NovelToon NovelToon
Dear, My Heartbeat

Dear, My Heartbeat

Status: tamat
Genre:One Night Stand / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Enemy to Lovers / Careerlit / Ketos / Tamat
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

"Oke. Dua Cinnamon Pumpkin Chai latte," jawab gue sambil mencatat di kasir. Gue perhatikan dia. "Kalau mau sekalian nambah satu, gue kasih gratis, deh!"

"Lo kira gue butuh belas kasihan lo?" Nada suaranya ... gila, ketus banget.

Gue sempat bengong.

"Bukan gitu. Lo, kan tetangga. Gue juga naruh kupon gratis buat semua toko di jalan ini, ya sekalian aja," jelas gue santai.

"Gue enggak mau minuman gratis. Skip aja!!"

Ya ampun, ribet banget hidup ini cowok?

"Ya udah, bebas," balas gue sambil mengangkat alis, cuek saja. Yang penting niat baik sudah gue keluarkan, terserah dia kalau mau resek. "Mau pakai kupon gratis buat salah satu ini, enggak?"

"Gue bayar dua-duanya!"

Oke, keras kepala.

"Seratus sebelas ribu," sahut gue sambil sodorkan tangan.

Dia malah lempar duit ke meja. Mungkin jijik kalau sampai menyentuh tangan gue.

Masalah dia apa, sih?

────୨ৎ────
Dear, Batari Season IV

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batari Beans II

...Ailsa Batari...

...────୨ৎ────જ⁀➴...

Sudah seminggu sejak terakhir kali gue lihat Caspian. Gue bicara sama direktur programnya, dan lega banget waktu tahu dia bakal diterima lagi buat tinggal sementara di sana. Katanya mereka sudah hubungi kakek, dan dia yang bayar semuanya.

Kakek enggak bilang apa-apa ke gue, dan gue mulai sadar kalau keluarga gue memang penuh rahasia yang enggak ada habisnya.

Mama Papa juga enggak bilang apa-apa soal Caspian, jadi gue berpikir kalau mereka memang enggak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Padahal gue, sih yakin mereka tahu banget, cuma enggak mau cerita. Yang jelas, mereka malah heboh gara-gara pintu depan.

Dari dulu Mama itu tukang khawatir. Papa beda lagi, dia punya segudang teori soal siapa yang membobol cafe gue, dan hampir semuanya menunjuk ke akademi tinju di sebelah tempat gue.

Selama seminggu terakhir, gue selalu lihat si Nauru lari melewati Batari Beans setiap pagi. Tapi dia enggak pernah sekalipun mampir atau sekedar menyapa sejak malam itu.

Gue menginap di rumah dia. Besok paginya, dia dingin banget, waktu kita bangun. Nyaris enggak ngomong apa-apa ke gue sebelum gue pulang.

Gue enggak cerita ke siapa-siapa soal kejadian itu, dan memang enggak ada juga yang tanya gue tidur di mana malam itu.

"Gila, sih hari ini sibuk banget," kata Lokkie sambil mengipasi mukanya, padahal di luar lagi dingin. "Sumpah, makin hari makin ramai aja."

"Banget ... terus ditambah lagi orang-orang yang kepo soal pembobolan itu. Kok, bisa sih semua orang tahu?"

"Ya ampun, benar! Slogan kota kita seharusnya ... Royal Blossom, tempat semua orang tahu urusan kamu!!!"

Kita pun tertawa, terus pintu terbuka dan Mama Papa masuk bareng Borris dan timnya. Mereka mau menaikan sistem keamanan cafe, plus menambah keamanan ekstra buat apartemen gue di atas.

Gue, sih setuju saja, soalnya kalau enggak, Mama sudah mengancam bakal menginap di sini setiap malam.

"Halo. Paman mulai dari dapur, ya. Bebas aja kalau Non, Ailsa mau manjain kita pake kopi susu andalannya yang katanya enak banget itu," kata Borris sambil jalan ke dapur bersama anak buahnya.

Gue tertawa, terus Lokkie mulai bikin minuman.

"Barusan Papa lihat cowok penuh tato masuk ke gym sebelah. Yakin, nih, yang ngebobol itu cuma anak kecil yang iseng, sampai-sampai mecahin kaca pintu? Gimana kalau itu sebenarnya anak gym yang lagi kecapekan dan teler, terus nyuri duit, terus kabur?" kata Papa, dan gue cuma bisa memutar mata.

Kalau saja dia tahu yang membobol dan ambil barang itu anaknya sendiri.

"Teler? Serius, Pa? Yang latihan di situ tuh petarung profesional. Petinju pakai narkoba? Jelas enggak nyambung. Ailsa kenal, kok sama pemilik gym-nya, dan dia jelas-jelas bukan tipe orang yang masuk-masuk tempat orang cuma buat cari duit."

