Nesya, seorang gadis sederhana, bekerja paruh waktu di sebuah restoran mewah, untuk memenuhi kebutuhannya sebagai mahasiswa di Korea.
Hari itu, suasana restoran terasa lebih sibuk dari biasanya. Sebuah reservasi khusus telah dipesan oleh Jae Hyun, seorang pengusaha muda terkenal yang rencananya akan melamar kekasihnya, Hye Jin, dengan cara yang romantis. Ia memesan cake istimewa di mana sebuah cincin berlian akan diselipkan di dalamnya. Saat Nesya membantu chef mempersiapkan cake tersebut, rasa penasaran menyelimutinya. Cincin berlian yang indah diletakkan di atas meja sebelum dimasukkan ke dalam cake. “Indah sekali,” gumamnya. Tanpa berpikir panjang, ia mencoba cincin itu di jarinya, hanya untuk melihat bagaimana rasanya memakai perhiasan mewah seperti itu. Namun, malapetaka terjadi. Cincin itu ternyata terlalu pas dan tak bisa dilepas dari jarinya. Nesya panik. Ia mencoba berbagai cara namun.tidak juga lepas.
Hingga akhirnya Nesya harus mengganti rugi cincin berlian tersebut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amelia's Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai merasa Kehilangan
Kabar rencana kepulangan Nesya ke Indonesia dengan cepat sampai di telinga Hye Jin. Wanita itu tersenyum puas, merasa akhirnya rintangannya dalam merebut kembali hati Jae Hyun akan segera menghilang.
Di sebuah restoran mewah di pusat kota Seoul, Hye Jin duduk di hadapan Jae Hyun yang tampak diam dan kehilangan fokus. Meski mereka sedang makan malam bersama, pikirannya jelas melayang ke tempat lain.
"Oppa," panggil Hye Jin dengan suara lembut, mencoba menarik perhatian pria itu. "Aku dengar Nesya akan pulang ke Indonesia. Bagus, kan? Akhirnya kita tidak perlu lagi berpura-pura atau terhalang oleh keberadaannya."
Jae Hyun yang semula termenung, mengangkat pandangannya perlahan. Wajahnya tetap datar, tanpa menunjukkan antusiasme yang diharapkan Hye Jin.
"Kau tampak terlalu senang," gumamnya dingin, meletakkan sumpit di atas mangkuknya.
Hye Jin tertawa pelan, mencoba bersikap manja seperti yang biasa ia lakukan. "Tentu saja, Oppa. Bukankah ini yang kita inginkan? Aku sudah menunggumu kembali begitu lama. Sekarang tidak ada lagi alasan untuk menjauhiku, kan?"
Namun, alih-alih menyetujui ucapan Hye Jin, Jae Hyun malah membuang napas berat. Pikirannya kembali melayang ke bayangan Nesya—gadis yang selama ini ia anggap sebagai beban, tetapi kini kepergiannya terasa mengusik hatinya. Ia teringat bagaimana wajah pucat Nesya setelah operasi, bagaimana tekadnya yang keras meskipun sedang terluka.
"Kalau dia pergi, semua berakhir," bisik Jae Hyun pada dirinya sendiri. Seharusnya itu hal baik. Ia bisa kembali menjalani hubungan dengan Hye Jin tanpa ada gangguan. Tapi, mengapa perasaan lega itu tak juga datang?
Melihat Jae Hyun yang tak menunjukkan kegembiraan, Hye Jin mulai merasa terganggu. Ia menyandarkan tubuhnya lebih dekat, mencoba menarik perhatian pria itu. "Oppa, aku benar-benar merindukan kita seperti dulu. Setelah Nesya pergi, aku ingin kita memulai kembali hubungan kita dengan serius," ucapnya penuh keyakinan.
Namun, Jae Hyun tidak segera menjawab. Ia malah mengalihkan pandangannya ke jendela besar di samping mereka, memandangi lampu-lampu kota Seoul yang berkilauan. Di sudut hatinya, ada kegelisahan yang tidak bisa ia abaikan.
"Apa yang sebenarnya aku inginkan?" tanyanya dalam hati.
