Bima mengira ia bisa mengubur masa lalunya yang kelam di Desa . Mantan komandan regu pasukan khusus ini memilih hidup bersahaja sebagai petani jagung dan pemancing di tepi sungai demi melarikan diri dari trauma perang. Namun, kedamaian yang ia bangun susah payah runtuh setiap kali ia teringat pada Joni, sahabat sekaligus anak buahnya yang gugur dalam pelukan Bima akibat terjangan peluru senapan mesin musuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sebuah penolakan
"Oh iya, Nak Bima. Kalau boleh tahu, sebenarnya alamat rumah tempat tinggalmu sekarang ada di mana?" tanya Ibu Sanjaya ramah. Beliau mencoba mencairkan kembali suasana yang sempat agak kaku, tepat setelah seorang pelayan berseragam rapi selesai meletakkan gelas-gelas berisi minuman dingin yang menyegarkan di atas meja kaca.
"Rumah saya berada di ujung desa, tepatnya di wilayah sektor Utara, Bu," jawab Bima dengan jujur, lugas, dan pembawaan yang sangat santai tanpa ada hal yang ditutup-tutupi.
Ibu Sanjaya seketika terperanjat kaget dan terkesiap mendengar jawaban tersebut. "Jauh sekali, Nak Bima! Dari ujung Utara sampai bisa menembus ke wilayah Selatan sini!" serunya dengan nada suara yang penuh rasa tidak percaya. Pikirannya langsung membayangkan bagaimana rumitnya jarak tempuh lintas wilayah kota yang sangat padat, yang pastinya memakan waktu perjalanan hingga berjam-jam lamanya di jalan raya menggunakan kendaraan jadul.
"Hehe, tidak apa-apa, Bu. Saya sudah terbiasa dengan perjalanan jauh," sahut Bima sembari terkekeh pelan, berusaha mengecilkan pengorbanan waktu dan tenaga yang telah dia lakukan demi memenuhi undangan tersebut.
Melihat ketulusan dan pengorbanan jarak yang begitu jauh dari sang pemuda, Ibu Sanjaya langsung tergerak hatinya. Beliau segera membuka tas jinjing bermerek miliknya dan merogoh ke bagian dalam. Dari sana, beliau mengeluarkan sebuah kotak persegi panjang yang mewah dan masih bersegel. Kotak itu berisi sebuah ponsel pintar (smartphone) berspesifikasi paling tinggi keluaran terbaru yang saat ini menjadi barang paling mahal dan prestisius di pasaran. Tanpa ragu, beliau menyodorkannya langsung ke hadapan Bima. "Pakai ini ya, Nak. Biar koordinasi dan hubungan komunikasi kita ke depannya bisa menjadi jauh lebih mudah dan lancar."
Bima melirik sejenak ke arah kotak ponsel mewah yang berkilau di bawah lampu ruangan, lalu menggelengkan kepalanya dengan gestur yang amat sopan. "Tidak usah repot-repot, Bu. Terima kasih banyak atas kebaikan hatinya. Ponsel lama milik saya yang sekarang masih berfungsi dengan sangat baik dan masih bisa dipakai untuk telepon kok," tolak Bima dengan tutur kata yang halus namun menyiratkan keteguhan.
Mendengar penolakan Bima yang begitu instan terhadap barang mewah yang diidamkan banyak orang, Mia yang duduk tenang di samping ibunya seketika terkejut. Gadis muda itu langsung membatin dengan perasaan yang campur aduk antara gemas dan takjub. 'Ibu... malu-maluin saja! Pria hebat dan gagah seperti Kak Bima mana mungkin mempan kalau cuma dikasih hadiah ponsel biasa begitu!' pikir Mia dalam hati dengan perasaan yang sangat gregetan.
Tanpa berbicara sepatah kata pun untuk berdebat, Mia tiba-tiba bergegas bangkit dari duduknya di sofa. Dia berlari cepat menaiki anak tangga melingkar menuju ke kamarnya yang luas di lantai dua. Sesampainya di dalam kamar pribadi, dia membuka laci tempat penyimpanan dan langsung meraup semua kunci cadangan mobil mewah koleksinya yang tergeletak rapi di atas lemari kaca. Dengan napas yang sedikit terengah-engah karena terburu-buru, dia kembali berlari turun menuju ruang tamu utama. Dengan sebuah gerakan instan yang dramatis, dia menyebarkan puluhan gantungan kunci mobil berlogo merek-merek otomotif ternama dan supercar dunia itu di atas meja kaca, tepat di depan pandangan mata Bima.
