NovelToon NovelToon
Istriku Diambil Papa

Istriku Diambil Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Konflik etika
Popularitas:520
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.

Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Yang Samar

Lantai kayu vila tua itu berderit pelan di bawah langkah kaki Agil yang sangat hati-hati. Aroma kayu pinus dan udara pegunungan yang lembap menyambutnya, namun bagi Agil, atmosfer di sini terasa menyesakkan. Ia berdiri di lobi utama, menatap sekeliling. Ruangan itu tampak sangat bersih, terlalu bersih untuk sebuah bangunan yang jarang dikunjungi menurut pengakuan ayahnya.

​Agil menggenggam erat kunci cadangan di tangannya. Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul dadanya dengan irama yang tak beraturan. Ia merasa seperti pencuri di rumah ayahnya sendiri. Namun, rasa penasaran dan kecurigaan yang telah tumbuh menjadi benih hitam di benaknya jauh lebih kuat daripada rasa bersalahnya.

​"Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini," gumamnya pelan.

​Langkah kakinya membawanya menuju ruang tengah. Matanya menyapu setiap sudut. Ia melihat sebuah asbak kristal di atas meja kopi. Di dalamnya, terdapat sisa abu cerutu yang masih segar, belum sempat dibersihkan sepenuhnya. Agil mendekat dan menyentuh abu itu. Dingin, tapi bentuknya masih utuh. Cerutu merek Cohiba—merek favorit Baskoro.

​"Papa memang di sini baru-baru ini," bisik Agil. Ia lalu menatap ke arah sofa kulit besar yang menghadap ke perapian. Pikirannya melayang pada Laila. Apakah istrinya duduk di sana? Apakah mereka hanya bicara soal utang keluarga, atau ada sesuatu yang lebih gelap yang disembunyikan di balik dinding-dinding kayu ini?

​Agil kemudian menuju ke arah dapur. Ia membuka tempat sampah kecil di pojok ruangan. Di dalamnya, ia menemukan sesuatu yang membuat perutnya mulas: struk pembayaran dari sebuah restoran kelas atas di area Puncak untuk dua orang, tertanggal hari di mana Agil sedang berada di Surabaya. Namun yang lebih menyakitkan adalah adanya sebuah botol obat penenang yang sudah kosong tergeletak di sana.

​"Obat penenang? Untuk apa Laila butuh ini?" Agil mengerutkan kening. Ia tahu Laila tidak pernah memiliki riwayat gangguan tidur atau kecemasan yang parah sebelumnya.

​Ia teringat betapa pucatnya wajah Laila saat ia pulang. Betapa dinginnya sikap Laila saat disentuh. Kecurigaannya semakin mengental, namun ia masih belum memiliki bukti fisik yang konkret. Semuanya masih berupa serpihan asumsi.

​Agil kemudian memutuskan untuk naik ke lantai dua, menuju kamar utama yang dulu sering digunakan Baskoro dan Rina saat berlibur. Ia berharap menemukan sesuatu di sana—mungkin pakaian Laila yang tertinggal, atau tanda-tanda lain.

​Namun, saat ia baru saja menginjak anak tangga pertama, sebuah suara berat menginterupsi kesunyian.

​"Mencari barang antik, Agil? Atau sedang merindukan masa kecilmu?"

​Agil tersentak hebat hingga hampir terjatuh. Ia berbalik dan melihat sosok pria paruh baya dengan pakaian safari berwarna krem berdiri di ambang pintu belakang. Itu adalah Pak Ujang, penjaga vila yang seharusnya sedang tidur di pos depan.

​"Pak... Pak Ujang? Saya kira Bapak di depan," Agil mencoba mengatur napasnya, berusaha tampak tenang meski wajahnya pucat pasi.

​Pak Ujang berjalan mendekat, matanya yang tua menatap Agil dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa hormat, tapi juga ada ketakutan yang tersirat. "Tuan Besar bilang mungkin Pak Agil akan mampir untuk mengambil beberapa dokumen yang tertinggal. Tapi beliau tidak bilang Pak Agil akan datang lewat pintu samping tanpa memberi tahu saya."

​Agil menelan ludah. "Iya, Pak. Tadi saya pikir Bapak sedang istirahat, jadi saya tidak mau mengganggu. Papa menyuruh saya mengambil berkas kepemilikan tanah di area sini. Di mana ya biasanya Papa menyimpannya?"

​Agil mencoba berbohong, berharap Pak Ujang akan menunjukkan ruang kerja rahasia atau brankas.

