Mahesa Sura yang telah menunggu puluhan tahun untuk membalas dendam, dengan cepat mengayunkan pedang nya ke leher Kebo Panoleh. Dendam kesumat puluhan tahun yang ia simpan puluhan tahun akhirnya terselesaikan dengan terpenggalnya kepala Kebo Panoleh, kepala gerombolan perampok yang sangat meresahkan wilayah Keling.
Sebagai pendekar yang dibesarkan oleh beberapa dedengkot golongan hitam, Mahesa Sura menguasai kemampuan beladiri tinggi. Karena hal itu pula, perangai Mahesa Sura benar-benar buas dan sadis. Ia tak segan-segan menghabisi musuh yang ia anggap membahayakan keselamatan orang banyak.
Berbekal sepucuk nawala dan secarik kain merah bersulam benang emas, Mahesa Sura berpetualang mencari keberadaan orang tuanya ditemani oleh Tunggak yang setia mengikutinya. Berbagai permasalahan menghadang langkah Mahesa Sura, termasuk masalah cinta Rara Larasati putri dari Bhre Lodaya.
Bagaimana kisah Mahesa Sura menemukan keberadaan orang tuanya sekaligus membalas dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taktik
Dengan langkah hati-hati, Mahesa Sura berjalan mendekati perwira pasukan pemberontak Singhakerta ini. Meskipun sesekali berpapasan dengan prajurit pemberontak lainnya, Mahesa Sura tetap tenang bergerak.
Perwira prajurit pemberontak bernama Demung Macan Wilis ini masih asyik menenggak twak saat Mahesa Sura datang dari samping kanan. Dia adalah salah seorang perwira Lodaya yang membelot ke pihak Singhakerta karena hasutan dan janji manis Singhakerta yang akan menjadikannya Senopati setelah mereka berhasil menumbangkan kekuasaan Singhawardhana. Kedatangan Mahesa Sura menghentikan acara minum-minum nya.
"Hiks kau kenapa kau kemari tanpa dipanggil hah?!", gertak Demung Macan Wilis sambil menunjuk ke arah Mahesa Sura. Tetapi orang yang ia tunjuk tidak menjawab melainkan terus bergerak mendekat.
" Apa kau tuli hah?!! Jawab tolol..!! ", Demung Macan Wilis sampai bangkit dari tempat duduknya.
" Aku kemari untuk mencabut nyawa mu! "
Selesai berkata demikian, Mahesa Sura langsung menerjang ke arah Demung Macan Wilis. Karena serangan mendadak ini, tendangan kaki kanan Mahesa Sura telak menghajar perut Demung Macan Wilis.
Dhhiiiieeeeessshhhh...
Aaauuuuugggghhhhh!!!
Kerasnya tendangan Mahesa Sura membuat tubuh kekar Demung Macan Wilis terpental dan jatuh ke tanah. Tetapi lelaki itu langsung bangkit meskipun dengan sedikit sempoyongan.
"Bajingan tengik, berani-beraninya kau menyerang ku! Ku bunuh kau...!!! "
Secepat kilat, Demung Macan Wilis mencabut keris di pinggangnya dan langsung melompat ke arah Mahesa Sura. Pertarungan sengit antara mereka pun segera terjadi.
Namun, kemampuan bertarung Demung Macan Wilis jauh di bawah Mahesa Sura. Dalam beberapa jurus saja, apalagi ditambah dengan pengaruh twak, perwira prajurit pemberontak ini terjatuh dengan bibir mengeluarkan darah.
Melihat Demung Macan Wilis dijatuhkan, beberapa orang prajurit pengikut setia nya langsung mengepung Mahesa Sura. Tetapi mereka juga bukan lawan sepadan dengan kemampuan beladiri murid Empat Sesat Tak Terkalahkan itu. Dalam beberapa gebrakan saja mereka sudah tersungkur bersimbah darah.
Dengan nafsu membunuh, Demung Macan Wilis kembali menerjang dengan bersenjatakan keris pusaka nya.
Shhrreeeeeeeetttttt...
Mahesa Sura berkelit sedikit sembari menarik gagang Pedang Nagapasa di pinggangnya. Usai lolos dari sergapan maut Demung Macan Wilis, Mahesa Sura dengan cepat menghujamkan Pedang Nagapasa ke perut musuh sekuat tenaga.
Jllleeeeeeeebbbbh!
Aaaarrrrrrgggggggggghhhh!!!
Raungan keras menyayat hati terdengar dari mulut Demung Macan Wilis saat ujung tajam pedang hitam itu menembus perutnya. Setelah Mahesa Sura menarik pedang pendeknya, perwira prajurit pemberontak ini roboh bersimbah darah. Dia tewas dengan darah menggenang di bawah tubuhnya.
