Yuri meremas gaunnya yang cantik melihat mantan suaminya terlihat bahagia di atas pelaminan. Padahal 1 minggu yang lalu putusan cerai di sahkan oleh pengadilan. Yang menjadi istri baru mantan suami adalah Arimbi sahabat baiknya yang dengan tega merebut kebahagiannya disaat Yuri berjuang untuk mendapatkan sang buat hati.
Air matanya berusaha ditahan agar tidak tumpah membasahi dan merusak riasan wajahnya yang sudah sempurna. Disaat Yuri berusaha tetap tegar sebuah tangan menggenggam tangannya dan memberikan sebuah kekuatan baru.
"Apa kamu ingin membalaskan dendam mu kepada mereka?" ucap Gio
"Apa aku bisa??" jawab Yuri ragu -ragu
Gio yang merupakan atasannya ditempat kerjanya yg baru tak sengaja bertemu di pesta resepsi David dan Arimbi. Hubungan keduanya pun sebatas karyawan dan atasan.
"Menikahlah denganku dan lahirkanlah anak untukku"
"Itu tidak mungkin, aku mandul!!" Ucapnya tegas.
"Percayalah padaku. Kamu bisa menggunakan seluruh kekayaan yang aku miliki untuk membalaskan dendammu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Situasi Tak Terduga
Tak tahu harus membawa Yuri kemana akhirnya Gio menuju restauran favoritnya. Tak mungkin juga bio membawa Huri kerumahnya yang masih dalam keadaan kacau, bisa- bisa seluruh asisten rumah tangga di rumahnya akan terkejut. Sesampainya di restauran Gio memesan private room, sengaja karena tak ingin terganggu oleh pengunjung yang lain. Selain itu juga Gio tak ingin sampai bertemu dengan rekan bisnisnya saat bersama Yuri. Hingga saat ini Gio sengaja tak berkata apapun atau bertanya tentang kejadian tadi karena dia masih bisa melihat sorot kecemasan dan ketakutan dimata Yuri.
Hingga kini Yuri masih gemetaran bahkan beberapa kali tersentak kaget saat Gio tak sengaja menyenggol tubuhnya. Tak biasanya Gio peduli terhadap wanita, tetapi justru tak tega saat kedua mata Yuri begitu berkata-kaca Ada kemungkinan Yuri mengalami trauma akibat perbuatan buruk pria yang mengaku sebagai suaminya.
"Makanlah, saya memesannya bukan untuk dilihat saja," ucap Gio memecah kesunyian diantara mereka.
Sudah hampir sepuluh menit sejak hidangan yang dipesan Gio tersaji di atas meja. Tetapi tak sedikitpun niat Yuri untuk menyentuh apalagi memakannya, dia sibuk memainkan jari jemarinya, pikirannya kosong entah berada dimana.
Lama- lama situasi horor seperti ini membuat Gio kesal. Dia benci didiamkan dan dicuekin, seperti keberadaannya sama sekali tidak dianggap. Tetapi melihat wajah sedih Yuri membuat rasa kesalnya seketika hilang dan berubah menjadi rasa iba. Pada akhirnya, Gio hanya menghela napasnya dengan dalam.
"Cepat makan dan habiskan ! Ini perintah dan saya tidak menerima bantahan," seru Gio dengan nada suara yang sedikit meninggi.
Seperti terhipnotis oleh perkataan Gio, Yuri segera mengambil piring hidangan miliknya dan segera memakannya dengan lahap. Sedangkan Gio hanya memakan sedikit miliknya karena terlalu sibuk melihat ekspresi Yuri saat sedang makan. Wanita itu seolah melupakan kejadian buruk yang menimpanya dan fokus menghabiskan makanan yang Gio pesankan untuknya.
"Ini, minumlah."
Gio menyodorkan segelas jus jeruk kepada Yuri.
Yuri hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan dan tak berani menatap langsung wajah atasannya itu. Rasa malu dan segan melanda dirinya, apalagi atasannya itu memergoki sekaligus menolong dirinya yang nyaris dilecehkan oleh calon mantan suaminya. Yuri benar -benar tak bisa mengatakan apapun untuk saat ini.
Tangan Yuri gemetaran saat mengambil segelas jus dari tangan Gio lalu dia meminumnya hingga gelas tersebut kosong. Yuri tak bisa terus begini, setidaknya mengucapkan terimakasih kepada Gio yang sudah menyelamatkannya namun entah kenapa lidahnya seolah kelu untuk sekedar mengucapkan kata tersebut.
"Te--terima kasih sudah menolong saya. Mohon maaf sudah melibatkan anda dalam situasi yang tidak menyenangkan ini Boss," ucap Yuri begitu lirih, kepalanya tertunduk ke bawah.
"Hhhmmmmm."