"Itu si Nauru yang sekarang punya tempat itu, kan?" tanya Papa sambil menyilangkan tangan di dada. Cara dia membicarakan Nauru itu menyebalkan banget. "Papanya aja dulu berantakan. Kalau enggak salah sih, pernah masuk penjara juga. Anaknya sama teman-temannya juga dari dulu emang tukang bikin masalah."

Mama cuma geleng-geleng. "Antari, udah!!! Mereka masih anak-anak waktu itu. Anak kita sendiri juga banyak bikin kesalahan, ingat, enggak? Kita juga enggak suka kan kalau orang lain nge-judge dia?"

"Yah, bahkan Caspian aja bilang kalau mereka emang penjahat waktu itu, jadi ya, udah." Papa menyeringai dan angkat bahu.

Caspian?

"Wah, keren juga ya sekarang Papa jadi julid karakter orang." ketus gue sambil meledek habis-habisan.

Cara Papa membicarakan Nauru sama gengnya itu mengganggu banget. Oke lah, Nauru sering menyebalkan, tapi dia bukan orang jahat. Dia cuma suka ngambek dan kayaknya memang enggak suka sama gue, entah kenapa.

"Mereka udah kayak gitu jauh sebelum kejadian di kapal itu, Ailsa. Dan waktu itu dia enggak lagi teler, percaya deh. Mereka itu bukan tipe orang yang harus lo ajak ngobrol," tambah Papa.

"Antari, udah deh ngomong ngaconya." Mama sampai bengong dengar omongan Papa.

"Papa serius? Eros sama Mohan yang renovasi tempat ini, lho. Mereka kerja bagus banget dan profesional. Nauru punya gym sebelah, dia juga udah beberapa kali mampir ke sini, dan mereka semua anaknya baik-baik. Nauru malah yang nelepon polisi malam itu pas ada pembobolan. Masa iya dia nelepon polisi kalau dia sendiri pelakunya?"

"Mereka benar-benar ngerjain tempat ini dengan bagus, dan Mama juga bersyukur Nauru yang manggil polisi." Mama senyum.

Kadang Papa memang suka banget nge-judge orang, tapi gue baru sadar betapa parahnya dia sekarang.

Dia cubit ujung hidungnya, tanda sudah mulai kesal. "Ya udah, lah."

"Oke, fine," kata Mama. "Sekarang fokus ke sistem keamanan. Mama mau ganti pintu depan kamu jadi pintu kayu, biar enggak dari kaca dan enggak gampang dibobol."

"Ini, cafe, Ma. Masa Ailsa tutup-tutupin pakai pintu kayu? Lagian, sebelah pintu juga ada jendela. Kalau mau membobol, ya tinggal pecahin itu aja."

"Mamamu juga pingin jendela itu dicopot, tahu enggak?" Papa tutup mulut pakai tangan, menahan tawa.

"Hah? Serius, Ma? Mama lebay banget, sih. Itu cuma ulah anak-anak, lho. Tapi sekarang kan kita udah pasang kamera, Ailsa rasa enggak bakal terjadi lagi."

"Oke, deh. Kita mulai dulu dari kamera sama tambahan keamanannya. Yang penting Mama tenang sama keselamatanmu, Sayang. Mama harap sih itu cuma sekelompok anak iseng doang."

"Kalian juga udah tahu pendapat Papa soal ini semua." Papa angkat tangan, menyuruh kita berhenti debat. "Waktu yang bakal nunjukin siapa yang benar."

Gue tahan banget buat enggak bongkar soal Caspian. Dari dulu gue selalu lindungi dia. Tapi enggak enak banget rasanya dengar Papa menyalahkan orang-orang yang enggak bersalah, padahal pelakunya itu anaknya sendiri. Gue cuma bisa gigit lidah.

"Ngomong-ngomong, Papa dengar tuh bocah bakal tanding lawan petinju terkenal. Papa sih enggak ngerti kenapa ada orang yang rela dipukul-pukulin cuma demi dapatin duit receh," kata Papa.

"Itu juga bukan duit receh, kalau Papa benaran ngikutin beritanya. Dia bakal tanding lawan kandidat sabuk juara. Itu besar banget, Pa. Dia petinju profesional. Dia atlet. Ini olahraga dia!!"

"Sejak kapan kamu jadi kolot? Emang kita kurang stres apa gara-gara ulah adikmu? Papa harap kamu enggak jadi sumber masalah juga sekarang."

"Antari, bisa enggak, sih jangan keterlaluan, gitu?" Mama menyelipkan rambut gue ke belakang kuping dan senyumnya itu benar-benar hangat, sampai ke matanya. "Papa cuma khawatir sama kamu, Sayang. Udah, fokus aja ke pasang kamera sama nambahin keamanan."

