Kenneth memutuskan untuk mengasuh Keyra ketika gadis kecil itu ditinggal wafat ayahnya.
Seiring waktu, Keyra pun tumbuh dewasa, kebersamaannya dengan Kenneth ternyata memiliki arti yang special bagi Keyra dewasa.
Kenneth sang duda mapan itupun menyayangi Keyra dengan sepenuh hatinya.
Yuk simak perjalanan romantis mereka🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YuKa Fortuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan Ken
33
Keyra terjaga perlahan, bukan oleh suara atau cahaya, melainkan oleh rasa hangat yang menetap di pundak dan lehernya. Ia tidak langsung membuka mata. Ada ketenangan yang aneh, seperti pagi yang enggan beranjak.
Napas itu.
Dekat. Teratur. Menenangkan.
Baru ketika ia menggeser sedikit bahunya, Keyra menyadari sumber kehangatan itu. Ken ada di sana, terlalu dekat untuk diabaikan.
Sentuhan bibirnya singgah ringan, bukan ciuman yang tergesa, melainkan jeda kecil yang penuh perhatian, seolah ia memastikan Keyra baik-baik saja sebelum benar-benar terjaga.
“Om Ken…” gumam Keyra pelan, masih setengah mengantuk.
Ken berhenti. Ia tersenyum kecil, lalu menyandarkan dagunya sebentar di bahu Keyra. “Maaf. Om mengganggu kamu?”
“Nggak,” jawab Keyra jujur. “Aku… justru hangat.”
Ken tertawa pelan. “Itu memang niat Om.”
Keyra membuka mata, menoleh sedikit. Tatapan mereka bertemu dalam jarak yang akrab, cukup dekat untuk berbagi napas, cukup tenang untuk tak perlu kata-kata tambahan.
Ken merapikan selimut di bahu Keyra, gerakannya sederhana, penuh kebiasaan menjaga.
“Tidurlah lagi kalau kamu masih mengantuk,” katanya lembut.
Keyra menggeleng kecil. “Aku suka pagi begini. Ada Om di sisi aku, meluk aku, cium aku. Aku ngerasa aku adalah perempuan paling bahagia di dunia.” ungkap Keyra jujur.
Ken mengangguk, memahami. Ia mengecup pundak Keyra sekali lagi, singkat, penuh arti, lalu memeluknya dengan nyaman, tidak menuntut apa pun selain kebersamaan yang jujur.
Di pagi yang sunyi itu, keintiman mereka hadir tanpa gaduh,
sebuah kehangatan yang menetap,
sebuah rasa aman yang tak perlu dijelaskan.
Cahaya pagi merayap pelan melalui celah tirai, menyentuh kulit Keyra dengan hangat yang lembut. Ia menyadari sensasi itu, bukan hanya sinar matahari, melainkan juga hembusan napas Ken yang teratur di dekatnya. Ada sentuhan hangat di area pundak hingga lehernya, jejak ciuman yang pelan dan penuh kehati-hatian, seolah Ken sedang memastikan Keyra benar-benar terjaga sebelum melanjutkan.
Keyra tersenyum kecil, masih setengah mengantuk. “Om…” suaranya serak, lebih seperti bisikan.
Ken berhenti sejenak, lalu mendekatkan wajahnya. “Maaf, Om sulit berhenti mencium kamu.
“Nggak apa-apa, Om.” jawab Keyra, matanya masih terpejam. “Aku justru ingin ini.”
Ken mengusap rambutnya dengan ibu jari, sentuhannya tenang, menenangkan. Ia mencium pelipis Keyra, lalu kembali ke pundaknya, perlahan, tanpa tergesa, tanpa memaksa. Keintiman itu terasa seperti janji yang dibungkus kesabaran. Keyra merapat, membiarkan dirinya berada dalam dekapan yang aman, merasakan ritme pagi yang baru saja dimulai.
“Pagi yang indah,” gumam Ken. "...dan nikmat." gumam Ken di sela aktivitas ciumannya di seputar leher dan pundak Keyra.
