"mas belikan hp buat amira mas dia butuh mas buat belajar" pinta Anita yang ntah sudah berapa kali dia meminta
"tidak ada Nita, udah pake hp kamu aja sih" jawab Arman sambil membuka sepatunya
"hp ku kamarenya rusak, jadi dia ga bisa ikut zoom meating mas" sanggah Nita kesal sekali dia
"udah ah mas capek, baru pulang kerja udah di sodorin banyak permintaan" jawab Arman sambil melangkahkan kaki ke dalam rumah
"om Arman makasih ya hp nya bagus" ucap Salma keponakan Arman
hati Anita tersa tersayat sayat sembilu bagaimana mungkin Arman bisa membelikan Salma hp anak yang usia baru 10 tahun dan kedudukannya adalah keponakan dia, sedangkan Amira anaknya sendiri tidak ia belikan
"mas!!!" pekik Anita meminta penjelasan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DRAMA MOGOK MAKAN
Meja makan sudah tertata rapi. Sepiring nasi putih mengepul di tengah meja. Namun, tidak ada lauk. Hanya kecap manis dan garam di sudut meja. Suasana rumah sunyi, hanya suara kipas angin tua yang berdecit pelan.
Laksmi melangkah ke ruang makan dengan wajah kesal. Matanya langsung menangkap meja yang kosong dari lauk-pauk. Ia menarik kursi dengan kasar.
"Anita! Ini makanan apa?!"
Dewi yang baru keluar dari kamar juga ikut berseru.
"Astaga, Dewi! Masa makan nasi doang? Kamu pikir kita ini kambing, hah?"
Anita yang baru saja keluar dari dapur, menghela napas pelan. Matanya datar.
"Nasi. Itu aja yang ada."
Laksmi menepak meja dengan keras.
"Kamu nggak masak lauk?! Mau bikin kita mati kelaparan?"
"Nggak ada uang buat beli lauk, Bu."
"Hah? Uang lagi, uang lagi, kamu benar-benar tak berguna. Istri tak menghasilkan ung itu tak berguna"
Anita tersenyum sinis.
"Emang ibu dan dewi menghasilkan uang?"
Laksmi melotot. Wajahnya merah padam.
"Kurang ajar kamu ya, Anita! “
Dewi ikut menyahut dengan nada nyinyir.
"Iya, Bu! Anita ini keterlaluan. Benar-benar ga becus dan merepotkan mas arman aja!"
Anita tertawa kecil.
"Ngerepotin? Selama ini yang masak siapa? Yang beresin rumah siapa? Yang nyuci baju ibu siapa?, dan kamu dewi apa pernah kamu nyuci baju anakmu sendiri"
Laksmi berdiri, tangannya mengepal.
"Jangan kurang ajar ya, Anita! Kamu pikir kamu siapa? Cuma istri yang hanya mengandalkan uang dari suami, benar-benar ga berguna, rumah tanggal 16 tahun sampai ga bisa buat rumah sendiri"
Anita melipat tangan di dada.
"Nggak bisa Buat rumah? Coba tanya anak emas kesayangan ibu itu. Saya udah ngajak beli rumah dari dulu, tapi siapa yang nggak boleh? Siapa yang maksa kami tinggal di sini terus? Jawab, Bu!"
Laksmi terdiam. Napasnya memburu.
Dewi menyeringai.
"Udah bu laporkan aja anita sama mas arman bu, biar diberikan pelajaran, nyedian makanan di rumah aja ga bisa"
Anita mencibir.
"Emang kamu bisa nyedian makan, mana mas doni mu itu loh, bulan ini berapa yang dia berikan untuk membantu kebutuhan rumah."
Laksmi kembali berteriak.
"Anita! Saya nggak peduli! Saya akan laporkan ini ke Arman! Saya akan bilang kalau kamu sengaja bikin keluarga ini kelaparan!"
Anita mengangkat bahu.
"Silakan, Bu. Toh mas arman juga tahu siapa yang menghabiskan uang mas arman dalam waktu yang sesingkat-singkatnya."
