Ninda adalah Mahasiswi asal Indonesia yang berkuliah di Tu Delft Belanda. Pada hari itu untuk pertama kalinya Ninda harus pergi keluar negri naik pesawat seorang diri, saat akan melakukukan check in Ninda mengalami kecelakkan yang di akibatkan oleh kelalayannya sendiri, saat itu lah dia bertemu dengan seorang pria bernama Noah, pertemuan itu meninggalkan kesan, namun Ninda tak berfikir akan beretemu lagi dengan pria itu, sampai akhirnya di pertemuan keluarga yang di adakan di kediaman Tonny Ayah Tiri Ninda dia bertemu lagi dengan Noah yang ternyata adalah adik sepupu Tonny ayah Tiri Ninda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Delft Kota Pelajar
"Sungguh menakjubkan," kata Ninda sambil melihat keindahan Sungai Schie yang terhubung dengan pekarangan belakang rumah Tonny.
Angin bertiup lembut membelai rambut Ninda. Ia merasakan udara yang sangat bersih. Sungai Schie terlihat begitu tenang dan jernih.
Beberapa saat kemudian, Raya menghampiri putrinya dari belakang, memeluknya erat. Ninda tampak terkejut, lalu tersenyum ke arah Raya.
"Nin, Papah nyariin kamu sama Asta. Opah Harry, Omah Meriam sudah datang," ungkap Raya sambil merapikan rambut Ninda yang berantakan tertiup angin.
Tak lama kemudian, Raya menghampiri Asta yang berdiri tidak jauh dari situ.
Tonny tersenyum menyambut kedatangan mereka. Raya menghampiri Tonny dan berdiri di sampingnya, diikuti Ninda dan Asta.
"Perkenalkan, ini Ninda dan Asta, anak kami," ungkap Tonny memperkenalkan Ninda dan Asta kepada orang tua dan kerabatnya.
Mereka semua tampak blonde di mata Ninda dan Asta. Ninda dan Asta memeluk orang tua Tonny, yang mereka panggil Opah Harry dan Omah Meriam. Mereka saling melempar senyum, masih berpelukan erat.
"Kalian bisa bergabung dengan keponakan-keponakan ku di sana," kata Tonny sambil menunjuk meja yang berada persis di belakang meja kerabat yang lebih tua.
Tanpa sungkan, Ninda dan Asta menghampiri mereka. Mereka menyambut Ninda dan Asta dengan ramah dan hangat.
"Hi, aku Maria, keponakan Uncle Tonny," sahut gadis blonde berambut panjang sambil beranjak dari tempat duduknya. Kemudian, ia mempersilakan Ninda dan Asta untuk duduk bergabung dengan mereka.
Ninda tersenyum seraya berkata, "Hi, Maria. Senang berjumpa denganmu."
Asta ikut tersenyum ke arah Maria, kemudian mereka duduk hampir bersamaan di antara anak-anak itu.
"Hallo semua," kata Asta ramah, disambut senyuman beberapa orang di sana.
Di sana tampak saudara kembar dari Maria, Calvin, dan Sofia adalah kakak yang paling tua.
Sementara Danny adalah adik yang paling bungsu. Mereka semua hampir bersamaan melambaikan tangan ke arah Ninda dan Asta.
"Asta, berapa usiamu?" tanya Calvin.
"14 tahun," jawab Asta sambil tersenyum.
"Ooh, bagus, kita seumuran. Nanti kita bisa hang out bareng," sahut Calvin. Maria dan Sofia tampak memperhatikan.
Dalam suasana riang dan hangat itu, semua perhatian tertuju kepada dua orang kerabat yang baru saja tiba di sana.
"Uncle Jonathan, Noah!" seru Tonny sambil memeluk pamannya yang kemudian memeluk sepupunya, Noah.
"Kau semakin tampan," ucap Tonny.
"Ini istriku, Raya," kata Tonny sambil memperkenalkan istrinya.
Raya tersenyum sambil memeluk Opah Jhon dan sepupu Tonny, Noah, secara bergantian.
Kemudian, Tonny memanggil Ninda dan Asta untuk menghampiri kerabatnya yang baru tiba itu.
"Ninda, Asta!" Suara itu terdengar dengan jelas.
"Ini anak perempuan ku, Ninda, dan anak laki-laki ku, Asta," kata Tonny memperkenalkan mereka satu per satu.
"Beri salam kepada Opah Jhon," ungkap Tonny lagi, menyuruh Ninda dan Asta menghampiri Jonathan.
"Terima kasih sudah datang, Opah," kata Ninda sambil memeluk Opah Jonathan.
"Senang bertemu denganmu, Nak," sahut Opah Jonathan. Asta ikut tersenyum ke arah Jonathan, kemudian memeluknya.
"Dan ini Uncle Noah," kata Tonny memperkenalkan pria tampan yang tampaknya sudah tak asing bagi Ninda.
"Hallo," sapa Noah.
Ninda hanya melongo menatap Noah, tidak mampu berkata-kata saking kagetnya.
"Ninda, Uncle Noah juga tinggal di Delft," kata Tonny kemudian menyadarkan Ninda dari lamunannya.
"Iya, Pah," sahut Ninda. Dia tidak tahu apa yang dibicarakan Tonny, semua terdengar samar-samar.
"Putriku sangat pintar, dia mendapat beasiswa di TU Delft University of Technology," kata Tonny dengan bangga memperkenalkan Ninda pada Noah.
