NovelToon NovelToon
Mengasuh Anak Dari Maduku

Mengasuh Anak Dari Maduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Pengkhianatan
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep. 29- Pelukan hangat

Ep. 29- Pelukan hangat

Suara sirine mobil kepolisian membelah heningnya kompleks perumahan pagi itu, berpadu dengan ketukan gerimis kecil yang menetes di atas dedaunan. Dua orang petugas berseragam coklat melangkah tegas memasuki teras kediaman Kirana, disusul oleh seorang penyidik berpakaian sipil.

Di ruang tengah yang luas, Mbak Yem dan Tuti berdiri gemetar di dekat dinding, sementara Pak Jaka berdiri siaga di samping pintu.

Adapun Kirana, ia duduk anggun di sofa utama. Angin dingin pagi tak mampu melunturkan binar tajam dari balik matanya. Di atas meja kaca di hadapannya, sebuah flashdisk hitam dan layar laptop yang menampilkan satu adegan pemberhentian rekaman CCTV sudah siapkan sebagai bukti.

Sementara Mbak Sri, ia berdiri mematung di tengah ruangan, dikapit oleh dua petugas polisi. Wajahnya yang tadinya tenang kini memucat pasi, jemarinya meremas kain roknya dengan sangat panik.

"Saudari Sri, kami menerima laporan terkait dugaan penganiayaan berat terhadap anak di bawah umur yang terjadi di rumah ini," ujar Petugas Polisi berpakaian sipil seraya mengarahkan pandangan tegas pada Mbak Sri. "Ibu Kirana telah menyerahkan bukti-bukti rekaman video yang sangat jelas."

"N-nggak mungkin, Pak! Saya nggak pernah menganiaya siapa-siapa! Saya cuma menjaga Dek Aura!" jerit Mbak Sri yang mencoba membela diri, suaranya melengking sumbang menahan ketakutan.

Kirana menyunggingkan senyuman dingin, sebuah senyuman tanpa kehangatan yang membuat siapa pun yang melihatnya bergidik. Tanpa bersuara, Kirana menekan tombol play pada laptopnya.

Video di layar memutar adegan berdurasi singkat namun sangat gamblang, video yang memperlihatkan dengan jelas bagaimana Mbak Sri membekap mulut Aura yang menangis, dilanjutkan dengan adegan di mana wanita itu mencubit tubuh kecil Aura bertubi-tubi, hingga detik-detik mengerikan saat tangan Mbak Sri mendorong tubuh Aura di bibir tangga.

"Cukup, Bu Kirana. Bukti video ini sangat kuat dan sah secara hukum," pangkas sang penyidik seraya membalikkan badan menghadap Mbak Sri. "Saudari Sri, Anda kami amankan atas dugaan pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara."

Melihat bukti tak terbantahkan diputar di depan matanya sendiri, benteng kebohongan Mbak Sri runtuh seketika. Raut wajah yang berpura-pura lugu itu berubah total menjadi kepanikan yang liar dan penuh kejengkelan.

Saat salah satu petugas maju untuk memasangkan borgol di kedua pergelangan tangannya, Mbak Sri mendadak menghentakkan tubuhnya. Ia lalu menatap Kirana dengan tatapan benci dan mata yang membelalak lebar.

"Ini semua bukan cuma salah saya, Bu!" teriak Mbak Sri histeris, lalu menyemburkan kemarahannya di hadapan para polisi dan seluruh ART.

Namun Kirana tetap duduk tenang sambil melipat kedua tangannya di atas pangkuan, dan menatap wanita itu tanpa gentar sedikit pun. "Maksud kamu apa?"

Mbak Sri tertawa sinis, suaranya bergetar penuh pembelaan diri yang licik. "Ibu nggak usah sok jadi pahlawan! Saya berani begitu juga karena melihat Ibu sendiri! Ibu sendiri nggak pernah peduli sama Aura!"

DEG.

Kata-kata itu terlempar bagaikan peluru tajam yang menghantam keheningan ruangan. Mbak Yem dan Tuti menahan napasnya karena kaget, sementara para petugas polisi saling pandang sejenak.

