NovelToon NovelToon
Cewe Cegil Vs CEO Dingin

Cewe Cegil Vs CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nalara amora

"Apa gunanya menjadi istri CEO kalau hatinya saja sedingin es kutub?"

Hidup Aratala Arasunya Grita tak pernah mudah. Sejak kecil di panti asuhan hingga berjuang demi biaya kuliah semester dua, Aratala sudah kenyang dengan kerasnya hidup. Namun, sebuah insiden sepeda listrik mempertemukannya dengan seorang wanita elegan—yang secara mengejutkan memintanya menjadi istri anaknya.

Elio Lerian Raymond, CEO muda yang dingin dan ceplas-ceplos, bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Awalnya Aratala menolak, namun angka fantastis yang ditawarkan mampu membungkam egonya.
Lagipula, ini cuma kontrak, pikir Aratala.
Namun, bagaimana jika pernikahan atas dasar kontrak dan kebutuhan biaya panti ini justru membawanya ke dalam pusaran perasaan yang tidak pernah ia rencanakan? Apalagi saat sang CEO mulai menunjukkan sisi posesifnya yang tak terduga.

Selamat datang di kehidupan penuh drama antara Cewe Cegil vs CEO dingin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1 moments

Sepanjang perjalanan, fokus Elio benar-benar terbelah. Salah satu sisi pikirannya mencoba bertahan dengan logika bisnis yang kaku, sementara sisi lainnya terus-menerus kalah oleh godaan visual yang disuguhkan Aratala di kursi penumpang.

Mata Elio terkunci pada jalanan, namun setiap kali ia melirik sekilas ke samping—melihat bagaimana gaun mini itu semakin tersingkap dan kulit Aratala yang terekspos—konsentrasinya hancur berkeping-keping. Pria yang biasanya mampu mengambil keputusan bernilai miliaran rupiah dalam hitungan detik itu kini merasa tidak berdaya hanya karena seorang gadis yang duduk di sebelahnya.

Ia terus merutuki dirinya sendiri. Fokus, Elio. Dia hanya partner bisnis. Dia hanya aktris yang sedang bermain peran, batinnya berulang kali, mencoba mematikan emosi yang mendadak meluap. Namun, aroma parfum Aratala yang menyerbak di dalam ruang sempit mobil itu seolah menjadi racun yang melumpuhkan akal sehatnya.

Setiap kali mobil berbelok atau mengerem, posisi Aratala sedikit bergeser, dan setiap pergerakan itu seolah menjadi siksaan tersendiri bagi Elio. Ia harus mencengkeram setir dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih, berusaha keras agar tangan kanannya tidak bergerak untuk menutupi paha atau menarik gaun gadis itu ke bawah.

"pa Elio," panggil Aratala tiba-tiba, suaranya terdengar manis namun provokatif, membuat Elio tersentak kecil.

Elio tidak menoleh, ia hanya mengeraskan rahangnya, mencoba menjaga suaranya tetap sedingin es. "Diam, Aratala. Sebelum aku kehilangan kesabaranku dan memutar balik mobil ini sekarang juga."

di dalam hatinya, Elio tahu ia sedang kalah telak. Ia sadar bahwa semakin ia mencoba menjauh, semakin ia terjebak dalam pesona gadis yang semalam baru saja menangis di pelukannya itu. Perjalanan menuju pantai yang biasanya terasa singkat, kini terasa seperti perjalanan panjang yang tak kunjung usai, sebuah ujian ketahanan yang mungkin akan mengubah segalanya bagi mereka berdua.

🌴🌴🌴

Mobil berhenti tepat di depan area privat di tepi pantai yang sudah disiapkan. Begitu mereka melangkah keluar, Aratala menyapu pandangan ke sekeliling. Bukan keramaian keluarga besar yang ia temukan, melainkan sebuah meja makan elegan yang tertata apik di atas pasir putih, hanya untuk dua orang. Suara deburan ombak dan musik akustik yang lembut membuat suasana menjadi sangat intim.

