CEO GILA, begitu julukannya. Karena usianya yang 27 tahun dan belum menikah tapi super duper galak garang, suka memaki sembarang dengan kata-kata toxic nyelekit.
Namanya Andre Wiguna Dharma, seorang CEO Perusahaan Keramik Asia Tile.
Kehidupan yang menurutnya penuh kepalsuan jauh dari cinta tulus, membuatnya tidak percaya pada cinta. Ditambah lagi dia pernah mencinta seorang gadis di usia 17 tahun, tapi ternyata kandas sebelum kapal berlayar. Membuatnya hanya menganggap cinta seperti permainan.
Hingga suatu ketika, ia bertemu kembali dengan cinta pertamanya yang ternyata telah menikah. Dan ternyata suami Naysila adalah seorang office boy di perusahaan besarnya.
Akankah permainan cintanya berhasil kali ini?
Atau... Andre harus gigit jari karena Naysila lebih memilih Rendra sebagai cinta sejatinya?
Ataukah Tuhan akan memberinya jalan agar Naysila menjadi Takdirnya di masa depan?
Mari kita ikuti kisah Sang CEO GILA : Mencintai Istri
🙏🙏🙏Mohon dukungannya, please🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMY DOANK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 (Andre Jatuh Cinta)
Andre kembali ke rumah Naysila, selepas jam pelajaran sekolah usai dipukul dua siang.
Ia tidak membawa motir gedenya dan hari itu sengaja berangkat sekolah dengan ojek online.
Senang hatinya melihat gadis yang seharian kemarin ia pantau kini telah kembali pulang.
Naysila sedang bersama beberapa orang di rumah kontrakannya.
Mungkin saudara-saudaranya! Gumam hati kecil Andre.
Ia mengucapkan salam dan berdiri di depan pintu rumah yang terbuka lebar.
"Alaikumsalam. Andre? Kamu..., Andre Wiguna Dharma, khan?"
Naysila menjawab salamnya. Dan sontak hati Andre bersorak. Senang hatinya, Naysila masih mengingatnya.
"Syukurlah, kamu mengenalku!" katanya sembari membuka sepatu Nike-nya dan masuk meskipun belum Naysila suruh.
Andre duduk bersila di hadapan Nay dengan senyum tipis tapi tetap menawan.
Para tetangga wanita Naysila satu persatu pamit setelah mengucapkan ucapan belasungkawanya. Kini hanya Andre dan Naysila saja.
"Kamu..., darimana tahu rumahku? Dan ada apa datang kemari?"
"Aku..., kemarin mengikutimu dari jalanan. Dan ternyata, aku melihat kedukaanmu. Aku turut mengucapkan belasungkawa atas wafatnya Ayahmu! Aku juga ikut sedih, kondisi kita sama. Kamu, baru saja kehilangan Ayah. Aku juga, sudah sedari bayi kehilangan Ibu. Aku tahu rasanya sangat menyakitkan!"
"Terima kasih, Andre!"
Naysila menunduk. Bibirnya bergetar pelan. Gadis itu mulai ingat kembali pada nasib dirinya yang menyedihkan. Seketika air matanya kembali tumpah ruah.
Andre sedikit panik. Ia mencari-cari minuman untuk menenangkan perasaan Naysila yang makin meluap.
Ia memberikan segelas air mineral. Mencoba menghibur Naysila lewat sentuhan jemari lembutnya di bahu. Dan sepertinya, tersalurkan. Nay perlahan berkurang kesedihannya, hingga berhenti juga tangisannya.
"Maaf...! Maaf, aku terbawa perasaan. Oiya! Terima kasih, tak disangka kita kembali bertemu dalam situasi yang berbeda. Hhh... Beginilah kehidupanku! Hehehe..., sangat berbeda dengan sewaktu kita menjadi lawan tanding cerdas cermat, ya?"
"Kamu gadis yang sangat hebat. Kamu cerdas, kamu juga kuat. Aku salut sama kamu! Semangat ya, jangan terlalu larut dalam kesedihan! Ayahmu pasti menginginkanmu menjadi gadis tangguh dan mampu melalui semua masalah ini dengan ketegaran."
Naysila mengangguk. Ia menyeka airmatanya.
Tatapannya lurus kedepan. Namun terlihat kosong dan seperti orang yang putus asa.
