follow ig author: @bungadaisy206
Ana tidak jelek. Dia adalah gadis yang sangat cantik. Tapi kenapa Ana tak kunjung menikah? Kata orang, Ana digantung waris oleh mantan pacarnya. Sebagai penangkal mitos itu, Ana harus rela dijodohkan dengan anak dari sahabat ayahnya. Ana yang tidak punya pilihan, dia pun menerima pernikahan itu. Pernikahan yang diatur oleh keluarganya dan keluarga calon suaminya.
Yuks ikuti kisah cinta dan kehidupan rumah tangga 2A (Ana dan Arnold) dalam novel Istri Baru Tuan Arnold karya Syehalea.
IG : @bungadaisy206
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syehalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menginap
"Ana ini kartu ATM pin-nya 753311, dan ini juga kartu kreditku simpanlah. Jika ingin membeli sesuatu pakai saja sesukamu," kata Arnold menyodorkan dua kartu di tangannya.
Ana terdiam sejenak kemudian menyingkirkan tangan Arnold menolaknya.
"Tidak perlu. Bukankah semua kebutuhanku sudah kamu penuhi, aku tidak merasa kekurangan apapun," jawabnya dengan lembut.
Arnold menatapnya, mengamati wajah Ana penuh ekspresi lalu menggodanya.
"Jika kebutuhanmu sudah terpenuhi lalu bagaimana dengan kebutuhanku?"
Ana berkerut tidak mengerti maksud dari pertanyaan suaminya itu.
"Maksudmu?" Ana kebingungan mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali.
"Bukankah kamu sudah kaya raya, punya rumah supermewah, perusahaan, uang banyak. Lalu apa lagi yang kurang?" lanjutnya kemudian, masih dengan raut bingung.
Arnold mengulum senyum. "Aku mau anak, bukankah aku belum menerima hak seorang suami. Jadi kebutuhan batinku belum terpenuhi," ucapnya dengan murung.
"Umm," Ana manggut-manggut tidak tau harus berkata apa.
"Sayang, kira-kira kapan kebutuhanku akan terpenuhi? kapan boleh menghamilimu?" Arnold penuh semangat.
"Dua Minggu lagi." jawab Ana dengan asal.
"Begitu lama. Apakah harus menunggu sampai beruban, baru boleh menyentuhmu?" Arnold menggerutu.
Ana tidak berdaya, entah apa yang ada dalam pikirannya, tiba-tiba wajahnya merona merah. Sebenarnya Ana sudah menyerahkan dirinya untuk Arnold tetapi Ana bingung harus darimana memulainya. Otaknya berfikir keras untuk mengucapkan sesuatu.
"Haruskah kubilang jika aku mau di tiduri olehmu. Ach ... tidak-tidak, itu memalukan." batin Ana.
Ana menggelengkan kepala, kembali fokus pada Arnold di depannya. Ana gugup ketika membahas soal malam pertama.
"A-aku belum siap," jawabnya gugup dengan jantungnya yang berdetak cepat.
"Sayang, jangan terlalu lama, tidakah kamu berfikir usiamu sudah bertambah tua, apa tidak takut kamu tidak bisa melayaniku dengan baik. Jika sudah tidak mampu melayaniku. Apa tidak khawatir aku menikah lagi?" kata Arnold terkekeh menggoda Ana.
"Jika kamu menikah lagi, bukan hanya kamu yang aku racun tapi juga istri mudamu," jawab Ana sewot memukul-mukul dada suaminya. Arnold hanya tertawa menerima pukulan Ana yang tidak sakit.
Seketika Ana menghentikan pukulannya, Ana bahagia melihat Arnold tertawa riang seperti itu.
"Oh, ya. Ayo kita belanja bukankah kita akan mengunjungi ayah dan ibumu! sejak menikah, aku jarang sekali mengunjungi ibu mertuaku," kata Ana dengan raut sendu.
"Baiklah, ayo kita ke Mall sekalian mengajakmu jalan-jalan," ajak Arnold sambil membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Ana masuk.
"Kamu tidak pernah mengajaku kemanapun, sungguh keterlaluan!" sahutnya kesal.
Arnold tersenyum kemudian memeluk istrinya itu dengan erat dari arah samping.
"Iya, maaf sayang. Bukankah kamu bertemu denganku setiap hari. Apakah perlu bertemu orang lain lagi?" ucap Arnold sembari menancap gas dan melesat pergi ke arah Mall. Sekitar 30 menit mereka pun sampai di sebuah Mall elit di kota itu. Mata Ana takjub menyisir ke segala arah. Mereka berbelanja membeli begitu banyak barang. Ana memilih-milih dengan teliti.
"Ibumu suka barang apa? tas, sepatu atau baju apa?" tanya Ana dengan sibuk memilih-milih.
Arnold diam tidak menjawab pertanyaan Ana, ia hanya dengan geli menatap istrinya yang super heboh.
"Hei, kenapa diam? dari tadi aku menanyaimu kenapa tidak menjawab," protes Ana mengulang ucapannya.
