NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami Dicintai Pangeran Dubai

Dikhianati Suami Dicintai Pangeran Dubai

Status: tamat
Genre:Janda / Selingkuh / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Crazy Rich/Konglomerat / Miliarder Timur Tengah / CEO / Tamat
Popularitas:976.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Rere ernie

Alena Prameswari percaya bahwa cinta bisa mengubah segalanya.

Tapi setelah tiga tahun menikah dengan Arga Mahendra, ia sadar bahwa kesetiaan tak akan berarti bila hanya satu pihak yang berjuang.

Saat pengkhianatan terbongkar, Alena memilih pergi. Ia menerima proyek desain di Dubai... tempat baru, awal baru.

Tanpa disangka pertemuan profesional dengan seorang pangeran muda, Fadil Al-Rashid, membuka lembaran hidup yang tak pernah ia bayangkan.

Fadil bukan hanya pria miliarder yang memujanya dengan segala kemewahan,
tetapi juga sosok yang menghargai luka-luka kecil yang dulu diabaikan.

Namun cinta baru tak selalu mudah.
Ada jarak budaya, gengsi, dan masa lalu yang belum benar-benar selesai. Tapi kali ini, Alena tak lari. Ia berdiri untuk dirinya sendiri... dan untuk cinta yang lebih sehat.

Akankah akhirnya Alena bisa bahagia?

Kisah ini adalah journey untuk wanita yang tersakiti...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 24.

Angin gurun bertiup pelan di luar jendela, menabrak kaca dan menciptakan suara lirih seperti bisikan.

Fadil menegakkan tubuh. “Hubungi tim keamanan internal, suruh mereka mengunci semua akses digital kecuali milikku dan milikmu. Tutup sistem komunikasi proyek sampai aku yang memberi perintah.”

“Baik, Tuan.”

“Dan satu lagi, aku ingin Nadine datang menemuiku. Tanpa pemberitahuan, langsung ke ruanganku.”

“Anda akan mengurusnya?”

Fadil menatap asistennya. “Dia hanya bidak. Tapi, satu bidak bisa menunjukkan tangan siapa yang menggerakkan seluruh papan.”

Malam itu, ruang kerja Fadil diterangi cahaya lampu kuning keemasan. Langit di luar gelap total, menyisakan siluet gedung-gedung Dubai yang berkilau. Di atas meja, hanya ada segelas kopi hitam dan dokumen-dokumen yang tertata sempurna.

Pintu terbuka perlahan. Nadine masuk, langkahnya gugup tapi berusaha terlihat tenang. Gaun kerja berwarna abu-abu membungkus tubuhnya, sementara ekspresinya berusaha tersenyum.

“Selamat malam, Tuan Fadil. Anda memanggil saya?”

Fadil tidak langsung menjawab. Ia memandangi layar tablet di tangannya, lalu berkata pelan, “Duduklah.”

Nadine duduk, tangannya gemetar samar. Suasana di ruangan itu begitu sunyi, hingga ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri.

“Kau membantu Alena dengan proyek Abu Dhabi, sekarang bagaimana perkembangan nya?” tanya Fadil dengan nada datar.

Nadine menelan ludah. “T-tentu saja baik, Tuan. Semua berjalan sesuai rencana, laporan sudah saya kirim lewat email pagi tadi.”

Fadil menatap wanita itu tanpa ekspresi. “Email yang kau kirim berisi file manipulasi, aku sudah punya salinan aslinya.”

Nadine terpaku, darahnya seolah berhenti mengalir di wajahnya. “Saya… tidak tahu, Tuan. Mungkin ada kesalahan sistem—”

“Cukup!” Suara Fadil tajam seperti pisau. Ia berdiri, mendekat ke arah Nadine perlahan. Setiap langkahnya bergema di ruangan marmer itu. “Aku sudah cukup lama memimpin perusahaan ini untuk tahu perbedaan antara kesalahan sistem dan pengkhianatan!”

Nadine menunduk, tubuhnya menegang.

“Aku tidak peduli apa alasanmu,” ucap Fadil dengan suara yang semakin pelan, tapi justru membuat udara terasa mencekik. “Yang ingin aku tahu hanyalah... Apa ada yang menyuruhmu?”

