Perayaan empat tahun pernikahan Laura, seorang pemimpin perusahaan muda dirayakan begitu meriah bersama suaminya yang juga yang juga temannya saat SMA. Hubungan mereka begitu harmonis, layaknya pasangan suami istri sempurna di mata publik yang melihatnya.
Namun, kebahagiaan itu seketika di rusak oleh sebuah pesan dari seseorang misterius yang seolah tak suka dengan pernikahannya.
Dia pun mencari tahu sendiri kebenarannya, dan menguak kenyataan yang lebih mencengangkan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Widia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bercerailah, dan Menikah denganku
Kecanggungan berlangsung sepanjang malam di rumah keluarga Kusuma. Bahkan tak ada yang mengajak Mona untuk sekedar berbincang.
"Dave, bisa ikut mama sebentar?" Ajak ibunya yang tak mungkin di bantah oleh sang putra.
Keduanya kini berada di balkon kamar orang tua Dave. Dan ibunya langsung melayangkan tangan ke pipi putra sulungnya.
"Apa kau sadar dengan yang kau lakukan malam ini? Bisa-bisanya kau membawa wanita itu ke sini dan di perkenalkan sebagai istrimu," amuk sang ibu yang tak bisa Dave lawan.
"Asal mama tahu, ada alasan yang membuatku harus menikahinya," jawab Dave yang terus berdalih.
"Alasan apa, huh? Kau hanya ingin memuaskan egomu untuk melanjutkan hubungan masa lalu saat kalian remaja kan?"
"Tidak ma, tidak seperti itu. Aku mencintai Laura tapi aku pun tak bisa meninggalkan Mona. Dia sudah tak punya siapapun selain aku."
Ibunya terdiam, dan menghela nafas agar amarahnya tak semakin memuncak.
"Kau adalah kebanggaan keluarga, tapi di saat yang bersamaan kau juga yang menghancurkan martabat keluarga kita dengan perselingkuhan ini," ucap ibunya tajam yang kecewa dengan perbuatan putranya.
"Aku akan terima semua konsekuensinya. Kebencian kalian ataupun hinaan dari orang lain, tapi aku tak bisa berpisah dengan kedua wanita itu. Aku yakin ma, aku bisa mempertahankan pernikahanku dengan Laura. Dia pasti akan memintaku kembali setelah ku ajak Mona ke sini," tutur Dave yang terlalu percaya diri.
"Apa kau gila? Justru hal ini akan membuat Laura semakin membencimu. Kalau dia menceraikanmu, maka akulah orang pertama yang mendukungnya."
Dave mematung setelah mendengar omelan dari ibunya. Dia pun terus memutar otak, agar rencananya berjalan lancar.
"Aku yakin Laura pasti cemburu dan dia akan memohon sambil menangis agar aku kembali padanya."
***
Sepanjang perjalanan pulang, Mona tak bisa menyembunyikan raut wajah bahagianya. Walau keluarga Dave masih bersikap dingin padanya, dia yakin suatu saat rumah itu akan menerima kehadirannya.
"Dave, sepertinya aku tak akan ikut makan malam lagi di rumah keluargamu," ucap Mona yang merubah raut wajahnya menjadi sedih.
"Kenapa? Apa karena sikap keluargaku padamu?" Tanya Dave yang terlihat simpati dengan ucapan Mona.
"Aku merasa wajar saja mereka bersikap seperti itu. Apalagi aku berasal dari keluarga yang tak setara dengan keluargamu. Keputusanmu menikahi Laura sungguh tepat untuk menjaga martabat keluargamu."
Dave terdiam mendengar ucapan Mona yang masuk akal. Pria itu pun tersenyum sinis, mengingat kejadian memalukan siang tadi yang pastinya membuat hubungannya dengan Laura semakin renggang.
"Dave, apa aku boleh meminta suatu hal padamu?" Tanya Mona yang membuat Dave menoleh padanya.
"Apa yang kau minta?"
"Aku ingin bekerja di perusahaanmu. Tenang saja, aku tak akan mengaku sebagai istri keduamu," ucap Mona yang membuat Dave menghentikan mobilnya.
"Mona, bukankah kau sendiri pernah bilang tak akan meninggalkan rumahmu yang ada di Bandung. Jika kau bekerja di sini, itu sama artinya dengan kau akan tinggal di kota ini," ucap Dave tersulut emosi. Dia yang awalnya berencana untuk membawa Mona pulang ke kota asalnya.
"Aku sadar kalau aku juga ingin menghasilkan uang sendiri. Walau uang pemberianmu lebih dari cukup, tapi aku ingin membangun branding dan menaikkan value ku. Agar aku nantinya bisa di terima oleh kalangan atas, dan juga keluargamu. Benar kan?"
