"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."
Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.
Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.
Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.
Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 17
Aula mewah Hotel Mulia Jakarta malam itu dipenuhi oleh aroma parfum mahal dan denting gelas kristal. Acara Business Excellence Awards menjadi ajang pamer kekuatan bagi para penguasa ekonomi.
Kirana berdiri di tengah kerumunan, memegang gelas champagne dengan jemari yang stabil, meskipun hatinya bergemuruh hebat sejak melihat nama Arka Mahendra di daftar tamu kehormatan sebagai CEO Phoenix Construction.
Kirana mengira Arka akan hancur setelah penolakannya di taman rehabilitasi. Ia mengira Arka akan menyerah dan hidup dari tunjangan yang ia berikan. Namun, pria yang berdiri sepuluh meter darinya itu tampak seperti orang yang baru lahir kembali. Lebih tajam, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya.
Kirana sengaja berjalan menuju balkon untuk mencari udara segar. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat sosok pria yang sangat ia kenal sedang berdiri membelakanginya, menatap gemerlap lampu Jakarta.
"Kau tumbuh dengan sangat baik, Kirana. Setelan hitam itu benar-benar menunjukkan siapa penguasanya sekarang," suara Arka terdengar rendah, tenang, namun penuh tekanan.
Kirana menarik napas dalam, memaksakan wajahnya tetap datar. "Aku tidak menyangka kau punya cukup nyali untuk hadir di acara ini, Arka. Bukankah lebih baik kau fokus belajar berjalan daripada mencoba berlari di antara para raksasa?"
Arka berbalik. Tidak ada kemarahan di matanya. Hanya ada kekosongan yang membuat Kirana merasa asing. Arka melangkah mendekat, melewati batas tiga langkah yang selalu dijaga Kirana. Ia berhenti tepat di depan wajah Kirana, begitu dekat hingga Kirana bisa merasakan hembusan napasnya.
"Aku belajar berjalan untuk mengejarmu, Kirana. Tapi aku belajar berlari untuk melampauimu," bisik Arka. Ia meraih tangan kanan Kirana, namun bukan untuk menciumnya. Ia hanya menatap cincin berlian besar di jari tengah Kirana, cincin yang dibeli Kirana sendiri sebagai simbol kemandiriannya. "Cincin yang indah. Tapi itu terlihat sangat kesepian, sama seperti pemiliknya."
Kirana menyentak tangannya. "Jangan lancang! Kau bukan siapa-siapa lagi bagiku!"
"Benarkah?" Arka tersenyum sinis, sebuah senyuman yang membuat Kirana ingin menamparnya sekaligus memeluknya. "Kalau aku bukan siapa-siapa, kenapa tanganmu gemetar saat aku menyentuhnya?"
Ketegangan berlanjut di dalam ruang lelang amal. Sebuah jam tangan antik yang sangat langka dilelang untuk pembangunan sekolah di daerah terpencil. Kirana, yang ingin membangun citra dermawan untuk Nirmala-Kencana, membuka tawaran di angka 1 miliar rupiah.
"1,5 miliar," suara Arka menggema dari meja seberang tanpa keraguan.
Kirana melirik tajam. "2 miliar."
"3 miliar," balas Arka cepat, matanya menatap langsung ke mata Kirana dengan tatapan menantang.
Para tamu mulai berbisik. Ini bukan lagi sekadar lelang, ini adalah perang terbuka. Kirana merasa emosinya mulai terpancing. Ia tahu Arka baru saja membangun perusahaannya, uang sebesar itu pasti sangat berisiko bagi likuiditas Phoenix Construction.
"5 miliar!" teriak Kirana, emosinya mulai menguasai logika.
Ruangan mendadak hening. Kirana merasa menang. Ia menatap Arka dengan senyum kemenangan. Namun, Arka justru meletakkan papan tawaran tawarannya, menyesap minumannya, dan tersenyum sangat lebar.
"Selamat, Kirana. Kau baru saja membayar tiga kali lipat dari harga pasar untuk jam tangan yang sebenarnya tidak kau butuhkan," Arka bertepuk tangan pelan. "Aku hanya ingin menguji seberapa besar ego yang kau miliki sekarang. Ternyata, egomu jauh lebih besar daripada akal sehatmu."
Kirana membeku. Ia sadar ia baru saja masuk ke dalam jebakan psikologis Arka. Arka tidak ingin memenangkan jam itu, ia hanya ingin membuat Kirana terlihat emosional dan tidak stabil di depan para investor.
