NovelToon NovelToon
ISTRI DADAKAN MAS SANTRI

ISTRI DADAKAN MAS SANTRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / Poligami / Romansa / Dijodohkan Orang Tua / Pernikahan rahasia
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Flou

Arshaka Beyazid Aksara, pemuda taat agama yang harus merelakan hatinya melepas Ning Nadheera Adzillatul Ilma, cinta pertamanya, calon istrinya, putri pimpinan pondok pesantren tempat ia menimba ilmu. Mengikhlaskan hati untuk menerima takdir yang digariskan olehNya. Berkali-kali merestock kesabaran yang luar biasa untuk mendidik Sandra, istri nakalnya tersebut yang kerap kali meminta cerai.
Prinsipnya yang berdiri tegak bahwa pernikahan adalah hal yang sakral, sekeras Sandra meminta cerai, sekeras dia mempertahankan pernikahannya.
Namun bagaimana jika Sandra sengaja menyeleweng dengan lelaki lain hanya untuk bercerai dengan Arshaka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Flou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saya Hanya Butuh Kata Maaf

Panas suasana semakin terasa. Ketegangan kian merayapi dinding-dinding yang dingin saat tampaknya Arshaka betul-betul tak mampu menahan semua rasa yang ada di dalam dadanya. Sementara Sandra, perempuan itu semakin terpojok tatkala Arshaka kian mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Menggigit bibir dalamnya, Sandra semakin gemetar. Napasnya tertahan di tenggorokan, ia tidak tahu harus berkata apa. Ingin membela diri, tetapi sorot mata tajam itu membuatnya kelu.

“Dengerin aku sekali aja.” Suara Sandra terdengar sangat lirih. Ia berusaha menangkap tatapan Arshaka, tetapi sang empunya kian mengalihkan pandangan ke arah lain. Enggan bersirobok.

“Ingin menambah kebohongan lain? Atau sekedar memainkan air mata untuk mendapatkan belas kasihan?”

Tajam, menohok, Arshaka seakan kembali pada sosoknya saat kali pertama dia menikahi Sandra dan masih memandang gadis itu sebagai orang asing. Dingin, bermulut pedas, dan tidak berperasaan.

Sandra menggeleng cepat “Demi Allah—”

“Lagi dan lagi nama Tuhan selalu kamu seret untuk membenarkan kesalahanmu, Sandra. Kamu pikir saya ini bodoh, tidak punya mata, dan telinga?”

“Pergilah!” usir Arshaka. “Saya sedang tidak ingin berdebat.”

Cepat-cepat sebelum Arshaka menutup pintu, Sandra raih pergelangan tangan pria berstatus suaminya tersebut. Dia menggeleng, menatap punggung penuh menghiba pada Arshaka. “Iya iya aku jujur, aku emang ngelakuin ini semua bisa aku bisa tinggal di sini. Tapi tolong jangan langsung telen mentah-mentah sama apa yang Kakak liat tadi. Aku sendiri bahkan nggak tau itu,” tuturnya terdengar tergesa-gesa seakan dia ingin Arshaka tahu sesegera mungkin.

“Begitu?” tanya Arshaka tanpa membalikkan badan.

“Aku nggak bohong.”

Memutar tubuh, Arshaka berdiri menjulang di hadapan Sandra. “Lalu ini apa?!” Ia keluarkan foto polaroid dari saku baju koko yang dikenakannya. Dia serahkan dua lembar kertas tersebut kepada Sandra sembari menjauhkan tangannya hingga cekalan tangan perempuan itu terlepas.

Sandra membelalak. Seketika tubuhnya membeku. Tangannya gemetar saat mengambil foto itu, mata hitam itu bergerak cepat, melihat detailnya. Napas Sandra tertahan sepenuhnya di tenggorokan.