"Kak Bima, ambil saja! Mana saja yang Kakak suka, langsung bawa pulang hari ini juga!" seru Mia dengan sepasang mata yang berbinar-binar penuh harap, sangat menginginkan agar sang penyelamat nyawanya mau menerima bentuk apresiasi darinya.
Bima hanya tersenyum tipis dan tenang melihat tingkah laku impulsif khas anak muda dari gadis belia di depannya itu. Dengan gerakan tangan yang sangat tenang dan terukur, dia mulai mengumpulkan satu per satu kunci mobil sport yang berserakan di atas meja. Dia merapikannya kembali menjadi satu tumpukan yang teratur, lalu mendorong tumpukan kunci tersebut menjauh dari posisinya secara perlahan dan halus. Dia menepiskan semua kemewahan materiil yang berkilauan itu tanpa ada rasa ragu sedikit pun di matanya.
Namun, Mia ternyata tidak kehilangan akal begitu saja. Sifat keras kepala dan pantang menyerah yang mengalir di darahnya mendadak bangkit. Dia kembali berbalik arah dan berlari lagi menuju lantai dua dengan langkah kaki yang cepat. Kali ini tujuan utamanya adalah brankas besi pribadi berkode rahasia miliknya. Dari dalam sana, dia mengambil beberapa lembar dokumen tebal berupa sertifikat asli kepemilikan atas sejumlah vila mewah dan kompleks rumah elite yang tersebar di berbagai kawasan paling strategis di pusat kota.
Gadis modis itu kembali turun ke lantai bawah dan menaruh tumpukan map sertifikat tanah tersebut tepat di hadapan Bima dengan sisa napas yang memburu. "Kak Bima! Jika deretan mobil sport tadi masih belum menarik bagi Kakak, maka coba lihat dokumen ini! Di dalam mapnya juga sudah lengkap dilampirkan foto-foto cetak mengenai bentuk arsitektur bangunannya. Kakak tinggal tunjuk dan pilih mau rumah mewah yang mana!" desak Mia dengan nada bicara yang menggebu-gebu dan penuh penekanan.
Bima tetap mampu mempertahankan ketenangan batinnya yang luar biasa di hadapan guyuran harta tersebut. Dia melempar senyum ramah yang menyejukkan, lalu dengan santai meraih gelas minuman dingin miliknya dan meminumnya secara perlahan untuk membasahi tenggorokannya yang mulai terasa kering. Setelah meletakkan kembali gelas kaca itu ke tempat semula, tangan kekar Bima kembali bergerak dengan rapi untuk menyusun lembaran-lembaran sertifikat properti yang sempat agak berserakan akibat ulah Mia. Setelah semuanya tersusun rapi di sudut meja, Bima mengangkat kepalanya dan menatap Ibu Sanjaya serta Mia secara bergantian dengan pandangan yang teduh namun berwibawa.
"Terima kasih yang sebesar-sebesarnya atas segala kebaikan hati dari Ibu dan juga Mia. Namun, maaf, saya benar-benar tidak bisa menerima satu pun dari pemberian ini," ujar Bima dengan nada baritonnya yang sangat mantap, dalam, dan memancarkan harga diri seorang pria sejati yang tak ternilai oleh materi.
"Kenapa bisa begitu, Nak? Apa kamu sama sekali tidak menyukai dengan semua bentuk pemberian yang kami tawarkan ini?" tanya Ibu Sanjaya, merasa sangat heran sekaligus dilingkupi rasa kagum yang luar biasa besar di dalam dadanya. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya beliau melihat ada seorang pemuda kelas bawah yang begitu kebal dan sama sekali tidak goyah terhadap godaan harta materiil yang melimpah ruah. "Kamu tinggal pilih saja apa pun yang ada, Nak Bima. Sebutkan saja keinginanmu, langsung kita beli dan penuhi sekarang juga. Ataukah mungkin..."
Kalimat yang diucapkan Ibu Sanjaya mendadak menggantung begitu saja di udara terbuka. Pandangan mata beliau yang semula fokus pada Bima perlahan-lahan beralih, melirik dengan penuh arti yang sangat dalam ke arah Mia yang saat itu sedang berdiri tegak di dekat sisi meja kaca. Mendapat lirikan kode khusus yang tak terduga dari sang ibunda, wajah cantik Mia seketika berubah merona merah padam karena salah tingkah. Dia langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam demi menyembunyikan wajahnya, seiring dengan detak jantung di dalam dadanya yang mendadak berpacu dengan sangat liar dan bergemuruh hebat.