"Gadis yang pintar," ucap Noah sambil tersenyum ke arah Ninda. Ninda menunduk, tak berani menatap Noah.
"Kau sekarang tinggal di Delft, bukan?" tanya Tonny kepada sepupunya yang masih asyik menatap Ninda.
"Ya, tidak terlalu jauh dari TU Delft," jawab Noah sambil tersenyum ke arah Ninda.
"Bagus, mungkin kau bisa membantuku menjaganya," kata Tonny lagi sambil tertawa.
"Tentu, dengan senang hati," sahut Noah sambil mengedipkan mata ke arah Ninda.
Seketika Ninda syok. Dia hanya menunduk malu, dia tidak tahu harus mengarahkan pandangannya ke mana.
"Noah dulu adalah pemain sepak bola yang sangat terkenal di Indonesia," kata Tonny lagi.
Raya sangat terkejut. Dia menatap Noah dengan seksama.
"Kau Noah, pemain bola itu? Pantas aku seperti mengenal wajahmu," kata Raya girang, masih menatap takjub.
"Ya, itu sudah lama sekali," jawab Noah sedikit agak malu mengenang masa lalunya.
"Aku penggemarmu," ungkap Raya lagi.
"Ooh, terima kasih," sahut Noah agak malu-malu.
"Saat Ninda masih tujuh tahun, aku menyuruhnya untuk menikahi mu ketika dia dewasa," kata Raya sambil berseloroh, diikuti tawa Tonny.
Hal itu membuat Ninda semakin malu dan gugup. Noah hanya tertawa mendengarkan guyonan Raya.
"Biarkan mereka duduk dan makan sesuatu, pasti mereka lelah," kata Opah Harry menghentikan percakapan mereka.
---‐-----
Ninda duduk sendiri di pekarangan belakang. Ia ingin menikmati pemandangan Sungai Schie yang terlihat sangat indah.
Di sela lamunannya, ia dikagetkan dengan kedatangan Noah.
"Hi, Uncle Noah," sahut Ninda agak gugup menyambut kedatangan Noah.
"Sudah mulai bosan di sana?" kata Noah sambil duduk di samping Ninda, masih memasang senyum.
"Bukan begitu, Uncle," Ninda coba menjelaskan.
"Tidak apa-apa, kadang aku juga sedikit bingung ngobrol dengan beberapa orang tua," ungkap Noah.
"Aku biasanya hanya tersenyum mendengarkan mereka bercerita," kata Noah lagi.
"Mereka sangat hangat, aku suka mereka," kata Ninda mulai rileks, tidak gugup lagi kali ini.
"Ya, untuk orang Belanda, mereka terlalu banyak bicara," ungkap Noah.
Ninda seketika tertawa mendengar perkataan Noah. "Benarkah?" sahut Ninda kemudian, masih tertawa.
"Mungkin karena mereka mix Indonesia," kata Noah lagi.
"Uncle, aku tidak tahu kau sangat terkenal di negara ku," ungkap Ninda random, tiba-tiba membahas masa lalu Noah.
"Ooh, aku sedikit kecewa," jawab Noah sambil tersenyum tipis.
"Padahal aku pacar online wanita Indonesia waktu itu," kata Noah sedikit bangga.
"Apa iya?" ungkap Ninda sedikit meragukan ketenaran Noah.
"Mungkin karena aku terlalu banyak belajar, aku tidak terlalu mengikuti media," kata Ninda lagi.
"Kau masih gadis kecil waktu itu," kata Noah mencoba menjelaskan.
"Ya, aku ingat sekarang!" Ninda menghentikan ucapannya sejenak.
"Mamah sering sekali nonton pertandinganmu, sampai tidak memasak untukku dan Asta," ungkap Ninda membuat Noah tertawa.
"Kau tidak membenciku karena itu kan?" tanya Noah dengan nada bercanda.
"Waktu itu aku sangat membencimu, aku kelaparan gara-gara Uncle," ungkap Ninda lagi sambil tertawa.
"Bagaimana sekarang, masih membenciku?" tanya Noah.
"Kalau teringat kau menyundul kepalaku sampai aku pingsan, ya aku masih membencimu," ungkap Ninda sambil tertawa kecil, diikuti Noah.
"Hey, kau yang menabrakku, itu hanya gerakan reflek," sahut Noah tak lepas menatap Ninda dengan sedikit tawa.
"Kapan mulai masuk kuliah?" tanya Noah kemudian.
"Oktober, Uncle," jawab Ninda singkat.
"Kenapa tidak meneleponku?" tanya Noah penasaran karena setelah kejadian itu Ninda tak menghubunginya.
"Aku lelah sekali, jadi aku banyak menghabiskan waktu untuk tidur. Beberapa hari aku tak memeriksa ponselku," ungkap Ninda.
"Uncle menghubungiku ya?" tanya Ninda menebak.
Noah mengangguk. "Aku ingin memastikan kau baik-baik saja," ungkap Noah.
"Akh, maaf Uncle," ucap Ninda merasa tak enak.
"Ok, yang penting kamu baik-baik saja,"
"Kalau kau butuh sesuatu, jangan ragu hubungi aku," ungkap Noah lagi.
Ninda menoleh sejenak ke arah Noah. Ada sedikit debaran yang Ninda rasakan melihat tampang om tampan itu.
"Aku Uncle mu sekarang," ungkap Noah lagi.
Ninda tersenyum, dia tak berani menatap mata Noah. Entah mengapa Ninda salah tingkah setiap Noah tersenyum menatapnya.