Lakmis mukanya memerah apa yang dikatakan oleh anita semuanya benar, dialah yang sudah menghabiskan uang arman dalam waktu sehari dengan membeli barang-barang yang tidak penting, tapi laksmi tentu saja tidak mau mengakuinya, hancur harga dirinya kalau mengakui dia bersalah dihadapan anita, menantu yang paling dia benci,
Pintu depan terbuka dengan keras. Arman masuk dengan wajah kusut. Kepalanya pening setelah seharian bekerja, dan sekarang disambut suara ibunya yang mengomel di ruang makan.
"Arman! Lihat istrimu! Dia nggak masak buat makan malam! Kamu pikir kita ini puasa?"
Arman menghela napas, melepaskan sepatunya dengan kasar. Pandangannya menyapu meja makan, hanya ada nasi putih tanpa lauk. Lalu, ia menatap Anita yang berdiri di sudut ruangan dengan wajah datar.
"Kenapa nggak masak, Ta?"
"Nggak ada uang."
"Loh, gaji aku kan Ibu yang pegang. Kenapa sekarang salahin Anita?"
Laksmi mendengus, tangannya terlipat di dada.
"Karena dia nggak kerja! Dari dulu aku udah bilang, perempuan itu harus bisa cari uang sendiri! Lihat, sekarang rumah kayak kapal pecah, makan nggak ada, istri cuma ongkang-ongkang kaki!"
Dewi ikut menyahut.
"Bener, Mas! Mbak Anita itu nggak tahu diri. Harusnya kalau nggak ada uang, ya cari jalan keluar! Bukan malah diem aja!"
Arman memijat pelipisnya.
"Ibu, Dewi, kalian denger baik-baik. Dari dulu, yang ngurusin rumah ini siapa? Yang masak, yang bersihin, yang ngurusin anak-anak siapa? Bukannya Anita?"
Laksmi mendelik.
"Dan itu memang tugas dia! Istri ya harusnya kayak gitu! Tapi kalau nggak bisa kasih makan keluarga, buat apa dipertahankan? Mending kamu ceraikan aja dia!"
Anita tetap diam. Wajahnya tetap datar, seolah kata-kata Laksmi tidak ada artinya.
Arman menatap ibunya.
"Ibu pikir kalau aku cerai sama Anita, Ibu bisa makan malam?"
Laksmi tertegun.
Dewi pun ikut diam.
Arman melanjutkan.
"Dari dulu, yang bikin uang gajiku cukup buat kita semua itu Anita. Kalau bukan karena dia, kita semua udah kelaparan dari dulu. Uang yang aku kasih ke Ibu, habisnya nggak sampai seminggu. Tapi kalau sama Anita, bisa bertahan sampai akhir bulan."
Laksmi kembali berseru.
"Jadi kamu nuduh Ibu boros?!"
"Bukan nuduh. Tapi ini kenyataan."
Laksmi terdiam, lalu berbalik dan berjalan menuju kamarnya. Pintu kamar dibanting keras.
Dewi hanya bisa menatap dengan wajah kesal.
Arman mengembuskan napas panjang.
"Aku akan cari pinjaman lagi buat kebutuhan kita selama satu bulan ke depan. Tapi kali ini, aku yang akan pegang. Nggak bakal aku kasih ke siapa-siapa lagi."
Tidak ada yang menjawab.
Anita hanya tersenyum kecil, melihat bagaimana keadaan mulai berbalik.
Pagi itu, rumah terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena cuaca, tapi karena suasana hati penghuni rumah yang penuh ketegangan.
Arman duduk di ruang tamu, termenung. Ia merasa bersalah.
Ibunya masih mengurung diri di kamar sejak semalam. Tidak keluar, tidak bicara, tidak makan.
Istrinya, Anita, juga mendiamkannya.
Ia benci situasi seperti ini.
Semua gara-gara kemarin ia berani menuduh ibunya boros. Laksmi langsung marah besar dan masuk ke kamar, tidak mau keluar. Sekarang, keadaan jadi lebih rumit.
Arman menghela napas panjang, lalu bangkit dan berjalan menuju kamar.
Saat membuka pintu kamar, seperti biasa bajunya sudah tergantung rapi di belakang pintu. Ember kecil berisi air hangat juga ada di sudut ruangan.