​Pak Ujang menggeleng pelan. "Semua dokumen penting sudah dibawa Tuan Besar ke Jakarta dua hari yang lalu, Pak. Setelah... setelah kunjungan terakhir beliau bersama Nyonya Muda Laila."

​Mendengar nama Laila disebut, telinga Agil berdenging. "Oya? Berapa lama mereka di sini waktu itu, Pak Ujang? Papa bilang hanya mampir makan siang."

​Pak Ujang tampak ragu. Ia menoleh ke arah tangga, lalu kembali menatap Agil. Ia mendekat dan merendahkan suaranya. "Hampir seharian, Pak. Nyonya Muda tampak sangat tidak sehat waktu pulang. Beliau bahkan tidak sanggup jalan sendiri ke mobil, harus dipapah oleh Tuan Besar."

​Dunia Agil seolah runtuh mendengarnya. Dipapah? Mengapa Laila sampai tidak sanggup berjalan? Apa yang telah dilakukan ayahnya di dalam rumah ini?

​"Pak Ujang," Agil mencengkeram bahu pria tua itu. "Apa Bapak melihat sesuatu? Apa ada pertengkaran? Atau kecelakaan?"

​Pak Ujang melepaskan cengkeraman Agil dengan halus. Wajahnya kini penuh ketakutan. "Saya tidak tahu apa-apa, Pak Agil. Saya hanya penjaga luar. Tuan Besar melarang saya masuk ke dalam saat beliau ada di sini. Saya hanya... saya hanya mendengar suara tangis dari lantai atas. Tapi saya tidak berani ikut campur."

​Tangis. Suara tangis dari lantai atas.

​Agil melepaskan Pak Ujang. Ia menatap ke arah lantai dua dengan tatapan kosong. Ia ingin sekali berlari ke atas, mendobrak pintu kamar, dan mencari bukti apa pun. Namun, ia tahu Pak Ujang tidak akan membiarkannya sekarang. Dan yang lebih penting, Agil sadar bahwa ia sedang diawasi.

​Tiba-tiba, ponsel Agil bergetar di sakunya. Sebuah panggilan dari Baskoro.

​Agil ragu sejenak sebelum mengangkatnya. "Halo, Pa?"

​"Agil, di mana kau? Sekretaris Pak Broto bilang, kau tidak ada di kantor sejak pagi. Padahal ada berkas visa London yang harus segera kau tanda tangani di kantor pusat," suara Baskoro terdengar sangat tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang mungkin saja sedang dicurigai anaknya.

​"Aku... aku sedang di jalan, Pa. Tadi ada urusan keluarga sebentar," jawab Agil, mencoba menjaga suaranya agar tidak bergetar.

​"Urusan keluarga? Baguslah. Segera ke kantor. Dan Agil... jangan terlalu banyak membuang waktu di tempat-tempat yang tidak produktif. Kau punya masa depan besar yang menantimu di London," Baskoro menutup telepon, tanpa menunggu jawaban.

​Agil menurunkan ponselnya. Ia menatap Pak Ujang yang masih berdiri di sana. "Pak Ujang, jangan bilang Papa saya ke sini."

​Pak Ujang tidak menjawab. Ia hanya menunduk, namun Agil tahu bahwa di rumah ini, semua orang bekerja untuk Baskoro. Kesetiaan mereka telah dibeli, persis seperti masa depan Agil yang sedang dibarter dengan kehormatan istrinya.

​Agil keluar dari vila itu dengan tangan hampa. Tidak ada rekaman, tidak ada surat cinta yang tertinggal, hanya abu cerutu (rokok) dan botol obat penenang kosong. Namun, pengakuan Pak Ujang tentang Laila yang dipapah dan suara tangis itu sudah cukup untuk membakar habis sisa-sisa rasa hormatnya pada Baskoro.

​Ia kembali ke mobilnya, namun ia tidak langsung menyalakan mesin. Ia memukul kemudi dengan keras, berteriak dalam keheningan mobil yang pengap.

​"Kenapa, Laila? Kenapa kamu tidak bicara padaku?!"

​Agil menyadari bahwa ia tidak bisa menghadapi ayahnya secara frontal sekarang. Ia tidak punya bukti yang cukup kuat, untuk menghancurkan posisi Baskoro di perusahaan maupun di mata hukum. Jika ia menyerang sekarang, ia justru akan kehilangan segalanya, termasuk akses untuk melindungi Laila.

​Ia harus bermain cantik. Ia harus mengikuti permainan Baskoro. Jika ayahnya ingin dia ke London, maka ia akan pergi. Namun bukan untuk belajar bisnis, melainkan mencari cara menghancurkan reputasi ayahnya dari jarak jauh, tanpa terdeteksi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!