Di masa lalu, dunia pernah diselamatkan oleh para Grandmaster penyihir terkuat dari berbagai kerajaan yang menguasai elemen alam.
Di antara mereka, satu nama berdiri di puncak: Shiranui Akihara, Grandmaster Api dari Kerajaan Solvaria.
Setelah memimpin perang besar melawan pasukan iblis dan membawa kemenangan bagi umat manusia, ia tiba-tiba menghilang. Dunia percaya sang legenda telah gugur.
Namun kenyataannya, Akihara masih hidup.
Kini ia bersembunyi di sebuah desa terpencil, menjalani kehidupan damai sebagai orang biasa, berusaha meninggalkan masa lalu yang penuh perang dan kehilangan.
Tetapi kedamaian itu mulai runtuh ketika legenda tentang Neraka Iblis kembali muncul.
Raja Iblis Argiel Lucifer dikabarkan bangkit kembali, ditemani oleh sosok misterius bernama Railer Zernaldha.
Bersamaan dengan kebangkitan Tujuh Dosa Besar, dunia kembali berada di ambang kehancuran.
Kini Akihara harus memilih:
tetap hidup sebagai manusia biasa…
atau kembali menjadi legenda yang pernah menyelamatkan 🌏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Absonen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15 [Gelombang yang Menyebar]
Pagi di desa Hinomura datang dengan cara yang sama seperti biasanya.
Langit cerah. Angin lembut. Suara warga yang mulai beraktivitas.
Namun bagi sebagian orang…
Ketenangan itu terasa seperti sesuatu yang rapuh.
Di dalam rumah kecil di pinggir desa, Shiranui Akihara duduk diam di dekat jendela.
Tatapannya mengarah ke luar.
Tenang.
Tapi pikirannya jauh dari itu.
Di belakangnya, Liora Raizen bersandar di dinding, memperhatikan.
Sementara di tengah ruangan…
Noa duduk di atas lantai kayu, memainkan kain kecil dengan suara pelan.
“…ba…”
Suasana itu terlihat damai.
Namun keduanya tahu.
Itu hanya di permukaan.
Liora akhirnya memecah keheningan.
“Kita harus mencoba sekali lagi.”
Akihara tidak langsung menoleh.
“Mencoba apa?”
Liora melangkah mendekat.
Tatapannya serius, tapi tidak setajam kemarin.
“Memastikan tentang dia.”
Tatapannya mengarah ke Noa.
Akihara menghela napas pelan.
Ia tidak suka ini.
Namun kali ini…
Ia tidak menolak.
“…baik.”
Liora berlutut di depan Noa.
Tangannya terangkat sedikit.
Kilatan kecil listrik muncul.
Sangat lembut.
Hampir seperti cahaya biasa.
Noa melihatnya.
Matanya mengikuti gerakan cahaya itu.
Seperti bayi normal.
Liora mendekatkan sedikit.
Tidak ada reaksi aneh.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada aura.
Hanya rasa penasaran.
“…tidak ada apa-apa,” gumam Liora.
Namun ia tidak berhenti.
Ia mencoba lagi.
Sedikit lebih dekat.
Sedikit lebih lama.
Namun hasilnya sama.
Noa hanya tertawa kecil.
“…aa…”
Liora perlahan menurunkan tangannya.
Hening beberapa detik.
Lalu ia berdiri.
“…aku tidak bisa memastikan apa pun.”
Nada suaranya datar.
Tidak yakin.
Tidak menyangkal.
Akihara menatapnya.
“Itu berarti dia aman.”
Liora tidak langsung menjawab.
Ia menoleh ke arah Noa.
“…atau kita belum melihatnya.”
Jawaban jujur.
Dan itu membuat suasana kembali berat.
Namun kali ini…
Liora tidak melanjutkan.
Ia menghela napas.
Lalu duduk di lantai.
Dekat dengan Noa.
Bayi itu langsung meraih jarinya.
Kecil.
Hangat.
Liora sedikit terdiam.
Tatapannya berubah.
Lebih lembut.
“…kau benar-benar cuma bayi, ya.”
Noa tertawa kecil.
Akihara melihat itu.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai…
Suasana terasa sedikit ringan.
Sore hari datang perlahan.
Tidak ada serangan.
Tidak ada retakan.
Tidak ada makhluk aneh.
Seolah dunia memberi mereka jeda.
Akihara duduk di luar rumah.
Noa berada di pangkuannya.
Liora duduk di samping.
Diam.
Angin sore berhembus pelan.
Membawa aroma tanah dan rumput.
