Apa benar cinta tanpa restu dari kedua orang tua itu akan kandas di tengah jalan?
Pasrahkan semuanya pada Sang Maha Cinta.
Apa benar cinta akan hilang begitu saja ketika maut memisahkan?
Hanya dia dan Tuhan yang tahu jawabannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Artikasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan Panjang
Hari ini semua rombongan PW (Perwakilan Wilayah) Kalimantan Barat siap melangsungkan perjalanan mereka menuju Palembang mengendarai Bus Pariwisata yang sudah dicarter oleh Pengurus Wilayah.
Hanya ada satu bus saja karena jumlah mereka yang tidak terlalu banyak. Bus berwarna biru muda itu sangat tinggi dan panjang, seumur-umur baru sekarang Alia menaiki bus antar provinsi yang cukup mengagumkan baginya.
Sebelum memasuki bus, Alia berdiri di samping bus itu sambil memperhatikan teman-temannya yang bergantian memasuki bus.
"Al..sudah siap? Ayo naik," ajak Kak Selvia sembari menepuk bahu Alia.
"Eeh..iya Kak"
"Kamu kenapa Al? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"
"Nggak papa Kak, gak nyangka aja aku sekarang berada di sekitar orang-orang hebst seperti kalian," saut Alia.
Kak selvia tersenyum lembut, "Ah..kamu salah satu orang hebat itu Al.."
"Aamiin, makasih ya Kak sudah melibatkanku dalam giat ini, secara tidak langsung memberikan aku teman baru dan keluarga baru," mata Alia berkaca-kaca rasa haru menyelimuti setiap jengkal wajah manisnya.
"Iya, sama-sama Al..jangan baper gitu ah, oya sebenarnya akan lebih tepat lagi jika kamu berterima kasih kepada Kakakku karena dia yang merekomendasikanmu," Kak Selvia merangkul Alia memberi dekapan hangatnya.
"Baik Kak, aku akan mengucapkan terima kasih kepada Kak Urai nanti"
Kak selvia menggandeng tangan Alia memasuki bus. Mereka duduk di kursi barisan kedua di belakang supir. Alia memilih untuk duduk tepat di samping jendela. Hal itu akan memudahkan ia mengeksplore pemandangan selama perjalanan.
"Berapa lama perjalanan kita kali ini kak?" tanya Alia sambil memandang keluar bus.
"Setahuku perjalanan kita lumayan panjang Al, karena melewati 1 provinsi yaitu bandar lampung"
"Uuuft..siap-siap sakit pinggang dong kita kak,hehe..begitu sampai apakah giat langsung di mulai?" tanya Alia penasaran karena dia yakin perjalanan kali ini akan lebih melelahkan dibanding dua hari dua malam di dalam kapal tempo hari.
"Belum Al, acaranya dua hari lagi, pengurus wilayah sengaja mengatur perjalanan kita lebih awal agar kita masih bisa beristirahat sebelum mengikuti rangkaian kegiatannya." Jelas Kak Selvia sambil mengambil ponsel yang berada dalam ransel kecil dibawah kursinya.
Perjalanan mereka ditempuh dalam waktu 22 jam, bus mereka berangkat dari cibubur pukul 10 pagi. Alia menikmati perjalanan ini dengan senang hati. Ia bersyukur dari sekian banyak pelajar yang ingin merasakan dan duduk di posisinya saat ini. Ia tidak ingin mengeluh. Ia gadis yang kuat dan mandiri.
Menjalani hidup jauh dari keluarga sambil melanjutkan pendidikannya sendirian di kota orang juga bisa dilaluinya walau harus melalui masa sulit. Apalagi hanya perjalanan naik bus sehari semalam.
Kak Selvia memejamkan matanya, sepertinya ia berencana menghabiskan perjalanan ini dengan tidur seperti yang dilakukannya di kapal tempo hari. Alia menggelengkan pelan sambil tersenyum.
Berbeda dengan Alia, ia sangat menyayangkan untuk melewatkan pemandangan baru di matanya itu, sekarang bus melewati daerah jawa barat yang khas dengan pemandangan sawah hijau dan bukitnya.
Sungguh pemandangan yang indah, menenangkan jiwa siapapun yang melihatnya. Alia tidak ingin terlelap dalam tidur. Ia harus mengukir kenangan ini di memori internalnya sebagai koleksi perjalanan hidupnya agar kelak bisa ia ceritakan kepada anak-anaknya dan pendamping hidupnya.
Mengingat mempunyai keturunan membuat dengan teman hidupnya kelak membuat Alia tertawa kecil. Bagaimana ia bisa memikirkan hal itu sedangkan dirinya masih belum menyelesaikan pendidikan strata satunya.
Memang benar, dalam silsilah keluarganya menikah di usia muda itu sudah biasa karena faktor budaya dan minimnya kesadaran untuk melanjutkan pendidikan di tingkat yang lebih tinggi.
Saudara sepupunya yang berusia jauh dibawahnya juga sudah banyak yang menikah, membangun rumah tangga di usia yang terbilang masih belia.
Berbeda dengan Alia, Pak Harry memiliki prinsip bahwa pendidikan anaknya harus mencapai sarjana bahkan master dan doktor.
