Tahun kelima pernikahannya, Renata dan Haris belum juga dikaruniai seorang anak. Betapa sedih saat mertua menyalahkan Renata karena dia tak bisa mengandung, apalagi melahirkan seorang cucu untuknya.
Hati Renata merana saat mertua menyuruh Haris, suaminya, untuk menikah lagi dengan pilihan sang mertua demi mendapatkan seorang cucu.
Tak disangka Haris goyah juga menghadapi desakan orang tuanya hingga dia menikahi wanita pilihan ibunya.
Namun, di saat keputusan perceraian, hal yang tak disangka, Renata yang selalu dihina oleh mertuanya karena miskin dan merupakan anak yatim piatu, ternyata mendapatkan warisan yang begitu banyak!
Bagaimanakah penyesalan Haris? Bagaimana pula Renata bisa membalas semua perlakuan mertua dan suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudhi Nita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAMBAH ORDERAN
Hampir setiap minggu Melia selalu pergi. Semakin hari makin sering. Bu Helen tak mempermasalahkan hal itu karena makin dia pergi, lemari es makin penuh dengan buah atau makanan.
Pernah Melia membawa satu kantong besar berisi beras, minyak, teh, kopi, gula dan lain-lain kebutuhan rumah tangga. Bu Helen makin senang. Lupa akan tujuan utamanya mendesak sang anak menikahi wanita itu.
"Ah, nggak perlu lagi beli sembako. Ini melimpah ruah. Melia adalah malaikat yang dikirim Tuhan ke sini untuk membuat keluarga sejahtera," kata Bu Helen tersenyum, duduk di sofa bersandar.
"Bu, masak apa?"
Suara dari depan mengagetkan Bu Helen. Anak lelakinya nampak lesu pagi itu.
"Huh, kamu itu datang-datang langsung tanya masak apa. Kayak belom makan aja," oceh Bu Helen.
"Ya emang belom makan!" sungut Haris mengempaskan pantat di samping ibunya.
"Ini kan hari Minggu. Istrimu yang buluk itu pasti masak. Masa' waktu itu dia nggak masak, sekarang juga nggak?" omel Bu Helen.
"Tapi kenyataannya dia nggak masak lagi, Bu. Aku kalo di rumah kontrakan itu terpaksa beli mie instan, Bu!" ujar Haris masih bersungut-sungut.
"Wealah, istri kayak gitu masih kamu pertahankan! Bener nggak omongan Ibu? Kamu mendingan ceraikan dia, Ris. Nggak guna!"
Haris hanya memandangi punggung ibunya yang sekarang berjalan ke dapur. Dia menarik tubuhnya mengikuti sang ibu.
Di atas meja sudah tersedia gulai kikil, sayur kacang panjang dan kerupuk. Haris terbelalak. Cacing-cacing dalam perutnya bersorak gembira. Tentu saja dia langsung mengambil piring dan nasi lalu melengkapinya dengan sayur yang ada di atas meja.
"Santai Ris, kayak nggak pernah makan aja kamu ini, Ya Allah."
Bu Helen menggelengkan kepala, miris melihat anak lelakinya yang ngotot saja untuk menginap di rumah kontrakan dua kali sehari dan setiap pulang selalu dengan kondisi kelaparan.
"Mbok ya nurutin Ibu. Kan sudah berkali-kali Ibu bilang, kan? Ris, cerai, cerai, cerai. Dia udah nggak nyiapin makan segala. Trus dia ngapain, hah? Ongkang-ongkang di rumah?" omel Bu Helen.
"Ah, Ibu. Sulit untuk melepaskan Renata. Dia cinta pertamaku, Bu. Nggak rela kalo dia berpisah denganku trus dapat suami lagi."
Bu Helen menaikkan sudut hidung bawahnya mendengar kata-kata Haris.
"Cinta pertama, cinta pertama. Bullshit itu."
Haris memandangi ibunya. Masih dengan mengunyah, mulut penuh nasi.
"Ibu kok ngerti bullshit?" tanyanya heran.
"Sok denger dari Melia kalo telepon-teleponna sama temen-temennya, kok!" sahut Bu Helen nyengir.
"Ha sekarang, Melia di mana, Bu?" tanya Haris yang menyadari semenjak datang tadi tak melihat Melia di rumah. Biasanya dia sudah menyambutnya.
"Ya COD, to. Bilangnya agak jauh. Biasa, biarin aja. Dia kemarin malah beli sembako lengkap. Wah, telaten sekali nyari uangnya. Berapa to, penghasilan Melia dari jualan? Ibu sengaja lihat dompetnya waktu itu berjubel uang merah, lho Ris! Nggak kayak kamu, uang merah selembar, biru selembar, ijo selembar, eh giliran Pattimura dua belas lembar! Mbok ya dibalik!"
Haris mendengus. "Yo kalo dibalik parangnya Pattimura nancep, Bu!"
Pria itu ngeloyor, berjalan membawa piring kosongnya ke dapur diekori oleh kedua bola mata Bu Helen yang menatapnya dengan alis bertaut.
