NovelToon NovelToon
Penyihir Sampah Naik Level Jadi Archmage

Penyihir Sampah Naik Level Jadi Archmage

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Akademi Sihir
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Benhard Ayub Simanjuntak

Aku dilahirkan tanpa mana. Dijuluki "Sampah Magic" dan dikeluarkan dari Akademi Sihir Kerajaan.

Saat hampir mati di hutan iblis, aku mendapatkan [Sistem Archmage].

Setiap mengalahkan monster = dapat skill sihir baru.
Api, Petir, Ruang, Waktu... semua sihir bisa kupelajari!

Sekarang, aku akan kembali ke akademi itu.
Dan membuat mereka semua berlutut di hadapanku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benhard Ayub Simanjuntak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 = Gerbang Kota dan Orang yang Membenci "Sampah"

Sinar matahari pertama menembus celah pepohonan Hutan Iblis.

Kael membuka mata. Kepalanya sakit. Tenggorokannya kering. Yang pertama dia lihat adalah langit biru... dan wajah Luna yang tertidur di dadanya.

"Ugh..." Kael mencoba duduk.

Luna langsung tersentak bangun. Matanya sembab. "Hah?! Kamu udah bangun? Idiot!"

Lalu dia langsung memukul dada Kael pelan. "Bikin khawatir aja!"

Kael batuk. "Terima kasih... udah jagain aku semalaman."

"Hmph. Siapa yang jagain? Aku cuma... nggak ada tempat tidur lain." Luna berbalik, telinganya merah.

Di sebelah mereka, Grom duduk bersila. Di depannya ada 5 bangkai kelinci hutan. "Tuan sudah bangun. Grom sudah siapkan makanan."

[Party: Kael Lv.6, Luna Lv.5, Grom Lv.3]

Kael mengepalkan tangan. Api hitam masih ada di sana, tapi sudah lebih tenang. Di kepalanya masih ada bisikan samar. _'lebih kuat... lebih banyak darah...'_

Dia langsung menepisnya.

"Grom, berapa lama lagi ke kota?"

Grom menunjuk ke depan. Di antara pepohonan, tembok batu setinggi 5 meter sudah terlihat. Ada gerbang besar dan bendera Kerajaan Estra berkibar.

"Kota Perbatasan... 15 menit jalan, Tuan."

[Tujuan Tercapai: Melihat Kota Perbatasan]

[Quest Baru: Masuk ke Kota Perbatasan]

Mereka bertiga berjalan. Kael di depan, Luna di tengah, Grom di belakang. Begitu mendekati gerbang, suasana langsung berubah.

Para penjaga berbaju zirah menatap mereka dengan curiga. Dan tatapan itu makin tajam saat melihat Grom.

"Berhenti!" Salah satu penjaga mengangkat tombak. "Goblin tidak boleh masuk kota!"

Grom langsung menunduk. Tubuhnya gemetar. "Grom... ikut Tuan..."

Kael melangkah maju. "Dia anggota party ku. Kami baru saja mengalahkan Raja Goblin Level 5 dan Kawanan Serigala Iblis."

Penjaga itu melirik papan catatan. Lalu matanya menyipit saat melihat status Kael.

[Kael - Penyihir Api Level 6]

[Job: Penyihir Sampah]

"PUFF! Penyihir Sampah?" Penjaga itu tertawa keras. Teman-temannya ikut tertawa.

"Kerjaan terendah di kerajaan. Sihir untuk bakar sampah doang. Dan kamu bawa goblin? Mau bikin masalah di kota ya?"

Wajah Luna langsung memerah marah. "Kamu! Dia yang menyelamatkan kami!"

"Oh? Healer cantik ngebela sampah?" Penjaga itu mendekat ke Luna. "Gimana kalau ikut aku malam ini. Daripada buang waktu sama orang nggak guna."

"JANGAN SENTUH DIA."

Suara Kael rendah. Api hitam kecil menyala di ujung jarinya.

Suasana langsung tegang. Penjaga lain langsung menghunus pedang.

"Mau melawan petugas?!"

"Waktu berhenti."

Tiba-tiba suara tua terdengar. Seorang kakek dengan jubah penyihir putih berjalan keluar dari pos jaga. Di dadanya ada lencana: [Archmage Kerajaan Estra]

"Kapten Varn. Cukup."

Penjaga yang tadi langsung menunduk. "T-tuan Archmage!"

Kakek itu menatap Kael dari atas ke bawah. Lalu matanya berhenti di tangan Kael yang masih menyala api hitam.

"Api Neraka... di tubuh Penyihir Sampah Level 6? Menarik."

"Siapa kamu?" tanya Kael waspada.

"Aku Magnus. Archmage penjaga gerbang ini." Dia tersenyum. "Dan aku benci orang yang meremehkan orang lain karena 'Job' nya."