Keributan itu menarik perhatian para anggota prajurit pemberontak yang lain yang langsung bergerak. Melihat ini, Mahesa Sura langsung melompat ke arah kemah prajurit. Tetapi nyatanya ini hanya taktik belaka karena ia langsung berlari keluar dari arah lainnya. Kegelapan malam memudahkan aksi ini hingga para prajurit pemberontak yang mengejar langsung menyerbu masuk ke dalam barak prajurit.
"Ada apa ini? Kenapa kalian masuk ke barak kami beramai-ramai seperti ini?!", teriak pimpinan pasukan yang tinggal di barak prajurit itu dengan tidak senang.
" Kami mengejar pembunuh Demung Macan Wilis yang lari kesini. Dia menggunakan pakaian yang sama dengan kalian. Jangan halangi kami untuk menangkap nya", sahut Juru Dibya Bargawa, bawahan langsung Demung Macan Wilis yang memimpin pasukan pengejaran.
Pimpinan barak prajurit pemberontak ini, Demung Walang Kadung, terkejut dengan apa yang mereka bicarakan. Demung Macan Wilis memiliki kemampuan beladiri yang cukup tinggi, tidak mudah untuk mengalahkan nya. Bahkan jika 10 orang prajurit barak yang ia pimpin bersatu melawannya, itu juga tidak bisa dengan mudah membunuhnya.
"Apa kalian sudah gila?! Tidak ada seorangpun dari prajurit ku yang punya kemampuan beladiri setinggi itu. Kalian jangan asal tuduh sembarangan! ", jawab Demung Walang Kadung ketus.
" Tapi memang begitu adanya. Orang itu berpakaian seperti orang kalian dan kami melihatnya berlari masuk ke barak ini. Minggir! Jangan halangi kami untuk menangkapnya! ", balas Juru Dibya Bargawa tak kalah keras.
" Kurang ajar! Sudah ku bilang bahwa tidak orang yang berkemampuan tinggi dalam kelompok ini. Tetapi kalian terus menerus memaksa untuk masuk ke barak kami. Jangan salahkan kami jika kami akan melawan kesewenang-wenangan kalian jika tidak juga mundur! " , ancam Demung Walang Kadung tegas. Lelaki bertubuh sedikit kurus dengan mata cekung ini benar-benar merasa terhina.
"Karena kalian tetap tak mau menyerahkan orang itu, maka jangan salahkan aku bertindak kasar.
Prajurit ku! Geledah tempat ini, temukan pembunuh Gusti Demung Macan Wilis!!! "
Mendengar perintah dari pimpinan mereka, para prajurit di bawah penguasaan Juru Dibya Bargawa langsung merangsek masuk ke dalam barak prajurit pimpinan Demung Walang Kadung langsung bersiap-siap menghadapi tantangan mereka. Tetapi belum sempat bentrokan antara sesama anggota prajurit pemberontak ini terjadi, suara lantang terdengar memekakkan gendang telinga.
"Hentikan perbuatan bodoh kalian!!!! "
Seketika semua orang menoleh ke arah sumber suara dan melihat seorang lelaki bertubuh gempal dengan kumis tebal berjalan mendekat sambil diikuti oleh beberapa orang. Mereka semua tahu bahwa dia adalah Singhakerta, pimpinan tertinggi dari pasukan pemberontak. Di belakang nya beberapa tokoh pemberontak yang terdiri dari beberapa pendekar tersohor juga Dipati Kalang selaku pendukung utama pemberontakan ini.
"Apa kalian sudah gila hah bertarung dengan kawan sendiri?! Dimana otak kalian?!! ", teriak Singhakerta keras.
" Ampuni kami, Gusti Pangeran. Terpaksa ini harus kami lakukan karena Demung Walang Kadung tidak mengijinkan kami yang ingin menangkap orang yang telah menghabisi nyawa Gusti Demung Macan Wilis ", ucap Juru Dibya Bargawa sembari menghormat pada Singhakerta.
" Mereka ingin mengobrak-abrik barak kami, Gusti Pangeran. Mana mungkin kami akan diam saja diperlakukan seperti itu? ", bela Demung Walang Kadung segera.
Seorang laki-laki tua mendekatkan diri pada Singhakerta. Melihat ini, Singhakerta pun segera memiringkan kepalanya ke arah lelaki tua itu.
" Gusti Pangeran, sebaiknya redam dulu perselisihan antara mereka. Jika ini berlanjut, akan menjadi malapetaka bagi orang-orang kita ", bisik lelaki tua itu segera. Singhakerta langsung manggut-manggut mengerti.