"Ah, embuh, kowe Ris!" omelnya.
***
Di rumah kontrakan, pagi itu Renata mengambil libur hari Minggu. Niatnya untuk menyelesaikan pesanan yang telah berhari-hari mangkrak.
Tiba-tiba, pintu diketuk oleh seseorang. Renata bergegas beranjak dari duduknya di depan mesin jahit untuk membukakan pintu.
"Eh, B-Bu Dian! Mari silakan masuk!"
Terkejut saat melihat wanita itu sudah berdiri di depan pintu, Renata gugup mengingat apakah dia tak diijinkan untuk libut di hari Minggu itu, tapi sepertinya kemarin Pak Candra memperbolehkan.
"Ya, Ren."
"Maaf, Bu. Duduknya di atas karpet," ujar Renata malu saat wanita itu mengedarkan pandang dari bawah hingga ke langit-langit rumahnya.
"Nggak apa-apa, Ren."
"Mm ... ada apa ya, Bu?" tanya Renata penasaran.
Bu Dian menatap Renata tersenyum, lalu membenahi sedikit duduknya agar nyaman.
"Gini, waktu itu si Sisil kan bawa kebaya. Dia bilang kamu yang bikin. Nah, Ibu ke sini mau pesan kebaya buat pesta pertunangan Rendy, anak Ibu yang baru pulang dari luar negeri itu."
Renata ingat sosok Rendy yang waktu itu dia acungi pentungan, mengira pria itu adalah seorang maling yang akan mengambil uang di dalam kasir.
"O-oh, Mas Rendy, Bu?" ujar Renata.
"Lho, kamu udah tau?" Malah, Bu Dian balik bertanya.
"Iya, Bu. Waktu itu nuker mesin kasir, tapi maaf saya kira Mas Rendy itu pencuri. Maaf lho, Bu. Waktu iti jadi agak salah paham."
Bu Dian mengangkat kedua alisnya dan tertawa mendengar cerita Renata. Dia lalu melanjutkan niat.
"Nah, kamu bikinkan saya kebaya ya? Ini kainnya, trus modelnya ... bentar."
Wanita itu menyodorkan plastik ke depan Renata, lalu merogoh kantong dan mengeluarkan ponselnya. Sambil menunggu wanita itu menggulirkan layar ponsel, Renata membuka kantong plastik lalu mengeluarkan isinya. Dia sangat terpukau dengan keindahan kain yang disodorkan oleh Bu Dian.
"Nah, ini."
Tersentak, Renata mencondongkan tubuhnya mendekat ke Bu Dian lalu mengamati gambar kebaya yang diperlihatkan oleh wanita itu.
"Oh, ya, Bu. Saya gambar dulu lalu saya ijin ukur badan ya, Bu?"
Renata beranjak setelah Bu Dian menganggukkan kepala. Dia mengambil satu buku kecil yang nampaknya baru dan satu meteran yang juga masih baru.
"Kamu tinggal di sini sama suami kamu?" tanya Bu Dian saat Renata mengukur badannya.
"Kadang-kadang, Bu."
Alis Bu Dian naik sebelah. Heran dengan jawaban Renata.
"Kok kadang-kadang?" tanya dia merentangkan tangan saat Renata mengukur lingkar dadanya.
"Iya, Bu. Suami saya kadang tidur di rumah mertuanya," beber Renata.
"Oh. Nah ini nanti dalaman kebayanya dipisah ya, biar nempel sama badan. Aku nggak suka kalo ditempelin langsung ke kebayanya. Suka nggak pas."
Perbincangan teralih sendiri saat Bu Dian mengingatkan Renata akan model kebayanya.
"Ini jadinya kapan, Ren? Acaranya masih bulan depan, kok!" ujar Bu Dian.
"Ya ... saya usahakan secepatnya, Bu. Ini saya hanya menyelesaikan dua pesanan saja."
"Wah, sudah lumayan ya?" celetuk Bu Dian.
"Ya, sampingan Bu. Biar nggak ngelangut di rumah sendiri."
Renata memberesi meteran yang dia urai tadi lalu menutup buku notesnya lalu memasukkannya ke dalam rak. Bu Dian mengamati apa yang dilakukan oleh Renata.
Suara derap langkah kaki lelaki mendekat ke pintu. Sekarang, tubuh yang kekar menutupi cahaya yang masuk dari pintu depan.
"Ayo, Ma!"
Lelaki tampan itu bersungut-sungut mendesak ibunya untuk cepat karena sedari tadi dia parkir mobilnya di pinggir jalan karena jalan menuju rumah kontrakan Renata sempit sekali.
"Oh, iya, Rendy! Maaf, Mama lama ya?" ujar Bu Dian beranjak dari duduknya.
"Iya! Lama banget!" sungut Rendy lagi, menatap ke arah Renata yang menunduk masih dengan rasa bersalahnya.
Tp d liat dr sifat haris emang kayak nya lemah gampang tergoda
tak boleh sombong
jangan julid
jangan berprasangka buruk
jika tuhan sudah berkehendak... maka terjadilah..
terima kasih otor.. cerita y nano nano