Nareya, anak sulung bermimpi meniti karir di dunia fashion, harus merelakannya demi menjadi tulang punggung keluarga. Terlahir untuk berjuang sejak dini membuat dia tidak tertarik soal pernikahan.
Tidak menikah, berkecukupan, dan bisa membahagiakan keluarganya adalah keinginan sederhana Nareya. Tapi siapa sangka, dia justru menyetujui perjanjian pernikahan dengan mantan Bosnya?
Kala terlahir berdarah campuran membuatnya dicap sebagai noda. Demi pengakuan para tetua, dia menyeret Nareya dalam sebuah perjanjian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oryelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Hukuman Pertama
Tidak membiarkan terlalu lama, Nareya langsung mengajak Kala pulang. Nareya menyipitkan matanya ke arah Kala, wajahnya kaku.
“Lo pakai mata-mata buat awasin gue?” tanya Nareya.
Kala menoleh sekilas, “Semua bagian dari Atmasena memang selalu dalam pengawasan, demi keamanan.” jawab Kala.
“Cowo atau cewe? Tarik orang suruhan lo dari gue! Ngeri gue mandi diliatin”
Kala terkekeh, “Gak akan selamat mereka kalau sampai lakukan itu.” mengusap puncak kepala Nareya.
Nareya menepis tangan Kala, “Geli banget gue dari tadi, lo bertingkah seolah suami beneran” desis Nareya. “Gak mungkin lo cuma lakuin itu, apa lagi yang lo gunain buat awasin gue?” tanya Nareya.
“Tidak ada” jawab Kala.
Percuma saja sepertinya bertanya kepada Kala. Bahkan Nareya pun sudah putus asa menghadapi Kala versi setelah menikah. Setahun menikahi Kala ternyata belum bisa memahami sepenuhnya.
Sampai di apartemen Nareya semakin risih dengan perubahan perlakuan Kala. Saat mandi terlalu lama Kala mengetuk pintu berkali-kali. Mengingatkan untuk segera makan. Bahkan dia menyediakan makanan kesukaan Nareya seperti saat pertama makan malam di restoran waktu itu.
Setelah tidur di kamar yang sama, mereka menjadi lebih sering berkomunikasi.
“Saya tidak suka ketika kamu menemui laki-laki di luar sepengetahuan saya.” ucap Kala.
“Lebay banget suami gue, cemburu lo? Kata orang kantor kan lo gay, gak mungkin cemburu lah,”ucap Nareya menatap Kala.
“Mau pembuktian saya gay atau tidak, heum?” seringai Kala. Langsung mengungkung Nareya yang merebah di sebelahnya itu. Hanya sekilas Kala langsung kembali ke posisinya merebah di sebelah Nareya “Nggak jadi, nanti kamu pingsan lagi, repot.”
“Diam!” sentak Nareya saat Kala mengungkitnya lagi. “Gue waktu itu keinget—Pak Kadir, hampir dilecehkan. Jadi gue gak bisa nunjukin skill gue.”
“Hemm, jadi pas awal kamu melembut itu karena tau itu saya. Tapi setelah itu kaku karena trauma.” tebak Kala.
“Heh, menyimpulkan sendiri. Terlalu percaya diri lo.” elak Nareya.
Kala hanya terkekeh, lalu teringat hal yang harus dibicarakan. “Ini gara-gara kamu ngomongnya kemana-mana saya jadi lupa kalau saya harus hukum kamu.”
Nareya langsung menoleh, dahinya mengernyit dalam. Wajah penuh kewaspadaan, tapi enggan bersuara.
“Kamu menemui laki-laki itu tanpa izin saya, itu melanggar kesepakatan untuk menjadi istri sesungguhnya.” jelas Kala. Ketika mendapati ekspresi Nareya yang sepertinya tidak paham.
“Patriarki lo! Gue punya banyak urusan yang gak semua lo harus tau.” tembak Nareya.
“Bukan, bukan saya menghalangi kegiatan kamu di luar. Tapi saya butuh tahu.” jelas Kala. “Kamu harus selalu dalam pengawasan saya, karena saya memegang tanggung jawab atas janji saya kepada orang tua kamu.”lanjutnya.
Penjelasan Kala selalu dapat menyentuh logika Nareya. Cara dia berbicara pun nyatanya sangat bisa mempengaruhi istrinya. Jeda waktu setelah Kala menjelaskan dengan tenang membuktikannya.
