Ruby harus menghabiskan hari-harinya di atas kursi roda, setelah di vonis lumpuh pasca kecelakaan yang di alaminya dua tahun lalu
Ruby juga harus rela kehilangan kedua orang tuanya dan calon buah hatinya, yang selama ini dinantikan bersama sang suami Alex Graham.
Hati Ruby semakin hancur saat dia mengetahui perselingkuhan Alex bersama sahabatnya rebecca, yang sudah Ruby anggap saudara sendiri.
Kenyataan pahit pun harus dia telan saat Ruby mengetahui bahwa sang suami hanya mengincar harta warisan Ruby semata.
Akankah Ruby mampu membalas semua rasa sakit hatinya?
hai...salam kenal, ini adalah karya pertama saya, mohon maaf kalau masih banyak typo
☺️☺️☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uma_bhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17 Boy Raymond Cole
Bab 17
Mobil mewah itu kini memasuki hutan yang jaraknya cukup jauh dari jalan raya. Setelah Bibi Lili memohon sambil berlutut di hadapan sang pria arogan, dengan rasa kemanusiaan yang minim yang dimiliki, akhirnya sang pria arogan dan sombong itu mau membantu Bibi Lili.
Kini, mobil mewah itu berhenti tiga langkah dari tempat Ruby bersandar. Ruby masih tak sadarkan diri. Dengan tak sabar Bibi Lili membuka pintu mobil membuat sang pemilik mendesis.
"Shiittt," umpatnya saat Bibi Lili menutup pintu mobil dengan suara keras membuat pemilik mobil geram.
Asisten Bram mengikuti Bibi Lili turun. Mereka mendekati Ruby yang keadaannya sangat memprihatikan. Bram yang sudah mendekat ke arah Ruby tiba-tiba tertegun saat melihat wanita yang akan ditolongnya.
"Gadis milik bos," batinnya.
Asisten Bram menoleh ke arah tuan muda arogannya dan memanggil.
"Tuan, Tuan Muda," panggilnya.
Tuannya tidak menggubris. Dia fokus pada ponsel.
"Tuan, apakah Anda tidak mau melihat gadis yang akan kita tolong?" tanya asisten Bram sambil mendekat ke sang tuan muda.
"Apa kau pikir aku dokter?!" bentaknya. "Cepatlah urus dia, Bram! Aku sudah lelah!" perintahnya.
"Tapi, Tuan, dia gadis yang Anda …." Ucapan Bram terpotong saat melihat tatapan tajam tuan mudanya.
Asisten Bram pun memutar badan dan kembali mendekati Bibi Lili dan Ruby.
"Cepatlah tolong nyonya saya, Tuan! Aku takut Nyonya Ruby kenapa-kenapa, Tuan," ujar Bibi Lili khawatir.
"Tenanglah, Bi, aku pasti menolongnya," ujar asisten Bram.
"Terima kasih, Tuan."
Bibi Lili kemudian membantu mendudukkan tubuh Ruby dan merapikan rambut yang menutupi wajah pucat Ruby. Asisten Bram membungkukkan badan, dia memandangi wajah Ruby yang pucat sesaat. Asisten Bram pun mengangkat tubuh mungil Ruby. Dia bangkit, melangkah ke arah mobil bersama Bibi Lili.
Langkah sang asisten berhenti saat mendengar suara dingin nan menakutkan menyapanya. Dia menoleh ke arah suara. Di sana sang bos berdiri dengan tatapan mematikan, menghunus mata sang asisten.
Bram hanya bisa menelan ludahnya kasar. Seketika dia menegang saat sang bos mendekat ke arahnya.
"Lepaskan gadisku!" perintahnya dingin.
Asisten Bram yang ketakutan spontan melepaskan tangannya dari tubuh Ruby yang sedang dia gendong. Hampir saja Ruby terhempas ke tanah, untung tangan kekar sang pria arogan menangkapnya.
"Bram!" bentaknya.
"Maaf, Tuan."
"Mine, bangun, My Mine!" Alex memeluk Ruby dengan erat sambil menepuk pelan pipi chubby nan mulus Ruby.
"Maaf, Tuan, namanya Ruby bukan Mine," ujar Bibi Lili.
Bibi Lili bingung terhadap sikap pria ini. Tadi dia sangat arogan dan dingin, seketika menghangat seperti sudah lama kenal dengan Ruby. Namun, nama panggilan yang disebutkan sama sekali bukan nama sang nyonya.
Bibi Lili menatap Bram seolah meminta penjelasan keanehan sikap pria itu. Hanya senyum kikuk yang melengkung di bibir Bram.
Sang tuan muda menggendong Ruby ke mobil. Dengan sigap sang asisten Bram membantunya. Di dalam mobil, pria itu memeluk Ruby.
Bibi Lili kembali merasa bingung dengan sikap tuan muda tersebut yang memperlakukan nyonyanya begitu posesif.
"Apakah dia mengenal Nyonya Ruby?" batin Bibi sembari menoleh ke belakang, berusaha menelisik.
Sedangkan tuan muda arogan itu tak peduli. Yang dia pikirkan sekarang adalah cepat-cepat membawa gadisnya ke rumah sakit. Dia merasa sakit saat melihat kondisi Ruby yang sangat ini mengenaskan. Dia memeluk tubuh mungil itu dengan erat dan mengecup kening Ruby dengan sayang.
