NovelToon NovelToon
DENDAM MEMBAWA PETAKA DI DESA

DENDAM MEMBAWA PETAKA DI DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Iblis / Balas Dendam
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hasri Ani

Tak pernah di sangka kehidupan bahagia keluarga Azka akan berakhir mengerikan hanya karena Ayahnya di tuduh menghamili anak dari seorang kaya dan sangat berpengaruh di desanya.

Azka yang sakit hati, terpaksa mengambil jalan pintas untuk membalaskan kekejaman para warga yang sudah di butakan oleh uang.

Dia terpaksa bersekutu dengan Iblis untuk membalaskan sakit hatinya.

Bagaimanakah nasib Azka, selanjutnya? Yu ikuti kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KETAKUTAN

Malam kembali datang. Suasana rumah Sulis semakin mencekam setelah acara ritual tersebut.

Rasa ketidak tentraman menyelimuti membuat kegelisahan yang menjadi picuan pertengkeran antara mereka.

"Ini semua gara-gara kamu, Lis! Mengapa kamu tidak jujur saja dari sebelumnya? Mengapa kamu harus membohongi kami." Pak Anwar berkata sedikit keras.

Bu Saedah segera menutup pintu rapat.

Beni yang sengaja menguping memukul angin kesal karena tak bisa lagi mendengar secara jelas percakapan yang di sertai pertengkaran mereka. Dengan rasa penasaran yang berlebih, dia pun berusaha menempelkan telinganya di pintu sambil terus mengawasi keadaan sekitar, takut-takut, ada yang melihatnya menguping.

"Apa maksudnya, Pak? Aku nggak ngerti. Kapan aku berbohong... aku selama ini selalu jujur sama, Bapak." Jawab Sulis yang tak di ragukan, tersirat rasa ketakutan dari raut wajahnya, akan rahasia yang tertutup rapat selama ini.

"Masih saja kamu menyangkal, SULIS! Bapak yakin kamu paham, dengan apa yang Bapak, maksud."

Sulis membuang muka, tak berani menatap Bapaknya.

"Maksud Bapak, apa? Aku tidak pernah berbohong! Kenapa, sih? Bapak berbicara keras sama aku. Selama ini, aku selalu patuh sama Bapak. Bapak jodohkan aku dengan lelaki yang tidak aku cintai pun, aku tak menolak. Dan aku pun tetap berbakti kepada suamiku. Walau aku tidak ada perasaan apa-apa dengannya."

Sulis tersedu. Pak Anwar makin geram saja kepada putrinya yang ia bangga-banggakan ini, ternyata pandai sekali bermain drama. Sedangkan Bu Saedah, merasa sedih sekaligus bingung. Tidak pernah dia melihat suaminya membentak Putri satu-satunya itu.

"Kamu berbohong, tentang kehamilanmu itu kan? Sulis. Laela itu bukan anak dari Yusuf, kan? Tega sekali kamu memfitnah orang sebaik Yusuf, Sulis. Kamu itu menghancurkan keluarga dia secara langsung. Di mana hati nurani kamu, Sulis? DIMANA?!!! Aku tidak mendidikmu menjadi wanita sejahat itu, Lis."

BRAAKKK!!!

Dengan kesal Pak Anwar mendorong meja kecil dekat tempat tidur hingga terguling. Dia semakin frustasi mengingat kekejaman anaknya, juga arwah Yusuf, yang kini, cepat atau lambat akan membunuh mereka semuanya.

"Ya ampun, Pak! Jangan sekasar ini, Pak." Buk Saedah terkejut. Dia pun shok dengan apa yang terucap dari mulut suaminya. Dia hanya bisa menatap suami, dan anaknya bergantian.

Sulis menegang. Tidak menyangka, Ayahnya akan tau rahasianya.

"Lis, Nak?! Apa benar yang di katakan, Bapakmu itu?"

Bu Saedah menatap wajah anaknya serius.

Sulis menelan ludah kasar. "Bapak dari mana tau tentang hal itu?"

"Tidak perlu bertanya dari mana, Bapak mengetahui rahasiamu itu. Sekarang kamu jujur sama Bapak, Lis! Mengapa kamu berbuat hal yang sekeji itu? Yusuf itu lelaki baik, tapi karena ulahmu, namanya tercemar, dan sampai keluarganya binasah karena kebencian warga terhadap mereka. Dan sekarang arwahnya menuntut balas sama kita. Cepat atau lambat, keluarga kita pun akan hancur, Sulis. Bapak tidak mau hal itu terjadi. Karena kamu yang bikin kesalahan, lebih baik, kamu saja yang mati!" Ucap Pak Anwar yang membuat Sulis, dan Bu Saedah terbelalak mendengarnya.

"Apa? Dasar orang tua tak tau diri! Salah sendiri, Yusuf menolak cintaku. Dan salahnya dia juga, mengapa tidak mau membantuku saat aku meminta bantuannya menikahiku, saat aku hamil dulu. Padahal aku sudah kasih tau dia, kalau aku tidak tau siapa yang menghamiliku. Aku tidak ada cara lain, Bapak. Aku takut malu! Aku takut semua orang merundungku, karena hamil di luar nikah! Dan sekarang malah Bapak mendoakan aku sekejam itu. Ingat pak, Bapak juga berkontribusi akan kematian, Yusuf. Bapak yang lebih banyak mengerahkan masa. Aku hanya empat orang, Dan mereka semua sudah mati. Dan aku, aku pastikan tidak akan mati! Aku akan cari dukun sakti, agar bisa melindungiku. Dan jika dia meminta tumbal, maka Bapaklah yang akan aku jadikan tumbalnya." Gertak Sulis dengan mata menatap Bapaknya nyalang.

