NovelToon NovelToon
Konslet

Konslet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:236
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PULANG KE BENGKEL BAPAK

Pada hari ketiga setelah dipecat, aku bangun pukul setengah sembilan dan mendapati tidak ada seorang pun yang peduli.

Biasanya, pukul tujuh kurang lima belas aku sudah menerima pesan dari mandor: lokasi berubah, kabel kurang, klien marah, atau Rinso meminta aku membawa alat yang kemarin kupinjam lalu lupa kukembalikan. Pagi itu ponselku hanya berisi notifikasi video Bang Jepot, promosi pinjaman cepat, dan pesan Mak Mina dari dapur.

Turun. Angkat galon.

Begitulah cara ibuku menyambut pengangguran baru di rumah.

Setelah galon terpasang, aku berdiri di depan Sinar Jaya Service, bengkel milik Bapak yang menempel pada rumah petak kami. Papan namanya miring ke kiri. Huruf S pada kata SERVICE sudah hilang separuh sehingga dari jauh terbaca ERVICE. Di etalase berdebu, dua televisi tabung ditumpuk seperti sedang menjalani hukuman. Kipas angin tanpa baling-baling tergantung di dinding, bersama kabel-kabel bekas yang dililit dengan keyakinan bahwa suatu hari semuanya akan berguna.

Bapak duduk di bangku pendek dengan kaca pembesar terjepit di kepala. Ia membongkar radio tua sambil memegang solder di tangan kanan. Ujung tangannya bergetar sedikit ketika mendekati papan rangkaian, lalu berhenti setelah pergelangan tangannya bertumpu pada meja.

“Aku mulai dari mana?” tanyaku.

Ia tidak menoleh. “Mulai cari kerja.”

“Aku tanya di bengkel.”

“Ini bukan tempat penampungan.”

“Bengkel sepi begini masih pilih-pilih pegawai?”

“Makanya aku tidak tambah masalah.”

Mak Mina muncul dari pintu rumah membawa baskom berisi telur balado. “Masalah yang ini anakmu sendiri. Tidak bisa dikembalikan ke pabrik.”

Bapak mengangkat wajah. “Dari lahir tak ada kartu garansi.”

Aku meletakkan tas alat di meja dengan suara keras. Debu naik seperti penghuni lama yang terganggu. “Aku cuma membantu sampai dapat kerja baru.”

“Jangan sebut membantu kalau belum ada yang terbantu,” kata Bapak.

Separuh meja kerja sudah diambil alih Mak Mina. Kertas nasi, kantong plastik, sambal, dan tumpukan lauk memenuhi tempat yang seharusnya dipakai untuk memperbaiki barang elektronik. Ia menjual nasi bungkus kepada pekerja bengkel, sopir angkot, dan siapa pun yang tidak terlalu takut melihat ayam goreng disimpan dekat gulungan kabel.

“Geser nasinya sedikit, Mak,” kataku.

“Kenapa?”

“Aku mau kerja.”

“Selama ini meja ini menghasilkan uang. Kau belum.”

Aku menarik bangku lain. “Satu keluarga tidak ada yang mendukung.”

Dari depan bengkel, suara Tia menyahut, “Aku mendukung, Bang. Hadap sini sikit.”

Adikku berdiri di bawah papan nama dengan ponsel terpasang pada tripod kecil. Ia mengenakan kemeja kampus dan tersenyum ke kamera.

“Teman-teman, hari ini kita akan melihat transformasi Bang Jepot setelah—”

Aku mengambil kain lap dan melemparkannya. Tia menghindar sambil tertawa.

“Jangan buat konten di sini.”

“Cahayanya bagus.”

“Papan itu hampir jatuh.”

“Justru estetik. Tema keluarga bertahan di tengah krisis.”

“Tema kepalamu kena papan mau?”

Tia mematikan rekaman, tetapi tidak memindahkan tripod. Sejak video pesta viral, ia menilai setiap kejadian berdasarkan dua hal: tragedinya seberapa besar dan apakah pencahayaannya cukup.

Aku mengambil radio kecil yang sudah tiga minggu diletakkan di rak perbaikan. Pada labelnya tertulis MILIK PAK UDIN - SUARA HILANG KALAU DIPUKUL. Menurutku, masalah seperti itu tidak pantas menunggu tiga minggu.

“Yang ini aku kerjakan,” kataku.

Bapak melirik label. “Sudah diperiksa?”

“Radio tua. Paling solderan lepas.”

“Jadi belum.”

Aku membuka penutup belakangnya. Debu menempel pada jari. Jalur catu daya masih baik. Speaker tidak putus. Setelah beberapa menit, kutemukan satu kaki komponen yang retak pada titik solder.

“Tengok,” kataku. “Benar, kan?”

Bapak mengulurkan tangannya. “Tes dulu.”

“Aku tahu ini penyebabnya.”

“Kalau tahu, tes.”

