NovelToon NovelToon
Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Penyesalan Suami
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"

....

Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 #Ada Rahasia besar

Malam yang dingin terasa kian mencekam. Begitu Hendra menghilang ditelan kegelapan jalan, Bening menarik napas panjang, berjuang menyapu rasa sakit akibat perlakuan kasar sang kakak. Ia segera mengesampingkan kehancuran hatinya sendiri demi memfokuskan perhatian penuh pada putra kecilnya yang masih terisak di pelukannya.

"Sayang... kenapa malam-malam begini kemari?" bisik Bening lembut, berlutut menyamakan tingginya dengan Kai. Tangannya bergerak mengusap air mata yang membasahi pipi sang anak. "Harusnya Kai sudah tidur di rumah Papa, kan?"

"Tidak mau, Mama!" jerit Kai memeluk leher Bening erat-erat, menyembunyikan wajahnya di bahu sang ibu. "Kai tidak suka kalau tidak ada Mama... Kata Kakek, Mama dan Papa sudah bercerai... Kai tidak mau punya Mama baru, Mama!"

Deg.

Kata-kata polos yang keluar dari bibir Kai seketika menghantam dada Bening bagai sabetan sembilu. Rasa perih merayapi ulu hatinya. Dari jeritan ketakutan dan potongan kalimat putranya, Bening hanya mampu menarik satu kesimpulan yang masuk akal, Gibran kemungkinan besar telah mengenalkan calon istri baru atau calon ibu tiri kepada Kaivandra di kediaman Aditama.

Hati Bening teriris hebat. Ada rasa cemburu dan pedih yang mencoba merangsak naik, namun dengan cepat dibendungnya rapat-rapat. Ia mengusap punggung kecil Kai yang naik-turun menahan sesak.

"Mama di sini, Sayang... Sudah, ya? Jangan menangis lagi," bisik Bening menenangkan, suaranya sarat dengan kehangatan seorang ibu.

Bening membimbing Kai masuk ke dalam rumah sewa mereka, meninggalkan Gibran yang berdiri mematung di teras depan. Pria itu menatap punggung Bening dan Kai dengan perasaan yang bergemuruh campur aduk, perpaduan antara penyesalan, amarah pada sang ayah, dan kerinduan yang membakar.

Di dalam kamar, Bening mengusap lembut dahi Kaivandra. Ia menyanyikan lagu nina bobo dengan nada pelan dan gemetar sampai akhirnya napas Kai teratur dan matanya terpejam rapat akibat kelelahan menangis.

Setelah memastikan putranya benar-benar terlelap, Bening perlahan melepaskan dekapan Kai. Ia melangkah keluar kamar, menutup pintu rapat-rapat, lalu berjalan menuju ruang tamu untuk menemui pria yang masih setia menunggu di teras rumahnya.

Begitu pintu depan terbuka, hembusan angin malam langsung menyapu wajah Bening yang pucat. Gibran yang berdiri di balik pilar teras berbalik cepat.

"Bening..." panggil Gibran dengan suara berat yang serak, berniat mengawali penjelasan.

Namun, sebelum Gibran sempat melanjutkan kalimatnya, Bening lebih dulu memotongnya dengan nada suara yang teramat tenang, sebuah ketenangan pasrah yang justru terasa jauh lebih menyakitkan daripada ledakan amarah.

"Aku akan memberi pengertian pada Kai," potong Bening pelan, menatap lurus namun kosong ke arah kemeja Gibran. "Lambat laun... Kai memang harus tahu kenyataan bahwa kita sudah lama berpisah. Dan... selamat untuk hubungan barumu, Mas."

Gibran membeku di tempatnya. Dahi pria itu berkerut tajam.

"Tapi aku mohon... Kai masih sangat kecil," lanjut Bening dengan getaran tipis pada suaranya yang berusaha ia sembunyikan. "Dia butuh waktu untuk bisa menerima hadirnya sosok yang baru dalam hidupnya. Sementara waktu, biarkan Kai tinggal di sini denganku. Aku janji... aku tidak akan pernah melarang atau menghalangimu kalau kamu mau datang kemari untuk menemuinya."