"Apa yang terjadi padamu, My Mine?" bisiknya di telinga Ruby. "Cepatlah, Bram!" perintahnya kepada sang asisten.
"Baik, Tuan."
"Apakah kau sudah menghubungi Dokter Erik?" tanya sang tuan muda.
"Sudah, Tuan, mereka sekarang sudah menunggu kita di rumah sakit."
~
Mereka telah tiba di rumah sakit terkenal di negara K. Ruby dibawa ke ruang IGD untuk diperiksa. Pria itu mengikuti mereka dari belakang. Dia berniat untuk ikut masuk ke ruang IGD, tapi dihalangi oleh sang dokter.
"Anda tidak boleh masuk, Tuan!" ujar sang dokter.
"Memangnya siapa kau? Berani-beraninya memerintahku!" ucapnya dingin.
"Ini sudah peraturan rumah sakit, Tuan!" kata sang dokter, sabar.
"Heh! Asal kau tahu, akulah pemilik rumah sakit ini!" katanya penuh emosi saat keinginannya tak dipenuhi.
"Tolong, Tuan, biarkan mereka memeriksa Nyonya Ruby. Aku takut terjadi hal buruk padanya." Bibi Lili memohon kepada pria itu.
Lelaki itu mendengus. "Awas, kalau terjadi sesuatu padanya maka karirmu akan kubuat hancur! Apa kau mengerti?!" ancamnya kepada dokter yang akan menangani Ruby.
"Ba-baik, Tuan," jawab sang dokter terbata.
Kini pria itu bersandar di dinding dekat pintu ruang IGD sembari memejamkan mata.
"Duduklah, Tuan, Nyonya Ruby pasti baik-baik saja. Dia adalah gadis yang kuat. Ehm ... siapa nama Anda, Tuan?" tanya Bibi Lili.
Alih-alih menjawab, pria itu balik bertanya. "Apa yang terjadi padanya?"
Terdengar Bibi Lili menarik napas panjang, dia menceritakan semua kejadian yang dialami Ruby. Mendengar cerita dari Bibi Lili, sang pria arogan itu mengepalkan telapak tangan sehingga urat-uratnya terlihat. Matanya menajam, rahangnya mengeras saat Bibi bercerita bahwa suami Ruby dengan tega ingin menghabisi nyawa Ruby.
"Aku, tidak akan membiarkan pria brengsek itu menyakiti gadisku lagi!" geramnya sambil menggertakkan gigi. "Mulai sekarang Ruby Pattinson hanya milikku, milik Boy Raymond Cole." batinnya penuh amarah.
***
Boy Raymond Cole, sosok pengusaha sukses di dunia. Salah satu usahanya adalah minyak dan properti. Dia adalah sosok pria dingin yang tak tersentuh, memiliki kekayaan yang tak akan pernah habis dan wajah yang rupawan, menjadikan boy Raymond menjadi incaran para kaum hawa.
Berbagai kalangan mencoba mengodanya. Akan tetapi, sosok Boy yang tak pernah ingin disentuh membuat para pengoda hanya kecewa. Boy Raymond memiliki sifat arogan nan dingin.
Tatapannya tajam menambah kesan cool. Dia juga memiliki wajah tampan bak dewa. Hidungnya mancung, matanya biru dan tajam bagai mata elang. Alisnya tebal, bibirnya seksi mengoda, garis rahangnya tegas ditumbuhi bulu-bulu halus di sekitarnya dan memiliki dagu terbelah.
Boy tak pernah tertarik dengan wanita yang selama ini mendekati atau mengodanya. Dia hanya menatap mereka jijik. Hanya senyum Ruby lah yang mampu membuat jantungnya berdebar tidak karuan.
Boy menilai sosok Ruby sebagai gadis manis yang lembut dan anggun. Wajah Ruby cantik alami tanpa make up tebal menambah pesona Ruby. Boy sudah meng-claim Ruby sebagai wanitanya meski wanita itu sudah menikah dan belum resmi berstatus janda. Boy tak memperdulikan hal itu. Yang terpenting baginya sekarang adalah Ruby menjadi miliknya.
~
Di rumah sakit lain di negara K
"Aku ingin kau menyuntikan ini padanya," perintah seorang Rebecca.
"Apa ini, Nyonya?" tanya suster.
"Lakukan saja perintahku dan jangan banyak tanya!" ucapnya ketus.
Mereka kini bertemu di gudang belakang rumah sakit untuk merencanakan suatu hal jahat kepada Lexi. Rebecca membayar mahal sang suster untuk menghabisi nyawa Lexi.
"Dan ini bayaranmu." Rebecca melemparkan sebuah amplop berwarna coklat dengan isi yang sangat tebal ke arah suster itu.
"Baik, Nyonya, dan terima kasih tipsnya." Suster itu pun tersenyum puas karena dia dibayar mahal. "Apa susahnya tinggal menyuntikkan cairan ini ke infus wanita itu," batin sang suster saat kakinya melangkah pergi meninggalkan Rebecca.
Rebecca tertawa puas karena rencananya berhasil yaitu melenyapkan dua saingannya sekaligus, Ruby dan Lexi. Tak lama lagi dia akan menjadi Nyonya Alex Graham satu-satunya.
Rebecca merasa sangat bahagia. Dia melangkah menyusul sang suster. Dia akan mengawasi suster itu menjalankan tugas yang dia perintahkan.
***