Elio segera merogoh ponselnya saat notifikasi pesan masuk memenuhi layar. Rahangnya mengeras saat membaca pesan singkat dari sang ibu: "Senang-senang ya sama istrimu."

Elio berdecak sebal, napasnya keluar kasar dari hidung. Ia baru menyadari bahwa rencana "pertemuan keluarga" ini hanyalah jebakan halus ibunya untuk memaksa mereka menghabiskan waktu berdua.

"Sial," umpatnya lirih, hampir tak terdengar, namun cukup membuat Aratala menoleh penasaran.

Aratala melirik ponsel Elio, lalu membaca pesan itu dengan santai. Senyum jahil seketika mengembang di bibirnya. "Wah, sepertinya calon mertuaku sangat perhatian ya,pa Elio? Dia bahkan memberimu waktu luang untuk 'bersenang-senang' denganku."

Elio menatap meja itu dengan tatapan tajam, seolah berharap meja itu bisa menghilang seketika. "Ini konyol. Dia pikir kita sedang dalam liburan romantis?"

"Bukan pikir lagi, tapi memang iya," sahut Aratala sambil berjalan santai mendekati meja tersebut. Ia menoleh ke arah Elio yang masih mematung di dekat mobil. "Ayo, Tuan Jangan membuat ibumu kecewa karena kita tidak menikmati 'jatah' waktu yang sudah dipesankan ini. Atau... kau takut?"

Aratala menantang dengan tatapan mata yang berkilat nakal, sementara Elio hanya bisa berdiri di sana, terperangkap di antara logika bisnisnya yang menolak situasi ini dan fakta bahwa dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti skenario yang sudah diatur ibunya.

🌴🌴🌴

Suasana di tepi pantai itu menjadi sangat sunyi. Tidak ada denting peralatan makan atau basa-basi kaku yang biasanya mengisi interaksi mereka. Aratala, yang biasanya penuh dengan tingkah provokatif dan kata-kata menggoda, kini tampak benar-benar berbeda. Ia seolah terhipnotis oleh hamparan laut yang luas, membiarkan deburan ombak menyapu segala ketegangan yang ia rasakan sejak pagi tadi.

Ia duduk dengan damai, mengabaikan hidangan mewah yang tersaji di depan mata, bahkan seolah melupakan keberadaan Elio di sisi seberang meja. Perlahan, Aratala beranjak dari kursinya dan melangkah pelan menuju pagar pembatas kayu di tepi pantai.

Di sana, ia berdiri diam menatap cakrawala. Angin pantai meniup rambutnya dengan lembut, menciptakan siluet yang begitu anggun sekaligus memikat di bawah sinar matahari.

Elio, yang sejak tadi hanya terdiam dengan rahang yang mengeras, kini tidak bisa mengalihkan pandangannya. Ia memperhatikan setiap pergerakan Aratala dengan intensitas yang tidak biasa. Cahaya matahari yang memantul di kulit Aratala dan lekuk tubuhnya yang tampak jelas dari arah belakang membuat pertahanan Elio perlahan luluh.

Tanpa sadar, tangannya bergerak ke arah saku jasnya. Ia mengeluarkan ponsel dengan gerakan pelan, berusaha agar tidak menarik perhatian Aratala. Dengan satu gerakan cepat, ia membidik kamera ponselnya ke arah sosok itu.

Klik.

Sebuah foto Aratala berhasil terabadikan—bukan sebagai "partner kontrak" atau "aktris", melainkan sosok gadis yang tampak begitu tenang dan murni. Elio menatap layar ponselnya sejenak, memandangi foto itu dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Elio menatap layar ponselnya, jemarinya sempat ragu di atas tombol post. Namun, untuk pertama kalinya, logika bisnisnya kalah oleh dorongan ego—atau mungkin, rasa posesif yang mendadak muncul melihat betapa cantiknya Aratala di bawah cahaya senja itu. Ia mempostingnya dengan keterangan singkat: "bareng seseorang 🤍".