“Sejak tadi saya minta kamu untuk berterus terang agar saya bisa sedikit memaafkanmu, tapi yang keluar dari bibirmu selalu saja alasan! Apa susahnya bicara jujur dengan suami sendiri, Sandra?!” seru Arshaka tak tertahankan lagi. Berkilat marah sorot mata pemuda itu, tak setitik pun ditemukan kelembutan di dalamnya.

Sandra semakin kelu. Pucat di wajahnya semakin tak terelakkan. Kaku dia menggeleng pelan dengan jantung yang rasanya semakin melesak ke bawah. “Kakak dapet foto itu dari mana?”

Sinar mata Arshaka penuh dengan kepedihan. Bibirnya melengkung ke atas, tetapi tidak menghapus jejak luka di wajahnya.

“Kamu istri saya, Sandra! Kamu istri saya! Saya nikahi kamu di hadapan orang tuamu, di hadapan penghulu, di depan kedua orang tua saya. Tuhan, dan malaikat menyaksikan. Lapang dada saya menghadapi seluruh sikapmu selama ini. Tanpa syarat saya memaafkan semua hinaan yang kamu layangkan. Biadab sekali kamu membalasnya dengan pengkhianatan seperti ini!”

Sandra menggelengkan kepalanya cepat-cepat. “Itu foto editan. Tolong percaya sama aku. Seseorang pasti berniat menjatuhkan aku, Kak! Kenapa Kakak nggak mau berpikir lebih jauh? Kenapa Kakak cuma lihat dari satu sisi aja?”

Arahkan menatapnya lama. Rahangnya mengeras. Matanya mulai memerah. Lalu, setetes air mata jatuh dari sudut matanya. Sejujurnya Arshaka tidak ingin menangis saat ini. Akan tetapi, air matanya berjatuhan tanpa bisa dia tahan. Terlampau sakit di dalam sana yang dirasa, hingga ia harus membuka mulut sekedar untuk bernapas.

“Kamu tahu apa yang lebih menyakitkan dari ini semua? Bukan hanya fakta bahwa kamu mencoba berkhianat, tapi kenyataan kamu bahkan tidak bisa mengakui kesalahanmu sendiri.” Napas Arshaka semakin berat. Tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.

Mata Sandra semakin berair. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi ia tidak bisa menemukan kata-kata. Dia ingin mendekat, ingin meraih tangan Arshaka, nahas pemuda itu mundur, menghindari sentuhannya. “Kak, aku—”

“Cukup Sandra, cukup!” bentak Arshaka melotot nyalang. Lingkar matanya semakin memerah.

Arshaka mengusap wajah dengan kasar, menutup matanya sesaat, mencoba menenangkan diri. Kemarahan yang mendidih di dalam dada nyaris meledak, tetapi ia tidak mau kehilangan kendali lebih jauh.

“Saya cemburu, Demi Tuhan, saya cemburu. Hati saya sakit, terluka mengetahui kamu lebih senang dekat dengannya daripada saya, suamimu sendiri!” seru Arshaka mengutarakan isi hatinya.

“Kembalilah ke kamar. Saya lelah ingin istirahat.”

Itu kata-kata terakhir Arshaka sebelum akhirnya dia menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Membiarkan Sandra yang kembali mencoba berbicara dengannya, membujuk dengan segala omong kosong yang tak ada artinya sama sekali.

***

Diam seribu bahasa, menandakan bahwa Arshaka sedang merasakan kecewa yang luar biasa. Sejak pagi, Sandra berusaha membuka topik obrolan dengannya, menanyakan tentang tugas di kampus, dan lain sebagainya. Akan tetapi, tidak ada satu patah kata pun yang terlontar dari bibir Arshaka atas pertanyaan sang istri.

Sandra menghela napas panjang. Ia menatap Arshaka yang masih sibuk dengan ponselnya, tidak sekalipun menoleh ke arahnya. “Aku buatin kopi, mau?” tawar Sandra tak lelah berusaha.

