NovelToon NovelToon
REINKARNASI DARI MASALALU

REINKARNASI DARI MASALALU

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Reinkarnasi / Kutukan
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

"Saat KKN di desa terpencil, Puri Retno Mutia dan Rendra Adi Wardana diserang kesurupan misterius. Puri merasakan sakit keguguran dan dendam seorang gadis bernama Srikanti yang dulu jatuh cinta dan hamil oleh Abi Manyu, tapi difitnah dan ditinggalkan hingga meninggal. Sementara Rendra merasakan rasa bersalah yang tak terjangkau dari masa lalu. Ternyata, mereka adalah reinkarnasi Srikanti dan Abi Manyu. Akankah sumpah dendam Srikanti terwujud di zaman sekarang? Atau bisakah mereka putus rantai tragedi yang terulang?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rintangan di Jalan Menuju Sidomukti

Mentari pagi belum sepenuhnya merekah di ufuk timur, namun suasana di halte kampus sudah riuh oleh celoteh mahasiswa yang akan memulai KKN. Bus kampus berwarna biru tua terparkir gagah, siap mengangkut para calon pengabdi masyarakat menuju desa-desa yang telah ditentukan. Di tengah keramaian itu, Puri berdiri dengan tas ransel yang terasa semakin berat di punggungnya. Matanya menyapu sekeliling, mencari wajah-wajah yang dikenalnya.

"Puri! Sini!"

Suara riang Ayu memecah lamunannya. Ia melihat Ayu dan Dina melambai-lambai dari dekat pintu bus. Mereka sudah terlihat bersemangat dengan pakaian lapangan yang kasual namun tetap modis. Puri tersenyum lega dan menghampiri mereka.

"Udah siap jadi anak desa, nih?" goda Dina sambil mencolek lengan Puri.

"Siap nggak siap, harus siap, dong!" jawab Puri berusaha ceria, meski hatinya masih diliputi kecemasan.

Saat mereka hendak menaiki bus, tiba-tiba seorang pemuda berkaus hitam berlari terengah-engah menghampiri mereka. "Tunggu! Gue telat, maaf!" serunya dengan napas tersengal-sengal.

Puri, Ayu, dan Dina saling berpandangan. Mereka mengenali pemuda itu sebagai Rio, anggota kelompok mereka yang terkenal cuek dan kurang persiapan.

"Rio? Lo baru bangun tidur, ya?" sindir Ayu sambil berkacak pinggang.

"Hehe... sorry, semalem begadang nonton bola," jawab Rio sambil cengengesan.

Setelah Rio mengatur napas, mereka akhirnya menaiki bus dan mencari tempat duduk. Puri memilih duduk di dekat jendela, berharap pemandangan di sepanjang perjalanan bisa menenangkan pikirannya. Ayu dan Dina duduk di depannya, sementara Rio langsung tertidur pulas di kursi belakang.

Tak lama kemudian, bus mulai melaju meninggalkan kampus. Puri menatap bangunan-bangunan kampus yang semakin menjauh, dan hatinya diliputi perasaan campur aduk. Ada rasa antusias untuk memulai pengalaman baru, namun juga ada kecemasan tentang apa yang akan terjadi di Desa Sidomukti.

Perjalanan berjalan lancar selama beberapa jam. Mereka melewati jalanan perkotaan yang ramai, lalu memasuki jalanan pedesaan yang berkelok-kelok di antara hamparan sawah dan perbukitan hijau. Pemandangan yang indah itu sedikit banyak berhasil menenangkan hati Puri.

Namun, saat mereka memasuki wilayah Temanggung, tiba-tiba bus berhenti mendadak. Semua penumpang terlonjak kaget.

"Ada apa, Pak?" tanya salah seorang mahasiswa kepada sopir bus.

"Nggak tahu, Mas. Tiba-tiba mesinnya mati," jawab sopir bus dengan wajah bingung.

Sontak, suasana di dalam bus menjadi riuh. Beberapa mahasiswa mulai mengeluh karena takut terlambat sampai di desa tujuan. Sementara itu, Puri merasakan firasat buruk semakin menguat di dadanya.

Sopir bus berusaha memperbaiki mesin, namun hasilnya nihil. Setelah beberapa saat, ia mengumumkan bahwa bus tidak bisa melanjutkan perjalanan.

"Maaf ya, Adik-adik. Sepertinya kita harus menunggu bus pengganti dari kampus. Saya sudah menghubungi pihak kampus, dan mereka akan segera mengirimkan bus lain," ujar sopir dengan nada menyesal.

Mendengar pengumuman itu, para mahasiswa semakin kecewa. Mereka terpaksa turun dari bus dan menunggu di pinggir jalan yang sepi. Beberapa dari mereka mulai mengeluh dan menyalahkan sopir bus.

Puri memilih menjauh dari kerumunan. Ia berjalan menuju sebuah pohon rindang di tepi sawah dan duduk di bawahnya. Ia mengeluarkan buku catatannya dan mulai menuliskan apa yang dirasakannya. Namun, pikirannya terlalu kalut untuk berkonsentrasi.