Hanya deheman yang keluar dari mulut Gio, sedangkan tangannya sibuk mengaduk kopi esspresonya yang sudah dingin sejak beberapa menit yang lalu.
Glek
Situasi ini sangat dingin, membuat tubuh Yuri menegang seolah dirinya menjadi seorang tersangka. Sungguh Yuri sangat berat rasanya untuk mengangkat kepalanya, matanya belum sanggup melihat wajah Gio untuk saat ini.
"Di-dia saat ini memang masih status suami saya secara hukum tetapi kami telah bercerai secara agama karena dia telah mengucap ikrar talak kepada saya. Saat ini masih dalam proses perceraian namun dia mempersulit proses perceraian, seharusnya awal bulan kemarin merupakan sidang terakhir putusan cerai, tetapi pria brengsek itu terus saja meminta peninjauan ulang dan mediasi. Dan tadi dia memaksa untuk--"
"Cukup tak perlu dijelaskan!!"
Gio memotong perkataan Yuri membuat wanita itu merasa lebih malu dan sedikit kecewa. Terlalu lama berada di dalam private room Gio merasa bosan, dia memilih untuk keluar dari ruangan tersebut. Sementara Yuri, ditinggalkan seorang diri tanpa tahu harus melakukan apa setelah ini. Dia terlalu takut untuk pulang ke kontrakannya khawatir jika David nekat mencari tahu keberadaan dirinya. Sedangkan meminta pelindungan kepada Gio, Yuri merasa tidak pantas. Siapakah Gio itu, dia hanyalah berstatus orang luar dan hanya memiliki hubungan pekerjaan saja, apalagi Gio adalah atasannya di kantor.
Saat Yuri tengah terdiam sambil meneteskan air mata, tiba-tiba sebuah tangan mengapit dagunya dan mengangkat kepalanya. Hampir Yuri menepis tangan tersebut namun dia segera menyadari jika pemilik tangan tersebut tidak asing baginya. Aroma parfum yang sangat dikenali oleh Yuri membuatnya tersadar jika saat ini yang berada di dekatnya adalah Gio.
Jemari kokoh tersebut mengusap dan menghapus jejak air mata yang membasahi pipi wanita dihadapannya saat ini. Sebenarnya Gio sudah memutuskan untuk pulang dan sengaja meninggalkan Yuri seorang diri untuk memberikan waktu baginya. Namun tiba-tiba saja dia berubah pikiran karena khawatir akan terjadi sesuatu kepada Yuri. Entah mengapa tiba-tiba dalam pikirannya Gio membayangkan jika Yuri akan melakukan aksi yang tidak terduga.
"Jangan nangis. Jelek!!" ejeknya begitu jujur, sama sekali tidak ada niat untuk menghibur Yuri.
Mendengar perkataan Gio, Yuri mengerucutkan bibirnya. Entah mengapa, perasan sedih berganti menjadi kesal dalam hitungan detik. Dalam bayangannya, Yuri berimajinasi jika Gio akan berkata-kata manis untuk dirinya yang sedang dilema.
"Ayo pulang," ajaknya sambil menggenggam tangan Yuri, menariknya seperti seorang anak kecil.
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
Seorang wanita cantik berbaju seksi berjalan memasuki perusahaan Y&G, wajahnya menampakkan keangkuhan kepada setiap orang yang dilewatinya. Bahkan saat bertemu dengan resepsionis, sama sekali tak membalas senyumannya. Tak ada satu karyawan pun yang bisa menghentikannya wanita tersebut untuk masuk ke dalam perusahaan. Kedatangannya kali ini sengaja untuk menemui calon suaminya yang sudah 2 bulan lamanya tidak pernah bertemu. Kesibukannya sebagai seorang model sekaligus brand ambassador produk luar negeri membuatnya tak memiliki waktu luang.
"Maaf Nona, Boss Gio sedangkan tidak ingin diganggu. Sebaiknya Nona menemui Boss Gio di luar jam kantor. Saya khawatir, Nona akan--"
"Kamu tahu kan sapa saya?" sahutnya dengan angkuh.
"Maaf Nona tapi ini adalah lingkungan dan Nona harus mematuhi peraturan yang ada." Kali ini Ziyan tidak boleh membiarkan wanita itu masuk dan membuat kekacauan.
"Kamu itu hanya kacung, sedangkan saya adalah calon istri pemilik perusahaan ini. Setelah saya menikah dengan Gio saya pastikan posisi kamu akan digantikan oleh orang yang lebih kompeten," cecar wanita tersebut tanpa sedikitpun melihat keberadaan Ziyan.
"Berhenti Nona anda tidak diperbolehkan masuk."
Ziyan berusaha mencegah wanita tersebut masuk ke dalam ruang kerja Gio. Tetapi wanita tersebut rupanya tak mau kalah dan mendorong Ziyan hingga tersungkur.