Tidak ada jawaban. Mulut Arshaka terkunci sangat rapat bak terdapat lem perekat di antara bibirnya. Jangankan menjawab, melirik kepada Sandra saja tidak dia lakukan. Setiap kali perempuan itu mendekat, saat itu pula dia menghindari.

“Kak,” panggil Sandra mengejar Arshaka yang melangkah, membawa tungkai panjangnya menuju ruangan yang hingga saat ini dia tidak tahu isinya apa.

“Aku harus bilang apa kalo aku bener-bener nggak tau kenapa bisa begitu? Kakak dapet foto itu dari mana? Jangan lupa kalo orang-orang pada nggak suka sama aku. Bisa aja mereka edit foto itu pake muka aku, sengaja biar aku semakin dibenci!”

Lantang, nyaring Sandra berseru dengan sorot mata terluka. Memandangi punggung Arshaka di depannya nan lantas menghentikan langkah tepat di depan daun pintu.

Terlihat kepala pemuda itu jatuh tertunduk. Ia menarik sudut bibirnya tipis. Bukan, bukan kata-kata seperti itu yang ingin ia dengar. Dia ingin mendengar maaf dari bibir Sandra. Dia ingin perempuan itu menyadari kesalahannya sebab telah membohonginya dan berani berkencan dengan Farel sementara masih ada dirinya di sini. Arshaka mengharapkan hal tersebut, bukan sekedar pengakuan tanpa adanya penyesalan.

Lekas mengangkat kepala, ia memutar tubuh seratus delapan puluh derajat. Pandangan keduanya langsung bertemu di sana. Sorot mata Sandra terlihat begitu mengharapkan dirinya, tetapi Arshaka masih enggan untuk menyambut itu.

“Aku harus bilang gimana lagi biar kamu percaya?”

“Sadari kesalahanmu dan renungkan itu semua, lalu bertaubat, Sandra! Sejak semalam kenapa hanya validasi yang kamu tunjukkan pada saya, tanpa setitik pun penyesalan yang kamu perlihatkan!”

Lepas apa yang Arshaka tahan sejak semalam. Ia keluarkan isi hatinya dan dia utarakan apa inginnya.

“Kamu selalu seperti itu. Selalu mencari alasan, selalu ingin dipahami tanpa bisa memahami, tapi tidak pernah benar-benar menyadari di mana letak kesalahan fatalmu!”

Arshaka tidak tahu lagi harus berkata apa. Semalaman ia menahan segalanya, amarah, kecewa, dan luka yang terus mengendap di dalam dada. Ia ingin percaya bahwa Sandra benar-benar menyesal, tetapi yang didapat hanyalah pembelaan, seolah semua ini hanya soal bagaimana Sandra bisa membenarkan dirinya, bukan soal bagaimana menyadari kesalahannya.

Baginya, kata maaf saja tidak cukup. Ia tidak butuh validasi, tidak butuh alasan yang dibalut dengan seribu pembenaran. Arshaka hanya ingin Sandra sadar bahwa perbuatannya telah melukai, terlampau jauh. Bahwa penyesalan bukan hanya tentang ucapan, tetapi juga tentang bagaimana seseorang berani menghadapi konsekuensinya tanpa mencari alasan agar terlihat tak bersalah.

Tatapannya tertuju pada wajah Sandra yang kini penuh kebingungan. Ada bagian dalam dirinya yang ingin menghapus semua jarak, ingin memaafkan dan melupakan. Akan tetapi, bagaimana bisa ia melangkah maju kalau Sandra masih berdiri di tempat yang sama, tanpa sedikit pun perubahan?

Akhirnya, ia memilih untuk meninggalkan Sandra. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena dia lelah berusaha memahami seseorang yang bahkan tidak berusaha untuk mengerti perasaannya.

Duduk di atas kursi, Alkhaiz mencari nomor sang ayah dan lekas menghubungi Narestha detik itu juga.

“Assalamualaikum, Yah,” sapa Arshaka.