Pak Anwar terkejut bukan kepalang. Dia memegangi tongkatnya dengan sangat erat. "Dasar anak durhaka! Tidak punya hati kamu, SULIS!!!" Teriaknya. Lalu mendekati anaknya, dan melayangkan tongkat, hendak memukul, Sulis.

Sulis yang amarahnya sudah di ubun-ubun, sengaja mendorong Pak Anwar dengan sangat kuat. Hingga akhirnya...

BRUUGGHH!!!

Pak Anwar kejengkang kebelakang. Dan parahnya, kepalanya menatap ujung meja kecil yang sebelumnya di jatuhkan oleh, Pak Anwar.

"PAAAKKK!!!" Teriak Bu Saedah, segera menolong suaminya.

Sulis dengan dada naik turun hanya diam menatap Ayahnya yang kini bersimbah cairan merah.

"Sulis! Cepat tolong Bapakmu, Lis. Cepat panggil orang-orang, Sulis...! Huhu..." Bu Saedah memeluk suaminya yang terlihat kesulitan bernapas.

"Biarin saja dia mati, Bu! Dasar Bapak nggak tau diri! Nggak ada rasa tanggung jawabnya sama sekali dengan anaknya. Aku muak di salahkan dan di atur terus sama, Bapak." Sulis terlihat puas telah membuat Bapaknya celaka.

"Astaga, Sulis! Dia itu Bapak kamu! Nggak pantas kamu bicara seperti, Nak. Tolong...! Tolong...!" Teriak Bu Saedah di ambang pintu.

Beni yang tidak jauh dari situ pun segera mendekat.

Dengan di susul Rohmat.

Sulis berbalik lalu meninggalkan mereka.

Dasar tua bangka! Rasain tuh! Bukannya membela anaknya, ini malah memaki anaknya. Itu pelajaran buat kamu, yang sudah tua. Agar kedepannya lebih bijak lagi menjadi orang tua. Bikin emosi saja!

Gerutu sulis dalam hati, lalu memasuki kamarnya.

"Astaga..., Bapak kenapa, Bu?" Tanya Rohmat bingung.

"Nanti saja Ibu cerita. Cepat bawa Bapak ke klinik sekarang juga." Ucap Bu Saedah, yang masih panik.

"Baik, Bu. Ayo Beni bantu Bapak Bopong Kakek, ke mobil." Beni mengangguk tanpa berkata.

Ketiganya sudah bersiap di mobil. Namun, tiba-tiba terdengar napas Pak Anwar, tercekat dengan bola matanya yang menatap ke atas dan mulutnya terbuka lebar.

Mereka yang terkejut segera memeriksa.

"Innalilahiwainnailaihiroziun. Kakek sudah nggak

ada, Nek, pak." Ucap Beni yang memangku kepala Kakeknya.

Klaim

"Innalilahiwainnailaihiroziun." Ucap Rohmat.

Bu Saedah yang awalnya masih terdengar isak tangisnya, seketika terdiam dan tak lama, dia pun pingsan.

"Eh, Nek. Nenek!" Teriak Beni panik.

"Astaga, Ibu!"

Akhirnya mereka turun kembali dari mobil, dan membopong Bu Saedah masuk.

"Ya ampun, mana nggak ada orang yang nginep di rumah lagi malam ini. Cepat cari bantuan, Ben." Ucap Rohmat kebingungan. Beni mengangguk segera keluar.

"Sulis! Lis! Cepat kemari! Ibumu pingsan, Sulis!" Teriak Rohmat yang sibuk mengambil minyak terapi dan yang lainnya untuk pengobatan pertama buat Ibu mertuanya itu.

Sulis keluar kamar malas. "Ngapain sih? Teriak-teriak, ganggu orang istirahat saja." Keluh Sulis dengan menyilangkan tangan di depan dada.

"Ibumu pingsan, Sulis. Cepat olesi kakinya pake minyak ini. Biar Ibu cepat siuman." Rohmat mengulurkan minyak yang di pegangnya sambil mengurut kening mertuanya.

Sulis memutar bola matanya malas. "Manja! Orangtua manja. Ngapain pingsan-pingsan segala. Males! Kamu aja,

Mas. Kalau kamu mau. Aku mau istirahat, capek." Tolak Sulis, lalu berbalik hendak masuk lagi ke kamarnya.

Rohmat yang sudah kehilangan kesabarannya pun terpaksa berteriak.

"SULIS! KAMU BISA PENGERTIAN SEDIKIT NGGAK SIH?! AYAHMU BARU SAJA MENINGGAL! IBU PINGSAN!

СЕРАТ КЕMARI!"

Sulis tertegun mendengar Ayahnya yang meninggal.

"A-apa, Mas? Bapak meninggal?" Lirih Sulis agak

panik.

"Cepat urus, Ibu. Aku mau bantu Beni mengurus jasad Bapak, yang sudah terlanjur masuk mobil." Rohmat pergi tanpa menatap, Sulis. Ada rasa menyesal telah membentak istrinya. Selama dia menikah dengan Sulis, baru kali ini dia kehilangan kesabarannya.

Ya Tuhan, ampuni aku. Aku tak berniat berlaku kasar kepada istriku.

Rohmat menitikkan air mata. Lalu segera membantu Beni, dan yang lain mengurus, Pak Anwar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!