Cakra Atlas, seorang pria rupawan yang bekerja di sebuah bar, rela menerima pernikahan dadakan demi membayar hutang janji orang tuanya di masa lalu. Namun, siapa sangka, wanita yang dia nikahi adalah Yubie William, seorang wanita yang baru saja gagal menikah karena calon suaminya memilih menikahi wanita lain.
Yubie, yang masih terluka oleh kegagalan pernikahannya, berjanji untuk menceraikan Cakra dalam setahun ke depan. Cakra, yang tidak berharap ada cinta dalam hubungan mereka, justru merasa marah dan kesal ketika mendengar janji itu. Alih-alih membenci istrinya, Cakra berusaha untuk menaklukan Yubie dan mengambil hatinya agar tidak menceraikannya.
Dalam setahun ke depan, Cakra dan Yubie akan menjalani pernikahan yang tak terduga, di mana perasaan mereka akan diuji oleh rahasia, kesalahpahaman, dan cinta yang tumbuh di antara mereka. Apakah Cakra akan berhasil menaklukan hati Yubie, atau akankah Yubie tetap pada pendiriannya untuk menceraikannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diana Putri Aritonang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27.
Suasana pagi itu terasa tegang antara Kanny dan Lusy. Kanny yang selalu meringis setiap kali menggerakkan anggota tubuhnya karena rasa sakit yang ditinggalkan akibat serangan Cakra membuat Lusy tidak bisa menahan kekhawatiran sekaligus kemarahannya lagi.
Lusy mendekati Kanny, wajahnya merah karena teringat kejadian semalam. "Kak, kau tidak apa-apa?" tanya Lusy awalnya lembut. "Apa masih sakit? Kakak Ipar benar-benar keterlaluan. Aku akan melaporkannya pada Daddy," geram Lusy.
Tapi, Kanny tidak menjawab. Ia terus memakai pakaian, wajahnya dingin dan tidak menunjukkan emosi apa pun. Lusy semakin khawatir, tapi sebelum ia bisa bertanya lagi, Kanny tiba-tiba menoleh dan menatapnya dengan mata yang menyala.
"Semua ini gara-gara kau!" tuding Kanny pada istrinya yang seketika membuat Lusy teridam dengan netra melebar. "Bisa gak, sekali saja kau tidak membuat keributan dan menyusahkan aku! Andai saja kau tidak mengusik Yubie, aku tidak akan dihajar oleh Cakra seperti ini!!" Suara Kanny keras dan penuh emosi.
Semalaman pria itu sulit tidur. Wajah Kanny memang tidak babak belur seperti saat Cakra menghajarnya pertama kali. Namun, serangan serta kemarahan Cakra semalam sangat berbeda. Cakra dikuasi dengan emosi tinggi, ia menghajar Kanny tepat di titik vital pria itu, seperti perut dan dadanya. Hingga membuat Kanny benar-benar menanggung rasa sakit yang luar biasa.
Lusy terkesiap, wajahnya berubah karena rasa malu sekaligus kemarahan atas tudingan sang suami. "Aku tidak mengusik Yubie!" kata Lusy membela dirinya, tapi Kanny tidak mau mendengarkan. Telinga Kanny masih berfungsi dengan sangat baik saat Cakra menekankan pada istrinya, apa alasan pria itu menghajar Kanny tiba-tiba.
"Itu karena suamimu sedang membayar apa yang sudah dilakukan oleh istrinya pada istriku!"
Kanny masih mengingat jelas kalimat Cakra itu. Ia dihajar karena harus membayar atas apa yang telah dilakukan oleh Lusy kepada Yubie.
"Kau tahu apa yang kau lakukan! Kau selalu saja mengusik Yubie dan membuat masalah! Aku tidak akan pernah bisa hidup tenang karena tingkahmu itu!"
Deg!
Ucapan Kanny itu begitu menikam dalam hati Lusy. Matanya sudah memerah dan tangannya terkepal erat.
"Jadi, kau lebih membela Yubie daripada aku istrimu, hah?!" berang Lusy, tak menerima ia dibentak sesuka hati oleh suaminya. Lusy tidak bisa menahan diri lagi. Ia membalas kata-kata Kanny, sampai membuat keduanya menjadi bertengkar.
