Di tengah dunia yang terbelah antara realita modern dan kiamat zombie, Shinn Minkyu—seorang cowok berwajah androgini dengan pesona misterius—mendadak mendapatkan sebuah sistem unik: Sistem Pengasuh.
Dengan kemampuan untuk berpindah antar dunia, Shinn berniat menjalani hidup damai... sampai seorang gadis kecil lusuh muncul sambil dikejar zombie. Namanya Yuki. Imut, polos, dan penuh misteri.
Tanpa ragu, Shinn memutuskan untuk merawat Yuki layaknya anaknya sendiri—memotong rambutnya, membuatkannya rumah, dan melindunginya dari bahaya. Bersama sistem yang bisa membangun shelter super canggih dan menghasilkan uang dari membunuh zombie, keduanya memulai petualangan bertahan hidup yang tak biasa.
Penuh aksi, tawa, keimutan maksimal, dan romansa menyentuh saat masa lalu Yuki perlahan terungkap...
Apakah Shinn siap menjadi ayah dadakan di tengah kiamat? Atau justru… dunia ini membutuhkan keimutan Yuki untuk diselamatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F R E E Z E, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: “Tamu Tak Diundang di Tengah Malam”
Malam di shelter kali ini nggak kayak biasanya. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, dan angin dari luar jendela terdengar kayak bisikan halus yang bikin bulu kuduk berdiri.
Shinn Minkyu duduk di pojokan ruang kerja, matanya fokus ke layar hologram yang menampilkan statistik keamanan shelter. Sistem baru saja meng-upgrade perimeter sensor, dan malam ini adalah pertama kalinya diuji.
“Hmm… semua masih aman,” gumam Shinn sambil mengunyah keripik kentang. “Yuki udah tidur, sistem aktif, senjata siap… harapannya nggak ada kejutan.”
"DING!"
Sebuah notifikasi berbunyi. Sensor gerak mendeteksi aktivitas di perimeter timur.
“Eh?” Shinn langsung berdiri dan jalan cepat ke ruang pantau. “Sistem, tampilkan feed kamera timur!”
Seketika layar hologram besar di dinding memperlihatkan bayangan seseorang… atau "sesuatu", berdiri diam sekitar dua puluh meter dari pagar luar.
“Zombie?” tanya Shinn sambil nyipit matanya.
Namun saat diperbesar, terlihat sosok perempuan berbaju robek-robek, rambut acak-acakan, dan wajahnya… bukan zombie.
“Wait… itu manusia?”
Sistem langsung berbicara, “Subjek tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi. Detak jantung normal. Tapi tingkat stres tinggi.”
Shinn garuk-garuk kepala. “Duh… jangan-jangan orang yang kabur dari kelompok survivor lain. Atau…”
Dia segera ambil jaket dan tas tempur kecil. “Gue cek ke luar. Buka pintu darurat satu.”
“Diterima. Membuka pintu.”
_________
Shinn bergerak hati-hati di balik pagar. Angin malam menyentuh kulitnya, dan ia menggenggam senjata bius elektrik di tangan kiri.
Saat dia mendekat, perempuan itu tiba-tiba roboh.
“Eh?! Hei!” Shinn langsung lari dan jongkok di sampingnya. Nafas si perempuan berat, dan di kakinya ada luka memar parah.
“Halo? Kamu sadar?” Shinn menepuk pelan pipinya.
Si perempuan hanya bisa membuka mata separuh. “Tolong…”
Shinn cepat-cepat memanggil sistem via komunikasi. “Sistem, teleport darurat ke ruang medis. Satu orang tambahan.”
“Diproses.”
Seketika tubuh mereka diselimuti cahaya biru dan "WHOOSH!" dalam satu detik, mereka sudah di dalam shelter lagi, tepat di ruang medis otomatis.
_________
Yuki yang mendengar suara langkah terburu-buru keluar dari kamar dengan boneka kelincinya.
“Eh? Oppa? Itu siapa?” tanyanya sambil mengucek mata.
Shinn yang sedang berdiri di sisi kasur medis menoleh. “Ada tamu dadakan, Yuki. Dia kayaknya butuh bantuan. Kamu jangan takut ya, dia nggak jahat kok.”
Yuki pelan-pelan mendekat dan mengintip dari balik pintu. Melihat perempuan itu yang tergeletak di kasur medis, ekspresi Yuki berubah.
“…Mama?”
Shinn langsung menoleh. “Hah?!”
Yuki jalan mendekat, tatapannya nggak lepas dari wajah perempuan itu. Perlahan ia menggenggam tangannya.
Perempuan itu membuka mata sedikit, dan begitu melihat Yuki, matanya melebar.
