~~
Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 24
***
Dada Larasati naik-turun memburu saat gejolak emosi yang membakar benaknya mencapai titik puncak. Dengan satu sentakan keras yang sarat akan sisa ketegasan jiwa sembilan belas tahunnya, ia menarik pergelangan tangannya dari cengkeraman Bagas. Gesekan kulit mereka terasa membakar, namun Larasati segera melangkah mundur tiga tindak, mengikis jarak intim yang berbahaya itu.
"Cukup, Bagas!" tegur Larasati, suaranya bergetar rendah namun penuh penekanan. Ia menegakkan punggungnya, merapatkan kedua tangannya di atas perutnya yang membulat indah. "Jangan pernah melontarkan pertanyaan itu lagi! Aku adalah istri sah dari Raden Mas Baskoro. Aku adalah Nyai di rumah joglo ini! Apapun alasan pernikahan kulo di masa lalu, takdir kulo hari ini sudah terkunci mati di atas bukit ini!"
Bagas menatapnya dengan pandangan terluka yang teramat dalam, namun Larasati tidak memberi celah sedikit pun.
"Pergilah sekarang juga sebelum para pengawal atau Sentot menemukanmu!" lanjut Larasati dengan mata membelalak panik. "Jika kamu masih menghargai nyawamu dan keselamatan desamu, jangan pernah injakkan kakimu di tanah kebun ini lagi!"
Tanpa menunggu jawaban Bagas yang berdiri terpaku laksana batu, Larasati memutar tubuhnya dan berlari-lari kecil meninggalkan tepi pancuran hutan sawo. Selop kainnya menepuk tanah basah dengan terburu-buru, membawa tubuh remajanya yang kian berisi kembali menuju rumah joglo.
Namun, ketenangan yang coba ia bangun runtuh seketika saat kakinya menapak di pelataran dalam. Di bawah naungan atap pendopo yang megah, tampak kereta kuda hitam berukir milik sang juragan besar baru saja mendarat. Sentot sedang sibuk merapikan tali kekang, sementara sosok tegap pria berusia tiga puluh lima tahun—Raden Mas Baskoro—baru saja turun dari pijakan kereta.
Jantung Larasati serasa melompat ke tenggorokan. Baskoro seharusnya berada di kota kabupaten selama dua hari penuh, namun urusan administrasi darurat rupanya selesai jauh lebih cepat dari perkiraan.
Baskoro menoleh saat mendengar derak halus langkah Larasati. Pria perkasa berusia tiga puluh lima tahun itu tampak gagah dalam balutan beskap lurik gelap. Namun, saat sepasang manik matanya yang tajam mengunci siluet istrinya, dahi kaku sang juragan mendadak berkerut halus. Ia menangkap raut wajah Larasati yang pucat pasi, napasnya yang tersengal pendek, serta binar matanya yang tampak liar gelisah.
"Laras?" panggil Baskoro dengan suara bariton yang berat namun sarat akan nada perhatian. Pria itu melangkah lebar menghampiri permaisurinya, mengikis jarak di antara mereka. "Kenapa kamu berada di luar sendirian, Nduk? Wajahmu pucat sekali, dan napasmu berburu seperti habis berlari."
Larasati tersentak pelan saat tangan besar Baskoro yang hangat mendarat di pipinya yang dingin. Keraguan yang baru saja ditanamkan oleh kata-kata Bagas di hutan sawo mendadak berdesing bising di dalam kepalanya. Apakah pria ini benar-benar mencintaiku, atau hanya menginginkan raga dan anak di perutku?
Larasati refleks menarik wajahnya sedikit ke belakang—sebuah gerakan canggung dan kaku yang teramat tipis, namun mboten luput dari kepekaan tajam seorang Baskoro.
Tangan Baskoro mengudara sejenak sebelum perlahan turun. Matanya yang sedalam sumur tua menyipit tajam, menangkap sentakan kaku dari permaisuri remajanya.
