Mengisahkan perjalanan hidup seorang pemuda di jaman dahulu untuk meraih cinta dan menjungjung tinggi martabat seorang ibu. hidup sebagai seorang pemburu untuk menghidupi sekaligus menjadi tulang punggung dan terpaksa melewati bermacam rintangan demi mendapatkan hati seorang wanita yang di cintainya. serta calon mertua yang tak setuju karena memiliki latar belakang yang bertentangan. serta ikut campur bangsa dari dunia lain yang tak kasat mata yang menyulitkan mewujudkan impiannya. simak keseruan kisahnya di setiap babnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendriyan Sunandar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Di hari itu. Ketika matahari mulai meninggi. Di sertai beberapa gumpalan awan putih yang tampak bergelayut di atas langit biru.
Suasana di siang itu tampak sewajarnya tanpa memperlihatkan tanda tanda akan hujan namun hari terasa tak begitu panas. Suara burung burung yang berkicau, hembusan semilir angin pegunungan, dan juga suara gemericik air yang keluar dari pancuran dari bilah bambu, membuat suasana terasa benar benar asri dan damai. dan
Itu selaras dengan perasaan yang di rasakan oleh Tumang di hari itu. Usai dirinya berkeliling memeriksa sawah yang di jaganya, Tumang tampak membersihkan kakinya dari lumpur sawah di sebuah pancuran bambu yang bersumber dari aliran sawah yang berada di petakan sawah sebelumnya.
tengah asik Tumang melakukan itu, tiba tiba terdengar suara seperti orang yang berjalan mendekat ke tempatnya.
"sedang apa kau Tumang? Bagaimana keadaan sawahku. Apa semuanya baik baik saja ?
awas kalau tak serius kerjanya ya. Aku tak mau banyak padi yang hampa tak berisi karena di makan burung. Tuh... Seperti petakan yang itu. Itu padi ketan yang nanamnya nyusul. Makannya padi itu masih hijau. Dan kau harus lebih memperhatikannya jangan sampai di hinggapi burung pipit"
Untaian kata kata itu yang di dengar Tumang setelah sebelumnya membalikan tubuhnya lantas sedikit merengkuhkan tubuhnya pada lelaki itu. Tumang tau jika sosok lelaki tua yang tak lain adalah bah Lemud yang kini menjadi majikannya itu, tergolong orang yang gila hormat dan selalu haus akan pujian dan sanjungan dari lawan bicaranya. Tak heran Tumang pun yang mengerti itu, dirinya berpura pura memandang bah Lemud dengan tatapan seperti begitu kagum pada penampilan majikannya itu.
"Tumang ! Kau dengar tidak aku bicara !!! Malah bengong begitu kau ini ya. Kenapa. Ada yang salah sama pakaianku hah ?"
Ujar bah Lemud setengah membentak namun merasa heran pada gelagat Tumang yang menatap tanpa berkedip itu.
"iya. iya saya dengar kok Gan. Insyaallah semua padi Juragan ini aman kok. Malah sepertinya minggu depan sudah siap panen Gan.
oh iya Gan. Juragan kelihatan gagah dan berwibawa sekali pakai pakaian itu. Baju baru ya gan ? Pasi mahal banget ya harganya juga. upah saya setahun saja sepertinya belum cukup untuk beli pakaian sebagus itu"
Balas Tumang mengatakan ke adaan sawah yang di jaganya itu baik baik saja. Tak lupa juga Tumang menghujani bah Lemud dengan sanjungan bertubi tubi sampai wajahnya sedikit memerah merasa malu namun terlihat bangga.
"ah kau ini bisa saja Mang. Aku kira kau tak dengar aku bicara tadi. Baguslah kalo padi padi ini tak lama lagi bisa di panen. Kau urus ya semuanya Mang. Oh iya... Kau mau coba rokok putih mang ?
rokok mahal ini. aku sengaja membelinya dari kota "
Seketika sikap bah Lemud seperti tiba tiba begitu ramah pada Tumang karena renteten pujian dari Tumang itu. Dari balik saku bajunya, bah Lemud terlihat meraih sebungkus rokok putih/filter dan berniat memberikan satu batang pada Tumang.
Tentu saja Tumang yang sebulan sekali saja belum tentu menghisap rokok sebagus itu, dirinya begitu senang lantas lebih merengkuhkan tubuhnya di hadapan bah Lemud. Kedua tangannya ia usapkan terlebih dahulu pada bajunya karena masih basah setelah membasuh kakinya beberapa saat tadi. Lalu tak lama setelahnya, Tumang segera mengulurkan tangannya bermaksud memaut batang rokok dari bungkus yang di pegang bah Lemud itu.
