Jihan wanita yang mencintai suami Anita. Tapi, Ia mendekati Anita untuk mencari tahu, apa sebab Angga bisa menyukai dirinya. Lama kelamaan, Jihan dan Anita justru bersahabat, dengan sebuah rahasia yang rumit.
Anita yang tak mengetahui posisi Jihan, begitu senang ketika mendapatkan seorang sahabat baru. Yang bahkan, satu server ketika mengobrolkan mengenai kekasih dan suami mereka.
Bagaimana ketika Anita tahu, ketika pria yang Jihan cintai adalah suaminya? Dan bahkan tanpa sadar, Anita mendukung Jihan untuk mendapatkan lelaki itu untuk menjadi miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Suara telepon berdering. Angga meminta Jihan mematikan tv, dan diam sejenak.
"Ita nelpon." bisiknya.
Jihan mengikuti anjuran Angga, lalu diam dalam pangkuan pria itu. Ia mendengarkan Angga menelpon Istrinya, dengan tangan yang tak henti mengusap wajah Angga yang baginya menggemaskan.
"Ya, Sayang?"
"Kok lama, Mas? Aku ngga bisa tidur."
"Yaudah, sebentar lagi Mas pulang. Tunggu aja di rumah." ucap Angga.
"Iya, aku tunggu di depan tv."
"Iya..."
Angga pun mematikan teleponnya, lalu membangunkan tubuh Jihan dari pangkuannya.
"Disuruh pulang?" tanya Jihan.
"Ya, kamu tahu lah."
Jihan mendengkus kesal. Bahkan beberapa menit lagi pun Angga tak bisa memberikan. Selalu Anita menjadi prioritasnya.
"Besok kita ketemuan lagi. Mas akan datang kesini, kamu tenang aja." bujuk Angga dengan begitu manis.
"Yasudah, gimana lagi?" Jihan pasrah.
Angga memeluknya dengan erat sebagai permintaan maaf, lalu mengecup kening Jihan. Jihan hanya diam menerima semua rasa nyaman, hanya menikmati moment yang hanya dalam hitungan detik itu.
Pov Jihan.
Kamu tahu rasanya, ketika di tinggalkan saat mulai terasa begitu nyaman. Aku sadar posisiku, tapi kenapa harus selalu sakit begini. Dia bisa mengucap kata sayang padanya di hadapanku. Tapi, hanya untuk beretemu denganku saja harus mengendap-endap seperti pencuri.
Kini aku hanya bisa duduk, terdiam memeluk bunga darinya. Dan teryata, Ia membelikan sebuah tas untukku.
"Cantik, tas dari tali Kur yang merupakan khas daerah yang baru Ia datangi." ucapku ketika membuka bingkisan yang bahkan tak sempat Ia ucapkan padaku.
Ia begitu tahu warna kesukaanku, dan model yang aku sukai. Aku dengan begitu bahagia dan antusias menerimanya.
" Besok ku pakai ke cafe, pasti cantik." gumamku seraya mencobanya di depan kaca.
Tak lupa, aku memotretnya dan ku jadikan story di Wa ku.
"Cantik, Je...." Kak Ita mengomentarinya.
"Makasih, Kak. Seseorang membawakan oleh-oleh barusan." jawabku padanya.
"Siapa, pacar? Coba kamu bilang, Kakak mau nitip kalau begitu." ucapnya padaku.
"Mas Angga ngga beliin? Terus Kak Ita di beliin apa?" gumamku, lalu kembali membalas percakapan kami.
"Suami Kakak, jadi pulang?"
"Jadi dong, aku di beliin madu asli daerah sana. Lumayan, buat kesehatan. Siapa tahu bisa membantu proses kehamilan. Kamu mau?" tawarnya padaku.
"Kenapa nawarin aku? Aku loh, belum nikah. Jadi belum terlalu butuh itu." jawabku padanya.
Kak Ita tak membalas lagi dan Suasananya heninng. Sepertinya Mas Angga sudah di sampingnya sekarang. Memeluknya, dan menciumnya dengan penuh kasih sayang, seperti yang selalu aku inginkan.
Bahkan, terlalu berdosa aku ketika membayangkan mereka melepas rindu dengan cara bercumbu mesra berdua.
"Aaakkkh... Begitu sakit hanya membayangkannya. Bodoh!" omelku pada diri sendiri.
Ku ambil laptopku, dan memulih melanjutkan pekerjaan hingga pagi. Itulah satu-satunya cara, agar fikiranku teralihkan.
***
"Assalamualaikum... Ta, Mas pulang." panggil Angga yang tiba di rumahnya.
Anita tak menyaut, dan Angga pun mencarinya keliling rumah. Dan ternyata, sang istri sudah tidur pulas di sofa depan tv.
"Kok tidur disini?" gumam Angga, lalu meletakkan jaketnya.
"Ta, sayang... Bangun yuk, pindah ke kamar."
Anita meregangkan ototnya, lalu mengulurkan kedua tangannya pada Angga.
Pria itu menggelengkan kepala dengan senyum yang mengembang. Ia gemas dengan tingkah manja sang Istri yang begitu Ia fahami selama ini.
Angga pun mengambil ancang-ancang, dan meraih tubuh Anita dalam gendongannya.
"Mas, aku berat?"
"Engga... Masih sama seperti yang dulu." jawab Angga.
Anita kembali mengalungkan tangannya di leher Angga, dan menyenderkan kepalanya selama perjalanan naik ke kamar.
ortu tuh gk perlu ikut campur urusan rmh tangga ank.
bs kacau.
pdhl kn ita tersiksa yo tertekan.
angga kudu tegas wlwpun itu mama nya.
akoh s7 sm sifat angga...👍
mpe kapok ogah pijetan lg...
trs pasrah aj dah..
ank tuh kn rezeki..
eh..hamil ternyta..wlw lama tp hamil jg kok...
stlah sekian purnama akoh lewati...😊
br nemu crita mu lg thor..✌
ttp mndukung semua karyamu thor..
sehat2 yo..💪👍