tok. Suara ketukan di pintu membuat Firda buru–buru mengambil beberapa lembar tisu dari kotaknya dengan cepat. Mengeringkan air mata, lalu mengeluarkan semua ingus yang mulai menyumbat hidungnya.
"Siapa?" teriak Firda, bangkit sambil melempar tisu bekasnya ke tempat sampah.
"Ini aku!" sahut suara di depan kamar.
Kening Firda mengkerut. "Untuk apa Tuan Arman datang ke kamar Akira jam segini," pikirnya.
"Tunggu sebentar, Tuan!" Sebelum membukakan pintu untuk Arman, Firda memastikan dulu apakah wajahnya terlihat sembab atau tidak di depan cermin. Untungnya dia baru sebentar menangis saat Arman datang, jadi sembabnya bisa disamarkan dengan sedikit polesan bedak tabur di meja rias.
"Apa Akira masih tidur?" tanya Arman berdiri di depan pintu kamar yang sudah terbuka. Firda mengangguk. Matanya masih tertunduk tidak berani menatap Arman. Meski nada bicara pria itu sudah kembali normal.
"Masih, Tuan. Tapi mungkin setengah jam lagi dia akan bangun menyusu. Apa Tuan ingin mengajaknya bermain nanti?"
Arman menggeleng. "Tidak perlu. Aku juga lelah setelah lembur tadi. Besok pagi saja." Arman menyuruh Firda menutup pintu setelahnya, dan dia duduk di sofa ruang keluarga memantau rekaman CCTV di dalam kamar Akira.
Usai memastikan ibu susu putrinya itu tidur dan tidak menangis lagi, dia pun akhirnya bisa tenang kembali ke kamarnya sendiri.
...****************...
Arman sudah setengah jam berbaring di tempat tidurnya, tapi dia tidak kunjung bisa tertidur. Seketika dia terpikir untuk memeriksa rekaman CCTV di kamar putrinya kembali, ingin memastikan apakah Firda benar-benar sudah tidur atau justru kembali menangis lagi.
Arman meraih ponselnya dan membuka aplikasi CCTV, memantau rekaman di kamar Akira. Saat itu, Firda sedang membaringkan Akira di atas tempat tidur, lalu dia duduk di sebelahnya, menatap putrinya dengan mata yang lembut.
Tiba-tiba, Firda membungkuk dan mencium pipi Akira dengan lembut. Arman merasa hatinya tersentuh. Firda kemudian berbaring di sebelah Akira, memeluk putrinya dengan erat. Arman bisa melihat senyum bahagia di wajah Firda, dan dia merasa sedikit lega karena wanita tidak sedih lagi.
Namun, adegan berikutnya membuat mata Arman tak bisa berkedip. Akira dengan tidak sabar membuka mulut di depan dada Firda, dan dengan cepat wanita itu memberikan apa yang anak itu mau.
"Bukan, bukan itu yang ingin aku lihat. Aku hanya ingin memantau apakah anakku menyusu dengan baik atau tidak. Ya, begitu. Aku bukan sedang mengintip," gumam Arman, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Mulut Arman bisa saja berkata lain, tapi reaksi tubuhnya tidak bisa berbohong. Ada makhluk lain di bagian tubuh Arman yang sudah terbangun sejak tadi, membuatnya semakin tidak bisa tidur. Semakin lama, Arman merasakan kepala makhluk itu mulai berkedut, jadi dia segera bangkit dari tempat tidur setelah mengunci layar ponselnya.
"Kata dokter Tirta, kalau ng**eng itu ya push up. Jangan mau dikontrol sama ko*tol." Arman segera mengambil ancang-ancang untuk melakukan gerakan push up di lantai.
Seiring dengan gerakan naik turun tubuhnya, kepala makhluk itu juga menyundul lantai, membuatnya semakin lama semakin loyo.
"Tiga puluh satu ... tiga puluh dua... tuga puluh tiga .... "Arman menghitung gerakan push up-nya, sambil mencoba mengalihkan pikirannya dari hal-hal yang tidak diinginkan. Lama-kelamaan, Arman mulai merasa lelah, dan makhluk itu pun sudah berdamai di dalam sana.
"Ah, berhasil." Arman berkata pada dirinya sendiri, merasa sedikit lebih lega. Dia kemudian kembali ke tempat tidur, dan akhirnya bisa tidur dengan nyenyak.
tp kan Firda gk tau....jd gk bisa jg melampiaskan amarah ke dia nya dong..