"Suami macam apa kau, Kak?! Seharusnya kau membela aku! Aku istrimu! Bukan Yubie!!!" terengah-engah Lusy meluapkan kekesalannya pada Kanny. "Seharusnya kau juga bisa membalas apa yang dilakukan Kak Cakra! Jangan hanya diam saja dan menerima semua pukulannya seperti lelaki yang lemah!!"
Duarrr!!
Netra Kanny menajam mendengar perkataan Lusy. Tangannya dengan gerakan cepat meraih wajah istrinya dan mencengkram erat.
"Sakit!!" Lusy memukul tangan Kanny yang begitu kuat menyentuh rahangnya. Bahkan Lusy dibuat mendongak menatap pada netra Kanny.
"Apa katamu tadi? Lelaki lemah?" tanya Kanny dengan suara rendahnya. Ucapan Lusy barusan sepertinya telah berhasil menyinggung perasaan Kanny.
Lusy tak bisa menjawab. Ia mulai meringis, menahan sakit karena Kanny memperkuat cengkraman di wajahnya.
"Lepas, Kak! Sakit!" Sekuat tenaga Lusy berusaha membebaskan dirinya. Air mata wanita yang tengah hamil itu bahkan sudah menggenang karena menahan sakit, tak hanya di wajahnya, tapi juga hatinya.
"Seenaknya saja kau bicara." Kanny semakin mendekatkan wajahnya pada Lusy, membuat wanita itu semakin menutup mata, takut dengan amarah suaminya. "Kau tidak tahu apa-apa tentang aku, Lusy! Aku bukan lelaki lemah, aku hanya memilih untuk tidak menggunakan kekerasan seperti Cakra!"
"Aku... bukan maksudku... aku hanya ingin..." Lusy kembali ingin membela diri, tapi suara yang keluar terdengar begitu lirih. Cengkraman Kanny terlalu kuat, membuat wajah Lusy memerah dan air matanya mulai menetes.
"Dasar lemah!" umpat Kanny seraya melepaskan cengkramannya pada wajah Lusy dengan kasar. Nyaris saja istrinya itu jatuh ke lantai, andai tangan Lusy tak lekas bertumpu pada sudut meja riasnya.
"Sekali lagi kau berbuat ulah dan mengusik Yubie! Maka aku langsung yang akan memberimu pelajaran!" Kanny memperingati istrinya. Pria itu langsung keluar dari kamar, meninggalkan Lusy sendirian.
Air mata Lusy mengalir deras karena sakit hati dan kekesalan atas ucapan Kanny. Lusy menyentuh wajahnya yang masih terasa sakit, kemudian menatap ke arah pintu yang baru saja ditutup oleh Kanny. Pria itu, pria yang adalah suaminya ternyata jauh lebih membela kakaknya, Yubie daripada dirinya.
Lusy merasa Yubie selalu saja jauh lebih beruntung dari dirinya. Ia sudah susah payah merebut Kanny, pria yang dulu selalu saja berlaku lembut dan bucin terhadap kakaknya. Tapi, kini kepadanya, Kanny kian kasar dan tak berhati. Lusy hanya berhasil merebut raga Kanny, tidak dengan hati pria itu yang masih saja tertuju dan menginginkan Yubie. Tangan Lusy terkepal erat sampai buku-buku jarinya memutih.
*
*
*
Tak lama setelah Kanny keluar dari kamar, Lusy menyusul suaminya itu ke meja makan. Tidak ada jejak air mata di wajahnya, Lusy sudah terlebih dahulu membersihkannya. Ia tidak ingin Tuan William tahu pertengkaran yang sempat terjadi antara dirinya dan sang suami.
"Selamat pagi Dad, Mom," sapa Lusy tersenyum. Ia melirik sekilas pada Kanny yang sempat memperhatikannya dengan tatapan yang terkesan mengancam sebelum kembali fokus pada hidangan di hadapannya.
"Kalian juga terlambat," kata Tuan William seraya menggeleng, yang ucapannya itu belumlah dimengerti oleh Kanny dan Lusy.
"Mereka semua masih muda, Daddy. Kita harus mengerti," ucap Nyonya Mei Lin yang seketika memancing tawa renyah di wajah suaminya, Tuan William.