Tiba-tiba, Rendra menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Pemuda itu tampak tenang dan tidak terpengaruh oleh situasi yang sedang terjadi.

"Kenapa diem di sini? Nggak gabung sama yang lain?" tanya Rendra dengan nada datar.

Puri mengangkat bahunya. "Nggak enak aja dengerin mereka ngomel-ngomel. Lagian, aku lagi nggak mood ngobrol," jawabnya jujur.

Rendra mengangguk mengerti. Mereka berdua terdiam beberapa saat, menikmati angin sepoi-sepoi yang berhembus dan suara gemericik air di sawah.

"Lo nggak khawatir?" tanya Puri tiba-tiba, memecah kesunyian.

Rendra menoleh ke arah Puri dengan tatapan heran. "Khawatir kenapa?"

"Ya, khawatir telat sampai di desa, khawatir nggak dapet tempat tinggal yang layak, khawatir KKN-nya nggak lancar..." jawab Puri dengan nada cemas.

Rendra tersenyum tipis. "Gue sih nggak terlalu mikirin. Menurut gue, semua yang terjadi pasti ada alasannya. Mungkin ini cara alam untuk ngasih kita waktu buat istirahat dan menikmati pemandangan," ujarnya dengan bijak.

Puri tertegun mendengar jawaban Rendra. Ia tidak menyangka bahwa pemuda yang selama ini dianggap cuek dan dingin itu ternyata memiliki pemikiran yang begitu dalam.

"Lo bener juga," kata Puri sambil tersenyum. "Mungkin gue terlalu fokus sama hal-hal yang buruk, sampai lupa buat menikmati apa yang ada di depan mata."

Mereka berdua kembali terdiam, namun kali ini suasana terasa lebih tenang dan nyaman. Puri merasa sedikit lega karena telah berbagi perasaannya dengan Rendra.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba, langit yang tadinya cerah mulai tertutup awan gelap. Angin bertiup semakin kencang, menerbangkan debu dan dedaunan. Suara petir menggelegar memecah kesunyian.

"Wah, mau hujan nih," kata Rendra sambil menatap langit dengan waspada.

Benar saja, tak lama kemudian, hujan deras mengguyur mereka. Para mahasiswa yang tadi menunggu di pinggir jalan berlarian mencari tempat berteduh. Puri dan Rendra juga ikut berlari menuju sebuah gubuk kecil di tengah sawah.

Gubuk itu hanya berukuran sekitar 2x2 meter dan terbuat dari bambu dan jerami. Di dalamnya sudah ada beberapa petani yang sedang berteduh. Puri dan Rendra bergabung dengan mereka, berdesakan di dalam gubuk yang sempit.

Hujan semakin deras, membuat gubuk itu terasa semakin dingin dan lembab. Puri menggigil kedinginan, meski sudah mengenakan jaket. Ia melirik Rendra yang juga tampak kedinginan.

"Lo kedinginan?" tanya Puri dengan nada khawatir.

Rendra mengangguk pelan. "Lumayan," jawabnya singkat.

Tanpa ragu, Puri mengeluarkan selendang tebal dari tas ranselnya dan menyodorkannya kepada Rendra. "Pake ini aja, biar nggak terlalu dingin," katanya dengan tulus.

Rendra menatap Puri dengan tatapan terkejut. "Nggak usah, buat lo aja. Lo kan juga kedinginan," tolaknya halus.

"Nggak apa-apa, gue kuat kok. Lo pake aja, biar nggak sakit," paksa Puri dengan senyum lembut.

Akhirnya, Rendra menerima selendang itu dengan ragu. Ia melilitkannya di lehernya, dan seketika tubuhnya terasa lebih hangat.

"Makasih ya," ucap Rendra tulus.

Puri hanya tersenyum sebagai jawaban. Mereka berdua kembali terdiam, menikmati suara hujan yang memekakkan telinga. Di tengah situasi yang tidak terduga ini, Puri merasa ada sesuatu yang berubah di antara mereka. Ia tidak lagi melihat Rendra sebagai pemuda cuek dan dingin seperti yang selama ini ia kira. Ia mulai melihat sisi lain dari Rendra yang lebih perhatian dan lembut.

Hujan terus mengguyur Desa Sidomukti selama beberapa jam. Para mahasiswa KKN terpaksa menunggu di gubuk dan di pinggir jalan dengan perasaan cemas dan tidak sabar. Mereka tidak tahu kapan bus pengganti akan datang, dan bagaimana mereka akan melanjutkan perjalanan menuju desa tujuan.

Namun, di tengah rintangan yang tak terduga ini, Puri merasakan sebuah kekuatan baru tumbuh di dalam dirinya. Ia tahu bahwa perjalanan KKN ini tidak akan mudah, dan akan ada banyak tantangan yang harus dihadapi. Namun, ia juga yakin bahwa ia tidak sendirian. Ia memiliki teman-teman yang siap mendukungnya, dan ia memiliki keyakinan bahwa ia akan mampu melewati semua ini.

Di bawah hujan yang tak kunjung reda, Puri Retno Mutia mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi di Desa Sidomukti.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!