Annisa rela meninggalkan statusnya sebagai putri tunggal keluarga terpandang demi menikahi Haikal, pria yang ia cintai. Bahkan, ia menolak perjodohan dengan Emran Richard, pria sukses yang sejak lama berjanji akan membahagiakannya.
Namun, setelah menikah, hidup Annisa berubah menjadi penderitaan. Dihina ibu mertua, divonis mandul, hingga akhirnya ditalak tiga oleh Haikal di malam hujan saat suaminya berada di puncak karier. Haikal merasa semua keberhasilannya hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, tanpa ia sadari, karier dan hidup mewahnya berdiri di atas satu nama, Annisa Wijaya.
Saat kebenaran terungkap dan penyesalan datang, Annisa sudah berubah. Akankah, Annisa kembali pada suaminya, atau justru menghancurkan suaminya tanpa ampun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Pagi hari di Erlangga Group sudah mulai ramai oleh aktivitas karyawan. Mobil milik Haikal perlahan memasuki basement perusahaan dengan wajah yang masih terlihat lelah akibat pulang terlalu malam semalam.
Pria itu bahkan masih mengomel pelan sejak di perjalanan. Baru saja Haikal mematikan mesin mobil, kaca mobilnya diketuk seseorang. Haikal mengernyit kesal lalu menurunkan kaca.
Seorang petugas keamanan berdiri dengan wajah canggung.
“Maaf, Pak...”
“Ada apa?”
Satpam itu tampak ragu sesaat sebelum berkata hati-hati, “mobil Bapak tidak bisa parkir di basement lagi.”
Kening Haikal langsung berkerut. “Maksudnya?”
Satpam itu menelan ludah.
“Mulai hari ini area basement khusus staf kantor utama dan manajer tetap.”
Haikal langsung turun dari mobil dengan wajah tidak percaya.
“Aku manajer!”
Satpam itu buru-buru menggeleng gugup.
“Maaf, Pak...” suaranya mengecil. “Kami mendapat pemberitahuan kalau Bapak dipindahkan sementara ke bagian gudang.”
Wajah Haikal langsung berubah.
“Apa?!”
Beberapa orang langsung menoleh mendengar bentakannya.
Satpam itu semakin gugup.
“Dan ... kendaraan bagian gudang harus diparkir di area belakang gedung.”
“Belakang gedung?” Haikal hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Satpam itu mengangguk pelan.
“Di area parkir staf keamanan dan OB, Pak.”
Haikal langsung membanting pintu mobilnya keras.
“Sialan!” Wajah pria itu memerah penuh amarah. Karena area parkir belakang gedung adalah tempat terbuka tanpa atap. Dan dipenuhi motor serta mobil tua milik satpam dan petugas kebersihan.
Jelas mobilnya akan terkena sinar matahari seharian.
“Aku dipermalukan...” geramnya sambil meremas rambut frustrasi. Satpam itu hanya bisa menunduk tak berani membantah.
“Pak ... silakan mobilnya dipindahkan.”
Satpam itu kembali berkata hati-hati meski wajahnya sudah mulai tegang menghadapi emosi Haikal.
Haikal justru semakin tersulut.
“Aku bilang aku manajer!” bentaknya keras. “Kalian semua buta, hah?!”
Beberapa karyawan yang baru datang mulai melirik ke arah keributan itu. Haikal semakin malu saat menyadari dirinya mulai diperhatikan.
“Aku kerja di sini bukan sehari dua hari!” geramnya emosi. “Berani sekali kalian usir mobilku dari basement!”
Satpam itu tampak serba salah.
“Maaf, Pak ... saya hanya menjalankan perintah.”
“Perintah siapa?!”
“Pak Satrio, Pak.”
Wajah Haikal langsung mengeras. Dan tepat di saat itu, suara langkah kaki terdengar mendekat. Satrio muncul dengan wajah datar seperti biasa.
Pria itu berhenti beberapa langkah dari Haikal lalu berkata tenang,
“Mobilnya harus dipindahkan.” Nada suaranya dingin tanpa basa-basi.
Haikal langsung menatap Satrio penuh amarah tertahan.
“Pak Satrio, ini keterlaluan—”
“Perintah dari direksi.” Kalimat itu langsung memotong ucapan Haikal mentah-mentah. Lalu, Satrio mengangkat sebuah plastik hitam yang sedari tadi dibawanya.