Tenang.
Terlalu tenang.
Di tempat yang sangat jauh.
Di selatan.
Sebuah kerajaan berdiri kokoh di antara pegunungan batu.
Kerajaan Mushaf.
Tanahnya keras.
Langitnya luas.
Dan kekuatannya dikenal di seluruh wilayah.
Di sebuah lapangan latihan besar, suara benturan terdengar keras.
BOOM!
Seorang pria berdiri di tengah.
Tubuhnya tinggi.
Kokoh.
Tatapannya tajam.
Di sekelilingnya, beberapa murid tergeletak di tanah.
Terengah-engah.
Ia adalah Galdros Varnheim.
Grandmaster Batu.
Ia menghela napas pelan.
“Bangkit.”
Nada suaranya tegas.
Para murid mencoba berdiri.
Namun tubuh mereka gemetar.
“Lemah.”
Ia berjalan pelan.
Langkahnya berat.
“Jika itu saja membuat kalian jatuh… kalian tidak akan bertahan di dunia luar.”
Tiba-tiba
Langkahnya berhenti.
Tanah di bawah kakinya…
Bergetar.
Sangat halus.
Namun cukup untuk membuatnya menyadari.
Ia berlutut.
Menyentuh tanah.
Matanya menyipit.
“…ini bukan getaran biasa.”
Para murid saling pandang.
“Guru?”
Galdros tidak menjawab.
Tatapannya mengarah ke satu arah.
Barat.
Sangat jauh.
“…sesuatu sedang bergerak.”
Ia berdiri perlahan.
Aura tenangnya berubah.
Lebih berat.
Lebih serius.
“…dan bukan sesuatu yang alami.”
Kembali ke desa Hinomura.
Langit mulai berubah jingga.
Akihara masih duduk di tempat yang sama.
Noa tertidur di pangkuannya.
Liora menatap ke depan.
Diam.
Namun pikirannya jauh.
Akhirnya
Akihara berbicara.
Pelan.
“…kau akan tinggal sampai kapan?”
Pertanyaan sederhana.
Namun cukup untuk membuat Liora terdiam.
Ia tidak langsung menjawab.
Angin sore berhembus.
Mengibaskan rambutnya.
Ia menoleh perlahan.
Menatap Akihara.
Sedikit terkejut.
“…kenapa kau menanyakan itu?”
Akihara tetap melihat ke depan.
“Aku hanya ingin tahu.”
Jawaban yang jujur.
Namun datar.
Liora mengalihkan pandangannya.
Pipinya sedikit memerah.
Namun ia mencoba tetap tenang.
“…kau ingin aku pergi?”
Akihara terdiam.
Beberapa detik.
Tidak ada jawaban.
Dan itu…
sudah cukup menjawab.
Liora menunduk sedikit.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Namun ia tidak berkata apa-apa lagi.
Akihara juga tidak melanjutkan.
Keheningan itu…
canggung.
Namun hangat.
Malam datang.
Desa kembali sunyi.
Lampu-lampu mulai padam satu per satu.
Di dalam rumah…
Noa tertidur nyenyak.
Akihara berdiri di dekat jendela.
Menatap ke luar.
Liora duduk di belakangnya.
Diam.
Suasana tenang.
Namun…
Ada sesuatu yang berubah.
Angin malam masuk melalui jendela.
Api kecil di lampu minyak bergetar.
Tidak stabil.
Akihara memperhatikan itu.
Matanya menyipit sedikit.
Perasaan itu datang lagi.
Perasaan yang ia kenal.
Dari masa lalu.
Dari perang.
Dari sesuatu yang belum selesai.
Ia menatap ke arah barat.
Jauh.
Sangat jauh.
Dan untuk pertama kalinya…
Naluri seorang Grandmaster berbisik pelan.
Ini belum berakhir.
Bahkan…
Belum benar-benar dimulai.
Di belakangnya, Liora menatap punggungnya.
Diam.
Namun ia tahu.
Perubahan itu sudah terjadi.
Akihara yang dulu…
perlahan kembali.
Di tempat yang berbeda.
Angin yang sama berhembus.
Membawa sesuatu yang tidak terlihat.
Tidak terasa oleh manusia biasa.
Namun dirasakan oleh mereka yang kuat.
Di hutan elf.
Di pegunungan batu.
Di desa kecil bernama Hinomura.
Dunia mulai bergerak.
Perlahan.
Namun pasti.
Dan di tengah semua itu
Seorang bayi tertidur tenang.
Tidak menyadari…
bahwa dirinya adalah pusat dari semuanya.