"Bening! Apa yang sebenarnya kamu bicarakan?!" potong Gibran cepat, melangkah maju satu tapak dengan raut wajah tidak percaya. "Sebagai seorang ayah, aku punya akal sehat! Aku tidak akan pernah melakukan hal sebodoh itu hanya untuk menghancurkan perasaan putra yang baru saja kuberi kehangatan!"

Deg.

Dada Bening mendadak terasa lega. Pengakuan tegas dari mulut Gibran mematahkan persangkaannya. Ternyata... tidak ada wanita lain. Prasangka buruk itu menguap seketika, menyisakan keheningan yang menyesakkan di antara mereka.

Namun, rasa lega itu hanya bertahan beberapa detik sebelum kalimat Gibran berikutnya meluncur, merobek paksa luka lama yang selama tujuh tahun ini Bening kubur dalam-dalam.

Gibran menatap Bening dalam-dalam. Sorot matanya yang biasanya dingin kini diliputi oleh keraguan dan rasa ingin tahu yang mendalam.

"Bening... aku ingin menanyakan satu hal padamu. Dan tolong... jawab jujur padaku malam ini," ujar Gibran, suaranya merendah namun begitu menuntut. "Kemana pria yang tujuh tahun lalu mendampingimu di kamar hotel itu? Pria yang dengan angkuh mengaku kalian saling mencintai... kenapa sekarang kamu hidup menyendiri dan menderita seperti ini?"

Bening membisu. Bibirnya tertutup rapat.

Pertanyaan itu seketika melempar kesadaran Bening kembali ke memori kelam tujuh tahun lalu. Bayangan kamar hotel nomor 304 menyergap benaknya secara brutal, bagaimana Gibran menatapnya dengan pandangan jijik tanpa memberi sedikit pun kesempatan baginya untuk menjelaskan bahwa ia telah dijebak dan dibius.

Dan yang paling menyakitkan dari semua itu adalah fakta pahit yang baru Bening ketahui tepat setelah Gibran berbalik pergi, dalang utama di balik kehancuran hidupnya tidak lain adalah Wira Aditama, ayah kandung Gibran sendiri.

Rasa pahit menjalar di tenggorokan Bening.

"Untuk apa membahas masa lalu lagi, Mas?" sahut Bening dingin, berusaha mempertahankan benteng pertahanannya meski dadanya bergemuruh hebat. "Sudah aku katakan berulang kali... urusan kita sekarang hanya soal Kaivandra. Tidak ada yang lain."

Mata Gibran melunak. Pria kaku yang terkenal arogan itu perlahan mengulurkan tangannya, merengkuh dan memegang jemari Bening yang terasa dingin. Genggamannya hangat dan penuh harap.

"Tolong... jelaskan padaku, Bening," bisik Gibran dengan nada yang hampir menyerupai permohonan, sesuatu yang belum pernah terdengar dari mulut seorang Gibran Aditama. "Tolong jelaskan padaku... apa ada sesuatu yang sebenarnya tidak aku ketahui dari peristiwa tujuh tahun lalu?"

Harapan besar membumbung tinggi di dalam dada Gibran. Jika saja... jika saja tujuh tahun lalu itu hanyalah sebuah kesalahpahaman besar, Gibran bersumpah akan menebus seluruh air mata dan penderitaan wanita di depannya ini.

Bening memalingkan wajahnya ke samping, tak sanggup menatap sorot mata Gibran yang sarat akan kerinduan. Air matanya yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah, menetes deras melintasi pipinya tanpa bisa dibendung.

Di dalam pikirannya, bayangan wajah kejam Wira Aditama mendadak hadir bagai hantu yang mengerikan. 'Jika kamu berani membela diri... aku pastikan keluargamu akan menderita seumur hidup!' Ancaman itu bergema nyaring di telinganya.

