Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.
Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.
Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Alexander mengusap lembut punggung Elena, napas hangatnya menyapu pelipis wanita itu. Jemarinya mengeratkan pelukan, seolah ingin menanamkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kata-kata.
“Elena…” suaranya rendah, nyaris bergetar. “Apa pun yang terjadi nanti, aku ingin kau tetap di sisiku.”
Elena membeku. Kata-kata itu menembus dadanya seperti anak panah. Ia mendongak perlahan, menatap wajah Alexander yang kini begitu dekat. Mata abu-abu itu tidak lagi hanya tajam, tapi penuh kesungguhan, seakan pria itu sedang membuka pintu terdalam dalam dirinya.
“Alex…” bibir Elena bergetar, suaranya lirih. “Kenapa kau berkata seperti itu?”
Alexander menatapnya dalam-dalam, rahangnya mengeras sejenak sebelum ia menghela napas berat. “Karena aku tahu akan ada hal-hal yang mungkin menyakitimu… yang mungkin membuatmu ingin menjauh dariku. Tapi jangan lakukan itu. Aku tidak akan membiarkan siapa pun, atau apa pun, merebutmu dariku.”
Elena terdiam, jantungnya berdegup tak terkendali. Kata-kata itu terasa seperti pengakuan… tapi juga peringatan.
“Kau tidak mengerti, Alex…” suaranya bergetar. “Aku takut. Kau pria yang penuh rahasia, dan aku, aku bukan siapa-siapa. Cepat atau lambat… aku akan hancur.”
Alexander langsung menggenggam dagunya, memaksa Elena menatapnya lagi. Sorot matanya dingin tapi juga rapuh, seakan ia sedang melawan dirinya sendiri.
“Kau pikir aku tidak takut? Elena, sejak kau masuk ke hidupku, semuanya kacau. Aku tidak pernah menginginkan siapa pun sebelumnya.”
Elena menahan napasnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak mendengar pengakuan itu.
Alexander mendekatkan wajahnya hingga dahi mereka bersentuhan, suaranya serak, penuh tekanan.
“Apapun yang terjadi nanti, tetaplah di sisiku. Aku tidak peduli seberapa sulit, aku tidak peduli seberapa banyak rahasia yang harus kau tahu. Yang aku tahu, aku tidak akan membiarkanmu pergi.”
Air mata Elena menggenang lagi. Ia ingin mempercayainya, ingin menyerahkan dirinya pada kata-kata itu. Tapi bayangan Elie, rahasia yang belum terungkap, dan luka yang mungkin menunggu di depan membuatnya ragu.
Namun, di saat yang sama… pelukan Alexander terlalu hangat, terlalu nyata untuk ia tolak.
“Alex…” bisiknya lirih, nyaris putus asa.
Alexander mengecup singkat keningnya, lalu berbisik di sana.
“Jangan tinggalkan aku, Elena. Itu saja yang kuminta.”
Elena menatap Alexander lama, matanya masih basah oleh air mata. Hatinya berdegup kencang, kacau oleh rasa sakit dan harapan yang bercampur jadi satu. Keheningan di antara mereka hanya diisi oleh suara napas yang saling bertemu di ruang kecil di antara wajah mereka.
“Alex…” suaranya lirih, nyaris tercekat. “Kalau benar… kalau kau memang mencintaiku… bisakah kau… menikahiku?”
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya, tanpa bisa ia tahan lagi. Pertanyaan yang sudah lama ia pendam akhirnya terucap, sekaligus membuat dadanya terasa berat.
Alexander membeku. Mata abu-abu itu menajam, tapi bukan dengan kemarahan—melainkan keterkejutan. Lalu hening. Sunyi yang terasa menusuk.
Elena menatapnya dengan tatapan penuh luka, menunggu jawaban. Tapi semakin lama pria itu terdiam, semakin perih rasanya.
“Kau tidak bisa menjawab… bukan?” bisiknya getir, matanya mulai kembali berkaca-kaca.
Alexander memejamkan mata, rahangnya mengeras, seolah ada perang besar dalam dirinya. Ia menunduk, jemarinya masih menahan wajah Elena agar tetap menatapnya, meski sulit.
“Elena…” suaranya rendah, berat, penuh beban. “Maafkan aku.”
Elena terhenyak. Kata-kata itu jatuh di telinganya seperti pisau tajam.
Alexander menghela napas panjang, menundukkan kepala hingga keningnya menyentuh bahu Elena. “Aku… mencintaimu. Kau satu-satunya wanita yang bisa membuatku merasa seperti ini. Tapi…” ia terdiam, suaranya bergetar samar, “…aku tidak bisa menikahimu.”
Air mata Elena jatuh tanpa bisa ditahan. Ia menutup mulutnya dengan tangan, menahan isak yang pecah dari dadanya. Kata “aku mencintaimu” seharusnya menjadi kebahagiaan terbesar, tapi mengapa justru terasa lebih menyakitkan daripada penolakan apa pun?
“Kenapa, Alex?” suaranya pecah, penuh luka. “Kalau kau mencintaiku, kenapa tidak bisa menikahiku?”
Alexander menatapnya lagi, sorot matanya penuh dilema. Ada sesuatu yang ditahannya. Rahasia besar yang tak bisa ia ucapkan.
“Elena… ada hal-hal yang tak bisa kau pahami sekarang. Jika aku menikah denganmu… itu akan membawamu pada bahaya yang lebih besar daripada yang bisa kau bayangkan.”
Elena menggeleng, air matanya terus jatuh. “Bahaya apa pun… aku tidak peduli, Alex. Yang aku peduli hanya perasaan kita.”
Alexander mengusap pipinya yang basah, dengan tatapan penuh rasa sakit. “Kau tidak mengerti. Aku lebih memilih kau membenciku… daripada melihatmu hancur karena memilihku.”
Elena terisak, tubuhnya bergetar. Baginya, jawaban itu bukan hanya penolakan, tapi juga jurang yang memisahkan mereka.
Alexander menariknya kembali ke dalam pelukan, mendekapnya erat, seolah takut kehilangan. “Maafkan aku, Elena. Biarkan aku mencintaimu dengan caraku… meski aku tidak bisa memberimu status yang kau inginkan.”
Elena terdiam dalam pelukan itu, hatinya tercabik-cabik.
Ia sadar… sejak awal, jatuh cinta pada Alexander Thorne berarti mengorbankan seluruh logika dan mungkin… seluruh dirinya.