“Tapi lo baru kasih tau sekarang, jadi lo gak berhak menghukum gue dong!”
“Ini kamu betulan belum pernah punya pasangan kaya pacar ya sebelumnya? Memberi kabar itu hal yang mendasar.”
“E—enggak lah! gue pernah kok punya pacar, tapi nggak seribet lo.”
Kala mengangkat alisnya“Apapun alasanya tetap saya hukum kamu untuk membuktikan skill kamu dalam mencium,” ucap Kala.
“Apa-apaan! Hukuman lo nggak nyambung sama kesalahan gue” balas Nareya.
“Ya itu kan kamu yang bilang, kalau kamu nggak bisa menunjukan skill kamu karena teringat kamu hampir dilecehkan. Saya kan cuma ngasih kesempatan kamu membuktikan kalau saya bukan yang pertama.”
Terpojokan karena ucapan asalnya itu, Nareya berperang dengan egonya sendiri. Akalnya menolak sedangkan egonya tidak mau direndahkan. Apa lagi membuat Kala besar kepala.
“Tutup mata lo!”
Kala terkekeh, “Baiklah”
Nareya menyambar cepat, asal, dan terkesan kasar. Mengerahkan semua imajinasi hasil dari mendengarkan cerita kenakalan teman semasa SMA.
Kala tetap di tempatnya, tidak melakukan gerakan apapun, tidak membalas. Gerakanya jelas amatir, tapi justru membangkitkan hal yang tidak pernah muncul sebelumnya, dengan siapapun.
Kala memberi jarak, “Sudah, hukuman mu cukup” ucap Kala. Segera menghentikan itu sebelum semakin jauh dan dirinya kehilangan kendali.
“Gimana?” polos Nareya.
“Penilaian dari saya sempurna, tapi bukan karena kemampuan kamu mencium, yang tadi buruk sekali.” ucap Kala. “Sudah, tidur. Saya tidak akan ganggu.” lanjut Kala.
Itu kesekian kalinya Nareya harus menyalahi pikiranya karena laki-laki yang kini memunggunginya. Disaat hal yang terpaksa dia lakukan dinilai buruk. Nareya masih menatap punggung lebar itu. Berniat memenangkan egonya tapi justru yang di dapat hanya luka.
‘Sempurna karena aku menuruti dia? Tapi buruk katanya? Aku tidak akan membiarkan dia menyiakanku lagi. Kubuat dia tunduk mulai saat ini’
Pertama kali Nareya mengeraskan hatinya untuk hal yang tidak sesuai dengan nilai dirinya.
***
Pagi sekali Nareya bangun lebih dahulu dari Kala. Mengendap keluar, lalu mencuci wajahnya, menghilangkan sisa kantuk. Menyiapkan sarapan untuk dua porsi. Bukan hal yang sulit, hanya saja kemampuan masaknya tidak pernah digunakan karena jika di rumah selalu kena marah mama nya.
Selesai dengan urusan dapur, Nareya kembali membuka pintu kamar Kala perlahan. Gemericik air dari balik kamar mandi terdengar. Perlahan Nareya membuka lemari pakaian Kala. Mengambil setelan baju yang menurutnya pas. Tidak lupa memilih sabuknya juga.
‘Apa gue perlu siapin itu juga ya, haduh tapi dimana sih, banyak rak kosong gini.’
Nareya berusaha menggapai rak paling atas dengan berjinjit. Dapat dia gapai namun ragu untuk menyentuh kain itu.
“Kenapa ragu? Ambil saja!” seru Kala sudah tepat di belakang Nareya.
Terlalu lama sampai tidak menyadari kalau Kala sudah selesai mandi. Tapi tekad Nareya sudah sangat bulat. Dia dengan cepat mengambil satu dalaman Kala menaruhnya di atas ranjang. Lengkap sudah semuanya.
“Pakai bajunya udah gue siapin, terus sarapan. Gue mau mandi dulu.” ucap Nareya tanpa ragu.
Kala yang hanya menutupi sebagian tubuhnya dengan handuk dibuat tersenyum. Menoleh ke pakaian yang sudah tertata, lalu menyeringai. Segera berpakaian, lalu menuju meja makan.
'Apa dia juga yang membuatkan sarapan?'