"Mas... Mas Baskoro sudah pulang?" bisik Larasati, mencoba menutupi kegugupannya dengan seulas senyuman manis yang dipaksakan. "Kulo... kulo hanya habis berjalan-jalan sebentar di kebun sawo untuk mencari udara segar. Mboten ada apa-apa, Mas."
Baskoro menatap lurus ke dalam sepasang mata Larasati, mencari celah kebohongan di sana. Suasana di selasar dalam mendadak terasa dingin dan menekan. "Begitukah? mbok Sum bilang kamu berjalan sendirian. Duniaku terasa mboten tenang jika kamu berada di luar pengawasanku, Laras."
"Kulo baik-baik saja, Mas. Mari masuk ke dalam kamar, Anda pasti lelah setelah perjalanan jauh dari kabupaten," potong Larasati cepat, meraih lengan kekar suaminya untuk mengalihkan perhatian.
**
Malam pun jatuh memeluk rumah joglo dengan hening yang teramat pekat. Angin pegunungan berderu lirih di luar jendela jati kamar utama. Di dalam ruangan, lampu teplok minyak menyala temaram, melemparkan bayangan gelisah di dinding kayu.
Larasati duduk di tepi ranjang jati, menyisir rambut panjangnya yang terurai halus. Namun, pikirannya sepenuhnya kosong. Kata-kata Bagas merayap laksana racun yang merusak seluruh kedamaian jiwanya. Apakah aku hanya pemuas nafsu maskulinnya? Wadah pencetak keturunan?
Suara derit pintu berbunyi saat Baskoro melangkah masuk setelah membersihkan diri. Pria tiga puluh lima tahun itu hanya mengenakan kain sarung yang melilit pinggangnya, membiarkan dada bidangnya yang kekar dan basah terekspos bebas. Baskoro mendekati ranjang, memutar kunci besi dari dalam dengan sentakan kaku yang sudah menjadi kebiasaannya. Cklek.
Ia merayap naik ke atas kasur kapuk, mendekati Larasati dari arah belakang. Tangan besarnya yang hangat melingkar lembut di pinggang Larasati yang kian berisi, memeluk tubuh remajanya yang berusia sembilan belas tahun dari samping. Baskoro membenamkan wajahnya di ceruk leher Larasati, menghirup aroma wangi cendana yang menguar dari kulit istrinya.
"Kamu berbeda malam ini, Laras..." bisik Baskoro parau, napas panasnya berburu menerpa tengkuk Larasati. "Sejak aku tiba sore tadi, matamu tidak pernah benar-benar menatapku. Ada apa di dalam pikiranmu, Nduk?"
Larasati menegang halus dalam dekapan suaminya, namun jiwa remajanya memaksa raganya untuk tetap bersikap biasa saja. Ia memutar tubuhnya perlahan, menyunggingkan senyum patuh seorang istri sejati di depan wajah tegap Baskoro.
"Mboten ada apa-apa, Mas Baskoro," jawab Larasati lembut, jemari kecilnya terangkat mengusap rahang kaku suaminya. "Kulo hanya sedikit lelah karena kehamilan yang kian memberat. Tidak usah cemas."
Baskoro menatap mata istrinya sangat dalam. Intuisi kelaki-lakiannya tahu ada tembok tak kasat mata yang mendadak berdiri di antara mereka, namun ketenangan dan kepatuhan yang ditunjukkan Larasati membuat sang juragan mboten memiliki alasan untuk meluapkan cemburu.
"Jika kamu lelah, beristirahatlah di dalam pelukanku," desah Baskoro rendah. Hasrat yang tertahan selama dua hari di kabupaten kini menuntut pelepasan pada raga yang teramat dicintainya. Baskoro menundukkan wajahnya, menyatukan bibir mereka dalam cumbuan yang dalam, hangat, dan sarat akan penekanan posesif.