Tak sampai beberapa menit, notifikasi ponselnya mulai meledak. Ia melihat ribuan komentar masuk; pengikutnya yang selama ini mengira Elio hanya berdedikasi pada karier kini heboh, patah hati, sekaligus penasaran.

Saat Elio kembali meletakkan ponselnya, ia mendapati Aratala sudah berbalik dari pagar kayu, berjalan mendekat dengan tatapan bingung. Aratala sepertinya baru saja mendapatkan notifikasi dari ponselnya sendiri atau mungkin melihat reaksi orang di sekitar yang mulai berbisik-bisik.

Aratala tidak tahu apa-apa. Ia hanya merasa heran mengapa sejak tadi, beberapa orang di sekitar area pantai—terutama pelayan restoran dan beberapa pengunjung lain—sesekali melirik ke arah meja mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada yang berbisik-bisik, ada yang sibuk dengan ponsel mereka.

Aratala menoleh pada Elio yang tampak sangat tenang, bahkan terlalu tenang. Elio sendiri sudah memasukkan ponselnya ke dalam saku jas setelah memposting foto itu. Ia tidak menunjukkan tanda-tanda baru saja melakukan sesuatu yang mengguncang media sosial.

"Kenapa orang-orang itu melihat ke sini terus?" tanya Aratala sambil menatap tajam ke sekeliling, lalu kembali menatap Elio. "Apa ada yang salah denganku? Atau bajuku ini terlalu aneh di mata mereka?"

Elio menyesap air minumnya, menatap Aratala dengan ekspresi datar yang tidak terbaca. "Mungkin karena mereka tidak pernah melihat pria sepertiku duduk dengan wanita 'berantakan' sepertimu di tempat privat seperti ini," jawab Elio enteng, sengaja memancing emosi Aratala untuk mengalihkan perhatian.

Aratala mendengus kesal, tertipu sepenuhnya oleh sikap acuh tak acuh Elio. Ia tidak punya ide sedikitpun bahwa di luar sana, ribuan orang sedang menebak-nebak siapa wanita yang beruntung—atau mungkin yang malang—karena telah memenangkan hati sang CEO dingin.

Elio memandang Aratala yang kembali fokus pada ombak, merasa sedikit bersalah sekaligus puas. Baginya, foto itu adalah bentuk "klaim" secara tidak sadar. Ia sengaja mempostingnya tanpa tag atau identitas, karena ia sendiri belum siap jika Aratala tahu bahwa dia diam-diam memotret dan mempublikasikan momen "lembut" mereka.

🌴🌴🌴

1
partini
elio kata"mu itu weleh
Nalara amora: tenang kaaa😭🙏
total 1 replies
partini
masih juga nyalahin orang lain situ tuh yg sarappp pak elio,, jangan lah unboxing kaya gitu trauma loh bukanya suka malah benci
Nalara amora: kaaaaaaa😭😭
total 1 replies
partini
good story
Nalara amora: ahhhhhh makasihh kaaa😄🤭🤭
total 1 replies
partini
busettt agresif sakleeee angel ini pura ' nih ceo ga mau di kokop 🤭
aduh mau di apain si cegil jangan kokop pula biar liur najis angel ilang
ko bisa sih Thor angel bebas masuk apa ga ada bodyguard satpam gitu
Nalara amora: tebak hayoo kaa🤭🤭
total 1 replies
partini
ya elah di tuduh menggoda dasar CEO 1/2 ons ,,noh si angel datang jadikan pelampiasan emosi mu dasar CEO murahan
partini: esmosi aku thor🤭🤭 ,cegil ga boleh bersentuhan ma laki" lain eh dianya mah bebas grepek"😂
total 2 replies
Nalara amora
bagus bgt nih cerita nya, rekomendasi buat yg pengen baca yg manis manis plus ada tom and jary nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!