Nayara Almeera adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, wanita yang saat ini sudah terbiasa berdiri di kakinya sendiri setelah drama dikhianati oleh kisah masa lalunya membuat Nayara menjadi sosok yang lebih tertutup.
Sampai akhirnya sebuah perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya, mempertemukan Nayara dengan Adrian seorang CEO yang lebih tenang, dewasa dan sulit untuk ditebak atas akan yang dilakukan olehnya.
Berawal dari sebuah kesepakatan yang perlahan berubah menjadi sebuah kisah yang tidak pernah
Nayara bayangkan.
Mendapatkan kasih sayang dan dicintai dengan cara yang begitu tulus, tanpa Nayara sadari perjodohan itu tidak hanya mengubah hidupnya, tetapi juga telah mengubah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 - Titipan Seorang Ayah
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga, hari yang sejak beberapa waktu lalu dipersiapkan dalam waktu singkat dan tentu saja penuh doa dan harapan terbaik.
Gedung megah itu kini dipenuhi oleh cahaya lampu, bunga-bunga sudah tertata dengan indah disetiap sudut ruangan. Suara lantunan doa terdengar pelan menyatu dengan suasana khidmat.
Namun, dibali semua keindahan yang terjadi ada satu hati yang sedang belajar arti dari sebuah merelakan. Rendra Ayah dari Nayara kini tengah berdiri diruang tunggu, mengenakan setelan terbaiknya untuk acara penting sang anak bungsu.
Tangan Rendra kini terlipat rapih didepan dadanya, namun jari-jarinya sesekali bergerak gelisah. Tatapannya kosong seolah sedang melihat sesuatu yang tidak ada didepan mata.
Dulu... Aku adalah orang yang pertama kali menyambutnya, aku adalah orang pertama yang menggendong tubuh kecilnya. Anak kecil yang bahkan mengge jariku saja belum kuat, dan sekarang anak kecil itu akan aku lepas untuk digenggam oleh lelaki lain yang akan menjadi suaminya.
" Cepat sekali" suara Rendra terdengar seperti sebuah bisikan halus.
Nafas Rendra sempat tertahan sejenak.
Di sisi ruangan lain, Nayara sang pengantin perempuan kini tengah duduk anggun dengan balutan busana pengantin. Wajahnya terlihat segar dan... lebih cantik, namun tatapan matanya menyimpan rasa haru yang tidak bisa disembunyikan.
Nayara kini menatap kearah Rendra dan saat mata keduanya bertemu waktu seolah berhenti.
" Adek ..." panggil Rendra pelan.
" Ayah..." Nayara berdiri, dengan langkahnya yang pelan semakin mendekat menghampiri sang Ayah.
Mendengar suara si bungsu membuat pertahanan Rendra akhirnya runtuh, ia tersenyum tapi matanya mulai basah.
" Cantik sekali, princess Ayah" ucapan Rendra.
Nayara tersenyum manis bahkan sangat manis, sekuat apapun menahan akhirnya kedua matanya menjatuhkan air bening. Rendra mengangkat tangannya, mengusap kepala sang anak bungsu dengan lembut dan penuh doa.
" Adek masih ingat? dulu adek sering sembunyi dibelakang tubuh Ayah kalau lagi takut" ucapan Rendra.
" Inget dong, Yah" jawab Nayara cepat.
" Ternyata sekarang, kamu sudah seberani ini untuk berdiri sendiri ya, Dek" Rendra masih menghapus air mata yang turun di pipi sang anak.
" Adek enggak sendirian, Ayah" jawab Nayara lirih.
" Ahhh.... Iya Ayah keliru bukan sendiri yaa" Rendra menganggukkan kepalanya.
Iya, kan ada Mas Mahendra " Nayara tersenyum.
Beberapa saat berlalu...
Acara inti pernikahan telah selesai dan kata
" Sah" menjadi satu kata yang sederhana namun benar-benar mengubah segalanya.
Nayara kini telah resmi menjadi seorang istri dari Adrian Mahendra, dan kini saat yang paling berat bagi seorang Ayah telah tiba.
