Vera Amalia umur 21 tahun, dia adalah seorang mahasiswi yang sangat cantik. Dia adalah idola kampus. Banyak cowok-cowok yang mengejar-ngejar dia, tapi hati vera sudah terpaut kepada seorang cowok yang rupawan, sebut saja namanya Dion. Mereka sudah pacaran cukup lama. Vera sangat mencintai Dion, tapi tidak disangka-sangka ternyata Dion berselingkuh dengan sahabat Vera..
Kira-kira apa ya yang akan dilakukan Vera saat dirinya mengetahui perselingkuhan sang pujaan hati dengan sahabat terbaiknya. Ikuti terus ceritanya ya..
Cerita aku ini hanya Fiktif belaka, jika ada kata-kata yang tidak menggenakan hati aku minta maaf. Kita ambil sisi baiknya dan kita buang sisi buruknya.
Terimakasih,
🙏🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rosshie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu ketahuan ( terbongkar )
Vera masih merasa ragu untuk masuk ke dalam gudang. Ia masih tetap berdiri di depan pintu gudang sambil meremas bajunya sendiri.
" Aku harus kuat, aku akan buktikan dengan mata kepala aku senditi. Kamu pasti bisa Ver." Ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
Kini Vera mencoba mendekati pintu gudang. Ia mencoba menempelkan telingannya ke pintu gudang. Ia sangat terkejut saat mendengar suara-suara yang tak asing di telingannya.
Terdengar suara berisik dan juga suara kenikmatan yang tidak pernah Vera bayangkan sebelumnya.
" Apa yang sedang Tantri lakukan? Suara itu..apa Tantri sed--"
Vera langsung membungkam mulutnya dengan tangannya sendiri. Ia tidak sanggup membayangkannya. Sahabat yang dikiranya gadis baik-baik ternyata melakukan hal yang tak pernah Vera bayangkan
Rasa penasaran membuat Vera memberanikan diri untuk membuka pintu gudang itu. Tanpa pikir panjang Vera langsung membuka pintu gudang itu yang ternyata tidak dikunci. Mata Vera seketika membulat melihat adegan yang terpampang jelas didepan kedua matanya.
" Apa yang kalian lakukaaann!" Teriak Vera keras.
Vera tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia tidak menyangka Dion tega melakukan ini padanya. Bagai tersambar petir disiang bolong. Hati Vera seakan remuk redam menyaksikan semua ini dengan kedua matanya sendiri.
Apa yang diucapkan Ferdi ternyata benar. Ia menyesal karena selama ini tidak mempercayai ucapan Ferdi.
Dion dan Tantri terkejut melihat Vera yang kini berdiri di depan pintu gudang. Dion langsung mendorong tubuh Tantri hingga Tantri terjatuh.
Dion merapikan kembali pakaiannya dan berjalan mendekati Vera. Dion bahkan tidak memperdulikan Tantri yang tersungkur karena dorongannya.
" Sayang apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Dion terkejut.
" Seharusnya aku yang bertanya sama kamu, apa yang kamu lakukan disini sama Tantri?" Tanya Vera penuh penekanan.
" Sayang, aku bisa jelasin semuanya, kamu jangan salah paham." Ucap Dion lalu menggenggam tangan Vera.
Amarah Vera semakin memuncak setelah mendengar ucapan Dion yang seakan tidak merasa bersalah sedikitpun. Ia bahkan tidak bisa lagi membendung air matanya yang sedari tapi mengenang dikedua matanya. Hatinya benar-benar sakit.
" Nggak ada yang perlu kamu jelasin lagi Dion! aku sudah melihat dengan mata kepala aku sendiri, aku nggak menyangka kamu tega melakukan semua ini dibelakang aku." Seru Vera lalu menghempaskan tangan Dion. Ia mencoba menahan tangisannya.
" Sayang please dengerin aku dulu." Pinta Dion.
" Aku sudah nggak mau mendengar apa-apa lagi. Aku memang terlalu mencintaimu Dion, hingga mata aku dibutakan oleh cinta. Tapi sekarang aku sudah nggak mau kamu bodohi lagi." Ucap Vera di sela tangisannya
Air mata Vera mengalir tiada henti. Rasa sakit yang Vera rasakan benar-benar membuatnya tak bisa lagi menahan amarahnya.
Tapi Dion tetap tidak menyerah. Dia terus membujuk Vera agar mempercayainya lagi.
" Sayang aku mohon dengerin penjelasan aku dulu." Ucap Dion sambil memegang tangan Vera.
" Cukup Dion! Sudah cukup kamu menyakiti perasaan aku, aku nggak bisa memaafkan kamu, perbuatan kamu sudah melewati batas. Aku nggak mengira kamu dan Tantri berani melakukan hal bejat ini tanpa memikirkan perasaan aku.
..Kalian anggap aku ini apa? jadi selama ini kamu sudah membodohi aku Dion. Kamu bilang kamu nggak akan mengkhianati aku dan kamu nggak ada hubungan apa-apa sama Tantri..
..Dan dengan bodohnya aku mempercayai semua ucapan kamu. Dion aku sudah muak dengan semua ini, mulai hari ini kita putus!" Teriak Vera sambil melepas tangan Dion.
" Sayang jangan seperti itu, please maafin aku, aku khilaf sayang." Ucap Dion yang kini mulai menitikan air mata.
