Ameer Alfatih adalah seorang ustaz muda yang menolak dijodohkan dengan Hana Karimah. Sepupunya yang cantik dan penghafal Qur'an.
Satu-satunya alasan Ameer menolak wanita yang hampir sempurna itu adalah Meizia, seorang wanita yang terkesan misterius tetapi berhasil merebut hati Ameer di pertemuan mereka.
Namun, sebuah kenyataan pahit harus Ameer terima ketika ia tahu Meizia adalah seorang wanita malam bahkan putri dari seorang mucikari.
Maukah Ameer memperjuangkan cintanya dan membawa Meizia keluar dari lembah dosa itu?
Dan maukah Meizia menerima pria yang merupakan seorang Ustaz sementara dirinya penuh dosa?
Lalu bagaimana dengan nasib Hana?
"Aku terlahir dari dosa, membawa dosa, sebagai dosa bagi ibuku dan hidupku pun penuh dosa. Kau terlalu suci untukku." Meizia
"Tak ada manusia yang luput dari dosa, tetapi juga tak ada manusia yang lahir membawa dosa meski ia terlahir dari dosa." Ameer Alfatih
"Ikhlas dengan takdir Tuhan adalah kunci ketenangan hidup." Hana Karimah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 - Jawaban Hati Ameer
Mami Lala memilihkan gaun yang sangat cantik dan seksi untuk Meizia, dia ingin putrinya itu tampil sempurna untuk kliennya. Apalagi ini akan menjadi klien terakhirnya.
"Mei?" panggil Mami Lala sembari membuka pintu kamar Meizia. Namun, yang terdengar hanya suara air shower.
"Mei, cepetan mandinya, ya! Mama bawa gaun bagus neh buat kamu," seru Mami Lala sambil tersenyum sumringah. "Ini akan menjadi klien terakhir kamu jadi kamu harus tampil cantik, tidak boleh mengecewakan supaya tidak ada lagi yang komplain sama Mama." Lanjutnya.
Namun, tak ada sahutan atau tanggapan sedikitpun dari dalam kamar mandi.
Mami Lala yang mengira Meizia masih mandi, akhirnya memilih pergi dan kali ini dia tidak mengunci pintunya. Sebab, ia berpikir sepertinya Meizia tidak akan melarikan diri lagi seperti dulu.
Beberapa menit setelah Mami Lala meninggalkan kamar, Jenny masuk ke kamar Meizia dan memanggil temannya itu.
"Mei, masih lama?" tanya Jenny. Namun, tak ada tanggapan membuat Jenny merasa khawatir. Apalagi Meizia pernah beberapa kali mencoba bunuh diri. Ia pun mendekati pintu kamar mandi dan menempelkan telinganya di daun pintu.
"Mei, kamu dengar aku?" Ia bertanya dengan suara lantang. Namun, masih tak ada tanggapan dari dalam.
"Meizia!" teriak Jenny lagi.
Karena masih tak ada tanggapan, ia pun mencoba membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak dikunci.
Jenny terbalalak melihat lantai kamar mandi yang sudah penuh dengan air yang bercampur dengan darah. Sementara Meizia duduk bersandar ke dinding dan wanita itu sudah tak sadarkan diri.
Jenny langsung menjerit histeris hingga beberapa orang datang ke kamar Meizia.
"Ada apa, Jen?" tanya salah satu temannya.
"Panggil ambulance!" teriak Jenny panik sambil mematikan shower.
Bersamaan dengan itu, Mami Lala yang mendengar keributan dari kamar Meizia langsung berlari masuk ke sana dan betapa terkejutnya dia melihat Meizia yang sudah sekarat karena percobaan bunuh diri.
"Meizia!" teriaknya panik.
"Cepat panggil ambulance!"
...🦋...
Di sisi lain, Kakek menemui orang tua Ameer untuk memberikan masukan dan pengertian pada mereka agar mau memberikan kesempatan pada Ameer juga Meizia.
"Tidak ada salahnya kita menerima orang seperti Meizia, Nak, lagi pula kita tidak bisa melihat seseorang sebagai pendosa sementara kita sendiri tak bisa menjamin bahwa kita suci," kata sang Kakek.
"Aku bukannya menganggap diriku suci, Bi," kata Abi Zaid. "Tapi sebagai orang tua, kami hanya ingin pendamping yang terbaik untuk Ameer. Itu saja, apakah kami salah?"
"Tentu saja tidak," jawab Kakek. "Oleh karena itu, berilah kesempatan sekali saja pada Meizia. Aku yakin, dia tidak seperti yang kita lihat seperti ini."
"Ibunya sendiri yang mengatakan mereka itu ... pelacur," sambung Ummi Nayla lirih.
"Lalu bagaimana jika dia bertaubat dan Allah menerima taubatnya? Kemudian Allah menjadikannya ahli surga, apa kalian bisa menebak apakah itu akan terjadi atau tidak?" tanya Kakek yang langsung membuat kedua orang tua Ameer itu terdiam.
"Ada begitu banyak pendosa yang mendapatkan julukan ahli dosa dari manusia, tapi ketika dia bertaubat, Allah langsung mengangkat derajatnya hingga penduduk langit mengenalnya sebagai Hamba yang dicintai oleh Allah. Meskipun penduduk bumi mencelanya, karena sesungguhnya kita tidak tahu apapun tentang masa depan seseorang."
"Tapi tidak harus dinikahi oleh Ameer, kan?" tanya Abi Zaid. "Jika dia memang mau bertaubat, kami pun akan menerimanya sebagai saudara. Kami akan membantunya memperbaiki hidup, Bi."
"Ameer mencintai dia dengan tulus, Zaid. Apa kamu tidak bisa mengerti perasaan cinta anakmu?"
"Aku yakin dia juga bisa mencintai Hana jika dia mau menikahi Hana," ujar Abi Zaid yang masih bersikukuh enggan merestui cinta Ameer.
Kakek hanya bisa menghela napas berat, ia tak bisa memaksa orang tua Ameer untuk mengerti. Kini, ia hanya bisa pasrah pada yang menentukan takdir.
Sementara itu, Ameer singgah ke restaurant Riana untuk bertemu Hana. Ustaz muda itu disambut hangat oleh Riana.
"Cari Hana?" tanya Riana dan Ameer hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. "Okay, Mbak panggil dulu."
Riana pergi untuk memanggil Hana dan tak berselangama yang dicari Ameer pun datang.
"Sudah menemukan jawaban hatimu, Ameer?" tanya Hana sembari menarik kursi dan duduk di depan Ameer.
"InsyaAllah, aku sudah menemukan jawabannya," kata Ameer. "Setelah aku berdo'a dan berkonsultasi dengan kakek, aku sudah menemukan apa yang diinginkan hatiku."
"Oh ya? Jadi apa jawabannya?" tanya Hana dengan tenang meskipun sebenarnya hati wanita itu bergemuruh. Ia berharap Ameer memilihnya, tetapi ia juga takut harapan itu akan musnah.
"Aku akan menikahi Meizia, insyaallah."