"Setiap hari saya perhatikan Ibu!" lanjut Mbak Sri meluapkan racun di kepalanya, seraya menunjuk Kirana dengan jarinya. "Ibu cuma sayang sama Dek Keisya! Aura dibiarkan, diabaikan, dianggap seperti sampah yang cuma menumpang hidup! Ibu bahkan nggak pernah mau menyentuh atau memeluk anak itu! Jadi buat apa saya capek-capek sayang sama anak yang ibunya sendiri saja tidak mau sudi mengurusnya?!"

Mbak Sri tersenyum puas, ia berpikir bahwa dalihnya akan menyudutkan Kirana dan membagikan porsi kesalahan padanya.

Namun, Kirana tidak goyah. Binar matanya justru makin memancarkan aura dingin yang menakutkan. Kirana perlahan berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati Mbak Sri dengan anggun namun sarat akan ancaman yang mematikan.

"Sudah selesai bicaranya?" tanya Kirana.

Mbak Sri tertegun, ia terkejut melihat ketenangan majikannya itu.

Tap!

Kirana berhenti tepat satu langkah di depan Mbak Sri. "Sikap saya pada Aura adalah urusan pribadi dan trauma masa lalu saya. Tapi saya membayar kamu, memberi kamu tempat tinggal, dan memberi kamu makan untuk bekerja, bukan untuk menyiksa anak kecil yang tidak punya daya menyuarakan sakitnya!"

Kirana kemudian mencondongkan tubuhnya sedikit dan menatap lurus ke dalam iris mata Mbak Sri yang gemetar.

"Saya mungkin pernah buta oleh rasa benci, tapi saya tidak pernah menjadi Iblis yang menyiksa dan mematahkan tulang anak tiga tahun yang tak berdosa. Kamu menggunakan kelengahan saya sebagai panggung kebiasanmu, dan untuk itu... saya pastikan kamu tidak akan pernah melihat udara bebas dalam waktu yang sangat lama."

Kirana membalikkan badan dan memunggungi Mbak Sri lalu menatap petugas polisi. "Pak Polisi, tolong bawa wanita ini keluar dari rumah saya sekarang. Saya akan menyusul ke kantor polisi bersama pengacara saya setelah dari rumah sakit."

"Baik, Bu Kirana. Mari," tegas penyidik tersebut seraya menyeret Mbak Sri yang kini menangis histeris dan memohon-mohon pengampunan saat digiring keluar gerbang menuju mobil patroli.

Setelah mobil polisi meluncur pergi meninggalkan kediaman mereka, Mbak Yem langsung menghampiri Kirana dan memohon maaf, ia merasa bersalah karena kurang ketat mengawasi ART baru tersebut.

"Bu Kirana... maafkan kami... kami tidak tau kalau Sri sejahat itu..." bisik Mbak Yem dengan suara yang parau.

Kirana menghembuskan napasnya dan melonggarkan cengkraman tangannya yang tegang. "Ini bukan salah kalian, Yem. Ini... teguran keras buat saya."

Kirana meraih tas tangannya, lalu menoleh pada Pak Jaka. "Pak Jaka, antar saya ke rumah sakit sekarang."

Di ruang perawatan rumah sakit yang tenang, pendar sinar matahari pagi menembus celah gorden, menyinari ranjang tempat Aura terbaring.

Mbok Darmi sedang mengusap kening Aura yang baru saja terbangun dari tidurnya. Lengan kiri balita itu kini sudah terbungkus gips putih yang kokoh.

Beberapa saat kemudian...

Pintu kamar terbuka dengan pelan dan Kirana melangkah masuk sendirian. Langkah kakinya yang biasanya tegas kini terasa agak ragu dan berat.

Melihat kedatangan Kirana, Mbok Darmi segera berdiri dan membungkuk sopan. "Bu Kirana... Dek Aura baru saja bangun. Suhu badannya sudah turun."

Kirana mengangguk pelan. "Mbok, tolong belikan sarapan untuk Keisya di kantin bawah. Biar saya yang menjaga Aura sebentar."

Mbok Darmi tersenyum lega, seakan mengerti bahwa moment ini sangat dibutuhkan oleh majikannya. "Baik, Bu. Mbok permisi dulu."