Nadine terdiam. Ia menggigit bibirnya, keringat menetes dari pelipis.

“Kalau kau diam, aku anggap kau bekerja untuk seseorang. Dan kalau itu benar... kau baru saja mendatangkan kehancuranmu sendiri.” Suara Fadil begitu tenang, tapi dinginnya menusuk tulang.

Nadine menggigil, ia tak pernah melihat sisi Fadil yang seperti ini sebelumnya.

“Tuan… saya hanya—”

“Diam!” potong Fadil lagi. “Kau tahu, Nadine. Aku membenci kebohongan, lebih dari sebuah kesalahan.”

Fadil melemparkan tablet ke meja dengan suara keras, layar menampilkan rekaman CCTV kantor keuangan. Nadine tengah duduk di depan komputer, membuka file rahasia milik Alena dengan flashdisk hitam kecil.

Mata Nadine membesar. “Dari mana Anda dapat—”

“Aku tidak pernah kehilangan jejak siapa pun di bawah struktur-ku! Kau pikir aku tidak tahu? Aku hanya menunggu kau menjerrat dirimu sendiri.” Jawab Fadil dingin.

Air mata mulai menggenang di mata Nadine. “Saya… saya hanya butuh kesempatan, Tuan! Saya merasa tak adil, karena Anda dan semua orang hanya melihat bakat Alena! Semua pujian, semua—”

“Aku bilang Diam!“ bentak Fadil, ia berbalik dan berdiri di depan jendela. “Keluar dari perusahaan ini saat ini juga! Dan bersyukurlah... aku tidak membawa kasus mu ke polisi.”

Nadine terdiam sesaat, lalu menunduk dalam. “Baik, Tuan…”

Saat langkah wanita itu meninggalkan ruangan, Fadil tidak menoleh. Tapi begitu pintu tertutup, Ahmed muncul dari sisi lain ruangan dari balik panel tersembunyi di dinding.

“Dia akan diikuti, Tuan.“ Ujar Ahmed singkat. “Kita akan tahu ke mana dia pergi setelah ini.”

“Bagus! Kumpulkan bukti-bukti, aku yakin dalangnya... Layla."

Ahmed mengangguk, lalu meninggalkan ruangan.

Pagi hari.

Fadil berdiri di balkon rumah pribadinya, mengenakan kemeja putih polos. Angin gurun berembus lembut, membawa aroma kopi dan udara panas yang khas Dubai.

Di tangannya, ponsel bergetar. Panggilan dari Alena.

Ia tersenyum tipis, menjawab. “Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam,” suara lembut Alena menyapa dari seberang. “Apa kabarmu hari ini?”

“Lebih tenang setelah mendengar suara indah mu,” jawab Fadil pelan.

Alena tertawa kecil. “Jangan bicara yang manis-manis, nanti aku kangen.”

“Aku lebih rindu padamu,“ sahut pria itu dengan nada menggoda.

Alena terkekeh. “Aku dengar proyek Abu Dhabi sedikit bermasalah, apa sekarang semuanya baik-baik aja?”

Fadil diam sejenak, menatap jauh ke cakrawala. “Masalah kecil, tapi sudah aku tangani.”

“Kamu yakin?” suara Alena terdengar khawatir.

“Yakin,” jawab Fadil mantap.

Pria itu tak ingin membuat Alena tahu bahaya yang sebenarnya sedang mengintai. Cukup dirinya yang berdiri di garis depan, menghadapi kegelapan yang berputar di sekitar mereka.

“Baiklah, kalau begitu. Kalau ada apa-apa, jangan sembunyikan dariku.“ Ucap Alena masih terdengar cemas.

"Baik.“

Panggilan keduanya pun berakhir.

Sore hari, Ahmed datang membawa laporan baru.

“Miss Nadine menemui seseorang di dermaga selatan. Seorang wanita berkacamata hitam, tinggi, berkulit pucat. Berdasarkan foto yang diambil dari jarak jauh, itu jelas... Putri Layla.”