“Waalaikumsalam. Bagaimana kabarmu? Masih sering sesak kalau malam?”

“Alhamdulillah, masih, tapi sudah jauh lebih berkurang. Ayah sibuk tidak siang ini? Aku butuh bicara.”

“Lumayan, mau koordinasi dengan tim pemasaran dua puluh menit lagi. Nanti malam saja, bagaimana? Sekalian makan malam, ajak istrimu bertandang ke rumah.”

“Ayah tidak membencinya?” lontar Arshaka terdengar khawatir bila ia bertandang membawa Sandra, lalu perempuan itu akan mendapatkan tatapan tak suka dari Narestha.

Terdengar helaan napas berat Narestha dari seberang sana hingga perbincangan mereka terjeda beberapa saat. “Ayah marah, Ayah tidak suka bila ada orang yang membuat kesayangan Ayah terluka. Tapi, apa yang bisa Ayah lakukan selain menerimanya seperti kamu menerimanya kembali?” tuturnya terdengar bijaksana.

“Terima kasih sudah menghargai aku sebagai suaminya. Insyaa Allah nanti kami bertolak. Jangan terlalu memforsir tenaga, pernikahan Vhi semakin dekat, pinggang Umma sudah sering encok, dan butuh tenaga Ayah untuk memijatnya,” kekeh Arshaka terdengar seperti tengah menghibur diri.

“Ck, kamu ini. Ya sudah, Ayah tutup. Ada telpon dari istri Ayah. Assalamualaikum.”

Menganga kecil, Arshaka berdecak ketika belum sempat menjawab salam, tetapi dari seberang, Narestha lebih dulu menutup panggilan. “Waalaikumsalam. Bucin sekali,” gumamnya dengan senyum di bibirnya.

1
ullputri
kenapa bakal ada poligami sih thor
Miss Flou: hihihi🤭🤭🤭
total 1 replies
kalea rizuky
peran utama di sini siapa thor adeeba apa nadera
Miss Flou: Adeeba siapa sengkuh🤭
total 1 replies
muna aprilia
lanjut t
kalea rizuky
mending ceraiin aja lah mending ma naderra yg sopan gk kayak Sandra kelakuan kayak pelacur
kalea rizuky
ceraiin aja istri kayak. lacur gini buat apa g guna jg
kalea rizuky
cerai aja shaka istri kayak pelacur g bs di didik muak bgt
kalea rizuky
istri rasa lacur gk ada. aklak minus lagi. buang aja istri kayak gini
Miss Flou
oke gaaaasssss😍😍😍
liejave
semangat kak lanjuttt💪😍
Asihfitr
bau2 poligami skip jangan ada poligami gak suka udh tokoh utama wanita bikin geregetan LG
Nurul Uyun
jgn ad istri kedua
Miss Flou: T-tapi ini cerita poligami👉👈
total 1 replies
liejave
KAK??🥺🥺 PLIS LAH JANGAN GINI GREGETAN AKUUHH😭😭
Miss Flou: Yuu gregetan bareng wkwkwk
total 1 replies
Marlina Selian
Jagan ada poligami dan cerai thoor
Miss Flou: bisa aja ngerayunya😭🤣
total 3 replies
Nurul Uyun
jngn ada cerai n poligami
Miss Flou: 🤣🤣🤣🤣🤣🤭
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut kk
Miss Flou: Siap, Sayang😍
total 1 replies
Marlina Selian
haha lucu banget
Marlina Selian
lanjut thoor tetap semagat 🥰🥰🥰🥰
Marlina Selian
ikutan hayut dalam cerita ya hati ku teriris jugak
윤기 :3
Gila aja nih cerita, bikin gue baper dan seneng banget!
Miss Flou: Hallo, terima kasih sudah mampir, Kak. Semoga betah ya di sini sampe ending🥰
total 1 replies
Miss Flou
Annyeong, selamat datang😍
Ini novel pertama saya, semoga kalian suka ya. Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar, Sayangku🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!