Hye Jin, yang merasa Jae Hyun semakin jauh dalam lamunannya, mencoba mengambil kendali. Ia meraih tangan pria itu di atas meja, menggenggamnya erat. "Aku yakin, setelah semua ini selesai, kita bisa bersama seperti dulu," katanya penuh keyakinan.
Namun, di balik genggaman itu, hati Jae Hyun masih terasa kosong. Meskipun logikanya berkata Nesya hanyalah kesalahan sementara, batinnya terusik membayangkan penthouse tanpa kehadiran gadis berhijab itu.
000—apakah benar Nesya hanyalah penghalang? Atau justru, dia mulai menjadi bagian yang sulit ia lepaskan?
Nesya melangkah masuk ke penthouse Jae Hyun dengan perasaan campur aduk. Setelah mendapatkan izin dokter untuk pulang dari rumah sakit, ia memutuskan kembali ke penthouse hanya untuk berkemas dan berpamitan. Keputusan untuk pulang ke Indonesia sudah bulat di hatinya. Tidak ada alasan lagi untuk bertahan di Korea, apalagi di sisi pria yang bahkan tidak pernah menganggapnya lebih dari sekadar beban.
Di dalam kamar, Nesya mulai mengemasi barang-barangnya. Tidak banyak yang ia bawa saat pertama kali datang, dan kini ia hanya perlu memasukkan beberapa pakaian dan barang pribadi ke dalam koper kecil. Namun, di tengah kesibukannya, hatinya terasa berat. Selama beberapa bulan tinggal di penthouse ini, meskipun banyak rasa sakit dan perlakuan dingin dari Jae Hyun, ada kenangan yang tanpa disadari meninggalkan jejak di hatinya.
Saat ia hendak menutup koper, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Sosok Jae Hyun berdiri di ambang pintu dengan ekspresi sulit dibaca. Pandangannya langsung tertuju pada koper yang sudah tertutup rapat.
"Kau benar-benar akan pergi?" tanyanya dingin, meskipun di balik nada suaranya terselip kegelisahan yang ia coba sembunyikan.
Nesya menoleh perlahan, menatap Jae Hyun dengan sorot mata tenang. "Ya. Aku sudah cukup merepotkanmu, jadi aku pikir ini waktu yang tepat untuk kembali ke Indonesia. Lagipula, kuliahku sudah hampir selesai."
Jae Hyun melangkah masuk, mendekati Nesya. Tangannya menyelip di saku celananya, mencoba mempertahankan sikap acuh yang selama ini ia tunjukkan. Namun, ada sesuatu di dadanya yang terasa kosong mendengar keputusan Nesya.
"Kau bahkan tidak berpikir untuk membicarakannya denganku dulu?" tanyanya, nada suaranya sedikit lebih tajam dari yang ia maksudkan.
Nesya tersenyum tipis, tapi tatapannya tetap tegas. "Mengapa aku harus membicarakannya? Kita hanya menikah karena kontrak, bukan? Tidak ada yang perlu diikat di antara kita. Kontrak itu akan berakhir begitu aku pergi."
Kata-kata Nesya terasa menusuk di hati Jae Hyun. Ia tahu sejak awal pernikahan ini hanya sandiwara, tetapi mengapa saat Nesya benar-benar ingin pergi, rasanya sulit baginya untuk melepaskan?
"Jadi, kau tidak akan menyesal?" Suaranya lebih lembut, nyaris seperti bisikan.
Nesya tertawa kecil, meskipun di balik tawanya ada luka yang ia sembunyikan. "Menyesal? Untuk apa? Bukankah kau juga menunggu hari di mana aku pergi? Dengan aku di sini, hubunganmu dengan Hye Jin hanya menjadi rumit."
Jae Hyun terdiam. Kata-kata Nesya benar, tetapi mengapa mendengarnya dari mulut gadis itu terasa menyakitkan? Ia mengingat kembali bagaimana Nesya selalu bertahan meskipun ia memperlakukannya dengan dingin. Bagaimana gadis itu menjalani hidupnya dengan keteguhan hati dan kemandirian yang jarang ia temui pada wanita lain.
Melihat Jae Hyun tak menjawab, Nesya menarik napas dalam. "Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih atas segalanya. Maaf telah merepotkanmu selama ini. Aku janji setelah aku pulang, aku tidak akan mengganggumu lagi."
