Di balik senyum ceria Nadia, tersimpan ketangguhan luar biasa. Meski ia tidak bisa bicara dan berasal dari keluarga sederhana, kecerdasannya membawa Nadia meraih beasiswa di universitas swasta ternama.
Namun, dunianya yang begitu sempurna seketika runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. Demi masa depannya, Nadia membalut lukanya dengan senyuman. Sayangnya, badai kembali datang seolah tidak membiarkan Nadia hidup dengan tenang, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang membantunya dari kejamnya dunia.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi pada Nadia? Siapakah pria yang membantu Nadia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Setelah sarapan pagi yang hangat, Bi Nita beserta para asisten rumah tangga bergerak sigap merapikan piring-piring kosong di meja makan. Nadia hendak berdiri untuk membantu, namun Mama Bella menahan pergelangan tangannya seraya tersenyum manis.
"Nadia, biarkan Bi Nita yang mengurus dapur. Mulai hari ini, ada hal yang jauh lebih penting yang harus kita persiapkan," tutur Mama Bella dengan suara selembut sutra.
Nadia menatap calon ibu mertuanya dengan raut bingung, ua meraih buku catatan kecilnya dari saku dress sederhananya dan menulis dengan cepat.
[Persiapan apa, Tante?]
Mama Bella menggenggam erat kedua tangan Nadia, matanya berbinar-binar penuh kegembiraan yang tak lagi bisa ditutupi.
"Pernikahan kamu dengan Aksa, kita tidak punya banyak waktu dan Tante ingin pernikahan ini menjadi momen yang paling indah buat kamu," jawab Mama Bella.
Deg!
Jantung Nadia berdegup kencang, meskipun ia tahu bahwa perjodohan ini adalah amanah terakhir mendiang ayahnya dan kesepakatan antarkeluarga, mendengarnya secara langsung tetap saja membuat dadanya berdesir hebat hingga Nadia refleks melirik ke arah Aksa yang masih duduk tenang di ujung meja makan.
Aksa yang baru saja hendak menyesap cangkir kopi hitamnya menghentikan gerakan tangannya sejenak, pria itu tidak menunjukkan penolakan dan hanya sorot mata pekatnya yang menatap Nadia dengan intrik yang sulit diterjemahkan.
[Tapi, Tante... apakah tidak terlalu cepat? Lalu keadaan saya yang seperti ini...]
"Ssst... Jangan pernah memikirkan kekuranganmu, Nadia," potong Papa Mahendra tegas namun hangat. ia menyandarkan punggungnya pada kursi kayu jati tersebut.
"Hari ini Mama sudah mengosongkan jadwal, kita akan pergi ke boutique langganan keluarga Mahendra untuk mengukur gaun pengantin, memilih konsep dekorasi dan menentukan tanggalnya," ucap Mama Bella.
Mama Bella kemudian beralih menatap putra tunggalnya, "Aksa, kamu kalau langsung berangkat kerja, berangkat aja," ucap Mama Bella.
"Hari ini Aksa ada rapat, biar rapatnya bisa diwakilkan Benny," balas Aksa santai.
Senyum Mama Bella makin mengembang lebar, "Mama gak maksa kamu ikut loh ya," ucapnya.
Empat puluh lima menit kemudian, sebuah mobil Rolls-Royce Phantom berwarna hitam legam berhenti mulus di depan sebuah bangunan bergaya Neoklasik yang sangat megah di kawasan elite ibu kota. L'Aura Haute Couture boutique perancang busana ternama yang hanya melayani kalangan bangsawan dan konglomerat papan atas.
Seorang doorman berseragam rapi membukakan pintu mobil dengan penuh hormat. Aksa turun lebih dulu, pria itu membetulkan kancing jas mewahnya lalu secara alami mengulurkan telapak tangannya yang kokoh ke arah Nadia yang hendak turun dari pintu penumpang.
Pandangan Nadia terarah pada tangan Aksa, sedikit ragu sebelum akhirnya menyandarkan jemarinya di atas telapak tangan hangat pria itu. Genggaman Aksa terasa begitu erat dan mantap, memberinya pijakan yang stabil saat kakinya yang terbalut sepatu tumit rendah menyentuh lantai marmer boutique.
"Terima kasih," bibir Nadia bergerak tanpa suara.
Aksa hanya memberikan anggukan tipis, namun genggaman tangannya baru terlepas saat mereka melangkah masuk ke dalam interior boutique yang terkesan sangat mewah, didominasi warna emas dan kristal yang berkilauan.
"Selamat datang, Nyonya Mahendra! Sebuah kehormatan besar bagi kami," sambut sang desainer utama, seorang wanita paruh baya bernama Madame Evelyn, seraya membungkuk hormat.