Fadil mengambil foto itu, menatapnya lama. Layla sedang menunduk berbicara pada Nadine, ekspresi wajah wanita itu begitu tenang. Seperti seseorang yang tahu persis bagaimana memainkan peran sebagai musuh tanpa meninggalkan jejak.

“Dia tak akan pernah berhenti,” ujar Fadil pelan.

“Anda benar, Tuan,” sahut Ahmed. “Dan tampaknya... kini dia mulai berani menyerang secara langsung.“

Fadil terdiam, matanya menatap jauh ke arah gurun yang memantulkan sinar oranye matahari.

Ahmed menatap Fadil lekat. “Apa yang akan Anda lakukan, Tuan?”

Fadil tersenyum tipis, “Aku akan menunggu. Kadang, musuh yang paling licik adalah yang terlalu yakin akan kemenangannya.”

Pria itu duduk sendirian di ruang kerja, menatap foto Alena di layar ponselnya.

Ia mengusap layar itu perlahan, seolah bisa menyentuh wajah kekasihnya. “Aku berjanji… tidak ada yang akan bisa menyakitimu, Alena.”

Sementara di Indonesia, Alena kedatangan tamu yang tak pernah ia duga akan datang... Arga.

1
Siti Saodah
kalo saudara sepupu itu memang boleh nikah,,apalagi di timur tengah itu kebanyakan menikah sama sepupu nya,,itu gak lumrah di sana
Siti Saodah
kok Amina gak kaya ibu nya yang bar bar dan pemberani
Siti Saodah
pada akhir nya putri Layla tidak akan mendapatkan siapa pun karena ke egoisan nya sendiri,,akhir nya dia hanya gigit jari
Siti Saodah
🤣🤣🤣 saya malah ngakak duluan thor baca komenan nya teh Maya 🙏
Siti Saodah
sama sama membenci Alena tanpa alasan yang jelas,,dua manusia yang tak punya akhlak
Siti Saodah
dasar Mak lampir,,dari niat nya aja bukan mau kerja tapi pingin menyingkirkan Alena,,pelakor gak tau diri
Siti Saodah
harus nya gugat cerai dulu
Siti Saodah
katanya kalo pagi nya gitu lagi mau cari tau tapi kenyataan nya diam aja
Lesmana
wow ternyt itu motif nya toh😄😄
Lesmana
aziz bunuh humaira ada motif nya.. tp bunuh ayahnya fadil , motifnya apa yah ?? apa krn tkt ayahnya fadil jd raja kah ??
Lesmana
kog bs elus rambut ?? bukannya alena pakai jilbab ??🙄🙄
Lesmana
bgni nih si bego nadine 😁😁 dia yg hancurin rmh tgga alena eh malah dia yg sakit hati.. bego kan..salah sndr kedemenan ama lelaki modelan arga yg gak jelas😄😄
Lesmana
niat apa coba bpknya si khalid bunuh bpknya fadil ?? apa dia suka sama lady eleanor ??

kalo bnr.. bpk & anak , sama gila nya..😤😤
Setiawan
masih mecintainya ?? yg ngmng bgni biasanya lelaki pecundang.. skrng br sadar "masih" , nanti ketemu lagi yg lbh kinclong , hilang lagi perasaan "masih"nya.. trus aja berulang bgtu.. selingkung emang penyakit yak😄😄😄
Setiawan
gak ngebayangin , gimana patahnya hati alena liat kenyataan arga gak pertahanin alena saat itu/Sob//Sob/
74 Jameela
smngt Alena...bertebaran wanita yg sakit mentalnya..jiwanya gk tenang lht kamu senang Alena...😂
74 Jameela
layla emg terObsesi yg bwt jd menggila menggatal..sakit tuch mentalmu ya layla majnun🤭
74 Jameela
bagus kak ceritanya👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Hudzaifah Sofyan
Ceritanya bagus, tata bahasa bagus, tapi....ternyata ini adalah cerita tentang banyak orang, jadi feelnya kurang dapat untuk tokoh utama di awal cerita. Mungkin ini tentang selera, lebih suka cerita yang fokus, supaya detail dalam rasa dan alur.
Maria Mebanua
bodoh kau Arga.Pikir dulu pendapatan sesal kemudian tak berguna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!