Setelah acara selesai, hujan deras mengguyur Jakarta. Kirana menunggu mobilnya di lobi saat ia melihat Arka sedang berbicara dengan seorang wanita cantik, seorang arsitek muda ternama yang dikabarkan menjadi partner barunya. Mereka tertawa, dan Arka tampak sangat perhatian, menyampirkan jasnya ke bahu wanita itu agar tidak kedinginan.
Rasa cemburu yang luar biasa membakar dada Kirana. Ia merasa ingin berteriak bahwa Arka adalah miliknya, meski ia sendiri yang membuangnya.
Saat Arka melihat Kirana, ia hanya mengangguk sopan seolah Kirana adalah orang asing biasa, lalu masuk ke mobilnya bersama wanita itu.
Kirana masuk ke mobilnya sendiri dan menangis dalam diam. "Kenapa ini sakit sekali? Aku yang mengakhiri semuanya! Aku yang menyuruhnya pergi!" teriaknya dalam hati sambil memukul kemudi mobil.
Keesokan harinya, Kirana mendapat kabar buruk. Proyek pembangunan jembatan nasional yang selama ini ia incar jatuh ke tangan Phoenix Construction. Arka memenangkan tender itu dengan selisih angka yang sangat tipis dan desain yang lebih efisien.
Kirana mendatangi kantor Arka tanpa janji. Ia menerobos masuk ke ruangan Arka. "Kau mencuri dataku, Arka! Bagaimana kau bisa tahu angka penawaranku?"
Arka sedang duduk di kursi kebesarannya, menatap beberapa cetak biru. Ia mendongak, menatap Kirana yang tampak berantakan karena amarah.
"Aku tidak mencuri datamu, Kirana. Aku hanya mengenalmu lebih baik dari siapapun. Aku tahu kau akan bermain aman dengan margin keuntungan 15%, jadi aku bermain di 14%. Sederhana, bukan?"
Kirana mendekati meja Arka, menumpukan kedua tangannya. "Kau sengaja melakukan ini untuk menghancurkanku? Setelah semua yang aku lakukan untuk membersihkan namamu?"
Arka berdiri, berjalan mengitari mejanya, dan mengurung Kirana di antara meja dan tubuhnya. "Aku melakukan ini untuk membuktikan padamu bahwa aku bukan lagi beban yang harus kau kasihani. Aku ingin kau melihatku sebagai lawan yang setara. Karena hanya dengan begitu, kau akan berhenti memandangku dari atas tahtamu yang tinggi itu."
Jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Amarah Kirana mendadak berubah menjadi desakan rindu yang tak tertahankan. Matanya turun ke bibir Arka, dan Arka menyadarinya. Arka mendekatkan wajahnya, hidung mereka bersentuhan.
"Kau membenciku, Kirana? Katakan padaku bahwa kau membenciku sambil menatap mataku," tantang Arka dengan suara parau.
"Aku membencimu..." bisik Kirana, namun tangannya justru mencengkeram kemeja Arka.
Arka hampir menciumnya, namun tepat sebelum bibir mereka bertemu, ia berhenti. Ia melepaskan Kirana dan kembali ke kursinya dengan wajah yang mendadak dingin kembali.
"Pergilah, Kirana. Kita punya rapat koordinasi besok pagi. Jangan sampai emosimu mengganggu profesionalisme kita lagi. Aku tidak ingin menang melawan wanita yang sedang tidak stabil."
Kirana berdiri mematung, merasa sangat terhina sekaligus hancur. Arka baru saja mempermainkan perasaannya dengan sangat kejam, memberikan harapan lalu menjatuhkannya ke lantai dalam hitungan detik.
Kirana berjalan keluar dari ruangan itu dengan tangan gemetar. Ia menyadari bahwa Arka bukan lagi pria yang bisa ia kendalikan. Arka telah berubah menjadi cermin dari dirinya sendiri. Dingin, penuh perhitungan, dan tak berperasaan.
Di dalam ruangannya, setelah Kirana pergi, Arka mengepalkan tangannya hingga gemetar. Ia memukul meja dengan keras. Ia mencintai Kirana hingga hampir gila, namun ia tahu, jika ia menyerah sekarang, Kirana tidak akan pernah menghormatinya. Ia harus terus menjadi monster ini agar Kirana tetap menatapnya, meski dengan tatapan benci.
...----------------...
**Next Episode**...