“…Yuki?”
“MAAAAAMAAA!!”
Yuki langsung memeluknya sambil nangis sesenggukan.
Shinn berdiri terpaku. “Astaga… beneran ibu Yuki? Ini plot twist apa…”
Sistem menjawab, “DNA cocok. Subjek perempuan ini adalah Elya, ibu kandung dari Yuki.”
_________
Setelah memastikan kondisi Elya stabil, Shinn duduk di ruang santai, mencoba mencerna semuanya sambil minum teh panas.
“Jadi… setelah berbulan-bulan nyari ibunya Yuki, malah ketemu secara random pas malam-malam di pinggir pagar? Dunia emang suka bercanda.”
Yuki duduk di pangkuan Shinn, matanya masih merah abis nangis. “Oppa, Mama udah nggak hilang lagi…”
Shinn tersenyum kecil dan mengelus kepala Yuki. “Iya, sekarang keluarga kamu udah lengkap lagi.”
Elya kemudian masuk ke ruang santai, jalannya masih pelan. Dia pakai pakaian cadangan dari shelter, dan rambutnya udah bersih setelah mandi.
“Maaf ganggu malam-malam…” katanya lirih.
“Nggak apa-apa, Bu. Senang bisa bantu. Tapi saya penasaran… gimana caranya Ibu bisa sampai ke area ini? Bukannya di luar sana zonanya udah jadi wilayah mutan zombie?”
Elya duduk dan menghela napas panjang. “Aku kabur dari kelompok survivor yang… jahat. Mereka nahan aku, katanya aku ‘penting’ buat eksperimen aneh mereka. Tapi satu malam ada ledakan di kamp, aku kabur dan lari terus sampai nemu sinyal dari tempat ini.”
Shinn menatap sistem. “Kita pernah nyebar sinyal distress ya?”
“Sinyal cadangan keamanan aktif otomatis minggu lalu. Mungkin itu yang tertangkap oleh perangkat Elya.”
“Hmm… untung kamu kuat, Bu,” Shinn berkata sambil senyum.
Elya memandangi Shinn dengan tatapan penuh rasa terima kasih. “Dan kamu… terima kasih sudah jaga Yuki…”
Shinn agak kaget, pipinya langsung sedikit merah. “Eh, itu… udah kewajiban. Lagian dia lucu banget, siapa juga yang tega ninggalin.”
Yuki manggut-manggut semangat. “Oppa orang baik!”
Elya tersenyum hangat. “Dan tampaknya… kamu juga orang yang spesial.”
Shinn cuma bisa senyum-senyum kaku sambil nahan malu.
_________
Beberapa hari berlalu, dan shelter jadi makin ramai dengan kehadiran Elya. Dia ternyata sangat pintar dalam urusan pertanian hidroponik dan perawatan medis, membantu sistem dan Shinn memperluas fungsi shelter.
Tapi nggak cuma soal teknologi, suasana juga jadi lebih… "manis".
Shinn kadang kelihatan salah tingkah kalau lagi bareng Elya, apalagi kalau mereka harus kerja sama berdua dalam ruangan yang sempit.
“Eh, Shinn, kamu bisa pegang ini?” tanya Elya sambil menyodorkan pipa alat semprot.
Shinn reflek megang… tapi tangannya malah menyentuh tangan Elya.
Keduanya saling tatap. Hening. Detik demi detik berlalu.
“Eh… ma-maaf,” kata mereka berdua hampir bersamaan sambil menarik tangan masing-masing.
Yuki yang duduk di pojokan cuma ngunyah biskuit sambil nonton kayak lagi lihat drama korea. “Hmm~ romantis~”
Shinn langsung noleh. “Yuki! Jangan asal ngomong, nanti kamu bikin Mama salah paham!”
Elya cuma ketawa pelan sambil menutup mulutnya. “Yuki ini lucu banget…”
_________
Malam hari, Shinn berdiri di balkon tertutup shelter sambil lihat bintang. Di sebelahnya, sistem muncul dalam bentuk panel hologram kecil.
“Shinn.”
“Hmm?”
“Kamu tampaknya bahagia sekarang.”
Shinn tersenyum kecil. “Aneh ya… dulu gue pikir hidup gue bakal jadi kayak game survival terus. Tapi sekarang, gue punya ‘keluarga kecil’. Yuki, Elya… dan lu juga, sistem.”
“Apakah ini berarti… kamu ingin melanjutkan hidup bersama mereka?”
Shinn diam sejenak.
“…Gue nggak tahu masa depan bakal kayak apa. Tapi kalau mereka di sisi gue, gue siap hadapin dunia zombie ini.”
mampir kak