Kebebasan dari balik jeruji ternyata bukanlah akhir dari hukuman.
Setelah bertahun-tahun mendekam di penjara, Indri berharap dapat memulai hidup yang baru. Namun, dosa masa lalu yang telah menghancurkan kehidupan seseorang membuatnya menjadi sasaran balas dendam.
Di balik kepulangannya, Evan telah menyiapkan sebuah permainan yang dirancang dengan sempurna. Bukan untuk membunuh Indri, melainkan membuat wanita itu merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Sedikit demi sedikit, kehidupan Indri direnggut—harga dirinya, kebebasannya, hingga harapan untuk hidup bahagia.
Namun, semakin jauh Evan melangkah menjalankan rencana balas dendamnya, semakin dalam pula ia terjebak dalam perasaan yang tak pernah ia duga.
Lantas... Akankah Indri berhasil terbebas dari belenggu dendam yang mengikat hidupnya? Ataukah justru Evan yang akan terperangkap dalam rasa yang sama beracunnya dengan kebencian yang selama ini ia pelihara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Keesokan paginya, Indri datang ke kantor lebih awal dari biasanya. Ia masih memikirkan percakapannya dengan Evan semalam. Pria itu tampak tenang, sopan, bahkan tidak pernah memperlakukannya dengan buruk.
"Kenapa aku selalu merasa ada yang aneh setiap bertemu dengannya?" gumam Indri.
Ia menggeleng pelan dan memutuskan fokus pada pekerjaannya.
Di ruang kerja Haris, suasana cukup sibuk.
"Indri," panggil Haris.
"Ya, Pa?"
"Proyek dengan Evara Capital berjalan lebih cepat dari perkiraan. Itu kabar baik. Tapi semakin besar proyeknya, semakin besar pula tanggung jawabmu."
"Aku mengerti, Pa."
Haris tersenyum bangga. "Papa yakin kamu bisa."
Ucapan itu membuat Indri kembali bersemangat. Ia bertekad tidak akan mengecewakan papanya lagi.
Sementara itu...
Di gedung Evara Capital. Rio meletakkan beberapa berkas di meja Evan.
"Pak, kerja sama dengan Haris Group sudah memasuki tahap berikutnya."
Evan membaca laporan itu sekilas. "Lanjutkan."
"Apakah kita tetap menjalankan rencana?"
Evan terdiam beberapa saat.
Ia teringat wajah Indri saat mengucapkan terima kasih semalam. Keraguan itu kembali muncul. Namun ketika matanya jatuh pada foto Laura yang berada di sudut meja kerjanya, keraguan itu perlahan menghilang. "Lanjutkan. Dan ingat, jangan menyentuh keluarganya. Hanya dia!"
Rio mengangguk. "Baik, Pak."
Menjelang siang. Indri menerima sebuah amplop tanpa nama yang dikirim ke ruang kerjanya.
"Nisa, siapa yang mengirim ini?"
"Tidak ada nama pengirim, Bu."
Indri membuka amplop itu perlahan. Di dalamnya hanya ada selembar kertas. Tulisan itu dicetak menggunakan komputer.
"Kamu pikir hukumanmu sudah selesai?"
Wajah Indri langsung memucat.
Ia membalik kertas itu. Kosong.
Tidak ada petunjuk apa pun.
"Nisa."
"Iya, Bu?"
"Tolong cek CCTV."
"Baik Bu."
Satu jam kemudian.
Nisa kembali dengan wajah kecewa. "Maaf, Bu."
"Rekaman CCTV di lantai ini hilang selama lima belas menit."
"Hilang?"
"Iya Bu. Petugas keamanan juga tidak tahu penyebabnya."
Indri mengepalkan jemarinya. Ini bukan kebetulan. Seseorang benar-benar sedang mempermainkannya.
Sore harinya.
Di ruang rapat, Haris dan Evan sedang membahas perkembangan proyek. Pertemuan berjalan lancar. Saat Haris keluar sebentar untuk menerima telepon, hanya Evan dan Indri yang tersisa di ruangan.
"Kopi Anda hampir dingin."
Suara Evan memecah kesunyian.
Indri tersenyum tipis.
"Saya memang sering lupa meminumnya."
Evan memperhatikan wajah perempuan itu. Ada kelelahan yang jelas terlihat.
"Anda tampak kelelahan. Apa akhir-akhir ini pekerjaan Anda menumpuk?"
Indri menggeleng. "Tidak. Hanya saja akhir-akhir ini saya sulit tidur."
"Mengapa?"
Indri terdiam sejenak.
"Saya merasa... seperti ada seseorang yang terus mengawasi."