Rendra telah berdiri dihadapan Adrian yang kini telah sah menjadi menantunya, tatapannya tegas namun penuh makna.
" Yah..." Adrian menunduk hormat.
" Boleh kalau Ayah ingin bicara sebentar?" Rendra menghela nafasnya panjang.
" Boleh, Yah" Adrian menganggukkan kepalanya.
Suasana disekitar mereka perlahan menjadi hening, seolah semua memberikan restu dan ruang untuk memberikan izin obrolan itu terjadi.
" Dari kecil sampai hari ini, Nayara itu tanggung jawab Ayah... Ayah bukan hanya membesarkan dia, tapi Ayah juga memastikan jika Nayara tidak pernah kekurangan apapun" Rendra menatap Adrian dalam.
Ini bukan sekedar suatu pesan, tapi ini adalah sebuah kepercayaan yang harus dijaga seumur hidup.
" Ayah selalu berusaha agar semua kebutuhan Nayara terpenuhi, bukan hanya soal materi saja tapi juga hatinya" Rendra menarik nafas panjang, mencoba menahan emosi yang mulai memenuhi dadanya.
" Kalau selama ini Nayara menjadi anak Ayah tangki cintanya itu selalu penuh..." Air mata Rendra akhirnya jatuh.
" Ayah selalu menjaga dan memastikan agar Nayara tidak kekurangan kasih sayang... Nayara selalu merasa dicintai" lanjut Rendra.
Tidak ada satupun yang berani memotong, Rendra kini mendekat menggenggam bahu Adrian lembut.
" Sekarang... Ayah titipkan Nayara sama kamu. Jangan sampai tangki cintanya kosong" ucap Rendra lebih lembut namun lebih dalam.
Deg...
Kalimat itu terdengar sederhana namun terasa sangat berat, membuat Adrian menelan ludah pelan.
" Kalau dia lelah, kamu ada"
" Iyah, Yah"
" Kalau dia sedang ketakutan... kamu peluk " suara Rendra mulai pecah.
" Dan kalau dia merasa sendiri..." Ucapan Rendra terhenti.
" Saya tidak akan pernah membiarkan itu terjadi, Ayah" ucapan Adrian dengan menggenggam tangan Rendra dengan hormat.
Ari mata Nayara jatuh semakin deras, ia tidak lagi bisa menahan perasaannya saat ini.
" Ayah..."
Rendra menoleh menatap sumber suara, dan tanpa ragu Nayara kini berlari kecil dan langsung memeluk Rendra lebih erat.
" Ayah ... Terimakasih sudah menjadi ayah terbaik untuk Adek" tangisan itu kini pecah.
" Maaf... Maaf kalau selama ini Ayah belum menjadi seorang Ayah yang sempurna" Rendra membalas pelukan Nayara lebih erat.
" Tidak... Ayah sudah sangat cukup" jawab Nayara.
Bagaimana mingkin aku meninggalkan seseorang yang selalu menjadikan aku dunia? Tapi bagaimana bisa aku tidak pernah pada laki-laki yang kini telah dipilih Ayah untuk menjagaku?
Perlahan Rendra melepaskan pelukannya, dengan tangan yang sedikit bergetar ia mengambil tangan Nayara dan menyerahkannya pada Adrian.
" Dia bukan lagi tanggung jawab Ayah sepenuhnya mulai saat ini... Tapi dia akan selalu menjadi anak Ayah" Rendra menatap wajah Adrian.
" Dan sekarang dia adalah amanah terbesar dalam hidup Saya" Adrian menganggukkan kepalanya setuju.
" Tolong jaga dia" Rendra tersenyum, meskipun air matanya belum berhenti.
" Dengan seluruh hidup saya, Yah" Adrian mengangguk mantap.
Seorang Ayah tidak pernah benar-benar kehilangan anaknya, ia hanya belajar mempercayakan kebahagiaannya pada orang lain.
Dan hari itu cinta seorang Ayah kepada anaknya tidak berkurang, ia hanya berpindah dengan doa yang tidak pernah putus.