Dia menoleh ke Kapten Varn. "Biarkan mereka masuk. Goblin itu di bawah tanggung jawab anak ini."

"Tapi Tuan..."

"Apa kamu mau berdebat dengan ku?"

Varn langsung diam. "Bai-baik... masuklah."

Gerbang besar terbuka dengan suara "CREETT".

Saat masuk kota, Luna langsung menarik kerah baju Kael. "Kamu gila?! Tadi mau ngelawan penjaga?! Kalau bukan karena Archmage itu kita bisa dipenjara!"

Kael mengusap kepala Luna. "Maaf. Aku nggak suka ada yang ngatain kamu."

Luna terdiam. Lalu memalingkan wajah. "Hmph. Bodoh."

Kota Perbatasan ramai. Ada pasar, guild, toko senjata. Tapi tatapan orang-orang ke mereka tetap sama. Meremehkan. Terutama ke Kael dan Grom.

[Grom: Moral -20. Efek: Takut]

Kael menyadari itu. Dia berjongkok di depan Grom. "Angkat kepala. Kamu anggota party ku. Jangan takut."

Grom mengangguk pelan. Matanya berkaca-kaca.

Tujuan mereka pertama: Guild Petualang. Bangunannya besar, ada lambang pedang dan tongkat bersilang.

Begitu masuk, semua orang terdiam.

"Lihat tuh. Penyihir Sampah."

"Bawa goblin lagi. Jorok."

"Level 6 doang sok-sokan ke Guild."

Kael mengabaikan. Dia berjalan ke meja resepsionis. Seorang wanita dengan kacamata mendongak.

"Selamat datang di Guild. Mau daftar party atau ambil quest?"

"Dua-duanya." Kael meletakkan [Inti Raja Goblin] di meja. "Kami mau daftarkan party: 'Tim Buangan'. Dan mau ambil quest rank C."

Wanita itu melihat inti. Matanya melebar. "Ini... Inti Raja Goblin? Kalian yang mengalahkannya?"

"Iya."

"Dengan Job Penyihir Sampah?" Dia jelas tidak percaya.

Tiba-tiba seseorang tertawa dari belakang.

"Ha! Tim Buangan? Nama yang pas."

Seorang pemuda dengan armor emas dan jubah merah berjalan masuk. Di belakangnya ada 4 orang party, semua Level 10+.

Di dadanya ada lencana: [Sir Leon - Ksatria Cahaya Level 15]

Leon menatap Kael dari atas ke bawah. Lalu menatap Luna. Matanya berbinar.

"Wah, healer cantik. Sayang sekali ikut sampah. Gimana kalau gabung party ku? Aku jamin kamu naik Level lebih cepat."

Luna langsung berdiri di belakang Kael. "Tidak tertarik."

Leon mengangkat bahu. Lalu menatap Kael. Senyumnya hilang. Diganti tatapan jijik.

"Dengar ya Sampah. Kota ini untuk orang kuat. Bukan untuk Job gagal kayak kamu. Lebih baik kamu keluar sebelum aku yang mengusir."

[Quest: Dihina di Guild]

[Pilihan: 1. Diam. 2. Tantang Duel]

Kael mengepalkan tangan. Api hitam di dalamnya bergejolak. Bisikan di kepalanya semakin keras. _'Bakar dia... buktikan...'_

Tapi dia menarik napas. Lalu tersenyum.

"Kamu benar. Aku memang sampah."

Semua orang kaget.

"Tapi sampah... kalau dikumpulkan... bisa jadi api yang membakar seluruh kota ini."

Kael menoleh ke resepsionis. "Kami terima quest rank C. Mengantar barang ke Desa Utara. Lewat Hutan Serigala."

"W-waah itu bahaya! Itu rank C!"

"Makanya kami ambil."

Leon mendengus. "Huh. Mati aja sana." Lalu dia pergi dengan partynya.

Setelah keluar guild, Luna langsung menarik tangan Kael. "Kamu kenapa diam aja tadi?! Harusnya kamu lawan dia!"

Kael menatap langit. "Karena aku nggak mau jadi monster yang mereka bilang. Belum."

Dia menatap tangannya yang masih ada sisa api hitam.

"Tapi kalau mereka terus dorong aku... aku nggak jamin."

[Ding! Quest Baru: Pengantaran Barang Rank C]

[Resiko: Diserang Bandit dan Monster]

[Reward: 500 Gold + Reputasi Guild +50]

Malam itu, di sebuah penginapan murah, Kael duduk di depan jendela. Di luar, kota tidur.

Di dalam kepalanya, bisikan itu kembali.

_'Mereka membencimu. Bakar saja semua.'_

Kael menutup mata. "Belum. Waktunya belum tiba."

Dan di tempat tidur sebelah, Luna tidur sambil memeluk bantal, menggumam: "Jangan mati... ya, idiot..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!