"Andre, mungkin ini akan jadi pertemuan kita yang terakhir!"
"Kenapa?"
"Aku akan pindah ke kampung halaman Ayah! Kemungkinan melanjutkan sekolah juga di sana. Jadi aku pulang hanya untuk mengambil sisa-sisa barang saja. Setelah itu, aku akan kembali ke kampung!"
"Kenapa tidak lanjutkan sekolah disini?Tanggung, Nay! Satu tahun lagi, kamu lulus SMA. Dan bisa mencari pekerjaan setelah tamat sekolah. Kalau di kampung, kamu mau kerja apa? Tidak banyak lowongan pekerjaan di daerah pedesaan, bukan?"
"Setidaknya aku masih bisa mengatasi biaya hidupku, Ndre! Bibiku punya warung nasi di pasar. Jadi aku bisa membantunya meringankan pekerjaan, untuk membayar biaya sekolahku. Aku juga malu tinggal di kontrakan ini lebih lama. Kontrakan kami sudah empat bulan menunggak. Ditambah Ayahku juga punya hutang pada beberapa orang tetangga di sini! Hhh..."
Andre hanya bisa menatap sedih wajah Naysila.
Gadis cantik itu ternyata memiliki beban yang sangat berat. Bahkan kehidupannya yang susah, dan juga kelakuan sang Ayah... pasti sangat sulit menanggung beban seberat itu diusia muda.
"Nay, bisakah kamu bertahan sehari saja? Aku akan berusaha membantumu. Aku akan mencoba meringankan bebanmu. Tunggu aku sampai besok siang, pulang sekolah. Ya?"
Andre mencoba bernegosiasi meminta Naysila untuk mempertimbangkan keputusannya pindah ke desa.
Ia ingat, ia punya cukup tabungan juga. Pasti bisa digunakan untuk membayar kontrakan serta hutang piutang yang almarhum Ayah Naysila punya.
"Kamu mau apa? Dan aku harus apa? Kamu mau membayarkan semua hutang-hutang kami?" tanya Naysila.
"Berapa hutangnya?"
"Banyak, Andre! Sangat banyak, hingga aku sendiri tak sanggup untuk memikirkannya lagi!"
"Iya, berapa?"
"Hampir tujuh puluh juta totalnya!"
Naysila kembali menangis. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang basah oleh keringat.
Ratapannya terdengar pilu ditelinga Andre.
"Tenanglah! Tenangkan dirimu! Aku akan coba menyelesaikan semuanya! Tunggu besok siang, akan aku bereskan!"
"Hik hik hiks..."
Naysila tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Didepan Andre ia menangis tanpa sungkan lagi. Meratap, menyesali nasibnya yang sangat miris. Membuatnya begitu membenci dirinya yang tak mampu melakukan apa-apa selain menangis.
"Kamu sudah makan?'
Naysila tak menjawab. Hanya pandangan Andre yang bisa menilainya sendiri. Memperhatikan perut Nay yang rata bahkan sangat tipis dan kurus karena memang sudah dua hari ini ia tak makan secara benar.
Andre pergi keluar. Memakai sepatu dan berlalu tanpa kata pamit pada Naysila.
Tujuannya adalah rumah makan sederhana yang letaknya tak jauh dari gang rumah Naysila.
Andre memesan dua bungkus nasi rames. Ia juga meminta teh hangat untuk minumannya.
Uang jajannya masih tersisa banyak. Tapi ia fikir, akan ia berikan nanti pada Naysila sebagai pegangan sampai besok siang.
"Nay! Makan dulu!"
"A-Andre?!?! Kenapa kamu baik sekali?"
"Jangan terlalu difikirkan! Yuk kita makan sama-sama!"
Naysila hanya bisa menatap Andre dengan tatapan berkaca-kaca. Ia merasa seperti melihat seorang malaikat yang baik budi, membelikannya makanan.
Selama ini ia merasa tak ada seorangpun yang peduli. Apalagi kejamnya ibukota dan kerasnya persaingan usaha, tak mampu melunakkan hati para penghuninya yang dingin tak berperasaan.
"Terima kasih!"
Waktu bergulir terasa cepat. Hingga Andre dan Naysila tak menyadari, hari telah berganti senja.