Ditambah lagi, malam ini putra kecilnya baru saja pulang dalam keadaan menangis histeris dari rumah besar Aditama. Bening sadar betul betapa kejamnya kekuasaan keluarga itu. Jika ia jujur sekarang dan membocorkan kejahatan sang ayah mertua, bahaya yang jauh lebih besar dipastikan akan mendatangi Kaivandra dan dirinya lagi.

Bening tidak boleh egois. Demi melindungi keselamatan Kai, ia harus menelan rasa sakit ini sendirian sekali lagi.

Dengan hati yang hancur menjadi kepingan tak berbentuk, Bening menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya untuk berbohong.

"Semuanya sudah sangat jelas, Mas..." ucap Bening dengan suara gemetar, membiarkan air matanya membasahi bibirnya yang pucat. Ia menatap Gibran lurus-lurus dengan tatapan penuh keputusasaan. "...seperti yang kamu lihat tujuh tahun lalu. Aku mengkhianatimu."

Gibran tertegun, genggaman tangannya melemas seketika.

"Pergilah... ini sudah sangat malam," bisik Bening lirih.

Bening menghempaskan genggaman tangan Gibran dengan sekali sentakan, lalu melangkah mundur ke dalam rumah. Sebelum Gibran sempat membalas, Bening mendorong pintu kayu itu dan menutupnya rapat-rapat.

KLIK.

Suara kunci pintu bergema nyaring di tengah keheningan malam.

Di balik pintu kayu yang dingin, Bening terduduk bersimpuh di atas lantai. Ia membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangan, menangis tanpa suara. Dadanya naik-turun menahan sesak luar biasa, menumpahkan seluruh rasa sakit, fitnah, dan penderitaan yang harus ia tanggung sendirian demi buah hatinya.

Sementara itu, di luar teras, Gibran berdiri terpaku dalam keheningan. Pria itu menatap pintu rumah yang tertutup rapat dengan napas yang memburu.

Isakan pelan Bening yang samar-samar terdengar menembus sela-sela pintu tak sedikit pun mengoyak keyakinannya. Kebohongan di mata Bening terlalu jelas. Dan kini, di bawah naungan malam yang kelam, Gibran semakin yakin seratus persen... ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan sang mantan istri darinya.

1
Akun Maisarah
jahat banget Wira nih.orang tua apa yg Setega itu.kasihan bening😪
Lisa
👍👍 bagus Gibran tangkap pria itu lalu urus papamu yg membayar pria itu..ntar lg kebenaran terungkap.
Lisa
Kalian harus rujuk kembali..
Lisa
Syukurlah Gibran segera menyuruh asistennya utk menyelidiki pria itu setlh semuanya terungkap mereka ber3 dpt bersatu lg..
Lisa
Gibran selidiki masa lalu itu kamu harus tegas terhadap ayahmu
Lisa
Ayo Gibran sadarlah bahwa Papamu itu yg menghasutmu
Lisa
Udh Gibran jgn keraskan hatimu..Bening msh mencintaimu & ga pernah selingkuh..
Lisa
Makanya kamu harus menyelidiki kasus itu Gibran..
Lisa
Makanya kamu harus bersikap tegas Gibran terhadap ayahmu..dia itu yg udh menyusun skenario jahat ttg Bening
Lisa
Makanya kamu harus tegas Gibran selidiki masalah 7 thn yg lalu itu..
Lisa
Kapan Gibran & Bening dapat rukun lagi ☺️
Lisa
Wira ini jahat banget moga aj kelakuannya diketahui oleh Gibran
Lisa
Sadarlah Gibran..anakmu aj sangat taat beribadah..kamu harus berubah dan mencontoh sikap anakmu.
Lisa
ya nih Gibran koq g sadar slm 6 thn di atur oleh ayahnya
Lisa
Ceritanya menarik 👍
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Sama² Kak Nova..aku suka ceritanya..
total 2 replies
Yani Tan
bagus...sangat bagus
partini
ck ck ck ternyata ortu lacknat
ga bakal ketauan ortu sendiri
partini
pak CEO bego masa iya di bantai terus sama lawan 🤦🤦
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!