Pintu kamar kembali tertutup. Kini hanya ada Kirana dan Aura di dalam ruangan steril yang hening itu.

Kirana melangkah mendekati sisi tempat tidur. Pandangannya jatuh pada raut wajah mungil Aura yang tampak begitu pucat. Di pipi dan dahi balita itu, masih berbekas sisa-sisa ketakutan dari kejadian kemarin.

Saat mendengar gesekan langkah kaki, Aura memiringkan kepalanya dengan pelan. Mata bulatnya yang jernih terbuka meredup, menatap sosok Kirana yang berdiri di samping ranjangnya.

Aura tidak menangis. Balita itu hanya menatap Kirana dengan kepolosan yang begitu dalam, sebuah tatapan tanpa dendam, seolah-olah ia sudah melupakan kenyataan bahwa wanita di hadapannya pernah mengabaikannya.

"Ma... ma..." cicit Aura sangat halus. Jemari tangan kanannya yang tidak terbalut gips menggapai-gapai pelan ke udara dan mencoba mencapai ujung baju Kirana.

Akhirnya, airmata yang sejak tadi ditahan Kirana menetes jua. Kata-kata Mbak Sri di rumah tadi sore memang kejam, tapi kata-kata itu menyadarkan Kirana akan betapa besarnya dosa pengabaian yang telah ia lakukan pada anak ini.

Kini Kirana tak lagi menahan dirinya. Ia menundukkan badannya, lalu dengan sangat perlahan dan penuh kelembutan, Kirana merengkuh tubuh kecil Aura ke dalam dekapannya.

Ia menyandarkan kepala mungil Aura di dadanya dan mengusap lembut rambut tipis balita itu seraya mencium puncaknya dengan kehangatan yang jujur dan meluap-luap.

"Maafkan Mama ya, Nak..." bisik Kirana dengan suara yang pecah oleh isak tangis. "Maafkan Mama... Mama janji, tidak akan ada lagi yang boleh menyakiti Aura di rumah. Mama yang akan menjaga Aura..."

Akhirnya Aura merasakan kehangatan dekapan yang selama ini hanya bisa ia lihat dari jauh saat Kirana memeluk Keisya. Balita tiga tahun itu menyandarkan pipinya di dada Kirana, lalu mengulurkan tangan kanannya memeluk leher Kirana dengan erat.

"Aula... ndak nakal... Ma..." bisik Aura pelan di balik dada Kirana.

"Iya, Sayang... Aura anak baik, anak pinter..."

Bersambung...

1
Lisa
Aura keras kepala juga y..hayo g bisa dibiarin tuh.
Lisa
Wah Aura mulai ngambek nih 😊
Lisa
Aura ingin juga disuapi sama Kirana...teruslah bersikap adil pada kedua putrimu Kirana..
Lisa
Wah sepertinya Aris ini bakal jadi teman deketnya Kirana..lucu banget 2 pengawal cilik itu 😊
Lisa: 😊 iya Kak..
total 2 replies
Lisa
👍👍 ayo Kirana lawan si nenek itu..
Anonim
Kok gini sih
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Lisa
Benar Kak.
Lisa
Syukurlah Kirana sudah menyadari kesalahannya dan mau menyayangi Aura..
Lisa
Cpt sembuh Aura..Kirana kamu harus sadar jgn dendam terus pada Aura..
Lisa
Amin..kasihan banget Aura..moga Kirana mampu menyayangi Aura..
Lisa
Ceritanya bagus Kak
Aurora: terimakasih.../Rose/
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Suka banget Kak
total 2 replies
Banu Tyroni
... akhirnya Aura mendapatkan kasih sayang seorang ibu.
Banu Tyroni
Aura.... kasihan kamu 😭
Banu Tyroni
... siapin tisu yg banyak.
Banu Tyroni
... sedih banget lihat Aura, besok kedepannya bagaimana ya? 😭
Banu Tyroni
... menarik.
Aurora: terimakasih /Rose/
total 1 replies
Banu Tyroni
Baca di awal ini nampaknya cerita akan penuh konflik dan menguras air mata... siap² tisu 😄
Irmha febyollah
lanjut lagi kk.
Aurora
kaya tega banget ya Kirana 🤭
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!