"Pintu apartemen kamu bakal punya tiga kunci dan satu kamera khusus di luar pintu." Papa jalan-jalan memutari ruangan, matanya mengamati tembok seperti lagi memikirkan bisa enggak menambah alat keamanan di balik dry wall.

Gue sayang banget sama Mama Papa, tapi kadang mereka itu suka terlalu mengatur. Kayaknya gara-gara trauma yang mereka alami karena Caspian, mereka jadi makin protektif banget ke gue.

Waktu gue masih sekolah, sih enggak terlalu terasa. Tapi sekarang, saat gue sudah tinggal di sini, rasanya makin parah.

Mama pamit ke kamar mandi, terus Papa duduk dan menunjuk ke kursi di depan dia, menyuruh gue duduk juga.

"Mamamu itu khawatir banget sama kamu. Dia enggak suka kamu tinggal di atas cafe."

"Mama yang enggak suka, atau Papa yang enggak suka?" Gue naikkan satu alis sambil menatapnya.

"Kamu tahu, kan gimana Mamamu. Kamu tinggal di sini sendirian, sebelahan sama gym yang isinya cowok-cowok random semua, dan semua orang di kota ini tahu siapa kamu. Kita orang terpandang, Ailsa. Papa enggak suka kamu tinggal di sini."

"Gila, itu nyinyir banget, Pa. Enggak semua orang mikirin duit doang. Orang-orang di gym itu justru bukan orang yang perlu dikhawatirin. Ailsa udah hampir 23 tahun. Udah dewasa, dan bisa jaga diri sendiri."

"Kita ini orang tua kamu dan kita sayang sama kamu. Ini bukan nge-judge, ini kenyataan."

"Ya udah, Jully juga punya duit, tapi dia lebih serem dari siapa pun yang pernah Ailsa temuin," bisik gue pelan.

Papa langsung bersandar ke depan, matanya melihat sekitar, memastikan enggak ada yang dengar. "Urusan sama Jully udah Papa beresin, dan kamu tahu itu. Dia udah dapat pesannya. Kamu enggak usah mikirin dia lagi. Udah kelar."

Ya ampun, kenapa Papa bisa keras kepala banget?

"Ailsa cuma bilang ... orang-orang di gym enggak pernah bersikap aneh atau ngaco sama sekali. Justru orang yang kita kenal dekat itu yang kadang malah bikin was-was." Gue angkat alis, memperhatikan Papa.

"Papa ngerti, Ailsa. Tapi tolong ya, satu hal aja. Tetap fokus, dan jangan lengah sama sekitar kamu."

Gue enggak sempat debat, soalnya Mama keluar dari kamar mandi dan kita langsung sibuk mengikuti Borris, memastikan dia benar-benar menyulap cafe cantik gue jadi semacam benteng.

1
Vike Kusumaningrum 💜
Ternyata Antari masih menekan ego walau sudah tua jg
Yuliana Purnomo
semangat Thor 🥰
Vike Kusumaningrum 💜
Sampe ke Ailsa minta maaf sama Hazarie atas perbuatan Caspian

sampe Nauru akhirnya mau minuman gratis di cafe Ailsa 🤭
DityaR: oke broo,
total 1 replies
Vike Kusumaningrum 💜
ini kok g update², gimana lanjutannya , udah maraton bapaknyo, oom²nya, lah pas Ailsa mandek 😭😭

walau di cerita awal, Caspian itu adiknya tapi disini jd kakaknya, gpplah. mohon lanjutannya Thor 🙏🙏🙏🙏
Vike Kusumaningrum 💜: siap 👍👍
total 2 replies
Yuliana Purnomo
heemmmm bgtu menyakitkan kenyataan hidup Nauru
Yuliana Purnomo
heemm pantesan benci banget sm keluarga Ailsa,,emang separah itu fitnah mereka ke Nauru
Yuliana Purnomo
aku dah curiga kalau Ailsa trauma
Yuliana Purnomo
asyiiik dapet ciuman
Yuliana Purnomo
cie cie cie cie Nauru main sosor aja
DityaR: wkwkwk/Shy/
total 1 replies
Yuliana Purnomo
lanjut
Yuliana Purnomo
👍👍👍👍
Yuliana Purnomo
kayaknya perjalanan cinta kalian banyak rintangan nya deh
Yuliana Purnomo
pasti Jully,,alasan Ailsa belajar boxing
Yuliana Purnomo
hemmm mulaii membangun kedekatan Beans dn Nauru
Yuliana Purnomo
semangat rabbit boy
Yuliana Purnomo
pasti yg dtng Beans
Yuliana Purnomo
paling bisa si rabbit boy
Yuliana Purnomo
papa ailsa ngomong aja terus kejelekan anak gym sebelah,,gak jantungan apa kalau tau ank sndiri yg gak bener/caspian pembikin ulah
Ecca K.D
selamat pagi thor
Yuliana Purnomo
semangat rabbit boy
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!