"Memangnya ada apa?" tanya Lusy penasaran. Ada apa sebenarnya? Ia juga mengedarkan pandangan, dan belum menemukan keberadaan kakak tirinya, Yubie bersama sang suami, si Cakra di meja makan.
"Daddy dari tadi sudah menunggu kalian. Tapi, tidak ada satupun yang datang. Tidak biasanya kalian terlambat sarapan," terang Nyonya Mei Lin karena Tuan William sudah menunggu lama kehadiran putri-putrinya beserta menantunya.
"Kakak dan Kakak ipar belum sarapan?" tanya Lusy sambil melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul delapan. Ia dan Kanny terlambat karena sempat bertengkar tadi, tapi kakaknya, Yubie dan Cakra? Ke mana mereka berdua.
"Itu mereka."
Semuanya serentak menoleh ke arah tangga. Terlihat Yubie yang menuruni anak tangga secara perlahan dan disisinya ada Cakra yang mengiringi dengan kewaspadaan akan langkah sang istri yang terlihat begitu hati-hati.
"Kakimu belum sembuh?" tanya Nyonya Mei Lin penuh kekhawatiran melihat kondisi putrinya yang sudah menanggung sakit berhari-hari. Padahal sudah dibawa berobat ke dokter. Seharusnya bisa pulih lebih cepat.
Yubie tidak langsung menjawab, wajahnya terlihat berbeda dan malah menatap pada suaminya.
"Sudah sembuh, Mom. Jangan khawatir. Yubie hanya menuruti permintaanku untuk berjalan lebih hati-hati. Soalnya dia tidak mau aku gendong, katanya malu." Cakra terkekeh saat mendapatkan pelototan dari istrinya. Ia menarik kursi dan membawa Yubie untuk segera duduk.
Setiap detail perlakuan Cakra yang menaruh perhatian penuh pada Yubie diperhatikan jelas oleh semua anggota keluarga. Tuan William dan Nyonya Mei Lin tidak bisa menyembunyikan raut wajah bahagianya ketika melihat hubungan Yubie dan Cakra yang semakin dekat.
Keduanya juga tampak begitu berseri-seri, terlihat jelas dari raut wajah Yubie dan Cakra. Bahkan netra para orang tua itu begitu tajam saat menemukan jejak cinta yang tertinggal di area leher Yubie karena wanita itu yang mengenakan blouse berkerah rendah.
"Benarkan kata Mommy, Dad. Anak-anak terlambat pasti karena bertengkar." Nyonya Mei Lin sampai terkekeh dan menutup mulutnya. Begitu juga dengan Tuan William, tersenyum penuh kebahagiaan, ia mengerti maksud ucapan istrinya itu.
Sementara Yubie menatap ibunya dengan raut wajah tidak mengerti, dan saat menyadari ke mana arah pandangan Nyonya Mei Lin, barulah Yubie sadar dan buru-buru menutup lehernya dengan tangan.
Sial! Pasti mereka memperhatikan bekas kegilaan Cakra semalam! batin Yubie panik. Membuat kedua orang tuanya semakin tertawa.
Sedangkan Cakra hanya santai saja, ia sama sekali tidak terganggu dengan kekehan ibu mertua dan ayah mertuanya. Biarkan para orang tua berspekulasi dengan penilaian yang membuat mereka bahagia. Cakra jauh lebih menikmati wajah seseorang yang saat ini tengah berubah merah padam di meja makan. Cakra bahkan terang-terangan memberikan senyuman tipisnya.
Sebuah senyuman yang diartikan Kanny sebagai senyum kemenangan sekaligus meremehkannya. Sumpah! Kanny benar-benar muak melihat jejak cinta yang berhasil Cakra tinggalkan di leher Yubie!
semangat trus kak author ,, dtggu pakee banget update selanjut ny ,,
Bismillah langsung 5 bab🤭🤣🤣 ,,
sehat selalu kak ,,
🤭🤣
Istri mu gelisah nungguin kamu yang nggak pualng-pulang loh ...
mau di bungkus pake ap ni duo ulet sagu ,,
bikin rusuh aja ,,,
🤣🤣🤣🤣
kak author gmn cerita ny sih ,,
si ikan kembung lusy bisa ad di keluarga William ,,
ap tuan William selingkuh ap gmn ,,
/Smug//Smug/