Dave tak menggubris dan kembali melakukan mobilnya menuju rumah. Walau ucapan Mona terdengar masuk akal, Dave tak akan mungkin membiarkannya berlama tinggal di sini.
Sampai di rumah, Larissa yang tertidur pulas segera Dave bawa ke kamarnya. Sedangkan Mona terlihat cemberut karena keinginannya tak di respon sama sekali.
"Maaf, aku tak bisa mengabulkan keinginanmu. Karena aku masih ingin mempertahankan pernikahanku dengan Laura. Sampai kapanpun kau dan Laura tak akan bisa setara. Tapi aku janji akan selalu memenuhi semua keinginan dan kebutuhanmu, dan akan datang di saat kau butuh. Karena kau juga istriku," tutur Dave sambil mengusap kepala Mona yang sudah tertidur pulas.
Mona yang masih belum benar-benar pulas, merasa kecewa dengan keputusan Dave. Dia sudah tak sanggup untuk bersembunyi dan hanya menjadi bayangan Laura.
***
"Kak Laura, dengarkan aku. Apa kakak akan merelakan kak Dave dengan wanita itu? Aku mohon kak, maafkanlah kesalahan kak Dave. Aku jamin dia pasti akan melakukan apapun untukmu," ucap Joanna, adik Dave yang tiba-tiba datang ke kantor Laura.
"Tumben sekali kau peduli pada kakakmu. Apalagi urusan rumah tangga yang bahkan kau pasti belum mengerti."
"Kak, ini persoalan martabat keluargaku. Bayangkan jika kak Dave akan membawa wanita itu di setiap acara penting, wanita itu hanya akan mempermalukan keluarga Kusuma."
"Joan, apa tujuanmu kemari untuk merendahkan orang lain?" Tanya Laura yang langsung membuat Joanna terdiam.
Gadis itu menggelengkan kepalanya dan menunjukan beberapa foto yang dia ambil saat malam kemarin.
"Dave sudah berani membawanya ke rumah keluarga besar. Itu artinya dia sudah berfikir untuk menggantikan posisiku oleh Mona."
"Tidak Kak, dia membawa Mona karena kalian sedang renggang. Aku yakin kak Dave akan sadar dan menceraikan wanita itu," tutur Joanna yang seolah yakin pada kakaknya.
Laura hanya tersenyum dan meminta Joanna untuk menemaninya makan siang. Walau Dave salah, tapi bukan berarti dia harus membenci adik iparnya.
Sementara itu Dave terus mengirim pesan pada Joanna, untuk merayu kakak iparnya agar mau memaafkannya. Sementara dia sedang merencanakan sesuatu untuk membawa Mona pulang ke Bandung.
"Kak, terima kasih makan siangnya. Aku harus segera ke kampus karena ada kelas siang ini," ucap Joanna sambil berpamitan pada Laura. Kini dia pun sendiri dalam ruang kerjanya sambil memandang ke arah jendela.
Tok tok!
Suara ketukan pintu membuyarkan pikirannya akan perkataan Joanna, dia pun menyuruh masuk orang yang ada di luar ruang kerjanya.
"Aku membawa beberapa dokumen yang harus kau tandatangani," ucap Andreas menyerahkan beberapa dokumen pada Laura. Dia yang peka, menatap sang atasan yang tengah serius memeriksa dokumen-dokumen tersebut.
"Apa setelah kejadian itu, kau masih bertahan dengannya?"
Pertanyaan Andreas membuat Laura mengangkat wajahnya. Dia pun menutup dokumen yang sudah di tandatangani dan dia memberikannya pada Andreas.
"Ini urusan rumah tangga ku, kau tak perlu terlibat terlalu jauh," jawab Laura yang membuat Andreas emosi. Namun lagi-lagi, Andreas mengalah demi perasaannya. Dia akan mengikuti kemanapun langkah Laura.
"Kalau kau sudah tak tahan, bercerai saja. Aku akan dengan senang hati menikahimu Laura," ucap Andreas yang membuat Laura mengerutkan alisnya.
"Pffft, hahaha."
Laura tertawa mendengar celetukan Andreas yang dia anggap candaan. Namun Andreas justru diam melihat respon Laura.
"Jangan pernah berbicara sembarangan, memangnya ibumu akan rela jika putranya yang tampan dan gagah ini menikahi seorang janda?" Imbuh Laura yang masih saja tertawa mengingat ucapan Andreas.
"Aku serius Laura. Bercerailah, dan menikah denganku."
terlalu lucu klo laura harus bersaing dgn gundiknya.... yg g ada levelnya
🤣🤣