Sejak kecil Alia memang sudah dididik untung memandang betapa pentingnya pendidikan, jadi hal itu sudah mendarah daging dalam dirinya. Dalam hal ini, dia sependapat dengan Ayahnya.
Tetapi, mengingat Ayahnya menyetujui lamaran Kak Urai atas dirinya membuat wajah Alia tertunduk sedih.
Entahlah, hatinya seperti menolak hal tersebut. Kak Urai memang orang yang baik, keren, tampan, kaya, dan sangat penyayang dan perhatian. Siapapun yang melihatnya pasti akan menaruh hati padanya. Tetapi tidal dengan Alia.
Bagi Alia, Kak Urai sudah dianggapnya seperti saudara. Bagaimana dia bisa menjadikan saudaranya sebagai teman hidupnya kelak?
Hatinya menentang semua itu, ia ingin berontak, tetapi Ayahnya belum memberikan konfirmasi apapun tentang hal itu. Ia tidak ingin mendahului. Sangat tidak bijak baginya untuk mendahului ayahnya. Dia yakin Ayahnya orang bijak dan mampu menyikapi suatu kondisi dengan bijaksana. Namun, dalam hal ini dia hampir meragukan kebijakan ayahnya.
Lama melayang dengan pikirannya, Alia merasakan getaran dari ponsel yang berada dalam ransel di pangkuannya.
Drrrt....
Alia melihat ada pesan singkat masuk, lantas ia membukanya.
"Assalamu'alaik, Al..aku sudah tiba di Pontianak 1 jam yang lalu, apa kamu sudah di Palembang?"
Ternyata pesan singkat dari Aufar. Membaca nama Aufar membuat hati Alia kembali berjingkrak-jingkrak. Ia merasakan atmosfer kegembiraan dan berbunga-bunga mengelilinginya.
Senyumannya otomatis tersungging dibibir ranumnya. Ingin rasanya ia berteriak dan mengatakan kepada semua orang betapa bahagia dirinya. Hanya menerima pesan singkat dari Aufar saja merasa sebegitu gembiranya. Bagaimana jika Aufar berada di hadapannya?
Alia mulai menyadari adanya keanehan pada dirinya. Mengapa hal seperti ini hanya dirasakannya terhadap Aufar? Kenapa tidak kepada Kak Urai? Sebenarnya apa yang sedang terjadi pada hatinya? Apakah ia jatuh hati kepada Aufar? Ah, mana mungkin ia baru mengenal Pria itu.
Pria yang baru dikenalnya selama empat hari yang lalu. Apa hanya karena kebaikannya yang membuat Alia kagum? Atau mungkin sifat agamisnya? atau bahkan wajah tampannya? Ah, Alia sangat senang mengingat apapun tentang Aufar. Apa itu berarti ia menyukainya?
Alia tersenyum sendiri, saat ini ia hanya ingin mengikuti kata hatinya. Untuk sekarang lupakan logika. Ia hanya ingin menikmati rasa yang menurutnya tak bisa dijelaskan itu.
"Wa'alaiksalam mas, aku sedang dalam perjalanan menuju Palembang mas. Kami menggunakan bus pariwisata. Mereka bilang perjalanannya memakan waktu 22 jam."
Alia membalas sewajarnya saja, ia tidak ingin terkesan barbar dimata Aufar. Walaupun sebenarnya banyak sekali hal yang ingin ia tanyakan.
Beberapa menit kemudian ada balasan dari Aufar.
"Oh, kamu sudah makan siang? jangan sampai telat ya nanti sakit. Aku sedang makan siang ini tiba-tiba teringat dirimu."
Aw aw aw...kalimat demi kalimat Aufar sangat indah dibaca Alia. Merasa mendapat perhatian kecil seperti itu sudah membuat hatinya terbang bagai layang-layang, tidak sabar membalas pesan Aufar. Awas jangan tinggi-tinggi loh Al🤭
"Aku sudah makan siang mas, terima kasih. Tadi bus berhenti di rumah makan lintas kabupaten kebetulan kami sudah sampai di banten. Katanya kami akan naik kapal penyeberangan lagi dari Pelabuhan Merak menuju Bakauheni."
Mereka terus bertukar pesan singkat hingga menjelang sore. Sepertinya sekarang Alia mempunyai hobi baru, yaitu membalas pesan-pesan singkat dari Aufar.
Hal itu berlanjut hingga Alia dan rombongan sampai di tempat tujuan.
Perjalanan yang sangat melelahkan. Mereka tiba di sana dan langsung menuju Asrama Haji Kota Palembang pada pukul 8 Pagi.
Mereka memasuki kamar sesuai pembagian panitia pelaksana. Alia kembali satu kamar dengan Kak Selvia. Namun kali ini mereka juga sekamar dengan rombongan dari dua cabang lainnya. Total di kamar itu dihuni oleh enak orang termasuk Alia.
Setelah membersihkan diri dan merapikan barang-barang bawaannya Alia dan teman-temannya istirahat sejenak sebelum mengikuti acara pembukaan nanti malam.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Happy reading ya man temaan, semoga sehat selalu buat teman-teman yang masih setia dengan karyaku ini. kritik dan saran sangat terbuka lebar ya man teman,,monggo🙏
mampir juga ya kak 🙏😊
Mampir juga ya kak ke karya ku 🤗🤗🤗👍
Ditunggu karya terbarunya, Kak 😊