“Iya, Om,” balas Keyra, kali ini membuka mata.
Mereka berbaring berdampingan, saling menatap, membiarkan keheningan berbicara. Ada tawa kecil ketika Ken menyelipkan gurauan ringan, ada sentuhan-sentuhan sederhana yang membuat jantung Keyra berdebar. Pagi itu tak perlu diburu, cukup dinikmati, seperti hangat matahari dan rasa tenang yang tumbuh di antara mereka.
Namun tiba-tiba Keyra tersentak di tengah hangat pagi itu.
Ada detik singkat ketika matanya terbuka lebar, napasnya tertahan, bukan karena sentuhan Ken yang masih berjejak lembut di pundak dan lehernya, melainkan oleh ingatan yang menyusup tanpa permisi, kejadian semalam yang seharusnya ia kubur rapat-rapat dalam diam.
Wajahnya menghangat. Jantungnya berdegup lebih cepat dari sebelumnya.
Ia menelan ludah, berusaha menenangkan diri. Tubuh Ken masih begitu dekat, lengannya melingkar protektif, napas pria itu teratur dan tenang, seolah dunia tak pernah diganggu oleh kegelisahan kecil yang kini menguasai Keyra. Kehangatan itu menenangkan, namun sekaligus membuat rasa bersalah dan malu secara bersamaan.
Keyra memejamkan mata, berpura-pura masih menikmati walau sebenarnya ia sedang dilanda gelisah.
“Oomm...sshhh…” gumamnya nyaris tak terdengar, entah untuk siapa, untuk pria itu, atau untuk dirinya sendiri.
Ken menghentikan kecupan ringan yang sedari tadi ia tinggalkan di kulit Keyra. Ia merasakan perubahan kecil itu, tarikan napas yang tak biasa, ketegangan samar yang tak mampu disembunyikan sepenuhnya.
“Kamu kenapa, Sweetheart?” tanyanya pelan, suaranya masih berat oleh sisa kantuk.
Keyra menggeleng kecil, gerakan yang nyaris tak kentara. “Nggak apa-apa,” jawabnya cepat, terlalu cepat.
Ken tidak memaksa. Ia hanya menarik Keyra lebih dekat, menempelkan dagunya di puncak kepala gadis itu, seolah berkata tanpa kata, aku di sini. Sentuhan itu sederhana, penuh kendali, namun sarat perhatian.
Di dalam pelukan itu, Keyra berusaha menenangkan gejolak hatinya. Ia tahu ada batas yang Ken jaga dengan sungguh-sungguh, batas yang justru membuatnya merasa aman, sekaligus… menginginkan lebih. Perasaan itu membingungkan, memalukan, namun nyata.
Pagi terus berjalan, cahaya matahari merayap masuk perlahan, sementara Keyra memilih diam, membiarkan kehangatan dan detak jantung Ken menjadi jangkar, setidaknya sampai ia cukup berani menghadapi perasaannya sendiri.
Ken mengulurkan tangannya, jemarinya merayapi tubuh Keyra.
Sentuhan Ken Lembut. Konsisten. Seolah seseorang sedang mengingat bentuknya dengan cara paling sabar.
Keyra menahan napas ketika menyadari Ken mempunyai satu tujuan.
Bibir pria itu kembali menyentuh pundaknya dengan hati-hati, nyaris seperti permintaan izin yang tak terucap. Sebuah kecupan gemas, lalu jeda. Seolah Ken menunggu apakah Keyra akan menegur, atau justru diam.
Dan Keyra… diam.
Tubuhnya kaku sesaat, bukan karena tak suka, melainkan karena pikirannya kembali melayang pada malam sebelumnya. Pada momen singkat yang masih membuat dadanya berdebar, ketika rasa penasaran mengalahkan logika, dan ia nyaris melangkah terlalu jauh.
“Tenang…,” suara Ken rendah, nyaris berbisik, seolah merasakan kegelisahan yang tiba-tiba menguasai tubuh Keyra.