Ceklek
Akhirnya wanita tersebut berhasil masuk ke dalam ruang kerja Gio, pemandangan yang dia lihat selanjutnya adalah wajah tampan calon suaminya yang sudah sangat dia rindukan. Dia berjalan sambil berlenggak- lenggok berusaha mencari perhatian Gio yang tengah duduk di kursi kebesarannya.
Gio yang sedang fokus memeriksa beberapa laporan dari distributor dan supplier tidak menyadari beradaan wanita tersebut.
"Sayang," ucap wanita tersebut dengan nada suara yang manja, tangannya memeluk tubuh Gio dari arah belakang.
Bbrruugghhh
"Aaawwwww sakit Gio, apa yang kamu lakukan?" ucap wanita tersebut mengusap bokongnya yang mencium lantai akibat didorong oleh Gio.
"CANTIKA, APA YANG KAMU LAKUKAN DISINI!!!" teriak Gio setengah emosi.
Beberapa bulan hidupnya merasa tenang tanpa gangguan dan kehadiran wanita yang sama sekali tidak dia harapkan.
"Aku cape-cape langsung datang begitu landing di Jakarta tetapi kamu malah memperlakukan aku dengan buruk, Gio. Kamu keterlaluan!!!" rengek Cantika sambil memasang wajah memelas, berharap Gio akan membantunya untuk berdiri.
"Maaf Boss Gio, Nona Cantika memaksa masuk. Padahal saya sudah memberitahunya jika anda sedang tidak bisa diganggu. Maafkan atas keteledoran saya, Boss," seru Ziyan dengan keringat dingin di dahinya, sudah pasrah jika Gio akan memberikan hukuman.
"Biarkan saja ini jadi urusan saya. Nanti saya akan panggilan security untuk mengusir wanita sundal ini keluar. Sekarang kamu ambil laporan order income untuk bulan lalu di bagian keuangan, saya membutuhkannya," jawab Gio santai.
Ziyan hanya memberikan kode berupa anggukan kepala dan segera pergi meninggalkan ruangan kerja Gio. Merasa kehadirannya sama sekali tidak dianggap, Cantika menghentak-hentakkan kakinya karena kesal. Gio kembali duduk di kursi miliknya dan melanjutkan pekerjaannya, seolah hanya ada dirinya di ruangan kerja tersebut.
Meskipun selalu mendapat penolakan dari Gio, Cantika tak pantang menyerah. Dia selangkah lebih maju dari pada wanita diluaran sana untuk mendekati Gio yang merupakan keturunan keluarga Ghandika. Cantika merupakan wanita pilihan Nyonya Belinda untuk menjadi calon istri Gio, dan karena itulah karir Cantika sebagai model pemula kala itu langsung melambung menjadi model profesional dengan bayaran cukup tinggi.
Cantika tak kehabisan akal, dia tidak mungkin berhenti begitu saja saat kesempatannya menjadi nyonya Ghandika selanjutnya sudah di depan mata. Berbagai cara Cantika lalukan untuk merebut perhatian Gio termasuk memakai pakaian seksi tetapi sayangnya belum ada berhasil.
Setelah merapikan penampilan, Cantika kembali mendekati Gio. Kalo ini dengan lancang Cantika duduk di atas meja kerja Gio sambil memperlihatkan bagian kulit pahanya yang putih dan mulus. Gio hanya melirik sejenak, kemudian kembali fokus memeriksa dokumen. Gio bukan pria mesum, meskipun dihadapannya saat ini tak memakai sehelai benang pun dia tidak akan tergoda.
Cantika semakin kesal, tapi dia tak menyerah. Cantika kembali berdiri dan mencoba untuk menyentuh tubuh Gio yang bidang. Tak lupa dia menurunkan seleting bagian depan sehingga gunung kembarnya semakin menonjol keluar.
"Apa kamu tidak tahu dimana pintu keluar?" Gio mulai tak tahan dengan kelakuan wanita ulat bulu tersebut.
"Sayang, apa kamu tidak kangen?" ucap Cantika dengan desah nakal.
"PERGI!!" terimakasih Gio sambil menunjuk ke arah pintu keluar.
Tapi sayangnya, wanita tersebut menantang Gio dan melipat kedua tangannya. Gio yang sudah kehabisan kesabaran menarik tangan Cantika dengan kasar. Karena posisi berdiri Cantika yang tidak siap, tubuhnya kehilangan keseimbangan ketika tangannya ditarik kasar oleh Gio. Hingga peristiwa yang terjadi begitu saja di mana mereka berdua terjatuh di lantai di mana tubuh Gio menindih tubuh Cantika.
Saat posisi mereka masih seperti itu, tiba-tiba orang tak terduga masuk ke dalam ruangan kerja Gio. Dan mau tidak mau, dia melihat apa yang terjadi di dalam sana.
"Maaf, saya tidak melihatnya. Saya akan kembali setelah jam makan siang."