Dion tidak menyangka Vera akan mengetahui semuanya. Dion berusaha menyimpan rapat-rapat hubungannya dengan Tantri agar tidak di ketahui oleh Vera.
" Cukup Dion, simpan air mata buaya kamu, aku nggak akan merubah keputusan aku meski kamu sampai menangisa darah. Aku harap kamu jangan pernah menemui aku lagi, mulai hari ini kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi." Ucap Vera lalu menghapus air matanya.
Vera mencoba untuk tetap tegar. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan Dion walau sebenarnya tubuhnya sudah terasa lemas, tapi Ia mencoba untuk tetap kuat.
" Sayang, aku nggak mau kita putus. Aku sayang sama kamu, aku nggak bisa hidup tanpa kamu sayang." Ucap Dion memelas.
" Apa kamu bilang! nggak bisa hidup tanpa aku! tapi apa kenyataannya, kamu malah melakukan hal bejat itu dengan sahabat aku, dimana hati kamu Dion." Teriak Vera yang mulai emosi.
" Sayang, please maafin aku, aku mohon maafin aku, aku tau aku salah."
PLAAAKK.
Suara tamparan terdengar di seluruh ruangan. Tangan Vera terasa panas sehabis menampar pipi Dion dengan sekuat tenaga.
" Ini yang pantas kamu dapatkan Dion bukannya kata maaf dari aku, seharusnya dari dulu aku melakukan ini..
...Mulai sekarang jangan pernah menghubungi aku lagi, diantara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Ini aku kembalikan." Vera melepas cincin pertunangannya.
" Aku sudah nggak butuh dan kamu kasih aja ke pacar baru kamu Tantri. Mungkin dia lebih membutuhkannya dari pada aku. Tantri akan senang bisa menikah dengan kamu, karena itu adalah keinginan Tantri agar bisa menikah dengan anak orang kaya, agar bisa merubah hidupnya yang miskin itu." Ucap Vera sambil melemparkan cincin pertunangannya ke wajah Dion.
Vera tidak menyangka mulutnya sanggup mengucapkan kata-kata yang begitu menyakitkan kepada Tantri. Vera tau Tantri berasal dari keluarga tidak mampu tapi Vera tidak pernah mempermasalahkan itu.
Tapi kali ini hati Vera benar-benar merasa tersakiti oleh sahabat terdekatnya yang tega menusuknya dari belakang.
Vera pergi meninggalkan Dion dan Tantri, air mata Vera kembali mengalir deras membasahi kedua pipinya.
Tantri yang sedari tadi diam seribu bahasa kini berjalan mendekati Dion. Walau Tantri kecewa dengan sikap Dion yang sudah mendorongnya tadi, tapi Tantri berusaha tetap tenang.
" Sayang kamu nggak apa-apakan." Tanya Tantri sambil memegang pipi Dion yang terkena tampar Vera.
" Singkirin tangan kamu!" Seru Dion sambil melepaskan tangan Tantri dari pipinya.
" Sayang, sudah lupain saja Vera, 'kan masih ada aku disini." Ucap Tantri sambil melingkarkan tangannya ke leher Dion.
" Aku nggak akan pernah melepaskan Vera, kamu ingat itu." Ucap Dion penuh penekanan. Dion mendorong tubuh Tantri.
Kini tubuh Tantri kembali terjatuh. Tantri sudah tidak bisa lagi mentolerir sikap Dion kepada dirinya.
" Apa salah aku? kenapa kamu marah sama aku?" Tanya Tantri sambil mencoba berdiri.
" Ini semua gara-gara kamu! kalau kamu nggak mengoda aku waktu itu maka semua ini nggak akan terjadi. Vera nggak akan meninggalkan aku." Ucap Dion emosi.
Dion kini mulai menyesali perbuatannya. Andai waktu dapat diputar kembali, Dion memilih tidak akan tergoda oleh rayuan Tantri. Tapi semua hanya tinggal penyesalan.
" Jadi kamu sekarang menyalahkan aku, bukannya kamu yang selalu memintaku untuk memenuhi hasratmu itu, bukannya kamu yang selalu merengek-rengek kepadaku disaat kamu membutuhkan aku." Ucap Tantri yang kini mulai emosi.
" Aku nggak perduli, mulai hari ini jangan pernah menghubungi aku lagi, anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa diantara kita. Aku menyesal telah terbujuk rayuan kamu." Ucap Dion dengan sorot mata yang tajam.
" Nggak! aku nggak mau! semuanya sudah aku berikan kepada kamu dan sekarang kamu mau meninggalkan aku begitu saja dan nggak mau bertanggungjawab atas semua perbuatan kamu! enak saja! aku nggak mau!" Teriak Tantri keras.
" Aku..nggak..per..duli." Ucap Dion penuh penekanan. Dion mengambil cincin yang tadi dilempar oleh Vera.
" Jangan harap aku akan menemui kamu lagi." Ucap Dion lalu pergi meninggalkan Tantri.
Dion kini sedang memikirkan bagaimana caranya meminta maaf kepada Vera agar Vera mau kembali lagi kepadanya.
" Dion kamu benar-benar brengsek!" Teriak Tantri keras.
Tapi Dion sama sekali tidak memperdulikan teriakan Tantri dan terus berjalan meninggalkan Tantri.
" Sayang, maafin aku, aku tau aku salah, tolong maafin aku. Aku khilaf, maafin aku." Guman Dion dalam hati.
🌟🌟🌟🌟