"masih panjang itu Mang. Sayangkan kalau di buang. Setengah batang saja kau belum tentu sanggup membelinya. Ayo cobalah Mang. tapi jangan salahkan aku kalo kau ketagihan ya. Haha... "
Ya. Entah apa yang ada di pikiran bah Lemud ketika itu. Di saat raut wajah Tumang tampak sumringah karena akan segera mencicipi rokok putih yang katanya rasanya nikmat itu, tiba tiba di buat terkejut. Di mana sebatang rokok yang di pautnya itu hanyalah rokok sisa bah Lemud yang ukuranya tak akan lebih dari setengah batang itu.
Hati kecilnya ingin sekali menghempaskan rokok itu pada wajah bah Lemud jika saja sedang tidak bekerja pada Juragan yang tersohor pelit itu. Namun Tumang tetap berusaha tersenyum sembari menerima korek yang pinjamkan oleh bah Lemud padanya.
"dasar aki aki setengah gila. ngasih sebatang rokok saja sampai tega ngasih puntung. Awas kau ya Lemud. Kalau ada kesempatan akan ku balas perlakuanmu ini. Kau pikir harta akan di bawa mati hah. Pelit kok ya gak kira kira"
Gumam Tumang menggerutu kesal di hatinya. Lantas mengikuti bah Lemud yang berjalan lebih dulu menuju gubuk.
namun itulah hukum alam dan keadilan Sang Maha Pemberi. Yang terkadang di balas kontan tanpa bisa menolak.
Baru saja bah Lemud melangkahkan kakinya beberapa langkah di pematang sawah itu, tiba tiba dari pematang sawah arah lain muncul si gembul yang berlari cepat sembari menggonggong mengejar seekor tikus. Sehingga tak heran jika bah Lemud yang merasa terkejut karena ada tikus besar menuju ke arahnya, detik itu juga dirinya berusaha melompat setinggi mungkin.
Namun sayang dan begitu malang. Pendaratan sepasang kakinya itu tak sempurna karena terseruduk oleh si gembul yang melaju cepat dan membuat dirinya kagok.
serenteng !!!... Jius !!! Siut !!! Gujubar !!!
"huaduh...!!! Tobatttt....!!!"
Ya. alhasil bah lemud tak sempat menjaga keseimbangan tubuhnya. dan pada akhirnya jatuh pada kotakan sawah yang berlumpur. Pakaian bagus nan rapih di padukan topi berdaun lebar ala bandar itu, akhirnya harus basah kuyup di sertai lumpur yang menempel hampir di sekujur tubuhnya. Tak terkecuali sebungkus rokok yang berada di saku celananya itu. Batang roko itu semua basah sekalipun lumpur tak masuk kedalam bungkusnya.
"astaghfirullah. juragannn !!! Ya Allah juragan !!!"
Pekik Tumang berlaga panik namun yang sebenarnya ia menahan tawa melihat kemalangan yang menimpa majikannya itu. Dengan segera Tumang mengulurkan sebelah tangannya bermaksud menolong bah Lemud yang terdengar menggerutu kesal.
"guooo...blok !!! Dasar asu edan !!! Anjing siapa itu Tumang !! Awas ya kalo ketemu lagi. Habis kau asu !"
maki bah Lemud sembari clingak clingkuk mencari cari si gembul.
"maaf bah. Itu anjing peliharaan saya. Namanya si gembul. Abah tidak apa apa kan ?"
Ucap Tumang meminta maaf atas insiden yang tidak sengaja di lakukan oleh anjingnya itu.
"oh !!! Jadi anjing sialan itu anjing kamu !!! Buat apa kamu jaga padi bawa bawa anjing. Tumangggg...!!!
mulai besok jangan bawa anjing itu. Atau ku potong upahmu. mengerti !!!"
Tegas bah Lemud dengan mimik wajah yang begitu kesal dan berusaha menyingkirkan lumpur dari wajahnya. Dan tentu saja untuk kali ini makian bah Lemud itu seperti tak berpengaruh pada Tumang. Alih alih wajahnya itu terlihat seram sekalipun memelototkan kedua matanya selebar mungkin. Yang ada bah Lemud malah terlihat lucu di mata Tumang.
"jangan begitu dong Gan... Anjing itu kan tidak sengaja menabrak Agan tadi. Juragan kan tau sendiri tadi. Kalo anjing itu sedang ngejar tikus yang merusak padi padi di sini. Sawah Agan ini luas banget loh Gan. Kalo tidak di bantu sama anjing itu, gak mungkin saya bisa menjaga padi padi ini seorang diri dengan baik.
anjing itu kalau malam sengaja saya tinggal di sini loh bah.
Ya... Takutnya ada maling atau ada celeng. Kan aman kalo ada anjing itu. termasuk anjing yang mengejar tikus tadi. tak lain anjing itu berusaha menjaga sawah Agan dari ganguan bermacam hama.