Cikal Bakal Tim Divisi Kasus Dingin
Ini GD setelah GD 1 sebelum GD 2 ( Shea n the gank ). Makanya aku kasih judul Ghost Detective Season 1.5.
Isinya awal tim gabut dibentuk. Masih the o.g tim ( bang Dean, mas Rayyan, mbak Nana, mbak Tikah dan pak Jarot ). Jangan cari mbak Lilis karena belum ada tapi ada awal mula mbak Susi ikutan. Ada mbak Nita juga, ada anomali lainnya ( belum musim Saja Boys versi tuyul ). Masih ada Hoshi dan Bima. Ini masih bersama L, Nyes dan Dendeng.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mandat Hoshi
"Jadi Yugo ... Bahkan kamu tinggal dipanggil malaikat maut pun tidak mau mengaku bagaimana kamu hendak merudapaksa aku ... Hingga akhirnya kamu mencekik aku!" ucap Mbak Susi yang sekarang posisinya melayang diatas Yugo.
( Kalian bayangin aja deh film horor begitu ).
Yugo terbelalak ketakutan dan badannya bergerak-gerak gelisah. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.
"Mengaku dosa lah kamu sebelum nyawa kamu tersangkut di raga dan itu jauh lebih menyiksa ...." Mbak Susi menyeringai lebar yang semakin membuat suasana menjadi horor.
AKP Dean Thomas menoleh ke arah Lachlan yang hanya memegang dagunya dengan tatapan tidak terbaca.
"Apa yang terjadi?" bisik AKP Dean Thomas.
"Mbak Susi melayang diatas tubuh Yugo dan ... meminta agar Yugo mengaku sebelum meninggal," jawab Lachlan.
"Serius? Macam film horor?" desis AKP Dean Thomas tidak percaya.
Lachlan mengangguk. Sementara orang-orang yang ada disana merasa suasana mencekam dan gelap. Padahal jendela terbuka kordennya dan seharusnya terang bukan? Lampu kamar yang biasanya terang, tiba-tiba menjadi redup.
"Ini masih siang kan? Masih jam sebelas siang kan? Kenapa suasananya gelap begini?" gumam Iptu Nana.
"Apa kamu lupa siapa yang ikut, Nana?" kekeh Kompol Jarot.
"Duh lupa!" Iptu Nana menatap Kompol Jarot sambil nyengir.
***
Ruang Kerja Hoshi Reeves
"Apa ini Pak Macan?" tanya Valentino ke ayahnya yang memanggilnya datang.
"Hadiah buat Dean." Hoshi memberikan amplop besar ke Valentino yang membuka dan membaca isinya.
"Deposito? Emas batangan dan ... Asuransi?" Valentino menatap ayahnya. "Bukannya Papa tidak suka berurusan dengan parcok?"
"Hanya timnya Ding Dong! Lagian, dia kan mau punya anak dan kamu tahu kan dia gajinya berapa?" jawab Hoshi.
"Kapan aku harus kasih?" tanya Valentino.
"Saat anak Ding Dong menikah."
"Kenapa tidak papa kasih sekarang?"
"Karena V, kalau papa kasih sekarang, Ding Dong bisa tidak Istiqomah. Dia akan menggampangkan segalanya. Papa nanti akan mengajari ilmu finansial ke timnya Ding Dong supaya tidak korupsi. Papa saja yang punya harta tidak berseri saja tahu, sekian trilyunan tidak akan dibawa mati! Papa tahu banyak kekurangan tapi insyaallah tidak berbuat jahat sama orang baik. Kalau ke orang jahat, bodo amat!" jawab Hoshi cuek.
Valentino menggelengkan kepalanya. "Kalau nunggu sampai anaknya Dean menikah, berarti masih sekitar tiga puluh tahun lagi kan?"
"Iya. Bilang sama Kai dan Ai juga. Itu mandat dari Opa ... Jangan sampai tidak diberikan!" ucap Hoshi tegas.
"Kalau emas sampai tiga dekade ... Aku tidak kebayang berapa harganya disaat itu."
"Asal belum kiamat saja, pasti aman nilainya buat pensiun Ding Dong," ujar Hoshi cuek.
Valentino hanya menyipitkan matanya. "Papa tuh lho!"
"Kan benar! Realistis lah, V!"
"Kalau Dean meleng dan tidak Istiqomah dengan janjinya ke Papa?" tanya Valentino. "Apalagi anaknya bisa jadi dikasih makan pakai uang haram."
"Maka batal demi hukum. Papa sudah persiapan juga. Kalau sepanjang jalan Ding Dong meleng, apapun itu kasusnya, maka semua itu batal! Sumbangkan ke badan amal saja! Papa sudah menunjuk badan amal mana saja," jawab Hoshi.
Valentino mengangguk. Tidak mungkin Bon Cabe tidak punya rencana cadangan!
***
Harmony Life
"Bagaimana pak Yugo? Apakah anda mau mengakui perbuatan anda empat dekade lalu?" tanya AKP Dean Thomas tanpa menghiraukan kondisi Yugo yang ketakutan.