Aku mengambil multimeter dengan kesal. Hasilnya menguatkan dugaanku. Kuperbaiki titik itu dengan solder, sedikit lebih tebal agar tidak gampang lepas. Ketika selesai, Bapak merebut papan rangkaian dari tanganku.

“Ini sambungan apa gundukan kuburan?”

“Yang penting kuat.”

“Timah banyak bukan berarti bagus.”

“Kalau tipis, nanti lepas lagi.”

“Kalau setebal ini, komponen sebelah ikut kau warisi timahnya.”

Mak Mina menyodorkan sebungkus nasi kepada pelanggan sambil berkata, “Jangan ribut dekat sambal. Nanti cepat basi.”

Aku mengisap timah berlebih, membersihkan jalur, lalu menyalakan radio. Suara penyiar muncul, pecah sebentar, kemudian jernih. Aku menaikkan volumenya dengan bangga.

“Sudah hidup.”

Bapak mematikan radio. “Baru satu.”

“Kalau semua barang kau biarkan tiga minggu, satu itu pencapaian.”

Ia menatapku lama. “Kau boleh bantu. Bukan pegawai. Tidak ada gaji.”

“Bagus kali sistem kekeluargaannya.”

“Kalau merusakkan barang, kau ganti.”

“Lebih bagus lagi.”

Menjelang siang, seorang ibu datang menanyakan blender yang ditinggalkan dua bulan lalu. Bapak mencari-cari kertas penerimaan. Tia memeriksa tumpukan kardus. Mak Mina bertanya warna blender. Tidak seorang pun tahu barangnya berada di mana.

Aku menemukannya di bawah meja, tertutup plastik hitam dan tiga bungkus kabel bekas. Blender itu sudah selesai diperbaiki, tetapi belum pernah dikabari kepada pemiliknya.

“Kenapa tak ditelepon?” tanyaku.

Bapak menunjuk buku catatan tipis dengan pulpen. “Nomornya di situ.”

Buku itu penuh tulisan yang saling menimpa. Sebagian nomor telepon tidak lengkap. Beberapa halaman terkena minyak sambal.

Ibu pemilik blender membayar sambil mengomel. Sebelum pergi, ia menunjuk televisi tabung di etalase dan bertanya apakah benda itu juga miliknya. Bapak mengatakan bukan. Aku tidak terlalu yakin karena tidak ada label apa pun di belakangnya.

Setelah perempuan itu pergi, seorang anak SMP datang mengambil setrika milik neneknya. Kami menemukan tiga setrika dengan warna sama dan tidak tahu mana yang sudah diperbaiki. Aku harus menguji satu per satu, sementara anak itu menunggu sambil mengirim pesan kepada neneknya. Dari pengeras suara ponselnya terdengar pertanyaan, “Yang gagangnya ada bekas gosong itu, kan?” Masalahnya, ketiganya punya bekas gosong.

Akhirnya anak itu mengenali milik mereka dari stiker bunga yang hampir terkelupas. Ia membawa pulang setrika sambil berpesan agar lain kali nama pelanggan ditulis jelas. Aku hampir membalas, tetapi Bapak mengangguk seolah baru saja menerima nasihat profesional.

Setelah itu, aku mengangkat buku catatan. “Ini pembukuan atau peninggalan perang?”

“Masih terbaca.”

“Yang baca siapa? Arkeolog?”

Suara sandal berhenti di depan bengkel. Nurhaliza Lubis berdiri sambil membawa map tipis dan kalkulator kecil. Wajahnya, seperti biasa, terlihat seolah dunia baru saja salah menjumlahkan sesuatu.

Ia memandangku dari kepala sampai kaki. “Sudah resmi pulang kampung, rupanya.”

“Ini bukan kampung.”

“Wajahmu yang menganggur kali.”

“Aku masih bisa memperbaiki bengkel ini.”

Liza melirik radio, buku berminyak, lalu papan nama miring. “Perbaiki dulu. Harga dirimu belakangan.”

Mak Mina tertawa paling keras. Bahkan Bapak menunduk seperti sedang memeriksa komponen, padahal bahunya bergerak.

Liza mengangkat map. “Aku datang soal mesin cuci Bu Ratna. Katanya sudah tiga bulan di sini.”

“Besoklah,” kata Bapak. “Kami cari barangnya.”

Liza menatap isi bengkel. “Kalau begitu aku datang bawa kompas.”

Setelah ia pergi, aku membantu Bapak mencari mesin cuci sampai sore. Barang itu ternyata berada di gudang belakang, tertutup terpal dan dua kursi plastik patah.

Saat hendak mengambil kunci gudang dari laci kas, aku melihat sebuah amplop merah terselip di bawah buku nota. Sudutnya kusam seperti sudah berkali-kali disentuh lalu disembunyikan kembali.

Aku menariknya keluar.

Di bagian depan tertulis dengan huruf besar:

TUNGGAKAN SEWA TERAKHIR.

1
Kustri
ini cerita ttg apa thor✌
Kustri
mau ketawa takut karma🫣
Kustri
penasaran ama bang J✌(lbh keren)
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!