Suci Tak Selalu Berdarah, karena tak semua bunga gugur saat mekar. Namun ketika harga diri Niken Ayuningrum diukur dari setetes merah, maka malam pertama yang katanya paling indah, kini berubah sunyi penuh prasangka.
Tatapan Danendra Pradipta seketika berubah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian sang istri.
"Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan tersangka. Jika cinta benar ada, maka pecayalah bahwa suci tak selalu berdarah."
Ia pendam tangis dalam doa, berharap waktu akan membuka mata suaminya, karena kesucian bukan tentang darah, melainkan menjaga hati hingga akhirnya. Dan biarkan dunia berkata apa, tapi Niken tetap suci meski tak berdarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang Kehilangan Makna
Langit malam seolah mengantungkan jutaan bintang hanya untuk menjadi saksi.
Di balik pintu kamar yang baru saja tertutup, aroma melati masih memenuhi udara. Kelopak-kelopak mawar merah berserakan di atas ranjang putih, seakan telah dipersiapkan untuk menyambut kisah cinta yang katanya akan dikenang seumur hidup.
Niken duduk di tepi ranjang dengan jantung yang berdegup begitu cepat. Bukan karena takut kepada lelaki yang kini sah menjadi suaminya, melainkan karena gugup memasuki kehidupan baru yang selama ini hanya ia bayangkan dalam doa.
Ia tersenyum tipis ketika Danendra Pradipta melangkah mendekat.
Pria itu lalu mengusap pelan pipinya. "Kamu cantik sekali malam ini," bisik Danendra.
Ia menunduk malu-malu, menahan pipi yang terasa menghangat. "Terima kasih, Mas."
Malam berjalan begitu lembut. Tidak ada paksaan atau pun kata-kata kasar. Danendra memperlakukannya dengan penuh kehati-hatian, yang membuat Niken semakin yakin bahwa ia telah menyerahkan hidupnya kepada laki-laki yang tepat.
Sayangnya, keyakinan itu hanya bertahan beberapa saat. Sesudah semuanya usai, Danendra tidak lagi menatap wajah istrinya. Tatapannya justru terpaku pada seprai putih yang masih bersih.
Kosong....
Tidak ada setitik merah yang selama ini dipercaya banyak orang sebagai lambang kesucian seorang perempuan.
Wajahnya perlahan mengeras, lalu mengeluarkan suara yang tiba-tiba berubah dingin.
"Niken..."
"Iya, Mas?"
"Kamu yakin belum pernah berhubungan dengan laki-laki lain?"
Niken mengangkat kepala dengan mata membulat, karena pertanyaan itu menghantam dadanya jauh lebih menyakitkan dari apa pun.
"Apa?"
"Aku cuma bertanya."
"Mas sedang bercanda?"
"Aku serius."
Ruangan yang tadi dipenuhi kehangatan, kini mendadak terasa membeku.
"Mas, aku belum pernah menyentuh atau disentuh oleh laki-laki mana pun sebelum menikah denganmu."
"Lalu kenapa tidak ada darah?"
Kalimat sederhana itu berhasil meruntuhkan seluruh kebahagiaan yang baru saja ia rasakan.
Cairan bening mulai mengenang di pelupuk mata. "Mas, nggak semua perempuan mengeluarkan darah."
Danendra tertawa pahit. Sebuah tawa yang sama sekali tidak mengandung kebahagiaan, "itu alasan yang sering dipakai."
Niken menggeleng cepat. "Bukan alasan, tapi itu fakta."
"Fakta menurut siapa?"
"Menurut ilmu kedokteran." Kata Niken yang langsung dipangkas oleh Danendra.
"Atau menurut laki-laki yang pernah menyentuhmu?"
Niken merasa seakan dihujam ribuan pecahan kaca sekaligus. Ia tidak menyangka, belum genap satu malam menjadi istri, tetapi dirinya sudah berubah menjadi terdakwa tanpa saksi, tanpa bukti, dan tanpa kesempatan untuk dipercaya.
Butiran kristal jatuh satu per satu. "Mas..." suaranya bergetar. "Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan sebagai tersangka."
Danendra tidak menjawab, ia justru berdiri sambil mengenakan kembali kemejanya, lalu berjalan menuju balkon—meninggalkan Niken yang masih terduduk memeluk lututnya.
Malam pertama yang katanya paling indah... kini berubah menjadi malam pertama yang paling sunyi.
Di luar sana, hujan mulai turun perlahan. Entah mengapa, Niken merasa bahwa langit sedang menangis bersamanya. Dan dalam lirih doanya, ia hanya mampu berbisik.
"Ya Allah... jika cinta benar ada, bukakan lah mata suamiku. Biarkan waktu yang menjadi saksi bahwa kesucian seorang perempuan tidak selalu ditentukan oleh setetes darah."
Karena Niken tahu...
Tidak semua bunga gugur saat mekar, dan tidak semua perempuan yang suci akan berdarah.
...****************...
Terima kasih sudah memilih cerita ini. Semoga kisah Niken dapat menemani perjalanan membaca kalian. Cerita ini mengangkat luka yang terkadang dialami perempuan—ketika kehormatan diukur oleh mitos, bukan oleh kebenaran.
Selamat membaca, semoga setiap bab yang aku tulis mampu menghadirkan emosi, pelajaran, dan harapan.
Jangan lupa tinggalkan komentar, karena setiap dukungan dari kalian adalah semangat terbesar bagi penulis.
Salam hangat,
Restu Langit 2