Matanya menatap semua itu dengan perasaan campur aduk.
Sebenarnya, inilah yang selalu membuatnya berat untuk menceraikan Anita.
Sebagai istri, Anita hampir tidak punya celah.
Ia tidak bekerja, tapi ia selalu ada. Ia tidak membawa uang, tapi ia mengurus semuanya. Ia tidak bersuara, tapi ia memastikan semuanya berjalan lancar.
Arman terdiam.
Ia tidak pernah mempermasalahkan Anita sebagai ibu rumah tangga. Ia justru dulu bermimpi punya istri yang fokus mengurus keluarga. Tapi sekarang, ibunya terus menuntutnya mencari wanita karir.
Dadanya terasa sesak.
Anita bangun pagi seperti biasa. Saat melihat meja, ada selembar uang seratus ribu.
"Buat kebutuhan hari ini."
Anita mengambilnya tanpa ekspresi.
Ia tahu itu dari Arman.
Seperti biasa, ia pergi ke pasar, membeli bahan makanan, lalu memasak. Tangannya cekatan menyiapkan sarapan. Setelah itu, ia menyapu, mengepel, mencuci pakaian—semuanya dilakukan tanpa suara, tanpa keluhan.
Ia sudah terbiasa hidup seperti ini.
Ketika sarapan siap, ia menyusun piring-piring di meja makan. Dewi sudah duduk di sana, menikmati teh hangatnya.
"Ibu belum keluar?"
Anita menggeleng.
Dewi mendengus.
"Ibu belum makan dari tadi malam. Kamu siapkan makanan buat ibu, sana antar ke kamar!"
Anita tetap diam, terus menata piring di meja makan.
Dewi semakin kesal.
"Tuli ya? Aku bilang ibu belum makan!"
Tanpa bicara, Anita mengambil sepiring nasi dan lauk. Dengan langkah tenang, ia menuju kamar Laksmi dan mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi.
Masih sunyi.
Akhirnya, ia meletakkan piring itu di meja dekat pintu, lalu berbalik. Tidak ada gunanya memaksa.
Dewi menatapnya dengan tatapan tajam.
"Kamu ini keterlaluan ya? Ibu masih marah, masa kamu biarin dia kelaparan?"
Anita menatap Dewi sekilas, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Di sudut ruangan, Arman yang melihat itu mulai merasa bersalah. Ia bangkit dari duduknya dan mendekati kamar ibunya.
"Ibu, makan dulu ya. Ini aku yang bawakan."
Tidak ada jawaban.
"Ibu, jangan marah terus. Aku minta maaf."
Hening.
Arman menekan gagang pintu, mencoba membukanya, tapi terkunci.
"Ibu, aku mohon. Jangan seperti ini. Aku salah. Aku nggak akan bilang ibu boros lagi. Ibu maafin aku ya..."
Masih sunyi.
Arman makin pusing. Kepalanya terasa berat.
Setelah hampir satu jam membujuk, akhirnya pintu kamar terbuka.
Laksmi keluar dengan wajah masam, langsung duduk di kursi ruang tamu tanpa menoleh ke arah siapa pun.
Arman duduk di sampingnya.
"Ibu jangan marah lagi ya... Aku nggak tahan kalau ibu diem kayak gini."
Laksmi menatap anaknya dalam-dalam.
"Kalau kamu nggak mau ibu marah, kamu turuti keinginan ibu."
Arman menelan ludah.
"Undang Bianka ke rumah."
Jantung Arman berdegup kencang.
"Ibu... Masa aku undang wanita lain ke rumah, sementara Anita masih istriku?"
Laksmi mendengus.
"Kenapa? Kamu takut sama Anita? Atau kamu masih mau hidup miskin dengan istri nggak berguna itu?"
Arman terdiam.
Laksmi menatapnya tajam.
"Dengar ya, Arman. Kalau kamu mau hidup lebih baik, kamu harus cari istri yang bisa cari uang. Kamu lihat sendiri, dengan gaji kamu dipegang ibu, semua habis. Itu karena gaji kamu kecil!"
Arman menghela napas panjang.
Ia tidak ingin ibunya makin marah.
"Baik, Bu."