" Masalah ini cukup sampai disini. Aku akan mengutus orang untuk menyelidiki tewasnya Demung Macan Wilis. Sekarang bubar, jangan ribut ribut lagi ", titah Singhakerta.
Meskipun tidak puas dengan omongan Singhakerta, rombongan pasukan pemberontak pengikut setia Demung Macan Wilis memilih untuk patuh. Dengan hati dongkol, mereka meninggalkan barak prajurit Demung Walang Kadung. Ketegangan antara kedua belah pihak berakhir dengan perginya mereka.
Dari pucuk pohon yang tinggi, Mahesa Sura yang menyaksikan langsung hal ini tersenyum lebar. Jelas terlihat bahwa bibit-bibit perpecahan antara pasukan pemberontak sudah berhasil ia tanam.
Keesokan harinya, Mahesa Sura berhasil membunuh Juru Tikus Jinandha dari pihak Demung Walang Kadung. Usai menghabisi nyawa orang ini, Mahesa Sura berlari ke arah barak prajurit Juru Dibya Bargawa. Walhasil, pasukan Demung Walang Kadung pun menyerbu ke barak prajurit yang dicurigai sebagai tempat pelarian dari sang pembunuh.
Ketegangan antara kedua belah pihak yang sempat mereda kembali memanas. Walaupun Singhakerta datang tepat waktu dan langsung menghentikan pertikaian antara kedua belah pihak, tetapi bara api dendam antara mereka jelas tidak berakhir dengan semua itu.
Permasalahan ini membuat Singhakerta pusing tujuh keliling. Orang yang dia utus untuk menyelidiki masalah ini belum juga menemukan akar permasalahan yang dihadapi.
"Ki Rangga, sebenarnya apa yang sedang terjadi pada pasukan kita? Kenapa aku merasa bahwa masalah yang menimpa kita tidak sesederhana yang terlihat? ", ucap Singhakerta sembari mengusap janggut nya. Pikiran nya benar-benar kacau karena harus menyatukan perbedaan pendapat antara kelompok yang bertikai dan laporan mata-mata yang mengatakan bahwa pasukan Lodaya sedang menyiapkan sebuah cara untuk menyerang mereka.
Lelaki tua berjanggut putih dengan pakaian terbuat dari kulit harimau yang di sebut sebagai Ki Rangga itu langsung menghormat pada Singhakerta. Dia adalah penasehat Singhakerta yang berhasil membuat pasukan pemberontak Singhakerta mampu menekan kekuatan prajurit Lodaya. Sebagai bekas penasehat Maharaja Majapahit, ia memang pintar dalam mengatur rencana.
"Hamba juga belum menemukan hubungan antara kekacauan dalam pasukan kita dengan persiapan pasukan Lodaya, namun tidak menutup kemungkinan bahwa dua hal ini berhubungan. Hanya... ", Ki Rangga tak meneruskan omongan nya saat dua orang prajurit masuk ke dalam tempat itu.
"Mohon ampun Gusti Pangeran. Demung Walang Kadung memimpin orang-orang nya menyerbu barak prajurit dari kelompok Juru Dibya Bargawa setelah salah satu bekel nya di bunuh. Saat ini mereka sedang bertarung", lapor sang prajurit segera. Belum Singhakerta menanggapi laporan ini, salah seorang dari dua prajurit yang masuk juga melapor.
"Kereta perbekalan kita juga dibakar orang, Gusti Pangeran. Hanya sedikit yang bisa diselamatkan. Perkiraan, hanya cukup untuk makan prajurit kita selama 3 hari kedepan".
APAAAAAAA..??!!!
" Bagaimana bisa muncul masalah seperti ini dalam waktu yang bersamaan?! ", Singhakerta benar-benar kaget mendengar dua laporan ini.
Tetapi gelombang masalah Singhakerta belum berakhir sampai disini. Sesosok bayangan berkelebat masuk ke dalam tenda itu. Singhakerta mengenali nya sebagai Winduhaji, salah seorang pendekar pendukungnya yang bergelar sebagai Si Bayangan Setan.
"Bayangan Setan, apa yang mau kau laporkan? ", tanya Singhakerta segera.
" Saya melihat pasukan Lodaya sedang bergerak kemari, Gusti Pangeran. Dalam waktu sepenanak nasi, mereka akan sampai disini", jawab Winduhaji Si Bayangan Setan cepat. Mendengar kabar tersebut, Singhakerta langsung gemetaran sambil berteriak lantang,
"BANGSAAAAAAAATTTTTT..!!!!! "
Mugi urang sadaya dipaparin kasalametan dunya sareng akherat, kabarokahan rizki sareng yuswana.
Aamiin. Yaa Robbal Aalamiin.. 🤲🏽🙏🌹💐
SMG upnya jgn di tunda trs