“Dan mulai hari ini...” pria itu menyerahkan plastik tersebut pada Haikal, “Anda bekerja sementara di bagian gudang...”
Haikal menatap plastik di tangan Satrio. Di dalamnya terdapat seragam gudang sederhana berwarna kusam dengan logo perusahaan di dada.
Napas Haikal langsung memburu. Tangannya sampai mengepal kuat menatap benda itu. Beberapa staf mulai berbisik pelan sambil melirik ke arahnya.
Sementara Satrio tetap berdiri tenang tanpa rasa iba sedikit pun.
“Anda terlambat tiga menit.” Tatapannya datar.
“Kalau masih ingin bekerja di sini, segera ganti pakaian dan mulai kerja.”
Rahang Haikal mengeras penuh amarah. Namun, sekali lagi dia tidak bisa mengatakan apa pun. Dengan wajah merah menahan malu dan amarah, Haikal akhirnya masuk kembali ke dalam mobilnya.
Pintu mobil ditutup keras.
Sebelumnya, tangannya langsung merebut kasar plastik berisi seragam gudang dari tangan Satrio.
“Tidak usah sok mengatur saya,” geramnya penuh emosi. Satrio sama sekali tidak terpancing. Pria itu hanya melangkah mundur sedikit lalu berkata datar,
“Segera pindahkan mobil Anda.”
Tatapan Haikal penuh kebencian. Namun, pada akhirnya, pria itu tetap menyalakan mesin mobilnya.
Mobil sedan miliknya perlahan keluar dari basement menuju area parkir belakang gedung. Semakin jauh mobil bergerak, semakin buruk pula suasana hati Haikal. Dan saat tiba di parkiran belakang yang panas serta penuh kendaraan staf rendah, rahangnya langsung mengeras.
Motor tua berjajar berantakan. Mobil pick up perusahaan terparkir di sudut. Bahkan, beberapa OB dan satpam tampak melirik heran saat melihat mobilnya masuk ke area itu.
“Sialan...” gumam Haikal frustrasi. Pria itu memukul setir mobil pelan penuh emosi. Tatapannya kemudian jatuh pada plastik hitam di kursi sebelah. Seragam yang bahkan tidak pernah terpikir akan dipakainya.
Napas Haikal memburu kasar. “Itu pasti ulah Emran." Nama itu langsung membuat dadanya semakin panas. Sejak pria itu muncul, semua hidupnya mulai berantakan.
Haikal meremas rambutnya frustrasi.
“Apa masalahnya dengan aku sebenarnya?!”
Setelah mobil Haikal pergi menuju area parkir belakang, suasana basement akhirnya kembali tenang. Namun, beberapa satpam masih saling melirik canggung.
Mereka jelas terkejut melihat perubahan perlakuan perusahaan terhadap Haikal yang sebelumnya begitu dibanggakan karena baru naik jabatan.
Salah satu satpam bahkan mendekat pelan pada Satrio.
“Pak ... apa tidak masalah memperlakukan Pak Haikal seperti ini?”
Satrio menatap pria itu datar.
“Memangnya kenapa?”
“Beliau dulu manajer...” jawab satpam itu ragu.
Satrio justru tersenyum tipis dingin.
“Itu dulu....” Kalimat itu membuat beberapa satpam langsung diam.
Lalu pria itu berkata lagi dengan nada tenang namun penuh tekanan, “mulai hari ini jabatan kalian bahkan lebih tinggi darinya.”
Mata para satpam langsung membesar. Satrio melanjutkan tanpa perubahan ekspresi sedikit pun,
“Kalian boleh menyuruhnya melakukan apa saja selama masih berkaitan dengan pekerjaan gudang.”
“Pak...” salah satu satpam mulai panik. “Kalau nanti beliau marah?”
“Tidak perlu takut.” Nada suara Satrio tetap datar.
“Dia tidak sepenting itu lagi di kantor ini.”
Ucapan itu membuat udara seakan ikut menegang. Para satpam saling
Satrio membenarkan jasnya pelan sebelum berkata terakhir kali,
“Kalau dia keberatan...” Tatapannya berubah dingin.
“Dia boleh pergi dari sini.” Setelah mengatakan itu, Satrio langsung berbalik pergi meninggalkan basement.
Sementara, para satpam masih berdiri diam dengan perasaan tidak tenang.
"Sungguh, Pak Haikal dulu begitu sombong. Sekarang dia malah menjadi bagian gudang,"
"Karma, dulu sombong," cibir yang lain.