Kalimat itu membuat Evan membeku sesaat. Namun ekspresinya tetap tenang.
"Mungkin hanya perasaan."
"Mungkin." Indri mengangguk pelan, meski ia sendiri tidak yakin.
Malam harinya...
Evan berdiri di balkon apartemennya. Rio datang menghampiri.
"Pak, saya sudah mengirim surat itu."
Evan tidak menjawab.
"Dia mulai ketakutan."
Evan memejamkan mata. "Jangan terlalu jauh." Rio tampak bingung. "Bukankah itu tujuan kita?"
"Aku ingin dia mengingat."
"Bukan sampai kehilangan akal sehat."
Rio mengangguk pelan meski sebenarnya ia masih bingung.
Untuk pertama kalinya, ia melihat perubahan kecil pada atasannya.
Dulu, Evan selalu berkata bahwa Indri harus merasakan penderitaan yang sama seperti Laura. Kini, ia mulai memberi batas.
Sementara itu...
Di rumah Haris.
Laura kecil sedang menggambar di ruang keluarga.
"Tante Indri!"
"Iya?"
"Lihat." Laura memperlihatkan gambar sebuah keluarga.
Di dalam gambar itu ada Haris, Cinta, Vano, adik laki-lakinya, dirinya sendiri, dan Indri.
"Tante juga keluarga Laura."
Mata Indri langsung berkaca-kaca. "Terima kasih."
Laura memeluk pinggangnya.
"Aku sayang Tante."
Kalimat polos itu membuat air mata Indri jatuh tanpa bisa ditahan.
Dari balik tangga, Cinta memperhatikan mereka dengan senyum tipis. Ia belum bisa melupakan masa lalu. Namun melihat ketulusan Laura kecil, ia mulai percaya bahwa seseorang memang bisa berubah jika benar-benar menyesali kesalahannya.
Di tempat lain, Evan memandangi foto Laura dewasa yang masih ia simpan. Ia berbisik lirih, "Kalau kamu masih hidup, apakah kamu akan memintaku berhenti?"
Tidak ada jawaban.
Hanya keheningan malam yang menemani seseorang yang perlahan mulai terjebak di antara dendam dan hati nuraninya.
***
Pagi itu, Haris Group tampak lebih sibuk dari biasanya.
Seluruh divisi sedang mempersiapkan penandatanganan nota kesepahaman dengan Evara Capital.
Proyek itu menjadi harapan baru perusahaan sekaligus bukti bahwa Haris masih mampu mempertahankan bisnisnya meski kondisi kesehatannya mulai menurun.
Di ruang kerjanya, Indri memeriksa setiap dokumen untuk ketiga kalinya. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan.
Tidak ada lagi file yang hilang.
Tidak ada lagi surat misterius.
Setidaknya... itulah yang ia harapkan.
"Bu Indri." Nisa masuk membawa sebuah map. "Semua dokumen sudah lengkap."
Indri menerimanya sambil tersenyum. "Terima kasih."
"Kalau begitu saya akan menggandakan berkas untuk Pak Haris."
"Silakan."
Setelah Nisa keluar, Indri mengembuskan napas lega.
Untuk pertama kalinya sejak kembali bekerja, semuanya terasa berjalan normal. Namun perasaan itu tidak bertahan lama.
Telepon di mejanya berdering.
"Selamat pagi Bu Indri," suara petugas resepsionis terdengar diseberang telpon. "Ada seseorang yang ingin bertemu Ibu."
"Siapa?"
"Dia tidak mau menyebutkan namanya."
Indri mengernyit.
"Kalau begitu katakan saya sedang sibuk."
"Baik, Bu."
Sambungan telepon terputus.
Indri kembali melanjutkan pekerjaannya. Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
"Menolak bertemu denganku tidak akan mengubah masa lalumu."
Wajah Indri langsung berubah pucat. Nomor itu kembali tidak bisa dihubungi.
Sementara itu...
Di gedung Evara Capital.
Rio berdiri di depan meja Evan.
"Pesannya sudah diterima."
Evan hanya mengangguk. "Lalu?"
"Dia mulai gelisah lagi."
Evan menatap keluar jendela.
Entah mengapa, setiap kali mendengar Indri ketakutan, ia tidak lagi merasakan kepuasan sebesar yang ia bayangkan selama bertahun-tahun.
Yang tersisa hanyalah kehampaan.
Rio memperhatikan perubahan itu. "Pak, bukankah ini yang selama ini Bapak inginkan?"
Evan tersenyum hambar.
"Aku juga sedang bertanya pada diriku sendiri."
Menjelang siang.
Ruang rapat utama mulai dipenuhi para tamu.