Pandangan Madame Evelyn kemudian beralih pada sosok Nadia dan Aksa yang berdiri bersisian, "Dan ini pasti Tuan Muda Aksa beserta calon mempelainya?" tebaknya.
"Benar, Evelyn. Ini Nadia, calon menantuku," jawab Mama Bella bangga.
"Aku ingin gaun pengantin terbaik yang pernah kamu rancang, soal biaya tidak menjadi masalah, yang terpenting Nadia terlihat seperti seorang ratu di hari bahagianya," lanjut Mama Bella.
Madame Evelyn tersenyum penuh antusiasme, "Tentu saja, Nyonya Bella. Nona Nadia memiliki kecantikan alami yang sangat anggun dan kulit yang sangat bersih, gaun gaya royal classic dengan sentuhan renda Prancis pasti akan terlihat sempurna padanya," jawabnya.
Madame Evelyn memberi isyarat kepada dua asistennya untuk membawa Nadia ke ruang ganti eksklusif di lantai dua, Nadia sempat melirik ke arah Aksa yang kini duduk di sofa kulit hitam seraya membuka-buka tablet kerjanya. Pria itu tampak acuh tak acuh, namun begitu mata mereka beradu, Aksa memberikan isyarat mengangguk pelan, seolah menyuruhnya untuk menuruti arahan sang desainer.
Satu jam berlalu, Mama Bella tampak sibuk membolak-balik album konsep dekorasi bunga dan menentukan daftar undangan bersama staf boutique. Sementara itu, Aksa tetap berkutat dengan pekerjaan kantornya, meski sesekali pandangannya bergulir ke arah tangga melingkar.
Hingga akhirnya, tirai beludru berwana marun di area panggung utama perlahan tersingkap. "Nyonya Bella, Tuan Aksa... silakan lihat hasil rancangan pertama kami," ujar Madame Evelyn dengan nada bangga.
Suara gesekan tirai membuat Aksa mendongakkan kepalanya dari layar tablet. Dan pada detik itu juga, napas pria itu seolah terhenti seketika.
Nadia berdiri di atas panggung bundar dengan gaun pengantin berwarna putih gading, gaun berbahan sutra eksklusif itu memeluk lekuk tubuhnya yang ramping dengan sangat sempurna, dihiasi sulaman renda buatan tangan serta taburan kristal yang berpendar lembut diterpa cahaya lampu chandelier. Bahunya yang indah terpapar secara elegan dengan potongan off-shoulder, sementara rambut panjangnya diikat longgar ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya yang mulus.
Wajah pucat Nadia kini bersemu merah muda karena rasa malu. Ia berdiri canggung di bawah sorotan lampu, jemarinya meremas kain gaun yang mengembang anggun di sekeliling kakinya.
Mama Bella menutupi mulutnya, menahan pekikan haru, "Dewa Tuhan... Nadia, kamu... kamu tampak sangat cantik luar biasa, Nak!" air mata haru menggenang di pelupuk mata sang calon mertua.
Sementara itu, Aksa mematung di atas sofanya. Manik mata pekatnya yang biasa dingin dan sukar ditakuti kini terkunci sepenuhnya pada sosok gadis menderita yang dulu hampir ditindas oleh kekuasaan orang lain. Di dalam gaun itu, Nadia tidak lagi terlihat seperti gadis yang menyedihkan, melainkan seorang dewi anggun yang memancarkan aura kemewahan yang tak terbantahkan.
Getaran hebat kembali menghantam dada Aksa. Pria yang selama ini terkenal rasional dan keras kepala itu perlahan berdiri dari tempat duduknya, melangkah mendekati panggung tempat Nadia berdiri tanpa melepaskan pandangannya sedikit pun.
Nadia menahan napas saat Aksa berhenti tepat di depan panggung dan membuat posisi wajah pria itu kini sejajar dengan dadanya, aroma sandalwood yang menjadi ciri khas Aksa menyelimuti indra penciumannya.
"Aksa... bagaimana menurutmu?" tanya Mama Bella dengan nada menggoda dari belakang.
Aksa mengulurkan tangannya secara perlahan, jemari kekarnya yang hangat mengusap lembut sisa benang halus di bahu terbuka Nadia dan membuat kulit gadis itu merinding seketika. Sorot mata pekat Aksa menatap dalam ke dalam iris mata bulat Nadia yang bening.
"Sempurna," ucap Aksa dengan suara beratnya yang teramat dalam dan serak, membuat degup jantung Nadia berpacu bagaikan genderang perang.
.
.
.
Bersambung.....