Tapi sentuhan itu tidak berhenti.
Tangan Ken menyusur perlahan, awalnya hanya sebatas punggung dan lengan, seperti ingin menenangkan, bukan menuntut. Namun justru kelembutan itulah yang membuat Keyra semakin goyah. Setiap sentuhan terasa disengaja, penuh kendali dan itu membuatnya bertanya-tanya, sampai kapan kendali itu bertahan?
Ia ingin berbalik. Ingin menatap wajah Ken. Ingin memastikan apakah pria itu juga merasakan gejolak yang sama.
Namun di saat yang sama, ada rasa takut.
Takut jika ia melihat terlalu banyak. Takut jika ia sendiri tak mampu menahan diri.
Ken kembali mengecup tengkuknya, sedikit lebih lama kali ini. Bukan agresif, tapi cukup dalam untuk membuat Keyra memejamkan mata dan menggenggam seprei.
Jemari Ken menyusup di bawah selimut, menjamah paha Keyra yang halus mulus. Lalu bergerak semakin intim dan... tiba di atas gundukan lembut milik Keyra yang mulai lembab.
"Om..." Keyra memanggil pelan, Ken tak berhenti.
Jemari Ken membelai lembut belahan intim milik gadisnya. Ada rasa gemas. Ingin. Geregetan. Perlahan ia menekan-nekan bagian itu. Ujung jarinya terasa lembab. Ada kehangatan yang merembes dari balik kain tipis.
Ken tersenyum samar. Melihat ekspresi gadisnya yang menggigit sudut bibirnya menahan nikmat. Pria itu semakin dibuat gemas hingga akhirnya jarinya menyelinap masuk ke dalam celah mungil nan hangat.
“Oomm…” suara Keyra hampir tak keluar, lebih seperti helaan napas yang kehilangan arah.
Pria itu berhenti.
Benar-benar berhenti.
Tangan yang tadi bergerak kini diam, namun masih berada di dalam milik Keyra. Jarak di antara mereka tetap dekat, tapi suasana berubah, lebih sunyi, lebih tegang.
“Kamu takut,” ujar Ken pelan. “Om nggak mau kalau itu karena Om.”
Kalimat itu justru membuat dada Keyra semakin sesak.
Ia ingin berkata tidak, ingin bilang bahwa ia baik-baik saja, bahwa ia menginginkan ini. Namun kata-kata itu terasa terlalu jujur untuk diucapkan, bahkan pada dirinya sendiri.
Dan ingatannya tentang milik Ken yang besar dan panjang, membuat perasaannya jadi campur aduk.
“Aku cuma…” Keyra terdiam, tak tahu harus melanjutkan apa.
Ken mendekatkan dahinya ke pelipis Keyra, tanpa menyentuh lebih jauh. “Kita pelan-pelan saja. Tidak perlu buru-buru.”
katanya mantap. “Om di sini. Tapi Om tidak akan melewati batas yang belum siap kamu lewati.”
Kalimat itu hangat dan menyakitkan sekaligus.
Keyra ingin lebih. Namun ia juga tahu, justru karena itulah Ken memilih menahan diri.
Dan di antara keinginan yang menggebu dan ketakutan yang samar, Keyra akhirnya menghela napas panjang, membiarkan dirinya tetap berada dalam pelukan itu, belajar menikmati kedekatan yang belum sepenuhnya ia pahami, namun terlalu berarti untuk ditolak.
Pagi itu pun berakhir dengan sunyi yang sarat makna. Bukan karena apa yang mereka lakukan, melainkan karena apa yang sengaja mereka tahan.
.
YuKa/ 261225
beh gila ya Rafael sama rayya,,dia melakukan hal itu sama Rayya tp yg dia sebut nama key , sakit banget pasti nya tuh Rayya tp kek nya dia perduli ya Krn merasa dia lah yg terpilih..
Enak ya ? Nikmat ya ?
Puas gak ?
Ngga dooong hihi , deudeuin klo basa sundana mah 😂