Larasati membalas cumbuan itu. Tangannya melingkar di leher kekar Baskoro, raganya bergerak pasrah dan patuh menuruti setiap sentuhan tangan besar suaminya yang mulai melucuti pakaian kebayanya. Namun, di balik kepatuhan jasmaninya, pikiran Larasati mengawang jauh.
Ketika Baskoro merebahkan tubuh mungilnya di atas kasur kapuk dan mengurungnya di bawah raga kekarnya, Larasati menerima penyatuan itu seperti biasa. Baskoro bergerak dengan ritme yang lambat, konstan, dan sarat akan kehati-hatian tingkat tinggi demi menjaga janin berusia empat bulan di dalam rahim istrinya.
"Ahhh... hhh... Mas Baskoro..." desah Larasati di antara derak halus ranjang jati kuno yang bergoyang ritmis. Suara desahannya mengalun merdu memenuhi rongga kelambu sutra.
Namun, di balik desahan hangat yang keluar dari bibirnya, benak Larasati terpisah jauh dari raganya. Setiap sentuhan bibir Baskoro di ceruk lehernya, setiap himpitan dada bidang suaminya, dan setiap dorongan dalam yang menghunjam rahimnya mboten lagi dirasakan sebagai kehangatan cinta, melainkan sebagai pertanyaan yang menyiksa. Apakah penyatuan ini lahir dari cinta yang murni... atau hanya bentuk penguasaan mutlak atas raga dan rahimku?
Larasati memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan gelombang kenikmatan fisik membawa tubuhnya pada titik pelepasan, sementara jiwanya berkelana dalam ruang hampa yang penuh keraguan.
Baskoro menggeram rendah dan panjang saat benih kehangatannya tumpah seutuhnya di bagian terdalam rahim Larasati. Pria paruh baya itu membenamkan wajahnya di antara belahan dada istrinya yang kian montok, napasnya yang berat dan berpeluh berkejaran dalam keheningan malam.
Pergulatan asmara itu pun usai. Baskoro menarik tubuhnya perlahan, lalu berbaring miring di samping Larasati. Tangan besarnya yang kasar merangkul pinggang Larasati, menarik tubuh remajanya yang lemas agar bersandar rapat di dadanya yang hangat. Dengan penuh kelembutan dan rasa kasih yang meluap-luap, jemari berurat Baskoro mengelus lembut perut membulat Larasati yang membawa darah dagingnya.
"Tidurlah, permaisuriku..." bisik Baskoro amat lembut, mengecup kening Larasati yang basah oleh peluh dengan ketulusan yang teramat dalam. "Anak kita dan dirimu adalah seluruh masa depanku."
Larasati mboten menjawab. Ia hanya bersandar diam di dada bidang suaminya, mendengarkan detak jantung Baskoro yang berdegup kencang dan teratur di bawah telinganya.
Larasati membuka matanya sedikit di tengah temaram lampu teplok. Ia mendongak perlahan, menatap wajah paruh baya suaminya yang berusia tiga puluh lima tahun itu. Di bawah naungan kelambu, wajah kaku yang biasanya ditakuti oleh seluruh warga perbukitan itu kini tampak begitu tenang, rapuh, dan sarat akan rasa memiliki yang jujur saat tertidur sembari memeluk perutnya.
Larasati memandangi rahang tegas Baskoro, kepalan tangan suaminya yang masih enggan melepaskan pinggangnya, dan kehangatan telapak tangannya yang mboten berhenti mengusip rahimnya. Keraguan di dalam dadanya kian berkecamuk hebat—membuat Nyai muda berusia sembilan belas tahun itu terpaku dalam diam, mempertanyakan takdir dan arti sebenarnya dari pria yang kini memeluknya erat di atas bukit Joglo.
Bersambung
eh kadang2 Baskoro 40 Larasati 17..
kadang balik lg Baskoro 35 Larasati kadang 19 kadang 17😄