Arnold sedikit membungkuk mendekatkan bibirnya ke samping telinga Ana berbisik pelan. "Ayah dan ibuku sudah memiliki barang-barang itu, mereka hanya ingin cucu."
bisik Arnold.
Ana tercekat, repleks menolehkan kepalanya. Jarak yang terlalu dekat membuat kedua bibir bersentuhan. Ana terdiam kaku, tidak tau harus menarik bibirnya atau membiarkannya.
Ana menarik kembali bibirnya yang menempel di bibir Arnold, dengan segera berpaling, menggigit bibirnya sendiri dengan malu.
"Kenapa tidak di lanjutkan? ah, sayang sekali." keluh Arnold.
Ana memukulnya. "Hei, kamu ini sungguh tidak tau malu, lihatlah banyak orang di sini, otakmu itu benar-benar harus di sekolahkan," tandasnya sembari berlalu pergi.
Jam 5 sore. Akhirnya, selesai juga mereka berbelanja. Ana berkeliling Mall hingga kakinya pegal dan pinggangnya sakit seperti akan patah. Ana mengusap pinggangnya yang di ikuti rabaan tangan Arnold.
"Apa sangat sakit? coba aku periksa," kata Arnold dengan khawatir.
"Tidak apa. Hanya sedikit lelah, ayo kita berangkat nanti kemalaman jika terlalu lama di sini," ucap Ana meyakinkan.
"Baiklah, sayang."
Arnold mengendarai mobilnya menuju ke kediaman orang tuanya di Graha Familly, komplek premium di kawasan elit.
****
Mereka tiba di kawasan hunian yang berkonsep modern dengan sentuhan natural. Arnold memarkirkan mobilnya di depan rumah dua lantai berwarna gold. Ada banyak pepohonan hijau, rerumputan dan bunga-bunga di pekarangan rumah berwarna biru muda dan kuning cerah. Membuat nuansa natural mendominasi setiap sudut rumah yang berpadu dengan kusen full kayu jati yang klasik dan indah.
Arnold menuntun istrinya masuk ke dalam rumah. Tuan Rajata dan nyonya Rajata sangat senang menyambut kedatangan mereka.
"Hei, anak menantu tersayang kenapa begitu lama. Mama dan Papa merindukan kalian," kata Mama Nindy seraya memeluk Arnold kemudian Ana.
"Kami juga merindukan kalian. Maaf membuat papa dan mama cemas," kata Ana.
"Tidak pa-pa, sayang. Mama dan Papa senang kalian berkunjung. Dan akan lebih senang jika kalian segera memberi kami cucu," kata Mama Nindy seraya tertawa renyah.
"Benar kata mama kamu, nak. Kapan kalian memberi kami cucu?" pak Rajata menimpalinya.
Setelah makan malam dan mengobrol panjang lebar, tidak terasa hari sudah malam. Arnold dan Ana memutuskan untuk menginap.
"Arnold, ini sudah larut malam sepertinya Ana istrimu itu sudah mengantuk. Cepatlah bawa istrimu ke dalam kamar dan segera buatkan kami cucu," pinta mama Nindy sambil tertawa kecil yang di ikuti oleh suara tawa tuan Rajata.
Arnold dan Ana saling menatap, bahkan Arnold terlihat menggaruk-garuk kepalanya.
Arnold pun menurut, dengan segera membawa masuk Ana ke dalam kamarnya.
"Sayang, dengar tidak ucapan mama dan papah. Ayolah kita buatkan cucu untuk mereka." bujuk Arnold sedikit menggodanya, dengan tangan yang meraba di setiap lekukan tubuh Ana.
"Hei, diamlah! turunkan tanganmu itu, geli Arnold."
"Ach... sebentar saja, sayang."
"Jangan macam-macam, Arnold. Turunkan tanganmu!" perintah Ana berusaha menghindari rabaan tangan suaminya.
"Jangan gerak-gerak terus, sayang." bisik Arnold.
"Kamu yang jangan pegang-pegang," sahut Ana.
"Menurutlah, sayang."
"Arnold, turunkan tanganmu dari atas dadaku!" perintah Ana mulai menggeram.
Dan di sana, di luar pintu. Ibu Nindy sedang menguping putranya. Ia ingin memastikan jika Arnold benar-benar membuatkannya cucu. Mendengar suara berisik itu, ibu Nindy sangat senang. Ia kembali ke kamarnya dengan matanya yang berbinar.
Namun pada kenyataannya, Arnold dan Ana tidak melakukan apa-apa. Arnold hanya menggoda istrinya itu.
"Ingatlah, masih harus menunggu selama 2 Minggu ke depan," kata Ana mengingatkan perjanjian mereka.
"Y-y," Arnold terkekeh.
Mereka pun tidur dengan hanya berpelukan, menautkan ke dua kaki bertumpuk. Mereka jatuh ke dalam dunia mimpi yang indah, yang hanya ada Ana dengan Arnold, tanpa Agus dan Natasha di dalamnya.
****
Hai readers sayang.
Berikan cintamu pada Author dengan memberikan like coment dan votenya biar aku
@syehalea lebih semangat lagi up-nya.
❤️❤️❤️❤️