Nesya meraih koper kecilnya dan mulai melangkah menuju pintu. Namun, sebelum ia benar-benar keluar, tangan Jae Hyun tiba-tiba terulur, menahan pergelangan tangannya. Sentuhan itu hangat, berbeda dari sikap dingin yang selalu ia tunjukkan.
"Tunggu," ucap Jae Hyun pelan, tatapannya kali ini lebih lembut dan bingung. "Apakah kau benar-benar tidak ingin bertahan sedikit lebih lama?"
Nesya menoleh, hatinya berdebar tak menentu mendengar kata-kata Jae Hyun. Tapi ia menekan perasaannya dalam-dalam. "Untuk apa? Tidak ada lagi alasan bagiku untuk tinggal di sini."
Jae Hyun menggigit bibirnya, mencoba menyusun kata-kata. Ia ingin mengatakan sesuatu, ingin meminta Nesya untuk tidak pergi, tetapi egonya menghalangi. Pada akhirnya, ia hanya bisa melepaskan genggamannya dengan berat hati.
Nesya mengambil langkah terakhirnya keluar dari kamar, meninggalkan Jae Hyun yang berdiri terpaku di tempatnya. Dan untuk pertama kalinya, Jae Hyun merasa kehilangan sesuatu yang berharga—sesuatu yang mungkin tidak akan ia dapatkan kembali.
Nesya melangkah cepat menuju lobi penthouse dengan koper kecil di tangannya. Hatinya terasa lega karena akhirnya ia bisa meninggalkan semua kekacauan ini. Mitha dan Dirga sudah menunggunya di dekat pintu keluar, keduanya tersenyum menyambutnya.
"Sudah siap, Nes?" tanya Mitha sambil meraih koper Nesya.
Nesya mengangguk pelan. "Iya, aku ingin segera pergi dari sini."
Dirga yang berdiri di sebelah Mitha menatap Nesya dengan lembut. "Aku sudah memesan taksi untuk kita ke bandara. Kalau ada yang kau butuhkan, beritahu aku."
Tanpa mereka sadari, dari lantai atas, Jae Hyun memperhatikan mereka dengan rahang mengatup keras. Pandangannya tertuju pada cara Dirga berbicara pada Nesya—terlalu perhatian, terlalu nyaman. Ada rasa tak suka yang menguasainya, meskipun ia sendiri tidak mengerti mengapa ia merasa seperti itu.
"Jadi, alasan dia pergi itu karena Dirga?" gumam Jae Hyun pelan.
Pikiran itu terus mengganggunya. Dalam benaknya, ia mulai mengaitkan semua hal—perhatian Dirga di rumah sakit, buket bunga dengan pesan manis untuk Nesya, dan kini mereka pergi bersama. Semuanya terasa masuk akal bagi Jae Hyun.
"Aku ini bodoh… sementara aku memikirkan Hye Jin, dia sudah punya seseorang yang lebih baik," pikirnya pahit.
Namun, di balik rasa cemburu yang membakar dadanya, ada sesuatu yang lain—rasa kehilangan yang perlahan menjadi nyata.
Di lobi, Nesya menoleh sekali lagi ke arah penthouse mewah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya. Ada banyak luka dan rasa sakit di sana, tetapi ia juga menyimpan kenangan yang tak bisa dihapus begitu saja.
"Ayo pergi," ucapnya pelan, mencoba mengusir bayangan Jae Hyun dari pikirannya.
Saat mereka melangkah keluar, Jae Hyun masih berdiri di balik jendela kaca besar. Tinjunya mengepal, ada pertempuran batin yang tak bisa ia kendalikan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa tidak berdaya.
"Jika dia benar-benar menyukai Dirga… mengapa aku merasa sesakit ini?" tanyanya pada dirinya sendiri, namun ia tahu jawaban itu tidak akan datang dengan mudah.
"Jae Hyun, kita takkan bisa bersatu, dinding kita terlalu tinggi, takkan mungkin dapat ditembus," batin Nesya sambil menatap ke arah jendela kaca mobil.
ceritanya bikin deg-degan
semagat terus yaa kak