"A ... Aku ...." Yugo tetap menatap Mbak Susi. "Aku ... Yang ... mem ... bunuh ... Susi ...."
Kompol Jarot yang dari tadi merekam dengan ponselnya, tersenyum smirk.
"A ... Ku ... Membunuh Susi ... Dan membuang ... Mayatnya ... Di dekat bivak ...." lanjut Yugo lagi. "Kapolri Jaja ... Yang menutupi semuanya ...."
"Bagus! Akhirnya setelah sekian pulub tahun kamu bungkam dan tetap hidup senang-senang, sekarang waktunya kamu membayar semuanya!" kekeh Mbak Susi.
Tak lama banyak arwah di ruangan itu bermunculan, membuat Yugo berteriak-teriak histeris. Petugas pun memanggil dokter sementara perawat berusaha menenangkan Yugo yang tidak bisa dikendalikan.
Tak lama dokter datang dan tim kasus dingin pun diminta keluar. Lachlan menoleh ke Mbak Susi dan mengedikkan dagunya, pertanda Mbak Susi harus keluar juga.
"Kok aku disuruh keluar mas L?" tanya Mbak Susi sebal ke Lachlan yang bersandar di tembok luar kamar Yugo.
"Apa kamu tidak lihat ... Malaikat pencabut nyawa sudah datang?" bisik Lachlan dan Mbak Susi mengintip ke dalam kamar Yugo. Matanya terbelalak dan dia pun langsung berbalik, berdiri di sebelah Lachlan.
"Waduh! Dia koit beneran hari ini?" ucap Mbak Susi.
"Belum. Nanti malam." Lachlan menoleh ke Mbak Susi. "Sudah lega? Dia mengaku membunuh kamu?"
Kunti itu mengangguk. "Meskipun aku harus menunggu lama."
Lachlan tersenyum. "Mbak Susi tetap tidak mau menyebrang?"
"Tidak, mas L. Aku akan bersama dengan timnya Pak Dean. Aku akan melindungi ruangan lantai empat dan melindungi tim kasus dingin. Bisa jadi, aku jadi perantara kalau ada kasus kan?" jawab Mbak Susi.
Lachlan tersenyum smirk. "Sepertinya bukan itu saja deh!"
Mbak Susi menunduk. "Aku juga harus menjaga semua camilan yang ada di ruang kerja dari serangan Tole."
Lachlan melongo. "Lha? Tidak boleh nyolong duit, malah nyolong snack?"
"Katanya itu sudah menjadi kebiasaannya, kleptomania," jawab Mbak Susi lelah.
Lachlan menggelengkan kepalanya. "Astagaaaaaa!"
Dokter yang memeriksa Yugo pun keluar dan AKP Dean Thomas menghampirinya.
"Bagaimana keadaan pak Yugo?" tanya AKP Dean Thomas.
"Tidak baik pak. Sebenarnya ada apa ini?" tanya dokter itu judes.
"Kami meminta pengakuannya atas kasus pembunuhan yang dilakukan pak Yugo sekitar empat puluh tahun lalu," jawab AKP Dean Thomas tenang.
Dokter itu melongo. "Anda mengejar kasus yang sudah lama?"
"Tidak ada batasan waktu untuk kasus pembunuhan!" jawab Iptu Nana galak.
"Apakah anda sudah mendapatkan? Pengakuannya, maksud saya." Dokter itu menatap ke kedua perwira yang tampak garang itu.
"Sudah. Dan saya tahu, pak Yugo tidak bisa dihukum karena kondisinya tapi setidaknya, keluarga korban mendapatkan closure, penutup, bahwa si pelaku sudah mengaku," jawab AKP Dean Thomas.
"Puji Tuhan. Kalau begitu pak ...."
"AKP Dean Thomas."
"Pak Dean, bolehkah saya meminta tolong pada anda?" tanya dokter itu.
"Boleh. Kasus apa?" AKP Dean Thomas menatap dokter itu serius.
"Beberapa pasien saya disinyalir meninggal tidak wajar."
"Rumah sakit?" tanya Iptu Nana.
"Iya."
"Rumah sakit mana?"
"Bhayangkara." Dokter muda itu menatap serius ke AKP Dean Thomas. "Saya baru mengambil spesialisasi bedah dan junior tapi saya merasa ini tidak beres."
"Kok anda bisa disini?" tanya AKP Dean Thomas.
"Buat tambahan uang kuliah spesialis, pak Dean."
"Kalau begitu, anda bisa ke Polda Metro Jaya lantai empat. Kita bicara disana ... Dokter....?"
"Rahmat."
***
Yuhuuuu up Siang Yaaaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
hlang smua???kjam bgt tu orng,ga tkut hkum krma apa y????kl klurganya yg jd krban,dia msih mau mlkukan kjhtn ky gt lg????😠😠😠
dokter Westin dan dokter Arlo haeus berhadapan sama dokter jagal 1 dan dokter jagal 2 ini kayaknya biar diambil organnya sebagai penebus kelakuannya
pntsn mbilnya smp ringsek,yg nmpel ada 10.....tp bgus sih,biar tu pnjht nrima akibtnya....abs ni siap2 bbo d sel pula.....