Evan datang tepat waktu.
Hari itu, ia mengenakan jas abu-abu gelap dengan dasi hitam sederhana.
Tatapannya segera menangkap sosok Indri yang sedang mengatur dokumen di ujung meja.Tanpa sengaja, map di tangan Indri terlepas.
Beberapa lembar kontrak kembali berserakan.
"Aduh..."
Sebelum orang lain bergerak, Evan lebih dulu membungkuk membantu memungutnya.
"Terima kasih, Pak Evan."
"Sama-sama." Saat menyerahkan map itu, Evan memperhatikan jemari Indri yang sedikit gemetar.
"Sepertinya kondisi Anda kurang sehat?"
Indri tersenyum kecil. "Hanya kurang tidur."
Evan tidak berkata apa-apa lagi.
Namun di dalam hatinya muncul pertanyaan yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Apakah rasa takut itu sudah terlalu jauh sampai-sampai membuat Indri tidak bisa tidur?
Rapat berlangsung hampir dua jam. Semua berjalan lancar hingga salah seorang investor bertanya, "Siapa yang akan menjadi penanggung jawab utama proyek ini?"
Haris tersenyum. "Putri saya, Indri."
Beberapa orang tampak terkejut.
Namun Evan mengangkat tangannya. "Saya tidak keberatan. Saya justru ingin bekerja langsung dengan Bu Indri."
Semua mata beralih kepada mereka.
Indri sedikit gugup. "Terima kasih atas kepercayaannya."
Evan hanya mengangguk.
Tak seorang pun menyadari bahwa di balik sikap profesional itu, ada tujuan lain yang sedang ia sembunyikan.
Usai rapat. Haris tiba-tiba memegangi dadanya.
"Pa!" Indri panik.
Wajah Haris mendadak pucat.
Vano yang baru datang langsung menopang tubuh mertuanya.
"Cepat panggil ambulans!"
Suasana berubah kacau.
Indri benar-benar panik. "Papa... Papa!"
Haris berusaha tersenyum.
"Papa... tidak apa-apa..."
Namun napasnya terdengar berat.
Tanpa berpikir panjang, Evan ikut membantu mengangkat Haris ke dalam ambulans. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Indri hanya bisa menggenggam tangan ayahnya sambil menangis.
"Papa harus bertahan. Aku belum sempat membalas semua kebaikan Papa..."
Di sudut ambulans, Evan memperhatikan Indri dalam diam.
Tangisan itu, tidak tampak dibuat-buat. Untuk pertama kalinya, ia melihat seorang perempuan yang benar-benar takut kehilangan satu-satunya orang yang masih mempercayainya.
Begitu sampai di rumah sakit, Haris langsung mendapatkan penanganan. Sementara Vano menghubungi Cinta untuk segera datang.
Hampir satu jam lamanya dokter akhirnya keluar dari ruang pemeriksaan.
"Keluarga Pak Haris?"
"Kami." Indri, Cinta dan Vano serentak menghampiri dokter.
Dokter menghela napas.
"Serangan jantungnya berhasil kami tangani. Tapi kondisi jantung beliau semakin lemah. Beliau harus mengurangi stres."
Semua mengembuskan napas lega. Indri menutup wajahnya sambil menangis pelan.
Cinta memeluk adiknya.
"Papa selamat."
"Iya..."
Evan berdiri beberapa meter dari mereka. Ia seharusnya merasa puas. Bukankah ancaman terhadap kesehatan Haris akan membuat Indri semakin menderita? Namun melihat Haris terbaring lemah dan keluarga itu saling menguatkan, ada sesuatu yang mengusik nuraninya.
Tanpa berkata apa-apa, ia berbalik meninggalkan rumah sakit. Rio yang mengikutinya bertanya pelan, "Pak... apakah semuanya masih sesuai rencana?"
Evan menghentikan langkahnya.
Ia memandang lorong rumah sakit yang sunyi. Dengan suara datar, ia menjawab, "Rencananya belum berubah." Meski begitu, untuk pertama kalinya sejak memulai balas dendamnya, Evan menyadari satu hal.
Semakin lama ia mengenal Indri...
Semakin sulit baginya membedakan perempuan yang ada di hadapannya sekarang dengan perempuan yang hidup dalam kenangan kelamnya bertahun-tahun lalu.
semoga saja benar Evan masih hidup... Evan jangan lama" sembunyi nya entar si Indri jadi milik Royco, cepat keluar ya bikin surprise Indri kamu masih hidup...mau ku 😩🤣🤣🤣🤣
sepertinya kecebong babang Evan udah berubah jadi berudu kecil ❤️😁