"Pulanglah! Pasti orangtuamu cemas menunggu kepulanganmu, Ndre!"
Andre tersenyum tipis. Ada sinis di ******* nafasnya yang ia hembuskan.
"Bolehkah aku menemanimu sejam lagi? Kita bisa keluar sebentar ke pasar malam yang ada di ujung perapatan sana?"
"Ke pasar malam?"
"Ayo!"
Andre menarik tangan Naysila.
Mereka pergi ke tempat yang Andre sebut dengan menaiki angkutan kota Kopaja.
Tekad Andre membuat Naysila tersenyum dan melupakan kesedihannya sesaat saja. Setidaknya untuk mengangkat beban derita gadis itu dengan cara yang sederhana.
"Nay, Nay...! Naik itu yuk!?!"
"Aa, naik kincir? Takuut!!!"
"Tenaaang! Khan ada aku! Ayo!"
Mereka menaiki salah satu wahana yang cukup ramai antriannya, setelah agak lama berdesak-desakan membeli tiket seharga lima belas ribu selembarnya.
"Waaah!!! Takuuut!!!" pekik Naysila ketika kincir mulai digerakan mesin dieselnya oleh si penjaganya.
"Pegangan aku saja!"
"Hahaha...! Waaah, ini pertama kali aku naik wahana ini lho!"
"Yang bener? Masa' sih?" tanya Andre tak percaya. Sesekali ia meringis merasakan sakit ujung kuku Nay yang menancap di lengan atasnya karena ketakutan.
"Iya! Aku ga pernah mau naik, karena takut! Hahaha... ternyata cukup menyenangkan walau mendebarkan!"
"Iya khan? Eh, Nay... ayo kita teriak biar beban yang ada di hati kita terlampiaskan! Ayo!!! Haaa...!!!"
"Haaa...!!!"
"Haaa..."
"Haaa!!! Ha ha hahaha...! Beneran menyenangkan!"
Andre benar-benar terpana oleh tawa Naysila yang begitu indah. Gadis cantik yang sederhana itu membuatnya terpukau.
Naysila seperti yang dibayangkannya selama ini.
Gadis itulah, yang selama ini ia cari dan ingin ia dapatkan. Gadis cantik sederhana yang bisa membuatnya terpana. Seolah dunia ini berhenti pada porosnya. Dan perhatian penuh hanya berpusat pada tawa renyah Naysila yang begitu indah.
Tiba-tiba air mata Andre jatuh. Dan ia menangis sesegukan dengan tangan merangkul tubuh Naysila.
"Andre, kenapa? Kenapa Ndre? Hei, hei! Kenapa???"
Naysila yang tadi terlihat takut, jystru kini berbalik seolah hendak melindungi Andre.
Naysila kini merengkuh Andre dalam dekapannya. Pria muda itu menang banyak.
Tuhan! Aku jatuh cinta! Aku jatuh cinta! Aku jatuh cintaaa!!! Dan aku ingin bersama gadis ini selamanya!
Andre memeluk erat tubuh Naysila. Keduanya kini diam dengan debaran hati yang semakin tak menentu itu.
Dan wahana kincir berhenti juga permainannya.
Andre yang malu-malu keluar lebih dahulu, setelah dengan cepat kedua tangannya menghapus air mata. Kini ia menyambut jemari Naysila yang mungil.
"Ayo, kita naik yang lain juga!" ajaknya membuat Naysila lagi-lagi tertawa. Kini Nay menggelengkan kepalanya seraya menepuk jidatnya.
"Awas kalo nangis lagi! Jujur aku takut tadi kamu nekat lompat dari kincir karena shock pas kita turun ke bawah! Hahaha..."
"Hahaha..."
Andre ikut tertawa. Menertawai kelakuannya yang konyol dengan menangis tiba-tiba. Padahal hatinya saat itu entah merasakan sesuatu yang membuatnya tersungkur menangis dalam pelukan Naysila.
Ia ingin dicinta dan disayang dengan perasaan yang tulus, suci murni.
Naysila! Tetap dekap aku dalam pelukanmu. Beri aku cintamu yang banyak. Aku, aku benar-benar jatuh cinta padamu! Bukan lagi cinta pada pandangan pertama saja!
...BERSAMBUNG...